CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
32


__ADS_3

Maria menatap wajahnya di cermin saat dia menyisir rambutnya yang panjang dan hitam. Dia masih memikirkan Davin yang pastinya tak bahagia dengan semua ini. Harapannya musnah, dia tak bisa membuat anaknya bahagia. Semua usahanya hanya membuat Davin semakin menderita.


Maria memutuskan menceritakannya pada ibu mertuanya. Dia akan memohon pada Oma agar mencari wanita yang bisa membuat anaknya bahagia.


Oma menatap dalam pada Maria yang terlihat seperti dirinya dulu. Dia memohon pada Ayuningtyas agar mau menjadi istri Harris agar anaknya bisa merasakan kebahagiaan. Oma memalingkan wajahnya yang mulai merah ingin menangis.


"Ku mohon ibu, hanya ibu yang bisa melakukan semuanya. Cari tahu dia tinggal dimana, aku tidak mau Davin menderita" ucap Maria.


Oma berpikir untuk menyetujuinya, bukan karena kebahagiaan Davin. Tapi dia berpikir tentang keturunan Narendra yang tak boleh putus. Oma mencari Alex, dia meminta Alex kembali.


###


Alex datang atas perintah Oma Mira. Dia keluar dari mobil dengan gagah dan memakai kaca mata. Davin yang baru saja selesai sarapan, berjalan keluar dan tak sengaja bertabrakan dengannya karena berjalan dengan mata memeriksa daftar telpon yang tak terjawab.


Mata Davin menatap pria yang tidak disadarinya adalah sahabatnya. Alex membuka lebar tangannya dan menunggu pelukan Davin.


Tapi Davin malah meraih tangannya dan menarik Alex menjauh dari rumah.


"Apa yang kamu lakukan di sin?" tanya Davin dengan mata melihat ke sekitar, takut Oma melihat.


"Astaga, bukannya disambut pelukan, sahabat mu ini. Malah diseret seperti selingkuhan yang tak boleh masuk rumah istri pertama" celoteh Alex.


Dia menepis tangan Davin yang dirasanya tak perlu memegang tangannya dengan erat begitu. Davin mengerutkan dahinya, sangat heran dengan sikap dan ucapan sahabatnya itu.


"Jangan main-main, jika Oma tahu, kau bisa dipecat. Memangnya kau sudah siap dengan semua itu!" ucap Davin mengingatkan.


"Tenang saja, aku kemari karena mendapat kabar dari Oma untuk mencari seseorang. Kau tahu apa yang ada di pikiran ku?"


Davin menggelengkan kepalanya.


"Akhirnya, aku bebas dari paman mu yang sombong itu!" ucap Alex menggeliat dengan bebas.


Davin menyeringai, tapi dia penasaran dengan siapa yang harus Alex cari.


"Mana bocah itu? mobilnya sudah parkir, tapi orangnya tidak ada" seru Oma yang keluar dan memeriksa keadaan.


Davin yang hendak menanyakan perihal orang yang harus Alex cari, tak jadi mengatakannya. Oma datang dan menatap mereka berdua. Davin menghindari tatapan Oma nya karena malu dengan kejadian semalam, sudah mengetahui semua tentang dirinya dan Bella.


Davin pergi setelah menepuk lengan Alex tanda pamit, Oma menatap kepergiannya. Alex manggut menatap Oma yang mendelik padanya.

__ADS_1


"Kau membuat Davin jadi gay?" seru Oma saat sampai di kamarnya.


Alex membelalakan matanya, terkejut dengan perkataan yang terasa tak pantas keluar dari mulut wanita tua kaya raya itu.


"Oma....jangan asal bicara" ucap Alex dengan memajukan mulutnya.


"Kalian terlihat seperti pasangan gay yang tertangkap basah tadi" lanjut Oma masih membahasnya.


"Ya, tadi ku mencium bibirnya dengan lekat karena rasa rinduku padanya" ucap Alex memperagakannya dengan apik.


Oma memukul pahanya perlahan dengan tongkat. Alex menghindari sambil tertawa. Dia duduk di samping Oma dan memeluknya dari samping.


"Oma tidak rindu pada cucu angkat Oma yang tampan ini?" ucap Alex dengan manja.


"Tidak, masalah ku sedang banyak. Aku memerlukan mu karena itu" jawab Oma membiarkannya.


Alex memanjangkan mulutnya, kecewa kedatangannya tak dirindukan. Tapi seketika dia merubah ekspresi wajahnya.


"Katakan, siapa yang harus aku cari? Aku hanya akan melakukan semua perintah Oma dan Davin. Kalian adalah dewi dan dewa fortuna ku" ucap Alex melepas pelukannya dan mengambil kursi untuk duduk di hadapan Oma dan mendengarkan perintahnya.


