
Davin menatap Bella sepanjang malam, dia merasa bersalah terus menerus, terlebih sudah membuatnya merasa tidak berarti.
Malam makin larut, Davin mulai mengantuk dia berbaring di sofa. Belum sampai lelap, Davin terbangun, dia ingat hari ini dia tak menyapa Dama ataupun Amelia. Davin bergegas keluar dari kamar dengan membuka dan menutup pintu perlahan.
Sampai di depan pintu kamar Amelia, dia terkejut karena pintunya sedikit terbuka, dia mengintip dan melihat Saga di sana.
Saga menatap Amelia dan Dama yang sedang terlelap. Sesekali hendak menyentuh wajah Amelia namun selalu tak jadi. Wajahnya sendu, matanya seolah sedih dan merasa sangat bersalah.
"Apa yang dia lakukan di sana? " gumam Davin sangat pelan.
Davin mundur, dia tak jadi menyapa Amelia yang awalnya dia kira seperti biasa sedang mengisi tekonya.
"Aku ini memang bodoh, kenapa terbesit pertanyaan mengapa kak Saga di sana, jelas karena dia adalah tunangannya" gumam Davin selama berjalan menuju kamarnya.
Sampai di kamar, dia melihat Bella terbangun dengan tangan menggapai gelas minumnya.
"Kau terbangun? " tanya Davin seraya langsung mengambilkannya gelas.
"Hmmm! " jawab Bella sambil mengangguk.
"Sini, minum perlahan" Davin membimbingnya.
Bella menghela setelah meneguk air dan kembali menyandarkan tubuhnya.
"Kau darimana? " tanya Bella.
"Aku mu mengajak Alex minum kopi, tapi ternyata dia sudah lelap" jawab Davin dengan senyum manisnya.
Bella menghela dan mengangguk.
"Apa yang terasa sekarang? " tanya Davin.
Bella menatapnya dengan matanya yang sembab.
"Tidak, aku sudah merasa lebih baik" jawab Bella.
"Sini aku temani tidur" Davin datang hendak memeluknya.
Bella menahan lengan Davin kemudian mendorongnya. Davin langsung terdiam mendapatkan penolakannya.
"Tidak, nanti kau tertular demamnya, besok kau harus bekerja bukan? " ucap Bella sebagai alasan.
"Kau demam karena tidak makan dengan baik beberapa hari ini, jadi tidak menular. Lagipula aku minta cuti untuk beberapa hari. Tidak apa jika aku langsung sakit karena menemani mu tidur"
Davin langsung memeluknya, salah satu tangannya menepuk-nepuk punggung Bella yang dia peluk dengan hangatnya.
Bella terdiam, tangis di sudut matanya menetes begitu saja. Mengingat Davin sudah mulai mau berusaha untuk menerimanya, tapi dia merasa sudah tak berguna lagi untuknya.
"Ibu mu menginap, dia khawatir dengan keadaan mu" bisik Davin.
"Hmmm" Bella merespon sedikit.
"Dia memarahi ku, hehe" ucap Davin.
Bella mengangkat kepalanya menatap wajah Davin.
__ADS_1
"Aku tidak sakit hati, dia benar. Aku tidak memperlakukan mu dengan baik. Aku salah" jawab Davin yang kemudian menempelkan kepala Bella di dadanya.
"Maaf" ucap Bella.
"Aku yang minta maaf" jawab Davin.
'Aku minta maaf karena sudah melakukan kesalahan bersama Saga. Aku juga minta maaf karena akan merahasiakan ini sampai aku mati, seperti kata Saga' ucap Bella dalam hatinya.
Bella terisak.
"Sudah..., sekarang tidur lagi. Ini masih terlalu malam" ucap Davin yang kemudian terlelap tidur.
***
Saga tertidur di samping ranjang Amelia. Dama mengusap wajah Amelia beberapa kali. Amelia terbangun kemudian tersenyum padanya.
"Kau sudah bangun, pintarnya anak mama"
"Papa! " seru Dama menunjuk ke arah Saga.
Amelia terkejut, dia kira Dama menunjuk Davin. Dia lupa sekarang Saga pun selalu mengajarkannya menyebut dirinya Papa.
"Saga! " seru Amelia.
Tapi Saga sangat lelap. Amelia bangun perlahan dan membawa Dama mencuci muka.
Amelia merapikan ranjangnya kemudian berusaha meminta Saga untuk tidur saja di sana.
"Saga, bangun! Berbaringlah, nanti pinggangnya sakit" ucap Amelia.
