
Amelia hidup bersama keluarga Gendis, dia tidur di kamar Amarta putri Gendis yang sedang belajar di Inggris. Awalnya Gendis tak menyukai Amelia apapun alasan Saga. Dia tetap ketus padanya, dari perkataan hingga sikapnya.
Amelia melakukan pekerjaan dengan membantu Peter, suami Gendis di pabrik parfum miliknya. Amelia membantu manajemen pabrik yang ternyata cukup kacau. Amelia yang lulusan Marketing Bisnis pun membantu Peter menyelesaikan beberapa masalah di bagian marketing. Peter mulai menyukainya, dia selalu memujinya di depan Gendis.
Amelia juga menyempatkan diri mengerjakan pekerjaan rumah. Membantu Gendis yang juga ikut dalam proses pembuatan parfum. Mereka hanya tinggal berdua sekarang. Putra sulungnya yang bernama Deanis sudah menikah dan tinggal di Nanterre.
Amelia menatap mereka saat sedang makan bersama. Teringat dengan meja makan rumahnya yang sangat dia rindukan. Gendis dan Peter berubah jadi Ghani dan Hani yang kemudian tersenyum padanya. Amelia meneteskan air matanya. Gendis melihatnya, tapi Amelia buru-buru membawa piringnya ke washtafel. Gendis mendekat.
"Kenapa? Kau teringat seseorang?" tanya Gendis ketus.
Amelia mengusap air matanya, dia menghela nafas dalam.
"Tidak, aku hanya melihat kalian seperti ayah dan ibuku tadi" ucap Amelia.
Dia meninggalkan Gendis ke kamarnya untuk bersiap membantu Peter di pabrik yang letaknya di depan rumah mereka. Gendis menatap Amelia dari dalam rumah. Dia menundukkan pandangannya mengingat saat Amelia mengatakan bahwa dia merindukan kedua orang tuanya.
Hari-hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Amelia harus kembali ke kedutaan untuk memperpanjang visanya. Gendis menelpon Saga untuk mengantarnya karena mereka sedang tidak bisa mengantarnya.
Dengan senang hati Saga datang, dia senang karena ada alasan untuk bertemu dengan Amelia. Gandis melihat raut wajah yang begitu riang dari Saga saat melihat Amelia. Peter berbisik padanya bahwa Saga menyukai Amelia. Tapi, Gendis ragu, Amelia cenderung diam dan tak terlihat merespon Saga dari obrolan maupun gestur tubuhnya.
Saga membantu Amelia naik mobil yang Peter pinjamkan untuk mereka. Mengingat perut Amelia terlihat mulai membesar dan mereka khawatir jika Amelia harus naik turun bis.
Sampai di kedutaan, seorang yang mengenal Amelia menatap dari kejauhan. Dia melihat Amelia dituntun Saga untuk masuk ke kantor dan mendaftar. Dia mengambil foto Amelia oleh ponselnya secara diam-diam dan mengirimkannya pada Steve.
Mengurus visa cukup lama, Amelia menunggu di ruang tunggu bersama Saga yang mengajaknya menceritakan pengalamannya bersama Gendis.
"Maaf, karena aku harus bekerja, aku jadi tidak menemani mu di sana" ucap Saga.
"Kenapa harus minta maaf, bukan kewajiban mu menemani ku" ucap Amelia datar.
Dia fokus membaca artikel yang ada di majalah yang disediakan di sana. Saga memperhatikan wajah Amelia yang semakin manis. Amelia pandai merawat diri. Kulitnya bersih dan wangi, rambutnya juga. Saga semakin terpesona.
Amelia berdiri sebentar karena merasa pegal. Dia bertopang pada kursi, namun terlalu pendek. Lagi-lagi refleks tangan Saga terangkat menawarkan topangan, Amelia pun seperti terbiasa meraih tangan Saga. Amelia dan Saga sadar dengan kebiasaan mereka itu sejak bertemu. Mereka saling berpandangan sejenak.
"Atas nama Amelia Quinnara!" ucap seorang pegawai.
Amelia mengalihkan pandangannya dan menoleh pada pegawai yang memanggilnya. Saga menundukkan pandangannya. Dia merasa Amelia menghindarinya. Dia berjalan di belakang Amelia, menemaninya.
__ADS_1
"Pak Rahmat mau bicara dengan anda di ruangannya" ucap pegawai itu.
Amelia mengerti mereka akan menanyakan perihal kehamilannya. Dia menoleh pada Saga.
"Aku akan masuk!" ucap Amelia.
Saga mengangguk, dia duduk di kursi tunggu. Amelia masuk dan menyapa Pak Rahmat. Dia menatap perut Amelia yang sudah mulai membesar.
"Duduklah!" ucap Pak Rahmat.
"Terimakasih Pak!" jawab Amelia.
"Kamu tahu kan, kenapa saya minta bicara di sini?" tanya Pak Rahmat.
Amelia mengelus perutnya dan mengangguk.
"Ini hanya untuk kependudukan anak mu ini nanti setelah lahir. Aku hanya menyarankan untuk sesegera mungkin membuat sebuah pernikahan. Kau juga jadi bisa tinggal di Prancis dengan tenang" jelas Pak Rahmat.
"Tapi Pak, saya benar-benar nggak tahu dimana ayah anak saya" jawab Amelia.
"Dia hanya orang yang terlalu baik yang nolong saya dari jahatnya bos saya" ucap Amelia.
