
Saga yang bekerja, melamun dan memikirkan Amelia. Dia khawatir pria itu ada di rumah saat dia datang. Bosnya memperhatikannya.
"Kau kenapa?" tanyanya sambil menghitung pesanan.
"Aku mengkhawatirkan Amelia" jawabnya.
"Wanita yang semalam?" tanya bosnya.
Saga hanya mengangguk.
"Kau sudah menghabiskan semua tabungan mu selama tiga bulan ini hanya untuk membantu wanita yang hamil dan tak tahu siapa ayahnya. Bukankah budaya mu memandang tabu hal itu? Lalu kenapa kau mengkhawatirkan dia sekarang?"
Saga terdiam.
"Kau menyukainya?" tanya bosnya.
Saga menghela dan tersenyum.
"Aku mengerti sekarang, jatuh cinta pada pandangan pertama?" ucap bosnya mengejeknya.
Saga tertawa, dia mengacuhkan. Tak berapa lama Amelia datang dan mencari Saga di sana. Bosnya menyambut pelanggan seperti biasanya. Dia menatap heran pada pelanggannya yang satu ini. Dia terlihat sangat kelelahan dan pucat.
"Ada yang bisa aku bantu nona?" tanya bosnya.
"Aku mau bertemu Saga" jawab Amelia.
Bosnya menatap Amelia hingga ke kakinya, dia langsung ingat dengan cerita Saga.
"Aku akan panggil dia" ucapnya sambil pergi memanggil Saga yang pergi ke gudang.
Amelia mencari sesuatu di tasnya, dompetnya. Dia menunggu Saga tapi dia melihat Steve yang hendak masuk ke toko rotinya. Amelia panik, dia masuk dan bersembunyi di dapur.
Saga yang baru keluar, melihatnya jongkok di sudut dapur. Dia terlihat ketakutan.
"Darrell!" seru Steve.
Saga keluar dan menyambutnya. Darrell nama bosnya Saga. Dia juga keluar dengan menatap heran pada Amelia yang bersembunyi.
"Hallo tuan Steve, silahkan!" ucap Saga.
"Bungkuskan aku beberapa roti strawberry. Juga segelas milkshakes" ucap Steve.
Saga masuk, Darrell melayani Steve. Saga mendekati Amelia dan bertanya padanya.
__ADS_1
"Kau kemari? Ada apa? Kenapa sembunyi?" tanyanya.
"Dia, dia pria itu. Tolong aku, jangan katakan aku di sini" ucap Amelia sambil menunjuk keluar.
Saga terkejut, dia tak menyangka pria yang dimaksud Amelia adalah pelanggan setia toko roti itu. Darrell yang baru masuk mendengar dan melihat gerakan tangan Amelia. Dia kembali dan menatap Steve dengan kesal.
Steve yang hendak membayar menatap mata Darrell yang merah.
"Kenapa dengan mata mu? Terlihat merah dan kesal" ucap Steve.
"Tidak, aku hanya sedang kesal dengan kasus pelecehan akhir-akhir ini. Rasanya ingin aku cekik para pelaku itu" ucap Darrell.
Mata Steve membulat merasa tersinggung karena dia suka melakukan hal itu. Dia buru-buru membayar dan pergi. Darrel menatap kesal sepanjang Steve berjalan keluar. Dia memberi kode pada Saga dan Amelia bahwa dia sudah keluar.
Amelia terduduk lemas, dia lega tapi masih merasa khawatir Steve datang lagi. Darrell dan Saga membantunya. Amelia diminta duduk di dapur dan diapun menceritakan bahwa penjaga Steve juga bersekongkol saat malam itu.
Darrell ikut geram, Saga apalagi. Mereka membantu Amelia mencari tempat tinggal yang baru. Namun tujuan Amelia datang hanyalah untuk mengembalikan uang Saga yang dipakai untuk pengobatannya di rumah sakit.
Saga dan Darrell saling menatap karena heran dengan apa yang sudah dia lakukan. Mungkin bagi beberapa orang, mengembalikan uang pengobatan saat menolong seseorang adalah hal yang tidak sopan.
"Aku minta maaf, aku tahu kau sedang tak punya uang. Jadi aku kembalikan saja" ucap Amelia sebagai alasan.
Saga menerima kembali uangnya, meski sebenarnya dia hanya melakukan itu agar Amelia tak merasa canggung padanya.
Amelia buru-buru keluar dan hendak pamit meninggalkan tempat itu. Dia tak menyangka bahwa tempat kerja Saga adalah toko roti langganannya. Jadi dia akan pergi sejauh mungkin.
Saga yang hendak memberikan handuk untuknya tak sengaja berpapasan dengannya yang hendak pergi.
"Kau mau pergi?" tanya Saga.
"Ya, Steve langganan toko mu kan. Aku tidak bisa tinggal di sini lama-lama. Dia bisa saja kembali sewaktu-waktu" ucap Amelia.
