CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
70


__ADS_3

Tak sesuai dengan apa yang direncanakan, Davin dan Bella tinggal di rumah Wahyu selama satu minggu penuh. Mereka bersandiwara menjadi pasangan bahagia di hadapan Wahyu agar kesehatannya membaik.


Davin sudah lelah dan ingin segera pulang. Bella memperhatikan nya, sesekali menatap ponsel yang sedang dia tatap.


"Dia pasti ingin sekali menemui Amelia" gumam Bella.


Davin menyadari keberadaan Bella, dia menoleh kemudian memasukkan ponselnya ke saku.


"Ada apa, apa ada yang terjadi pada ayahmu? " tanya Davin.


"Kau mau sesuatu terjadi pada ayah ku? "


Bella duduk di sofa dekat jendela, di hadapan Davin.


"Tidak usah dijawab, aku bisa tahu sendiri. Di rumah ini banyak sekali dinding yang bisa bicara. Kau tahu itu kan? " ucap Davin.


Dia menyindir para pelayannya yang selalu bergosip di sela-sela pekerjaan mereka.


"Ya, itu cukup menghibur keluarga ku yang hanya bertiga ini" ucap Bella dengan melipat tangan.


Davin tak bicara lagi dan hanya menatap ke luar jendela.


"Kapan kau akan menerima bahwa aku ini istri mu? " tanya Bella.


Davin cukup terkejut dengan pertanyaan Bella yang tiba-tiba mengarah pada perasaannya.


"Aku berusaha membuat ayah ku percaya bahwa kita menjalani kehidupan rumah tangga yang sangat indah. Kau juga merespon dengan baik sandiwara yang aku mainkan"


Davin diam saja, Bella menatapnya dengan perasaan penuh harap.


"Aku jadi tidak ingin kembali ke rumah mu karena sudah sangat merasa nyaman dengan sikap baik mu pada ku" ucap Bella.


Davin melirik tak berani menatap wajah Bella.


~Aku melakukannya hanya demi keluarga ku, juga perusahaan~ ucao hati Davin.


"Tapi kau melakukannya semata hanya karena ingin semua kontrak yang keluarga kita tanda tangani tetap berjalan dengan baik" lanjut Bella.


Davin menghela. Bella berdiri mendekat padanya. Davin melepas lipatan tangannya. Bella memeluk dan bersandar di dadanya.


"Bisakah setidaknya kau beri aku kesempatan sekali saja untuk mendapatkan hati mu? "


Glekk... Davin tak bisa melakukan itu.


"Sekali saja Davin, kita pacaran, dating, hang out bareng. Supaya kamu tahu, aku itu wanita seperti apa" ucap Bella.


Davin menyentuh bahu Bella dan mendorongnya pelan.

__ADS_1


"Kita sudah jadi suami istri. Status kita sudah diketahui banyak orang. Kau adalah istri Davin, mereka mengenal mu dengan status itu. Aku terlalu banyak kerjaan dan tidak bisa meluangkan waktu untuk semua itu. Maafkan aku" jawab Davin seraya mundur dan meninggalkan nya.


Bella menghela, dia menatap kepergian Davin yang dimatanya semakin hari semakin jauh darinya.


***


Sementara itu Amelia sedang asyik menemani Dama bermain di taman. Maria memperhatikannya dari jendela kamarnya.


"Anak itu malah terlihat senang dan nyaman, Davin tak ada di sini" gumam Maria.


Harris yang baru keluar dari kamar mandi, mendengar ucapan Maria kemudian mendekat dan melihat siapa yang Maria bicarakan.


"Tentu saja dia merasa tenang, Davin selalu mendekati nya saat dia diam dan mengasuh Dama. Dia berekspresi seolah takut orang lain melihat kedekatan mereka, yang notabene bukan keinginannya" jawab Harris.


Maria terkejut dengan jawaban Harris.


"Aku tidak minta pendapat mu tentang apa yang aku ucapkan" ucap Maria dengan ketus.


Harris menatap Maria yang selalu bersikap dingin. Dia menarik tangannya dan mendekat.


"Sampai kapan kau akan seperti ini? Ketus dan bersikap seolah aku orang yang paling bersalah" tanya Harris.


Maria mengalihkan pandangannya.


"Lepaskan aku, aku mau keluar" pinta Maria.


