
Saga diam menatap Amelia yang masih mengajak Dama bermain. Sementara Ayu sedang menyiapkan makanan yang dia beli dari restoran untuk makan malam.
Diam-diam Saga memperhatikan ibunya dan sesekali mengalihkan pandangannya saat Amelia atau Ayu menatapnya.
"Dia tidak bisa masak katanya" ucap Amelia.
Saga menghela dan mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak peduli" jawab Saga.
"Dia selalu memesan makanan dari restoran setiap akan makan" lanjut Amelia sambil menatap wajah Saga yang menghindari tatapannya.
"Mamanya Dama...., aku bilang aku tak peduli" Saga mencubit Amelia di tangannya.
Amelia tersenyum.
"Kalau tak peduli, kenapa terus dilihat?" Amelia membalas cubitannya di perut Saga.
Saga menggeliat karena sakit dan geli.
"Amel!" seru Saga.
Mata Amelia membulat mendengar cara Saga memanggilnya.
"Kenapa? Mau bahas terus?" tanya Saga sambil mengancam akan mencubitnya kembali.
"Tidak, sudah cukup" Amelia menyerah.
Tapi dalam hatinya dia merasakan sesuatu yang tak asing dari cara Saga memanggilnya. Tak seperti biasanya, seperti saat mereka bersama di Montreuill.
~Rasanya nada suara panggilan itu tak asing di telingaku. Kenapa ini? Saat aku kembali ke sini, semuanya terasa tak asing. Bahkan Saga, aku merasa pernah bersamanya, sebelumnya~
Ayu tersenyum melihat keakraban dan kemesraan mereka.
"Seandainya saja Amelia bisa bersama Saga" gumam Ayu.
Ayu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak, Dama putra Davin. Dia pasti akan mempertahankan Amelia. Tapi, jika mereka bisa lolos dari cengkraman Ibu, mereka bisa bersama selamanya. Aku akan melindungi mereka, supaya mereka bisa bersama" Ayu meneruskan pemikirannya sendiri.
##
"Ini sudah malam, tapi kita belum bisa menemukan Amelia dan Dama" ucap Alex.
Davin menggigit bibirnya sendiri, kemudian sesekali menghela memikirkan kemana Amelia pergi.
"Mungkin saja Saga sudah membawanya pergi kembali ke Montreuill" ucap Alex.
"Montreuill itu jauh, harus lewat bandara. Penjagaan Oma di bandara sangat ketat. Mereka pasti sudah ditangkap kalau ke sana" ucap Davin.
"Iya juga ya, trus kemana?" tanya Alex.
"Kita pulang dulu, jika Saga tidak ada di rumah atau di hotel. Berarti mereka sedang bersembunyi bersama" ucap Davin.
__ADS_1
"Ok" jawab Alex singkat.
Mereka sampai ke rumah saat semua orang sudah tidur. Alex memeriksa kamar Saga tapi tak ada. Bertanya pada Minah pun dia menjawab tak melihatnya.
"Saga tidak pulang, ayah mu juga tidak pulang" ucap Maria yang berdiri bersandar di dekat lorong menuju kamarnya.
Davin menoleh.
"Ibu belum tidur?" tanya Davin.
"Belum, lebih tepatnya tidak bisa. Ibu khawatir dengan Dama. Dia masih terlalu kecil untuk dibawa kabur-kaburan seperti itu" ucap Maria sambil mendekat dan duduk di sofa.
Davin ikut duduk dan melipat tangannya di dada.
"Kalian belum menemukannya, Saga juga mungkin belum menemukannya. Tapi ayah mu tak ke kantor dan tak kembali ke rumah. Kau bisa tanyakan padanya" ucap Maria menduga-duga.
"Dia pasti sedang di rumah ibu Ayu. Kenapa tidak ibu saja yang menanyakannya?" ucap Davin.
Maria menghela.
"Ibu sedang tidak ingin kesal, kedatangan Amelia dan Dama cukup menguras pikiran ibu, dan itu sangat melelahkan" jawab Maria.
"Kalau begitu istirahatlah, aku akan ke rumah ibu Ayu untuk menanyakannya" ucap Davin.
"Kita tidak tidur saja, istirahat. Ini sudah sangat malam, tidak sopan bertamu malam-malam" ucap Alex sambil menguap.
Maria berdiri kemudian berjalan menuju kamarnya setelah menepuk pundak Alex.
"Ya, Alex benar. Istirahatlah, Amelia wanita yang cukup pintar, dia takkan membiarkan Dama kedinginan atau kesakitan" ucap Davin.
