
Davin gemetar, meskipun matanya ditutup, bayangan betapa cantiknya Amelia dengan kebaya putih itu tak bisa lenyap dari pikirannya.
'Astaga, Amelia, kau membuatku jatuh cinta lagi hanya dengan melihat penampilan mu' ucap hati Davin.
Berulangkali dia menelan salivanya. Davin mengatur nafasnya untuk kembali masuk ke butik dan menjemputnya.
Dia berbalik dan melihat Ayu ada di hadapannya.
"Ibuu! " ucap Davin gagap.
"Kau datang? " tanya Ayu.
"Ya, Kak Saga minta aku untuk menjemput Amelia, aku tidak tahu kalau ibu.... "
"Ya, aku juga tahu dari Saga kalau Amelia fitting baju sendirian. Kau pasti sibuk, tapi karena aku juga tidak bawa mobil, maukah kau mengantar ku pulang terlebih dulu? " ucap Ayu.
"Ya, tentu saja bu, aku akan mengantar kalian" ucap Davin saat melihat Amelia sudah berganti pakaian dan menghampiri mereka.
Ayu menoleh, dia memperhatikan cara mereka saling menatap. Dia juga memperhatikan apakah mereka masih memiliki persaan pada satu sama lain.
Tapi Amelia bersikap seperti biasanya. Tak berbeda atau terlihat gugup. Hanya Davin yang menunjukkan sikap yang seolah menghindari tatapan atau bicara lebih lama dengannya.
"Saga selalu merepotkan mu? " tanya Ayu.
"Tidak Bu, kak Saga hanya meminta beberapa hal dari ku. Itu juga jika aku benar-benar tidak sibuk" jawab Davin.
"Dia banyak mengambil hal berharga dari mu" ucap Ayu lagi.
Davin menatap Amelia yang sedang mengabari Saga tentang gaun-gaunnya.
"Aku.... "
"Aku mengerti, seharusnya dia tetap di Montreuil dan hidup sederhana saja di sana. Kenapa dia harus kembali dan mengambil bagian dari semua kekayaan kakek mu" lanjut Ayu.
"Tidak Bu, itu sudah menjadi hak Kak Saga" jawab Davin.
"Kau berhati emas, kau bahkan tidak masalah dia menjadi pengganti ayah mu di perusahaan dan menerima kepindahan mu ke pabrik di pelosok" ucap Ayu.
"Tidak terlalu pelosok Bu, masih di dekat pusat kotanya" sangkal Davin.
Ayu memperhatikan Amelia yang masih tak menghiraukan pembicaraan mereka.
"Tetap saja, kau baik. Kau memberikan posisi yang seharusnya menjadi milik mu" ucap Ayu.
Davin menatap Amelia lagi melalui kaca spion. Dia menghela, berpikir, Amelia lah satu-satunya yang berharga, yang Saga ambil darinya.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu Bu, aku sudah senang kak Saga kembali dan berharap dia tak lari lagi dari kami seperti dulu" jawab Davin.
Mereka sampai di rumah Narendra, Amelia turun dan melambaikan tangannya pada Ayu yang tak turun untuk mampir.
"Kau masih menyukainya" ucap Ayu datar.
__ADS_1
Davin menatapnya, terkejut dengan ucapannya.
"Tidak Bu, aku menatapnya hanya karena..... "
"Karena kau merasa telah kehilangannya" Ayu melanjutkannya.
Davin menelan salivanya.
"Mata, tatapan mata mu padanya, aku tahu itu. Tapi aku rasa Amelia sudah menutup perasaannya untuk mu, aku lihat dia lebih memberatkan dirinya pada Saga" jelas Ayu.
"Aku tahu itu"
"Lantas? Mengapa masih ada harapan dalam tatapan mu Nak! Itu hanya akan menyakitimu dan Bella. Saga juga akan merasa sedih jika tahu semua itu" Ayu menyentuh tangannya.
"Amelia tahu permasalahannya, dia tahu aku sangat berusaha, dia juga tahu mengapa aku tak bisa melupakannya. Aku tetap berusaha, dan aku berada di jalan ku untuk meninggalkan kenangannya" jelas Davin dengan tangan semakin erat memegang stir.
Ayu melihat kejujuran dalam ucapannya. Dia menghela dan menatap ke jalan.
"Aku turun di depan" tunjuk Ayu.
