CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
56


__ADS_3

Oma Mira menatap Amelia yang sedang duduk bersama Ghani. Sontak Ghani berdiri saat melihat Nyonya besarnya datang.


"Kau mengantar putri mu" ucap Oma.


"Iya Nyonya, saya harus memastikan putri saya aman" ucap Ghani.


Oma Mira menatap ayah dan anak itu bergantian.


~Anak melindungi orang tuanya, orang tua melindungi anaknya~ ucap hati Oma Mira.


"Ya, tentu saja. Aku akan memperlakukannya dengan baik karena dia juga sudah menerima kenyataan bahwa anaknya adalah putra keluarga ini" jelas Oma.


Bella turun dari tangga dengan mata menatap Amelia dan Davin yang menggendong Dama bergantian.


"Ikutlah makan siang bersama kami, aku akan mengumumkan kedatangan Amelia pada semua orang" ucap Oma Mira.


Ghani menatap Amelia yang juga menatapnya. Dia melihat anaknya masih harus ditemani untuk diperkenalkan saat makan siang bersama di hadapan semua orang. Ghani mengangguk, Amelia memegang tangannya.


"Tidak apa-apa, ayah kan sudah izin cuti tadi. Jadi ayah lebih banyak waktu untuk menemani mu hingga malam" ucap Ghani.


Amelia tersenyum berterimakasih pada ayahnya.


"Mama!" seru Dama menunjuk pada Amelia.


"Kau mau ke mama sayang! Ok, ini mama mu" ucap Davin sambil mendekat pada Amelia dan menyerahkan Dama.


Bella menatap tajam tangan mereka yang saling bersentuhan, juga cara Davin menatap Amelia.


"Katakan pada Minah untuk menyiapkan makan siang, Bella!" perintah Oma pada Bella yang dia lihat sedang memperhatikan mereka.


Bella menatap Oma dengan kesal, dengan terpaksa dia pergi ke dapur.


Maria yang sedang menyiapkan makanan melihat langkah Bella yang dihentakkan.


"Ada apa lagi Bella?" tanya Maria.


"Mereka sudah datang, Oma minta makanannya disiapkan" ucap Bella merajuk.


Mata Maria berbinar saat mendengar kabar cucunya sudah datang.


"Dama sudah datang?"


Maria buru-buru mencuci tangannya dan melepas apron yang dia pakai dan menyerahkannya pada Minah.


"Ini, aku akan keluar melihat cucu ku. Bella, bantu Minah menyajikan makanan!"


Maria pergi ke ruang keluarga. Semantara Bella memukul meja dapur dengan keras melihat sikap mertuanya.


Di ruang keluarga, suasana sangat canggung. Hanya Oma Mira yang duduk santai dengan mata memandang wajah Amelia.


Amelia sendiri hanya bermain dengan Dama dan tak sadar Davin juga duduk di dekatnya, ikut main dengan mereka.

__ADS_1


Ghani menarik baju Amelia untuk mengingatkannya agar menjaga jarak dengan Davin. Tapi Amelia tak menyadarinya, dia kira yang menarik bajunya itu kaki Dama yang mengait.


Maria datang dan melihat Dama sedang tertawa.


"Dama!" seru Maria.


Semua orang menoleh padanya kecuali Oma Mira yang malah terlihat malas mendengar Maria yang suaranya begitu riang.


Maria langsung menggendong Dama dan menciuminya. Davin berdiri dan melihat tingkah ibunya yang terlihat sangat bahagia.


"Cucu ku, Oma kangen banget sama Dama" ucap Maria tak henti mengusap punggungnya.


Maria menatap Amelia kemudian tersenyum.


"Terimakasih sudah mau kembali" ucap Maria.


Mata Amelia membulat, apalagi Ghani. Sejak melangkahkan kakinya di rumah itu, baru Maria yang mengucapkan kata itu, menyambut kedatangan mereka dengan rasa terimakasih.


Maria juga menatap Ghani dan tersenyum. Ghani membalasnya dengan membungkukkan sedikit bahunya.


"Dama pasti belum makan kan? Ayo Amelia bantu aku menyiapkan makanan untuk Dama" ajak Maria.


Amelia menatap ayahnya, Ghani mengedipkan mata agar Amelia menurut pada Maria. Amelia pun ikut padanya.


Davin mengiringi kepergian mereka dengan tatapannya. Oma Mira membulatkan matanya pada Davin saat pandangannya beralih pada Oma. Davin mengubah raut wajahnya dan kembali duduk.