"Ya, tidak apa-apa. Aku hanya berharap dia bisa tidur dengan nyenyak malam ini" ucap Davin.
"Aku pergi ke kamar ku" ucap Alex.
Davin mengangguk, dia pergi setelah Alex meninggalkannya. Tapi dia tak ke kamarnya, dia ke kantor ayahnya dan berbaring di sofa Dia enggan masuk ke kamar, mengingat Bella begitu agresif tadi siang.
Sementara itu, Bella sedang bercumbu dengan Zidan di atap. Mereka melakukannya dengan bebas seolah punya waktu banyak malam itu.
"Apa bisa kita tidur bersama?" bisik Zidan di telinga Bella.
"Tidak!" jawab Bella sambil mendorong Zidan.
Zidan terengah kemudian mengalihkan pandangannya. Dia berdecak seolah kecewa dengan jawaban Bella.
Bella merasa telah mengecewakan Zidan lagi. Dia mendekat dan mengaitkan kedua tangannya ke lengannya juga menyandarkan kepalanya di dada Zidan.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukannya sekarang, aku benar-benar belum siap" ucap Bella.
Zidan tak peduli, dia hanya mendengarkan.
"Aku janji, saat-saat itu akan datang dan aku akan memuaskan mu" ucap Bella berjanji.
~Sialan, dia masih berharap Davin melakukan hal itu dengannya. Setelah itu dia baru merasa bebas melakukannya dengan ku. Tidak, Bella, aku tidak mau bekas orang. Aku mau keperawanan mu. Zidan tak boleh mendapatkan yang bekas~ ucap hati Zidan.
__ADS_1
"Hmmm, baiklah. Kau harus janji, kita akan melakukannya dengan bebas" ucapan Zidan lain dengan isi hatinya.
Bella tersenyum senang karena Zidan tak marah lagi. Dia mencumbunya kembali, Zidan tak menolaknya, malah semakin membuat Bella kewalahan.
###
Saga pamit setelah Dama tidur. Amelia melambaikan tangannya. Ayu menatap mereka sambil tersenyum.
"Saga pulang ke hotel?" tanya Ayu.
"Iya, dia mau berkemas" jawab Amelia.
"Ya sudah, istirahatlah!" Ayu menepuk bahu Amelia.
Dia berjalan ke tengah rumah untuk mematikan lampu. Tapi dia melihat Saga masih berdiri menatap rumahnya dari jalan.
"Kenapa dia belum pergi?" gumam Ayu.
Dia menoleh ke arah kamar Amelia. Lampu kamarnya baru saja padam. Pandangannya beralih pada Saga yang masih saja belum pergi.
Ayu sangat khawatir, dia keluar untuk bertanya pada Saga. Namun saat Saga melihat Ayu, dia gelagapan dan seolah tak tahu harus pergi atau tetap berdiri mengawasi rumahnya.
"Kamu belum pergi?" tanya Ayu.
Saga masih diam dan menghindari tatapan mata Ayu. Dia bisa bertahan saat makan malam bersama karena Amelia, tapi sekarang jadi canggung kembali.
"Ada apa? Kamu masih mau ketemu Amelia" tanya Ayu.
"Tidak, aku...." Saga masih bingung harus mengatakan apa.
"Tenang saja, jikalau pun Ibu Mira tahu dia ada disini, aku takkan membiarkan dia membawa mereka" ucap Ayu berjanji.
Saga akhirnya menatap wajah ibunya kerena berjanji hal yang tak bisa dia lakukan.
"Aku juga pernah mengalami hal ini. Hanya saja, dulu, bahkan keluarga ku pun menolak hubungan ku dengan ayah mu" ucap Ayu sambil tersenyum kemudian menunduk.
"Tak ada tempat untuk bersembunyi, setidaknya aku sudah membantu Amelia, iya kan?"
Saga mengalihkan pandangannya saat Ayu bertanya.
"Terima kasih, sudah mau membantu kami" ucap Saga formal.
Ayu menganga mendengar jawaban Saga yang begitu formal dan terdengar seperti orang asing.
"Aku pergi, permisi!" pamit Saga.
Ayu hanya mengangguk, kemudian baru sadar dan menjawab Saga.
"Hati-hati nak!" seru Ayu.
Langkah Saga terhenti mendengar Ayu memanggilnya Nak, kemudian berjalan lagi tanpa menoleh.
Ayu menghela.
__ADS_1
"Kapan kau akan menerima ku sebagai ibu mu? Aku harap, semua itu bisa terjadi sebelum ajal menjemput ku" gumam Ayu.
\=\=\=\=\=>