CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
116


__ADS_3

Oma Mira memikirkan kehamilan Bella di kamarnya. Tak henti semua pemikiran tentang apa yang Davin derita selama ini, membuatnya sanksi akan kehamilannya. Oma Mira terus merasa Bella melakukan kecurangan.


'Apa dia masih belum membuat Davin mencintainya sehingga dia membuat kebohongan itu? Tapi dia datang dengan wajah merengut seperti itu, ada apa dengannya? '


Semua spekulasi terus bermunculan dalam benaknya. Banyaknya pengalaman membuat dia menduga-duga apa yang dirahasiakan Bella yang tak mau keluar dari kamarnya sejak dia pulang.


Sampai pada waktu dimana Davin pulang, Oma Mira teringat Maria yang merasa kehamilan Bella merupakan awal hubungan baik antara Bella dan Davin, dia turun dengan tergesa dan mendapati Maria sedang menunggu putranya masuk.


"Panggil Bella, suruh dia kemari, katakan aku yang memaksanya" perintah Maria pada Minah.


Minah cepat-cepat memanggilnya.


"Apa yang akan kamu lakukan? " tanya Oma Mira.


Maria terkejut, tak melihat ibu mertuanya sudah ada di sampingnya.


"Tentu saja untuk mengumumkan kehamilan Bella" ucap Maria.


"Kau gila, aku tadi sudah mengatakan padamu berikan Bella waktu dan ruang untuk memberitahu hal itu secara pribadi pada suaminya" ucap Oma Mira dengan nada tinggi kemudian merendah saat Bella datang.


"Sini sayang, duduk di dekat ibu! " ucap Maria menepuk sisi sofa di dekatnya.


Bella kebingungan, dia tak tahu apa yang akan dilakukan ibu mertuanya. Dia menurut dan duduk perlahan di dekatnya.


"Nah begitu, pelan-pelan ya! " ucap Maria sedikit memanjakannya.


'Apa ini? Apa maksud dia bersikap begitu baik padaku? ' tanya hati Bella.


Amelia berlalu lalang ke dapur bersama Dama, Maria melihatnya.


"Amel! Sini!" seru Maria ingin menyombongkan berita yang akan dia umumkan.


Amelia menuntun Dama untuk menghampirinya.


"Ya, di situ saja. Jangan terlalu dekat" ucap Maria sedikit agak jauh darinya.


Oma Mira bungkam tak dapat mengendalikan Maria yang senang dengan kabar itu.


Tak lama kemudian, Davin datang dengan langkah pelan. Dia menatap semua orang dengan terheran karena semuanya berkumpul di sana.


Harris yang baru datang pun ikut heran.


"Waah, kalian menyambut kepulangan kami? " seru Harris dengan senyum.


"Yaa! " jawab Maria riang.


"Ada apa? Ibu terlihat senang! " tanya Davin.


Mereka semua duduk kecuali Amelia yang Dama nya tak mau duduk.


"Ada kabar gembira" ucap Maria dengan senyum lebar.


Dia menatap semua orang.

__ADS_1


"Bella hamil" lanjut Maria.


Harris tersenyum kemudian bertepuk tangan. Tapi Davin langsung menatap Bella yang menganga tak percaya ibu mertuanya tahu tentang kehamilannya yang dia sembunyikan.


Tatapan Bella beralih pada Davin, dia menelan salivanya.


"Akan ada bayi di rumah ini, keturunan Narendra! " seru Maria.


Amelia menunduk mendengar kata keturunan Narendra. Minah memegangi tangannya.


Oma Mira mengusap wajahnya, cukup kesal dengan ucapan Maria.


Tapi Maria dan Harris terlihat sangat senang.


"Kau terkejut nak! Kau tidak mengatakan apapun? " tanya Harris.


"Ya, peluk Bella. Pelukan seorang ayah akan sangat berpengaruh bagi perkembangan bayi dalam perut ibunya" ucap Maria.


"Bukan aku" ucap Davin.


Semua orang menatapnya.


"Apa? " Maria tak jelas mendengar ucapannya.


Bella menggelengkan kepalanya seraya menatap Davin.


Davin terlihat menahan diri, tapi dia tak mampu melakukannya.


"Bukan aku ayahnya" lanjut Davin dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya.


"Kau tahu jelas, bukan aku ayah dari bayi yang kau kandung" ucap Davin pada Bella.


Bella menundukkan kepalanya dan memejamkan mata.


