CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
103


__ADS_3

Semua orang sibuk pagi ini, terutama Davin yang awalnya sudah terbisa dengan berbagi pekerjaan dengan Saga, kini harus menghandle semuanya sendiri.


"Kak Saga akan pergi lamaran, aku harus cepat" ucap Davin pada Bella yang masih menggeliat di ranjangnya.


"Ini jam berapa? " tanya Bella.


"Baru jam 6" jawab Davin terburu.


"Masih pagi, kenapa kau begitu terburu-buru?" Bella bangun dan membuka tirai.


"Kau tidak dengar ucapan ku? Bersiap untuk lamaran, aku harus berangkat sekarang, nanti aku menyusul ke rumah Pak Ghani" jelas Davin.


Dia pergi dengan terburu, Amelia yang sudah bangun dan sedang menyiapkan sarapan, melihatnya keluar.


Dia menatap kepergian Davin dan berpikir bahwa Davin takkan ikut ke acara lamaran mereka.


Saga yang baru bangun, langsung memeluknya dari belakang.


"Pagi sayang! " bisiknya.


"Pagi, mandilah, aku akan memanggil semua orang untuk sarapan" ucap Amelia seraya pergi.


Saga mengambil segelas air kemudian mendengar suara mobil keluar.


'Davin? apa tadi Amelia memperhatikannya? ' ucap hati Saga dengan mata menatap ke arah luar.


"Pagi Den! " sapa Minah.


"Pagi mba, Dama belum bangun? "


"Belum, barusan Amel menemaninya lagi, jadi saya ke sini" jelas Minah.


"Katanya mau memanggil semua orang" gumam Saga.


Dia pergi ke kamar Amelia dan benar saja, Amelia berbaring di sisi Dama sembari menepuk kaki Dama perlahan.


Saga mengetuk pintu dengan perlahan, Amelia menoleh dan melihatnya.


"Kau belum mandi? " tanyanya setelah menghampiri.


"Belum, masih ada dua jam sebelum pergi. Kau sudah kabari ayah dan ibu? " tanya Saga.


"Sudah, mereka terkejut. Sepertinya mereka kebingungan untuk menyiapkan sajian untuk keluarga mu" jawab Amelia.


"Aku akan bantu dengan membeli beberapa di jalan nanti" ucap Saga.


"Terimakasih" jawab Amelia.


"Tadi... " Saga hendak membahas Davin yang pergi lebih pagi.


Tapi dia berhenti bicara saat mengingat bahwa dia harus percaya pada Amelia. Dia takkan meragukannya lagi, berpikir bahwa Amelia masih tak bisa melupakan Davin. Dia akan menutup semua kecurigaan dan prasangka buruknya.


"Tadi apa? " tanya Amelia yang menunggu kelanjutan ucapannya.


"Tadinya aku mau memeluk mu lagi, tapi karena Dama bangun, jadi tidak ku lakukan" tunjuk Saga ke arah dalam kamar.


Amelia langsung menghampiri Dama dan menyapanya. Saga pergi ke kamarnya dan mandi.


***


Sampai di rumah Ghani, semua orang menatap penampakan rumahnya setelah mereka turun, terutama Oma Mira.


Ghani tersenyum dari jauh menyambut mereka. Senyuman yang sama yang selalu dia berikan saat bekerja di rumah Narendra.


"Selamat datang Nyonya Besar! " sambut Ghani.


"Terimakasih Ghani" Oma Mira menyambut tangan Ghani yang ingin memapahnya masuk ke dalam.


Amelia yang sudah datang sebelumnya, sedang bersiap di kamarnya. Hana yang membantu meriasnya sangat puas dengan pekerjaannya.


"Kau cantik sekali" bisik Hana.


Amelia tersenyum.

__ADS_1


Mereka menoleh ke arah jendela saat mendengar suara mobil datang. Amelia meremas tangan Hana, dia khawatir ibunya akan menolak lamaran ini.


"Tenang, aku sudah bicara pada ibu, meski terlihat tak setuju, lihat, dia mempersiapkan semua dengan sempurna bukan? " ucap Hana menenangkan.


"Ya, tapi, ibu sulit ditebak. Aku takut tiba-tiba dia mengatakan hal yang membuat Saga terluka" ucap Amelia.


"Memangnya aku sejahat itu? "


Hani datang tiba-tiba.


"Ibu! " Amelia terkejut.