Amelia pun melanjutkan pekerjaan sambil duduk di sisi ranjang. Saga yang terbangun, melihatnya kemudian memeluknya dari belakang.
"Kau sudah bangun! " ucap Amelia yang terkejut.
"Hmmm, ya" jawab Saga.
Amelia menyentuh dahi Saga.
"Aku tidak sakit, tapi aku minta cuti. Aku mau seharian bersama mu dan Dama" bisik Saga.
Amelia tersenyum, apalagi yang bisa membuatnya bahagia. Kekasihnya sudah kembali menjadi Saga yang dia kenal. Manis dan selalu berusaha untuk bersamanya.
"Kalau begitu, aku akan siapkan sarapan mu" ucap Amelia.
"Tidak, nanti saja. Aku sedang ingin bersama mu" ucap Saga manja.
Amelia tersenyum senang. Tapi tiba-tiba Dama naik ke ranjang dan langsung ikut memeluk mereka.
"Ahhhh, papa kira tidak ada Dama! " seru Saga kemudian memeluk mereka.
***
Zidan menyeruput kopinya di taman. Dia siap untuk berangkat ke kantor dengan bersemangat, setelah mengetahui Davin dan Saga cuti sehari.
"Silahkan nikmati cuti kalian bersama wanita-wanita kalian. Aku akan memanfaatkan hari ini dengan sebaik-baiknya" gumam Zidan.
__ADS_1
"Ya, kau harus melakukannya" ucap Veni yang datang dan langsung duduk di sisinya.
"Tante terlihat sangat cantik hari ini" puji Zidan.
"Kau pandai menggoda" jawab Veni.
"Kenapa kemari? Kau tidak menjenguk Bella? " tanya Zidan yang kembali meminum kopinya.
"Aku sudah ke atas, tapi mereka masih tidur" jawab Veni.
"Ya, semalaman Davin bolak-balik ke atas dan bawah, entah untuk apa? " ucap Zidan dengan senyuman yang sedikit menyeringai.
"Aku tidak mengerti, rumah ini sudah berubah. Aku tidak dengar Maria menutup pintu dengan keras sejak malam kemarin, Oma tidak menunjuk semua orang dan menyalahkan siapapun untuk apa yang terjadi pada Bella. Kemudian.... "
Zidan menatap dan menunggunya melanjutkan ucapannya.
"Kemudian? "
"Kau, jadi lebih rajin. Apa yang terjadi? " tanya Veni.
"Hahha, kalau aku rajin, itu sudah sejak dulu tante. Hanya saja, aku menutupi dan tidak mau terlihat menonjol" ucap Zidan.
Veni berdecak mendengar Zidan membual.
"Semua perubahan yang terjadi tidak lain karena kedatangan calon menantu rumah ini yang sangat cantik dan baik hati seperti bidadari yang ada di sinetron-sinetron itu" lanjut Zidan.
Veni merubah raut wajahnya.
"Yup, Amelia banyak membawa perubahan. Dia lebih sering membagi waktunya bersama Oma di perpustakaan. Membuat tante Maria impressing dengan bakat memasaknya. Membuat Bella luluh dengan sikap baiknya, dan membuat Davin menyerah mengejarnya" ucap Zidan dengan senyum.
Veni berpikir, dia merasa tak senang dengan apa yang diceritakan Zidan.
"Anak tante sudah nyaman dan aman di posisinya, tenang! " ucap Zidan seraya menyentuh tangannya.
Veni menatap tangannya kemudian beralih pada wajah Zidan yang tersenyum terus saat meminum kopinya.
"Kau kesal dengan semua itu? " tanya Veni.
"Tentu saja iya, aku tidak bisa bercumbu lagi dengan Bella" jawab Zidan tanpa berpikir.
Veni langsung menutup mulutnya. Mereka saling menatap sangat dekat. Perlahan Veni melepaskan tangannya.
"Bicara perlahan, nanti ada yang mendengar mu" ucap Veni yang kemudian mengalihkan tatapannya.
Zidan tersenyum.
"Aku kesepian tante. Tidak ada yang menganggap kehadiran ku di rumah ini. Aku membantu Bella, tapi itu menegaskan betapa tidak berartinya aku di mata mereka" keluh Zidan.
Veni menatap raut wajahnya dengan iba.
"Maukah tante menjadi penghibur ku? "
Veni membulatkan matanya. Tanpa mendengar jawaban dari wanita berusia 40 an itu, Zidan menarik tangannya menuju kamar yang dia tempati.
Tanpa basa basi, Zidan langsung menyambarnya. Veni tak berdaya, diapun seorang wanita yang sedang sering kesepian.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>