
Amelia mengambil ponselnya, dia mencari nama Minah untuk menghubunginya. Minah langsung menjawab panggilannya.
"Ya Mel! " jawab Minah.
"Hmmmm, mba apa kabar? " tanya Amelia sedikit berpikir.
"Hehe, kurasa kau sudah lihat beritanya" jawab Minah.
"Hmmm, ya. Lalu, bagaimana keadaan... disana?" tanya Amelia lagi.
"Kau mau menanyakan keadaan Nyonya besar?" Minah menebak.
Amelia menggigit bibirnya sendiri.
"Terlihat kuat, tapi kurasa.... dia stress di dalam" jawab Minah.
"Mba sudah siapin semua obatnya kan?" Amelia memastikan.
"Ya, dia minum di hadapan ku, tapi.... " Minah berpikir.
"Kenapa? " Amelia penasaran.
"Aku tadi dengar, jika pak Harris memberikan klarifikasi, hubungan Saga dan Bella akan terbongkar" jawab Minah.
Amelia mengangkat kedua alisnya.
'Ya benar, jika dia mengklarifikasi bahwa dia hanya bertemu untuk mendiskusikan Saga, hubungan rumit ini akan terbongkar, Oma Mira akan dipermalukan' jelas hati Amelia.
"Melll! " seru Minah.
"Hmmm, ya mba? " Amelia terbangun dari lamunannya.
"Aku pergi dulu ya, kurasa ada sesuatu dia atas" Minah langsung menutup panggilannya.
Amelia terdiam, dia khawatir akan keadaan Oma Mira. Atau mungkin Bella yang kadang mengambil tindakan yang bodoh.
***
__ADS_1
Minah berlari mendengar Maria memanggilnya.
"Iya Nyonya, saya sudah di sini! " seru Minah seraya melangkah mendekatinya.
"Bawa semua koper ini ke bawah! " perintah Maria.
Minah menatap tiga koper besar yang sudah rapi di dalam kamarnya.
"Nyonya mau kemana? " tanya Minah.
Maria menatapnya.
"Pulang, aku sudah tidak dibutuhkan di rumah ini, jadi aku pulang" ucap Maria datar.
"Nyonyaaaa! " keluh Minah.
"Minta Samin membantu mu, aku akan keluar menembus kerumunan" pinta Maria.
Minah tak bisa mengatakan apapun, Maria seolah sudah tak peduli dengan yang lainnya.
"Koper siapa? " tanya Davin.
Minah menatapnya, dia menelan salivanya karena cukup ragu untuk menjawab.
"Eeeuuuh....." tangan Minah menunjuk ke arah kamar Maria.
Mata Davin membelalak, dia bergegas berlari masuk ke kamar ibunya.
"Mam! " seru Davin melihat ibunya sedang merias wajahnya.
"Kalau masuk itu ketuk dulu Nak! " protes Maria.
"Mamah mau kemana? " tanya Davin seraya meraih tangannya.
"Ohhh, ya benar. Kau belum mama beritahu" ucap Maria dengan senyum.
Davin mengingat pembicaraan Ibu dan neneknya.
__ADS_1
"Bercerai? " Davin menebak.
"Kau tahu? " Maria tak begitu terkejut.
"Aku dengar pembicaraan kalian" Davin menundukkan pandangannya.
Maria tersenyum kemudian mengusap kepala putranya.
"Mama bertahan karena mama kira hati papa mu akan luluh dengan kesetiaan mama. Bertahun-tahun berharap hal itu bisa terjadi, kemudian dia bersikap seolah semua itu hendak terjadi. Tapi, dia hanya membuat sebuah kubangan (kebohongan) lainnya. Mama tidak mau terjatuh lagi dalam kubangan itu Nak" jelas Maria, datar dengan sedikit hela nafas yang seolab membuang semua harapannya.
Davin tak bisa mengatakan apapun.
"Keluarga ku kaya, mama tidak usah takut membebani mereka dengan kembalinya mama ke rumah" lanjut Maria.
"Lalu aku? " tanya Davin, bening mengembang di kelopak matanya.
"Kau putra keturunan Narendra, kau harus tetap di sini. Kau harus melanjutkan perjuangan Narendra, jaga Oma mu" jawab Maria.
"Tidak, Oma tidak menginginkan ku lagi. Aku....., tak punya alasan untuk tinggal di sini lagi" ucap Davin.
"Kau punya alasan besar, Dama" ucap Maria.
"Dama? " Davin tak paham.
"Dia putra mu, cucu pertama keuarga Narendra. Jadikan dia pemimpin yang Narendra harapkan" ucap Maria.
Tapi Davin menunduk, mengingat Amelia begitu tak ingin memberikan Dama padanya.
"Kenapa? Amelia? " tanya Maria.
Davin mendongak.
"Luluhkan hatinya, buat dia jatuh cinta lagi pada mu. Dama tidak perlu diperebutkan jika kalian menikah. Mama akan mendukung mu" usap tangan Maria di kepalanya.
Davin berpikir.
\=\=\=\=\=>
__ADS_1