"Bos kamu?" Pak Rahmat tak mengerti.
Amelia menceritakan kejadiannya dan Pak Rahmat sangat terkejut. Dia melihat teman Steve memotretnya karena Steve mengatakan bahwa dia kabur bersama seorang pria. Pak Rahmat berdiri dan memberikan visa milik Amelia dan menyuruhnya cepat-cepat pergi.
"Kamu cepat pergi lewat belakang, teman Steve ngasih tahu kamu ada di sini. Dia sedang ke sini nyariin kamu. Pergi lewat belakang" ucap Pak Rahmat.
Amelia keluar dengan dituntun Pak Rahmat yang terlihat buru-buru. Dia juga memberitahu Saga dengan berbisik dan mengantar mereka ke pintu belakang. Beberapa orang melihatnya karena heran.
Saga memegang erat tangan Amelia. Sesekali berjalan perlahan menunggu Amelia yang merasakan tegang di perutnya. Berjalan beberapa blok, mereka semakin jauh dari tempat parkir mobil. Amelia mulai kelelahan. Saat berhenti di deretan toko yang tutup, mereka dicegat Steve.
Amelia memegang erat tangan Saga dan bersembunyi di belakangnya. Saga mengalihkan genggaman Amelia ke jaketnya. Dia membuat kepalan dan bersiap untuk hal buruk. Tapi Steve tak melakukan apapun, dia hanya menatap Saga dan menyeringai.
"Jadi dia korban mu selanjutnya?" ucap Steve.
Amelia menatapnya heran, dia tak menyangka Steve akan mengatakan hal yang tidak benar. Sementara Saga hanya diam dan menatapnya sambil siaga.
__ADS_1
"Kau tahu? Dia wanita tak baik, dia hamil saja tidak tahu siapa bapaknya. Dia juga merayu ku hingga aku mengusirnya dari rumahku" tambah Steve.
Amelia menutup matanya karena kesal mendengar ucapan Steve yang merendahkan dirinya. Dia bicara bohong dan ingin membuat Saga pergi darinya.
"Jangan sampai tertipu, aku akan mengembalikan dia ke tempatnya" ucap Steve.
Saga tak berkutik, dia hanya menatap wajah Steve yang sudah kehilangan kata-kata untuk membuatnya pergi. Amelia melepaskan genggaman tangannya dari jaket Saga. Dia memberikan kesempatan pada Saga untuk pergi jika percaya pada ucapannya.
Saga yang merasakan tangan Amelia yang melepaskan tangannya, langsung menggenggamnya lagi. Amelia terkejut, dia mendonga menatap Saga dari belakang.
"KENAPA KAU DIAM SAJA? BERIKAN DIA PADAKU! KENAPA MALAH MENGGENGGAM TANGANNYA!" Steve kehilangan kendali.
Saga tersenyum menertawakannya. Steve kesal dan menyerangnya. Tapi Saga memeluk Amelia dan menghindari pukulan Steve dan membuatnya terjatuh, tersungkur. Saga dan Amelia mundur perlahan. Saga melihat taksi yang hendak lewat. Dia memberhentikannya dan buru-buru membantu Amelia masuk terlebih dahulu sambil mengawasi Steve yang masih berusaha berdiri. Dia naik dan taksi pun pergi meninggalkan Steve yang terus berteriak karena tak berhasil membawa Amelia kembali.
Amelia menatap wajah Saga yang meminta supir cepat-cepat mengemudinya. Kemudian mengalihkan pandangannya saat Saga menatapnya.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Saga sambil menatap perutnya.
Amelia mengusap perutnya dengan lembut dan mengatur nafasnya.
"Ya, kau tidak boleh tegang. Kasihan bayi mu. Tenanglah! Kita sudah jauh dari pria brengsek itu. Tak sangka dia bisa begitu beringas meminta ku memberikan mu. Apa dia pikir wanita adalah barang? Dia juga sangat tidak sopan, mengatakan hal yang sama sekali tidak di ketahui....." Saga terus bicara karen kesal.
Amelia memegang tangannya, dia pun diam menatap tangannya. Amelia melepasnya lagi, dia menunduk dan bicara.
"Sekarang kamu yang harus tenang. Supir menatap mu dari tadi" ucap Amelia.
Saga tersenyum kemudian tertawa kecil.
"Kau tahu, aku kira tadi akan ada adegan seperti di film-film, saling memukul dan menendang. Ternyata dia tidak cukup seimbang meski hanya untuk memukul" ucap Saga sambil tertawa.
Amelia menatapnya dan ikut tersenyum. Dia berpikir Saga sangat lucu, sebentar bisa sangat kesal dan marah, kemudian dia berubah dan memikirkan hal lucu di sela-selanya.
Sampai di rumah Gendis, mereka menceritakan kejadian tadi pada Peter dan Gendis. Peter bereaksi kesal dan memukul tangannya sendiri. Sementara Gendis menatap Amelia yang menyiapkan minum untuk Saga dengan rasa kasihan.
Amelia memberikan minum pada Saga, yang langsung tersenyum saat menerimanya. Gendis memperhatikan mereka seperti sepasang suami istri yang sedang menunggu kelahiran anaknya. Gendis pergi ke dapur menyiapkan makanan untuk mereka dengan semua yang dia pikirkan. Dia tak pernah melihat Saga begitu senang dan semangat seperti itu setelah pergi dari rumahnya.
\=\=\=\=\=\=>
__ADS_1