"Kau izin hanya untuk mengantar Amelia dan Dama. Supir bisa menjemputnya dari rumah mu" ucap Oma.


Ghani mulai berspkekulasi.


"Oh kau pikir aku mengancamnya sesuatu?" ucap Oma Mira.


Davin melihat situasi akan memanas.


"Ini salah saya Pak, saya yang mengancam Amelia" Davin mengungkapkannya.


Tangan Ghani mengepal, Alex melihatnya dan mendekat untuk siaga dengan situasi ini.


"Apa?" Ghani tak percaya.


"Begini Pak, situasinya..." Davin hendak menjelaskan.


"Aku menitipkan putri dan cucu ku pada seorang yang mengancam mereka. Tidak, aku tidak akan melakukannya" Ghani ingin mengajak Amelia kembali ke rumahnya.


"Maaf Pak, aku sangat kesal melihat Amelia yang membentak Oma jadi terucap aku akan menuntutnya karena aku ayahnya Dama. Aku tak bermaksud menakutinya" jelas Davin.


Oma Mira berdiri.


"Ghani!" seru Oma Mira.


Ghani menoleh dengan mata merah kesal.

__ADS_1


"Ikut aku ke kamar ku" perintah Oma.


"Tidak Nyonya, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada anda, jika ada yang ingin anda katakan, silahkan katakan di sini"


Untuk pertama kalinya Ghani menolak perintahnya.


"Saya sudah menahan diri, saya tidak meminta kalian bertanggung jawab atas penderitaan Amelia selama dia mengandung, yang dia alami sendiri tanpa siapapun. Saya tidak meminta dia dinikahi oleh Den Davin. Saya hanya meminta dia diperlakukan layaknya wanita yang sudah melahirkan keturunan dari rumah ini. Jika orang yang saya harapkan dapat melindungi dia saja sudah mengancamnya, apa yang bisa saya harapkan dari yang lainnya?"


Davin menundukkan pandangannya, sementara Oma masih menatap Ghani.


"Kau ingin Davin menikahi Amelia?" tanya Oma Mira.


Davin mengangkat kepalanya dan memandang Oma Mira dengan tatapan tak menyangka.


"Oma!" Davin hendak mengendalikan ucapan Oma ny.


"Kau tahu batasan antara majikan dan bawahan kan?"


"Omaaa!" Davin mulai mendekati.


Ghani menelan salivanya merasa di hina.


"Nyonya..."


"Aku tidak bisa menjadikan dia istri Davin karena dia putri mu. Lain cerita jika dia anak orang lain" Oma Mira menegaskan.


"Oma cukup" Davin mencegah Oma Mira melanjutkan hinaannya.


"Tidak, dia harus tahu dimana posisinya. Jangan meminta hal yang sangat tidak pantas diminta seorang bawahan seperti dia"


Tatapan mata dan ucapan Oma menusuk ke hati Ghani.


"Ya, nyonya. Saya sangat paham dimana posisi saya sebagai bawahan anda. Tapi saya hanya minta anda untuk memperlakukan Amelia sama seperti tuan besar memperlakukannya" ucap Ghani mengingatkan masa lalu.


Davin menatap Ghani, dia tak mengerti dan mengingat apa yang dikatakan Ghani.


"Suami ku tidak tahu kalau putri mu...."


"Omaaa!"


Alex menghadang ucapan Oma yang dia tahu akan mengarah kemana. Oma pun menatap Alex dan melihatnya mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Dia juga menyatukan tangan memohon agar Oma mau meredam amarahnya.


"Baiklah Nyonya, jika memang begitu sulit memperlakukan anak saya seperti keluarga di rumah ini, izinkan Dama dirawat di rumah saya. Anda ataupun ayahnya bisa menengoknya kapan saja. Saya tidak akan melarang" Ghani mengalah namun memenangkan adu mulut ini.


Oma Mira naik pitam, dia tak menyangka Ghani yang begitu penurut padanya, kini membangkang dan tak mau mengalah. Dia hendak menunjuk wajah Ghani namun Davin menghalanginya.


"Tidak Pak, aku berjanji. Aku akan memperlakukan Amelia dengan baik. Anda bisa memegang janji ku bukan?"


Davin membujuknya. Ghani menatap wajah Davin dengan berpikir.


Sementara Amelia yang mendengarkan perseteruan mereka hanya diam dan menangis di balik dinding menuju dapur. Dia merasa bersalah karena telah membuat ayahnya dihina oleh orang yang dia layani selama puluhan tahun.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2