
Oma Mira menatap mata Amelia yang sembab, Saga pun terus memperhatikannya.
"Kau pasti sangat terluka" ucap Oma Mira.
"Sangat, putri ku sangat terluka karena terlalu besar menaruh harapan pada Saga" ucap Hani.
Saga menelan salivanya, Oma Mira menatap Hani yang mendekat dan berdiri di sisi Amelia.
"Seperti yang aku katakan tadi, aku juga tidak berharap semua ini terjadi. Tapi kesalahan Saga sudah sangat fatal, dia harus bertanggungjawab" ucap Oma.
Amelia tertunduk, kata tanggungjawab yang dia dengar mengingatkannya pada kata-kata Saga yang dia janjikan pada Bella.
Teringat akan bagaimana dia menghadapi semua masalah saat dia mengandung, tanpa perindungan siapapun selain Saga. Amelia tak mendengarkan perdebatan mereka, tapi membayangkan bagaimana nasib Bella jika dia tak mau Saga bertanggungjawab untuknya.
"Tidak, aku sudah tidak apa-apa" ucap Amelia di tengah perdebatan Oma Mira dan Ghani juga Hani.
Mereka menatapnya. Saga pun tertunduk malu di hadapan Amelia.
"Oma, terimakasih sudah mau repot-repot datang kemari untuk menjelaskan pada kedua orang tuaku" ucap Amelia.
Oma Mira melipat tangannya di perut.
__ADS_1
"Maafkan aku" ucap Saga lemah.
"Seharusnya sejak awal datang, kau yang mengatakan itu" ucap Ghani.
"Dia tidak sengaja melakukan kesalahan itu, dia sudah baik karena mau bertanggungjawab" ucap Oma tetap membela cucu nya.
Amelia menghela, suaranya cukup keras dan membuat semua orang menatapnya.
"Lalu apa yang bisa kalian lakukan untuk mendapatkan maaf dari saya? " tanya Amelia.
Oma Mira dan Saga tak percaya Amelia mengatakan hal itu.
"Aku akan mengajukan sebuah syarat, untuk memaafkan kalian" lanjut Amelia.
Oma Mira tak setuju dan hendak protes, tapi tangan Saga menahannya.
"Relakan Dama tumbuh bersama ku, selamanya" jawab Amelia.
Mata Oma Mira membelalak. Saga menghela merasa Amelia mengajukan syarat yang akan memutuskan hubungan mereka selamanya.
"Kau sudah melewati batasan mu Amelia! " ucap Oma Mira kesal.
__ADS_1
"Seharusnya hal itu adalah hak yang dia dapatkan sejak awal, bukan menjadi syarat seperti ini. Dia sama sekali tak melewati batasan apapun Nyonya besar" jawab Ghani.
Oma Mira menatap mereka satu persatu.
"Aku sudah salah karena datang dan berharap kalian bisa mengerti, tapi ternyata aku salah. Kau sengaja meminta syarat itu agar kau bisa menerima nafkah keluarga ku untuk Dama. Kau lihat Saga, dia mulai menunjukkan wajah aslinya" ucap Oma Mira.
Amelia menundukkan pandangannya, ekspresinya datar seolah tak peduli dengan apa yang Oma Mira katakan.
"Ayo kita pergi, aku sama sekali tidak butuh maaf darinya. Aku tidak akan membiarkan Dama jatuh ke tangannya" Oma Mira berdiri.
Ghani dan Hani ikut berjalan mengantarkan kepergiannya yang penuh amarah.
Hana yang mendengar semua itu, hanya bisa menatap Amelia yang tetap duduk menatap kearah jendela rumah.
"Kau sudah benar, aku suka dengan syarat yang kau ajukan. Entah mereka butuh atau tidak, tentu saja maaf mu sangat berarti bagi Saga" ucap Hani mendukung Amelia.
Hana menatap adiknya yang sama sekali tak bereaksi dengan ucapan ibunya. Ghani pun merasa Amelia sedang menabuu genderang perangnya untuk mendapatkan hak asuh Dama.
Amelia pergi ke kamarnya, dia duduk terpaku menatap Dama yang sedang bermain dengan Mikayla.
Tangannya mengusap rambut putranya.
__ADS_1
"Dia bahkan tak menanyakan kabar mu. Dia tak khawatir, kalau sewaktu-waktu kau menanyakannya. Apa yang harus aku jawab? Kemana pria yang selalu ada untuk mu? Pria yang selalu meminta mu memanggilnya papa"
Kini dia menangis tanpa sedu sedan. Air mata mengalir begitu saja di pipinya.