Oma menatap mata anak yang sejak kecil dirawatnya dan diperlakukan sama dengan Saga dan Davin. Tapi anak ini sangat tahu cara berterima kasih. Dia selalu melakukan semua perintah dan mengabulkan permintaannya dengan baik.


"Amelia, Maria bilang Davin jatuh cinta dan hanya bisa menegang di hadapan gadis itu. Aku baru mengetahui kalau penyakitnya itu sangat parah" ucap Oma.


"Rahasiakan ini hingga kamu menemukan Amelia. Aku takut hal ini melukai Bella" ucap Oma.


Alex meraih tangan Oma dengan lembut dan menciumnya.


"Baik Oma, aku akan mencarinya" jawab Alex menyetujuinya.


Alex pergi, dia melihat Bella berjalan menuju balkon lantai atas. Alex penasaran, karena dia terlihat sedang mengikuti seseorang. Dia berjalan menyusul Bella, namun Davin menelponnya. Alex buru-buru pergi ke bawah menyusul Davin yang ternyata menunggunya.


Alex masuk ke mobilnya yang sudah ada Davin di dalamnya.


"Kau lama sekali, apa yang dikatakan Oma?" tanya Davin.


"Ada sebuah misi, tapi aku belum bisa mengatakannya padamu" jawab Alex.


Davin menatapnya dengan mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Sabar....., aku akan mengatakannya padamu secara bertahap. Ok!" ucap Alex sambil mengedipkan sebelah matanya.


Alex menyalakan mobilnya dan mengantar Davin ke kantor sambil menyapa teman kerja lainnya yang dia rindukan.


###


Di balkon.


Zidan menyambut Bella yang naik dan keluar dari pintu dengan cantiknya. Mata Zidan sangat menikmati kecantikan Bella, wangi parfum Bella membuat Zidan terkesiap dan memejamkan matanya.


Zidan memeluknya dari belakang dan mendekatkan wajahnya hingga pipi mereka beradu. Bella sedikit canggung melirik ke arah wajahnya.


"Zidan"


"Hmmm...?" jawab Zidan yang mendalami pelukannya.


"Aku rasa, kita sudah salah melakukan hal ini" Bella ragu.


Zidan membuka matanya dan membalikkan tubuh Bella kemudian menatap wajahnya.


"Aku nggak akan minta ngelakuin hal macem-macem sama kamu. Aku cuma mau nemenin kamu supaya kamu nggak kesepian" ucap Zidan meyakinkan.


Tapi Bella menundukkan matanya dari bibir Zidan yang kemarin malam tiba-tiba mendarat di bibirnya dan menenangkannya. Dia mencoba mengalihkan pikirannya yang mulai merindukannya.


"Aku hanya mau menemani mu, maaf jika beberapa kali aku bersikap tak sopan padamu. Tapi Bella, katakan padaku, apa yang terjadi? Apa Davin punya kelainan?" tanya Zidan mulai mengorek informasi tentang sepupu yang selama ini menjadi saingannya itu.


Bella menatap mata Zidan, kemudian menghadap ke arah pemandangan kota di pagi hari itu. Matanya menatap jauh seolah bimbang. Selama ini dia memendam semua perasaan kecewanya terhadap Davin yang selalu menolaknya.


Tak ada tempat baginya untuk menceritakan semua keluh kesah kehidupan rumah tangganya. Di sisi lain, dia merasa ragu untuk menceritakan aib rumah tangganya, dia yang dididik dengan adab dan sopan santun yang kuat oleh keluarganya, merasa apa yang dilakukannya sekarang merupakan kesalahan yang sangat besar.


Bella menghela nafas dengan keras dan membuat Zidan paham bahwa dirinya memang berat untuk mengatakannya.


"Ya sudah, nggak usah bilang kalau belum siap" ucap Zidan.


Bella menatap Zidan yang menurutnya seperti paham dengan hela nafasnya.


"Aku minta maaf karena semalam tak sopan mencium bibir mu. Aku hanya berinisiatif melakukannya, saat melihat mu yang menangis karena Oma sudah tahu tentang kalian" jelas Zidan.


Dia melepas pegangan tangannya dan mundur selangkah menjauhinya. Bella melihat gerakannya. Seharusnya dia merasa lega karena bisa membuat Zidan menjauhinya, tapi hatinya berkata lain. Bella merasa sedih, ada perasaan takut kehilangan di hatinya, takut kehilangan perhatian dari Zidan.

__ADS_1


Tangannya seolah ingin meraih tubuh Zidan dan memeluknya. Tapi wajah kedua orang tuanya sekilas terlihat dan membuatnya mengepalkan tangannya.


\=\=\=\=\=>


__ADS_2