"Kau ini tidak sadar atau pura-pura tidak sadar dengan apa yang kau lakukan pada ku dan Davin? " ucap Maria seraya melepaskan tangan Harris.


"Jadi ini masih tentang masa lalu? " Harris menatapnya.


"Masa lalu mu masih jadi masa sekarang mu. Kau bahkan tidak pernah bisa lepas darinya meski kau sudah memilki kehidupan baru. Kau melepas semua yang pasti untuk hal yang tidak pasti"


"Apa yang kau bicarakan? Apa yang tidak pasti yang aku genggam saat ini?" nada suara Harris meninggi.


"Sudahlah, kau selalu merasa bahwa kau melakukan hal yang benar" Maria hendak pergi.


Harris kembali menarik lengan Maria. Kali ini dia menciumnya dengan paksa. Maria terkejut, matanya membulat saat bibir Harris bersentuhan dengan bibirnya. Dia mendorong Harris cukup keras hingga hampir terjatuh.


Harris menatapnya dengan marah. Mata Maria pun merah karena menahan tangisnya. Mereka tak saling bicara, hanya menatap dan seolah semua tak bisa kembali diperbaiki.


***


Alex mendekati Amelia, dia duduk di sampingnya dan ikut memperhatikan Dama. Amelia menoleh dan tersenyum padanya.


"Semakin hari Dama semakin pintar, kemarin dia tanya mana papanya sama aku" ucap Alex.


"Iya dia juga ngomong itu terus. Tapi kalau sudah ketemu mainan baru, dia pasti langsung berubah sikap" jawab Amelia.

__ADS_1


Alex melihat Amelia yang masih bersikap biasa saja.


"Apa kau memang tidak punya perasaan pada Davin? "


Amelia menatap Alex dengan terkejut karena pertanyaan nya yang tiba-tiba mengarah kesana.


"Kalian pernah bersama selama sehari penuh. Apa kau tidak punya sedikit kerinduan padanya saat dia tidak ada di rumah? Ini sudah seminggu lebih sejak dia tinggal di rumah Bella" lanjut Alex.


Amelia mengalihkannya pandangannya.


"Mel, Davin bahkan nggak bisa melupakan sehari bersama mu selama bertahun-tahun.. .. "


"Dia harus melupakannya" Amelia menyela pembicaraan Alex.


Alex mengerutkan dahinya.


"Apa? "


"Dia sudah menikah dengan orang lain, Bella. Itu keputusan yang dia ambil setelah dia tak bisa melupakan ku. Aku sudah menerima hati lain, Saga. Setelah dia begitu sangat mendukung ku dalam berbagai situasi"


Amelia menatap kedua tangannya yang dia remas sendiri.


"Kami sudah diberikan jalan masing-masing yang sudah ditentukan. Masalah perasaan, itu sudah bukan hal yang penting lagi" lanjut Amelia.


"Davin menikah atas permintaan Oma Mira yang memaksanya dan hanya sekedar sebuah perjanjian. Dan kau... " Alex menunjuk dengan melebarkan tangannya.


"Aku mencintai Saga dan aku tidak akan pernah berpaling pada siapapun" ucap Amelia mantap.


"Kau tidak mencintainya, kau hanya membalas budi padanya" ucap Alex.


Amelia menatapnya dengan kesal.


"Kenapa kau jadi sok tahu tentang kehidupan ku? " Amelia kesal.


Alex terkejut dengan responnya.


"Kau tidak tahu apa yang harus aku hadapi setelah kejadian hari itu. Rasa bersalah yang begitu besar terhadap kedua orang tuaku, pandangan semua orang terhadap diriku, sikap dan karakter ku"


Amelia berdiri.


"Kau juga tidak tahu apa isi hati ku sekarang. Jangan pernah sekalipun menebak dan mengutarakan dugaan mu yang tidak penting itu" tunjuk Amelia pada Alex.


Amelia menggendong Dama dan membawanya masuk ke dalam rumah. Alex menelan salivanya seraya menatap kepergiannya.


"Aku hanya mencoba menyadarkan mu bahwa kau mencintai teman ku, Davin. Tapi dengan marahnya kamu, aku jadi semakin yakin kau masih menyukai nya" gumam Alex seraya tersenyum.


\=\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2