"Tapi.... "
"Aku harus ke tempat syuting, masih ada scene yang harus aku perankan" jelas Ayu.
"Ibu, syuting lagi? " tanya Davin.
"Ya, aku bosan tinggal di rumah terus. Lagipula, aku sudah tidak usah sembunyi lagi bukan? " ucap Ayu.
"Maaf kalau rasa cemburunya membuat mu kesulitan" ucap Davin, orang yang dia maksud adalah ibunya.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama dengan ibu mu. Tapi tekad ayah mu untuk setia padanya membuat ku paham, aku salah telah melepaskan pria yang benar-benar baik" ucap Ayu.
Davin hanya diam.
"Aku lelah dengan semua ancaman dan trik Oma mu untuk memisahkan aku dan dia" Ayu menghela.
"Oma selalu melakukan apa yang menurutnya baik" ucap Davin.
"Ya, kau benar. Orang tua selalu benar" timpal Ayu.
Cukup lama Davin berhenti di jalan itu. Ayu tersadar, kemudian membuka pintu mobil.
"Aku terlalu banyak bicara, aku jadi lupa kalau aku harus bekerja" ucap Ayu.
"Selamat bekerja Bu! " ucap Davin menyemangati.
"Terimakasih Davin, bye! " Ayu melambaikan tangannya kemudian menutup pintunya.
Davin berbelok, hendak kembali ke kantor, namun perutnya yang lapar membuatnya berhenti di restoran dan makan.
Sementara itu, Maria melihat Amelia datang dengan wajah tersenyum memandangi ponselnya.
__ADS_1
"Kau sudah kembali? " tanya Maria.
"Ya Bu, aku baru saja kembali" jawab Amelia menarug ponselnya di saku.
"Kau tidak memilih gaun yang salah kan? Jangan terlalu sederhana, atau malah norak. Nanti kau bisa-bisa mempermalukan keluarga Narendra" ucap Maria.
Amelia menatapnya yang raut wajahnya sama sekali tak ada ekspresi. Teringat akan pembicaraan ibu-ibu sosialita tadi, Amelia semakin merasa bahwa Maria memang belum bisa menerimanya sebagai bagiin dari rumah ini.
Saat Amelia hendak menjawab ucapan Maria, Oma Mira turun dan menyapanya.
"Aku dengan Ayu membantu mu untuk memilih gaun? " ucap Oma Mira.
Minah menyusul dengan menggendong Dama yang tak sabar ingin digendong Amelia.
"Iya Oma, ibu datang dan menunggu di dekat butik" jawab Amelia setelah menggendong Dama dan mata menatap Maria yang terlihat masih tak senang mendengar nama Ayu.
"Aku yakin dia memilihkan pakaian yang sangat cantik untuk mu, aku dikirimi pesan gambar oleh Saga" ucap Oma.
Amelia tersipu.
"Kemarilah, ajak Dama bermain di ruang tengah" pinta Oma seraya berjalan menuju ruang tengah.
Tak berapa lama, Bella kembali dan berjalan tergesa menuju kamarnya tanpa menyapa mereka, seperti biasanya.
Oma dan Amelia menatap kedatangannya, kemudian secarik kertas jatuh dari tasnya. Amelia mengambilnya dan hendak mengejar Bella.
"Tidak Amelia! Coba bawa kemari" pinta Oma.
"Tapi Oma, mungkin ini..... "
"Aku mau tahu isinya! " ucap Oma.
Amelia berjalan perlahan dan menyerahkannya. Oma Mira membuka kertas itu dan membacanya, matanya langsung membelalak setelah selesai membaca.
Gleekk!
Oma Mira menelan salivanya. Maria mengintip, dia membaca surat itu.
"Astaga! Bella hamil! " seru Maria.
Oma Mira tak tahu kalau Maria membacanya. Dia langsung menarik tangannya.
"Kenapa Bu? Ini berita membahagiakan bukan, akhirnya Bella hamil. Davin..... "
Maria tak melanjutkan ucapannya saat melihat Amelia.
"Tidak, berikan ini pada Bella tanpa mengatakan bahwa kita tahu isinya. Mungkin dia ingin memberikan kejutan" ucap Oma pada Minah dengan wajah tanpa ekspresi.
Minah mengangguk kemudian pergi. Tapi Amelia terheran, dia tak melihat raut wajah bahagian di wajah Oma Mira.
\=\=\=\=\=>
__ADS_1