Amelia pergi meninggalkan mereka dan membawa Dama ke dapur bersama Minah. Tapi Minah kembali karena rasa penasarannya.


"Apa yang kau katakan? " Harris marah.


"Tanya dia, aku bahkan belum pernah menyentuhnya, bagaimana bisa dia hamil! " teriak Davin.


Maria tumbang, dia terduduk dan lemas. Harris menahannya, membantunya kembali duduk tegak.


Oma Mira menghela cukup keras. Maria terheran melihat ibu mertuanya yang tak terkejut.


"Ambilkan minum! " pinta Harris.


Minah buru-buru mengambilkannya.


"Katakan pada kami, siapa ayah dari bayi itu?" desak Davin.


Bella hanya diam dalam tangisnya.


"Jangan membuat situasi seolah kaulah korbannya. Kau menunjukkan diri sebagai seorang istri yang setia, tapi kenyataannya kau tidak seperti itu" lanjut Davin.

__ADS_1


"Davin, kendalikan ucapan mu" seru Oma Mira.


"Tidak Oma, dia bersikap seolah mau menunggu ku sembuh, kembali normal tanpa mengingat kenangan ku bersama Amelia. Tapi mana? Dia..... "


Buuuk!


Harris meninju wajah putranya. Davin tersungkur ke sofa dengan perasaan kesal.


"HARRIS! " Oma Mira terkejut akan tindakannya.


"Kau memperlakukan istri mu seperti itu? " ucap Harris perlahan.


Maria menangis keras.


"Mau bagaimana lagi pah, aku mencintai Amelia dan hal itu hanya bisa aku lakukan padanya" jawab Davin.


Harris ikut lemas terduduk di bawah sofa. Maria meraihnya.


Amelia menutup telinga Dama, suara mereka terdengar sampai dapur. Amelia pun menangis mendengar pengakuan Davin. Dia merasa sangat bersalah. Dia pikir, hubungan manis yang mereka tunjukkan adalah awal dari kebahagiaan Davin dalam melupakannya.


Minah melihatnya menangis, saat kembali mengambil air. Dia ingin menenangkannya tapi keluarga Harris membutuhkannya.


"Apa ini? Hal sebesar ini, aku baru mengetahuinya?" ucap Harris.


Maria tak bisa menjelaskannya, dia hanya bisa menangis.


"Papa hanya fokus pada luka papa, tak pernah peduli dengan luka orang lain"


"CUKUP DAVIN! " Oma Mira berdiri.


"Tidak, mulai sekarang semua orang harus tahu luka yang aku derita karena keegoisan mereka" Davin menantang.


Maria menatapnya.


"Kalian membuat hubungan mudah diikat mudah dilepaskan, aku tak bisa yakin dengan hubungan orang tuaku sendiri. Mendapatkan banyak pertanyaan yang tak pernah kalian berikan jawabannya. Kalian membuatku menjadi bahan ejekan di sekolah, mengatakan bahwa aku bukanlah anak sah, kak Saga anak kandung. Mentalku jatuh bertahun-tahun, dan tak ada yang membantu ku bangkit. Aku mulai hilang kepercayaan pada wanita, aku takut dengan cinta. Tapi hanya dengan melihat senyumannya, aku bisa jatuh cinta padanya. Tapi.... pada siapa aku harus mengatakannya, menceritakannya? Kalian sibuk dengan perang dingin kalian, Oma sibuk menjadikan ku pimpinan perusahaan. Menempa ku tanpa tahu, aku semakin rapuh dan mati"


Oma Mira menghindari tatapan matanya.


"Kalian tidak tahu kan, bagaimana menderitanya hidup bersama orang yang tidak bisa membuat kita jatuh cinta? " lanjut Davin.


Bella tak tahan mendengar semua ucapan Davin, dia berlari menuju tangga.


"Mau kemana kau? Katakan padaku siapa ayah dari bayi dalam kandungan mu! " teriak Davin.


Amelia menahan Bella yang hendak berlari. Dia menatap Davin dengan kesal dengan tangan merangkul lengan Bella.


Harris melihat sikap Amelia.


"Meskipun begitu, kau tidak bisa memperlakukan Bella seperti itu Nak! " ucap Harris.


Davin menunduk, dia merasa bersalah menatap mata Amelia yang kesal padanya.


Sementara itu, Bella menatap Amelia yang berdiri menguatkannya.

__ADS_1


\=\=\=\=>


__ADS_2