CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
41


__ADS_3

"Aku tahu kalian belum menikah jadi Amelia masih belum milik siapa-siapa. Dama harus tinggal di rumah ini karena dia keturunan dari Narendra Coltin" ucap Oma Mira.


"Tidak, apa maksud anda? Bagaimana bisa Bella, anak kami mendapatkan perlakuan seperti ini. Nyonya, apa salah kami sehingga anda melakukan ini pada anak kami" orang tua Bella protes.


Bella hanya menatap Amelia yang terus memegang tangan Saga. Juga Davin tak melepaskan pandangannya dari wajah Amelia yang menurutnya semakin cantik.


Amelia menunduk, memegang erat tangan Saga merasa sangat takut menerima semua yang terjadi. Dia bahkan lebih memilih berlindung pada Saga dibandingkan pada ayahnya yang duduk bersama Alex di sudut ruangan.


Saga memeluk Dama dan tak melepaskan tangan Amelia. Dia harus mengambil keputusan, dia harus tegas tentang haknya memiliki Amelia dan Dama. Terlebih Amelia sudah memilih untuk tetap bersamanya, alih-alih kembali pada ayahnya atau pada Davin.


Dalam dilema masing-masing hati mereka, juga cekcok antara Oma Mira dan orang tua Bella yang mempertahankan kehormatan anaknya, sekali lagi Dama memanggil Davin dengan panggilan "papa". Tangannya menunjuk pada Davin.


Semua orang menatapnya lagi, apalagi Davin yang tersenyum bahagia, anaknya bisa mengenali ayah kandungnya.


"Tidak, papa mu di sini sayang. Dia bukan papa mu" ucap Saga.


Saga berdiri, Amelia ikut berdiri. Saga hendak membawa Amelia kembali ke hotel.


"Mau kemana kalian?" teriak Oma Mira.


Saga berbalik, matanya membulat menatap Oma Mira dengan kemarahan.


"Semua sudah selesai, kami akan pergi. Kami akan kembali ke Italia, kami tidak akan mengganggu kalian lagi. Maaf sudah membuat kekacauan ini" ucap Saga menahan diri dari amarahnya.


"Tidak boleh, kau membawa anak kandung Davin. Kau bisa dilaporkan sebagai penculik" ucap Oma.


"Omaaa!" keluh Saga dengan teriakannya.


"Saga, tenanglah, kita bisa membicarakan ini dengan kepala dingin. Semua akan baik-baik saja" ucap Harris.


Tapi Saga tak mempedulikannya, dia tetap berjalan membawa Amelia dan Dama bersamanya.


"Baiklah, kalian berdua boleh pergi. Tapi Dama, cicit ku, tinggalkan dia di sini bersama keluarganya" teriak Oma.


Semua orang berdiri mendengar ucapan Oma Mira. Mereka menatap Oma Mira dengan perasaan mereka masing-masing, yang pro dan kontra dengan keputusannya.


"Oma!" lagi-lagi hanya kata dan nada itu yang keluar dari mulut Saga.


"Kalian bisa menikah, itu tidak masalah" lanjut Oma.


Davin menatap Oma Mira, tak rela dengan ucapannya.

__ADS_1


"Tapi Dama putranya Davin. Kalian harus mengembalikan Dama pada ayahnya" Oma mempertegas.


Amelia menggelengkan kepalanya, dia menangis tak rela jika harus berpisah dengan anaknya. Saga memeluk Amelia yang panik.


"Tidak, kalian tidak boleh memisahkan kami dengan Dama. Tidak bisa" Saga tak melepaskan.


Suasana semakin keruh, Amelia tak bisa menahan semua ini. Kepalanya terasa sakit, matanya menatap ke atas dan dia pun terjatuh. Saga kesulitan memeganginya karena menggendong Dama.


Dengan cepat Davin meraih tubuh Amelia dan membawanya ke kamar yang dekat. Semua orang menatap terkejut, terutama Bella yang merasa sangat diabaikan oleh Davin.


Ghani menyusul, sementara Saga terdiam sejenak melihat respon cepat Davin untuk Amelia.


###


"Pergilah, biar aku di sini bersama Dama menunggunya siuman" ucap Saga pada Davin yang masih duduk di samping Amelia.