"Tapi, kau sedang hamil. Kau juga kurang sehat, kau harus istirahat" ucap Saga khawatir.
"Tidak, aku akan baik-baik saja. Aku harus cepat-cepat pergi" ucap Amelia.
Dia menerobos Saga yang tengah berpikir.
"Tempat tinggalku, maksudku tempat tinggal saudara ku. Paman ku pabriknya sedang membutuhkan pegawai untuk membantu produksi parfumnya. Kau bisa tinggal di sana. Aku tinggal di daerah Montreuil" ucap Saga.
Amelia terdiam, dia sedang galau dan tak tahu hendak kemana. Montreuil cukup jauh dari sana, mungkin untuk beberapa waktu dia bisa menghindari Steve.
"Tunggu hingga malam di sini, aku akan mengantar mu malam ini" ucap Saga berjanji.
__ADS_1
Amelia menatap wajah Saga yang baru dia kenal semalam. Dia tak tahu, apakah harus menaruh kepercayaan begitu saja padanya atau bagaimana.
"Tunggulah! Aku harus pergi mengantarkan beberapa pesanan dan juga belanja. Aku berjanji akan mengantar mu ke Montreuil"
Saga membawa tas Amelia kembali masuk ke ruang ganti. Amelia menurut dan diam di sana. Saga keluar dan bicara pada Darrell bahwa dia akan mengantarnya ke rumah saudaranya di Montreuil.
Darrell setuju, dia sebenarnya ingin membantu, namun akan menjadi masalah jika istrinya melihat dia membawa wanita hamil ke rumah.
Malam tiba, Amelia dibantu Saga naik bis. Dia meraih tangan Saga dan duduk di sampingnya. Saga memeluk tas Amelia. Dia begitu baik menemaninya hingga mau membantunya.
"Montreuil, di sana itu..." Amelia memulai pembicaraan.
"Di sana ada saudara dari ibuku. Dia menikah dengan orang Montreuil dan memiliki dua anak. Awalnya aku tinggal di sana, tapi karena kamar mereka hanya tiga, mereka tidak bisa menampungku, jadi aku tinggal di Paris yang kebetulan ada Darrell teman dari paman ku yang menawarkan pekerjaan" jelas Saga.
"Kalau di sana penuh, lalu kenapa kau menyuruhku tinggal di sana?" Amelia menyimpulkan.
"Putri bibi ku sedang belajar di Inggris, mungkin hingga beberapa tahun lagi. Aku akan meminta kau untuk tinggal di kamarnya" ucap Saga.
Amelia tak yakin dengan ucapan dan keyakinan Saga. Untuk saat ini dia hanya akan menurut saja, dia bisa tinggal dimana saja asalkan bukan di Paris. Ketakutannya pada Steve jauh lebih besar dibandingkan menghadapi dunia.
Sampai di rumah bibi Saga, mereka menjamu mereka. Tapi hanya untuk semalam saja karena mereka datang sangat larut. Bibi Saga tak bisa menerima wanita yang tak jelas asal usulnya. Apalagi jika sedang hamil. Dia bahkan menyangka Saga yang melakukannya. Namun mendengar sumpah Saga, dia percaya dan menjauhkan Saga darinya.
Amelia sedikit mendengar ucapan mereka yang bicara dalam bahasa daerah. Dia mengelus perutnya lagi. Dia sangat menyesal mengambil keputusan bekerja di Paris bersama Steve. Jauh, terlalu jauh dari rumah. Belum lagi dia harus memperbarui visanya beberap bulan lagi.
Amelia teringat dengan pegawai KBRI di Paris. Dia berencana akan meminta bantuannya. Namun kembali mengingat orang-orang di sana mengenali Steve. Mereka pasti akan memberitahu Steve dimana dia berada.
Galau lagi, cemas lagi, Amelia merasakan pusing dan mual lagi. Dia menyeruput teh jahe yang disediakan untuknya. Dia mengambil nafas dalam dan memejamkan mata sejenak sambil mengusap perutnya beberapa kali.
Bibi Saga menatapnya, Saga mendekat dan berbisik.
"Dia dikerjai pria brengsek. Kita ditakdirkan bertemu dengannya di sini, negara orang. Setidaknya, bisakah bibi membantunya sampai dia melahirkan?" bisik Saga.
Gendis, bibi Saga menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal.
"Kau membuatku merasa kasihan padanya. Baiklah, tapi dia juga harus mau mengerjakan pekerjaan rumah" ucap Gendis.
Dia menyetujui dengan syarat. Saga tersenyum dan memeluk Gendis dengan erat.
"Makasih ya aunty ku sayang" ucap Saga.
Mulai sejak malam itu, Amelia tinggal dengan Gendis sementara Saga tetap bekerja di Paris dengan Darrell.
\=\=\=\=\=\=>
__ADS_1