
Hari pertunangan, semua orang sudah siap dengan acara yang sudah direncakan itu.
Zidan, Bella dan Davin terlihat rapi mengawasi jalannya acara. Davin terus menggenggam tangan Dama yang sangat penasaran untuk berjalan kesana kemari.
Tamu pesta mulai berdatangan, kerabat, saudara, kolega juga teman-teman mereka.
Saga, Davin, Alex dan Zidan disekolahkan di tempat yang sama, juga Bella. Jadi teman mereka beberapa adalah sama. Tapi teman Saga mendominasi, mereka senang Saga kembali ke tanah air. Sekaligus ingin reuni, mengingat masa sekolah.
Amelia menatap semua tamu. Seolah sedang menunggu seseorang, matanya terus menatap pintu masuk dan mengabsen setiap orang yang masuk.
"Kau mencari seseorang? " bisik Saga.
"Hmmm? " Amelia tak begitu memperhatikannya.
"Atau kau mengkhawatirkan Dama? " tanya Saga lagi.
"Tidak, Dama bersama papanya" jawab Amelia cepat.
Saga tertegun.
'Ucapan itu benar, tapi kenapa aku merasa tidak suka? ' ucap hati Saga.
"Itu mereka! " seru Amelia.
Amelia pergi menuju dua tamu wanita yang baru datang. Saga mengikutinya.
"Kalian datang! " seru Amelia kemudian memeluk mereka.
"Iya dong, masa kita nggak dateng" ucap Ghina.
"Selamat ya! Mana papanya Dama? " tanya Siena dengan mata mencari.
Amelia menarik tangan Saga yang diam tertegun mendengar ucapan Siena.
"Kenalkan, Saga Coltin Narendra. Calon suami ku, papa nya Dama" Amelia memperkenalkan dengan riang.
Siena dan Ghina tersenyum dan menyambut tangan Saga. Tapi mereka saling menatap. Saga mengerti, dia sedikit membuat mereka canggung, dia pamit pergi.
"Dia bukan ayahnya Dama" bisik Siena.
Amelia terkejut dengan ucapan Siena.
"Benarkan? Aku tahu persis wajah Davin Coltin Narendra" tambah Siena.
"Ssthhhh, kau ini terlalu banyak bicara" ucap Ghina.
"Tidak, kalian benar. Dia bukan ayah kandung Dama putra ku. Dia kakak dari Davin, tapi aku menyukainya" jelas Amelia.
"Suka, bukan cinta? " Siena bertanya lagi.
Amelia tertegun. Ghina merangkul tangannya.
"Sudah, jangan dengarkan dia" ucap Ghina.
Amelia tersenyum.
"Ayolah, kalian harus makan, perjalanannya pasti sangat melelahkan" ucap Amelia.
"Benar, aku lapar" ucap Siena.
"Lihatkan, dia hanya kelaparan, jadi bicaranya kesana kemari" ucap Ghina.
Amelia tersenyum, dia melihat Saga yang sedang berbincang dengan temannya. Amelia khawatir dia tersinggung dengan ucapan Siena.
***
Pesta berjalan dengan lancar, Amelia dan Saga bertukar cincin dan saling memeluk di depan semua keluarga dan teman.
__ADS_1
Semua orang merayakan dengan mendendangkan lagu kesukaan Tuan Narendra. Hingga malam larut, para orang tua pulang, dan anak muda mengadakan pesta dengan tema musik yang mereka suka.
"Oma akan pulang, cepat pulang kasihan Dama" ucapnya.
"Iya Oma" jawab Amelia.
Setelah mengantar Oma dan yang lainnya pulang, Amelia mencari Saga. Tapi dia tak menemukannya.
"Kau lihat Saga? " tanyanya pada salah satu teman.
"Tadi dia minum banyak, aku rasa dia sedang di kamar mandi" jawabnya.
"Minum? " gumam Amelia.
Dia pergi mencarinya. Tapi Davin menahannya.
"Dama, ayo ajak mama melihat bintang" seru Davin.
Amelia tersenyum melihat Dama yang begitu senang bersama Davin.
Davin menarik tangan Amelia menuju rooftop. Mereka melihat bintang di langit yang sama sekali tak tertutupi awan.
"Lihat! Itu rasi Bintang, banyak jenisnya, tapi papa berhenti mempelajarinya karena papa harus bekerja di kantor" jelas Davin.
Amelia menatap Davin yang bicara begitu banyak pada Dama.
Mereka membuat Dama senang malam itu, hingga akhirnya tertidur di pelukan Davin.
"Dia tertidur" ucap Amelia.
"Benarkah? " tanya Davin.
"Kalau begitu kita pulang" ucap Amelia.
"Ayo ! " jawab Davin juga mengajaknya.