Davin berdiri dan mundur perlahan, dia berbalik dan hendak keluar.


"Kau juga keluar, bawa Dama, jauhkan dia dari mereka yang berteriak, kasihan dia!" ucap Ghani.


Saga tak bisa menolak atau memaksakan keinginannya, karena Ghani adalah ayah Amelia. Dia keluar dan membawa Dama ke ruang keluarga. Maria menyambutnya, dia membawa Dama untuk makan dan minum susu.


"Sayang!" ucap Ghani.


"Ayah!" Amelia memeluk ayahnya.


Ghani mengelus rambut anaknya, kemudian tersenyum membayangkan kebahagiaan Hani jika tahu Amelia akan kembali ke rumah.


"Ayah, mana Dama ayah? Aku mau dia ayah, jangan berikan dia pada nyonya besar ayah. Aku tidak mau dipisahkan dari anak ku"


Amelia menangis meminta anaknya kembali. Ghani menahan tubuh Amelia yang hendak bangun dan keluar dari kamar.


"Sayang dengar Ayah, Dama sedang makan. Bu Maria sedang menyuapinya, biarkan dia tenang. Jika dia melihat mu seperti ini, dia akan menangis" ucap Ghani menenangkan.


Amelia menangis, namun dia menuruti ayahnya. Dia tak mau Dama menjadi takut melihatnya histeris.


"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Dama menjadi anak Davin?" Ghani mulai bertanya.


"Aku bertemu Davin di Bali saat promo sekaligus liburan kantor. Aku mabuk saat itu ayah, aku bahkan tidak sadar melakukannya. Dia berusaha untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Tapi aku terlalu takut menghadapi kalian, aku menolaknya dan kembali tanpa mengetahui bahwa aku ternyata mengandung bayinya" jelas Amelia.


Ghani kebingungan, dia tak tahu harus melakukan apa. Oma Mira adalah majikannya, dia tak mungkin menolak semua keputusannya setelah apa yang dia lakukan untuk kehidupan mereka.

__ADS_1


"Ayah, aku mohon. Katakan pada nyonya besar kalau Dama tak bisa jauh dari ku. Lagi pula aku sudah punya hubungan baik dengan Saga, dia bersedia menerima ku apa adanya ayah, dia pria yang baik" Amelia panik lagi.


Ghani diam saja tak bisa mengatakan apapun.


"Saga benar, kami akan kembali ke Montreuill. Kami tidak akan pernah menggangu keluarga mereka lagi ayah. Katakan pada nyonya besar ayah"


Amelia menangis, Saga mendengarnya dan perlahan masuk. Amelia bangun dan memeluknya. Ghani hanya bisa menatap mereka.


"Saga, kau benar. Seharusnya kita tak kemari, ayo kita bawa Dama pulang. Dia tak boleh tinggal di sini. Aku tidak mau dia tinggal di rumah menyeramkan ini. Ayo!"


Saga menahan tubuh Amelia yang memaksanya untuk pulang.


"Tenanglah, aku akan membawa kalian pergi. Tapi kamu tenang ya!" ucap Saga.


Ghani menatap dengan heran karena Amelia langsung tenang dan bersandar di pelukan Saga.


###


Di luar.


Alex memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Dia berdiri di dekat Davin yang menatap taman rumahnya di malam hari.


"Aku kira anak itu bukan anak mu" ucap Alex.


"Ya, aku kira dia putra kak Saga dengan wanita lain, bukan Amelia" jawab Davin.


"Sekarang bagaimana?" tanya Alex.


Davin menghela tak tahu harus menjawab apa.


"Amelia sangat berlindung pada Saga, kurasa mereka sudah sangat dekat" ucap Alex.


Davin masih diam menatap kosong ke arah taman.


"Oma benar, biarkan saja mereka bersama. Rawat Dama dan besarkan dia dengan kasih sayang mu dan keluarga ini sebagai penerus" Alex masih bicara.


"Tidak, aku membutuhkan Dama juga Amelia. Aku tidak rela dia bersama kak Saga meskipun kak Saga adalah segalanya bagi ku" ucap Davin dalam.


Alex menatap temannya yang terlihat sangat serius itu. Dia menelan salivanya, merasa akan menghadapi Mahabharata, perang saudara.


\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2