***
Saga sempoyongan, dia berjalan di lorong hotel dan membuka salah satu kamar yang temannya bisikkan bahwa Amelia sudah menunggunya di sana.
Dengan senyum merekah di bibirnya, dia masuk dan melihat Amelia sudah berbaring di ranjang.
"Kau menunggu ku? " tanya Saga yang kemudian membuka pakaiannya.
"Aku datang sayang, cinta ku"
Dengan tubuh tanpa sehelai kain pun, dia masuk ke selimut dan memeluknya.
***
Amelia menunggu Saga di ruang depan. Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, dia semakin khawatir. Ponsel Saga tak bisa dihubungi setelah berkali-kali dia menelponnya.
"Dia kemana? " gumam Amelia.
Davin turun untuk membuat kopi, dia melihat lampu ruang depan yang masih menyala kemudian keluar.
"Kau belum tidur? " tanya Davin.
"Hmm, belum. Saga belum pulang, aku khawatir" jawab Amelia.
'Jika aku adalah suaminya, dia akan khawatir seperti ini bukan? ' ucap hati Davin.
"Aku akan mengambil ponsel ku dan menghubungi temannya" ucap Davin kemudian kembali membawa ponselnya.
Amelia menunggu Davin yang sedang bicara dengan temannya.
"Bagaimana? " tanya Amelia.
__ADS_1
"Temannya, Gery, dia bilang mereka menginap bersama. Dia bilang sedang saling nostalgia. Kau tidak usah khawatir, besok pasti dia pulang" jelas Davin.
"Ouhh, ponselnya tak bisa dihubungi. Aku jadi khawatir" ucap Amelia.
"Kakak ku beruntung" ucap Davin.
Amelia mengangkat kedua alisnya seolah bertanya.
"Ya, dia beruntung karena calon istrinya sudah sangat mengkhawatirkannya" lanjut Davin.
Amelia menurunkan pandangannya.
"Tidurlah, kasihan Dama, nanti dia bangun karena kau tak ada di sisinya" ucap Davin.
"Ok, selamat malam" ucap Amelia.
Davin mengantar kepergiannya dengan tatapan, dia tak bisa mengantar hingga ke ranjang dan mengecup keningnya meskipun dia sangat ingin melakukannya.
Davin menghela keras, kemudian teringat pada Bella.
"Bella juga belum pulang, kemana dia? " gumam Davin.
Dia berjalan menuju dapur hendak membuatkan kopi, tapi langkahnya terhenti saat melihat secangkir kopi panas sudah ada di meja makan. Dia tersenyum, mengingat pasti Amelia yang membuatkannya saat dia membawa ponselnya.
"Setidaknya aku selalu minum kopi buatannya" ucap Davin senang kemudian menyeruput kopinya sembari berjalan.
***
Pukul 5 pagi, alarm ponsel Bella berdering. Tangan Bella menggapainya dan memberhentikannya. Kemudian kembali tidur.
Tak berapa lama kemudian, Saga bangun. Dia membuka selimut dan pergi ke kamar mandi. Setelah selesai, dia duduk di sisi ranjang dan menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 8 pagi. Kemudian matanya berhenti di seprai yang terkena noda merah seperti darah.
'Darah? Darah perawan? ' tanya hati Saga.
Matanya menatap wanita yang sedang tertidur di sisinya itu. Amelia bukan perawan, dia takkan berdarah jika melakukan hal itu. Dengan menelan saliva, dan tangan yang bergetar, dia membuka selimut yang menutupi wajahnya.
"Astaga! " seru Saga saat melihat wanita yang ada dalam satu ranjang bersamanya.
Bella terbangun. Dia berusaha membuka matanya dan kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Apa yang sudah terjadi? " seru Bella.
Saga tertegun bagai patung, membeku dan tak tahu apa yang sudah terjadi.
"Semalam, aku melihat Amelia di sini" ucap Saga menunjuk ranjang.
"Aku kira pria yang datang adalah Davin" timpal Bella.
"Tapi kenapa kau masih perawan? " tanya Saga heran.
Mereka saling menatap.
"Tidak, bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, semua ini tidak terjadi, kita tidak pernah melakukan apapun" ucap Saga tegas.
"Aku setuju, kita tidak pernah melakukan apapun" ucap Bella yang kemudian berdiri dan pergi mengambil pakaian ke kamar mandi.
Saga buru-buru memakai pakaiannya dan keluar dari kamar. Dia merapikan rambutnya dan berusaha bersikap biasa saja.
Dia memeriksa ponselnya yang mati kemudian mengeluh.
"Sial! " teriaknya.
Bella keluar dari kamar mandi dan mendapati Saga sudah tak ada.
"Dasar tidak ada sopan santun, setidaknya beritahu jika dia akan pergi" keluh Bella.
\=\=\=\=\=>
__ADS_1