"Mereka sudah datang, turunlah! Aku akan menggendong Dama. Kau turun bersama Mikayla. Oh ya, si.... itu, siapa ya namanya? Sii.... "


Hana membulatkan matanya.


"Alex? " Hana mencoba menebak.


"Haah, ya. Dia langsung ke dapur membantu ku, jadi beritahu dia apa yang harus dilakukan" jelas Hani.


Hana tersenyum riang, dia pun membawa Mikayla turun.


Hani berhenti saat menatap wajah Amelia. Mereka pun saling menatap.


"Kau bahagia? " tanya Hani.


Amelia mengangguk dengan senyum yang merekah.


"Jangan menangis, nanti riasan mu rusak" ucap Hani.


Amelia memeluk ibunya dengan erat.


"Terimakasih ibu, sudah menerima Saga" bisik Amelia.


"Ya, asalkan kau bahagia" ucap Hani.


***


Acara lamaran di mulai. Harris membuka pembicaraan.


Harris menunjuk ke arah Saga, tapi semua tatapan tertuju pada pintu dimana Davin berdiri, yang datang terlambat.


Saga pun ikut menoleh, dia mengalihkan pandangannya pada Amelia yang juga menatapnya.


"Maaf aku terlambat" ucap Davin.


"Duduklah Nak! " ucap Harris.


Harris mengulang pembicaraan, Ghani menyetujui dan menerima lamaran. Semua orang bersyukur, terutama Amelia dan Saga yang semakin terlihat bahagia.


Davin berusaha tetap tersenyum, dia dihibur oleh Dama yang terus menyentuh pipi dan hidungnya.


Saat acara santap menyantap sajian yang disediakan Hani, Davin membawa Dama ke taman bersama Alex yang membawa Mikayla.


"Kau di sini? " tanya Davin heran melihatnya begitu akrab dengan Mikayla.


"Hehe, ya Bos, Mikayla mulai dekat dengan ku" ucap Alex.


Mereka berdua duduk memangku Dama dan Mikayla.


***


Sampai di rumah Narendra, Oma Mira duduk di ruang depan. Semua orang mengira dia akan mengatakan sesuatu, mereka ikut duduk dan berkumpul.


"Tidak, aku tidak akan mengatakan apapun, aku hanya merasa lelah dan duduk di sini. Kalian kembali lah ke kamar kalian" ucap Oma.


Mereka menurut, hanya Davin yang berjalan perlahan menyetarakan langkahnya dengan Dama.


"Kau... duduk di samping ku! " seru Oma.


Davin menoleh ke kanan dan kiri, dia tak melihat siapapun lagi.


"Aku Oma? "

__ADS_1


"Ya tentu saja, siapa lagi? "


Davin duduk, Dama ikut duduk di tengah-tengah mereka.


"Kau lihat Alex yang dekat dengan kakaknya Amelia? " tanya Oma.


"Hmmm, ya" jawab Davin dengan mengangguk.


"Kau tahu sejak kapan? " tanya Oma.


"Tadi" jawab Davin datar.


"Apa? Kau tidak tanyakan padanya apa hubungan mereka? Kau lihat kan, kakaknya Amelia itu punya balita, dia.... "


"Apa masalahnya Oma? Cinta itu tidak bisa dibatasi oleh status seseorang. Kenapa Oma selalu menanyakan hal itu" keluh Davin.


"Oma... omaaa" seru Dama.


Oma Mira menatap Dama.


"Apa maunya? " tanya Oma.


"Dia mau digendong Oma" jawab Davin.


"Tidak, aku sudah tidak kuat" Oma menolak.


Tapi Dama merangkak dari pangkuan Davin menuju Oma.


"Oma! " seru Dama lagi.


Oma Mira menjauhkan wajahnya dari capaian tangan Dama.


"Oma, dia hanya ingin menyentuh wajah mu" ucap Davin


"Jangan! " seru Oma.


Dia menyerahkan Dama pada Davin.


"Aku mau istirahat! " ucap Oma kemudian pergi.


"Dia jual mahal" bisik Davin pada Dama.


"Oma" Dama terus memanggilnya.


"Sudahlah, ayo kita ke kamar papa, papa mau ganti baju" ajak Davin.


***


Amelia masih di rumah Ghani. Dia menatap wajah ayahnya yang sedari tadi datar tak ada ekspresi.


"Ayah menyesal? " tanya Amelia.


"Tidak, tentu saja tidak sayang" jawab Ghani cepat-cepat meraih tangan putrinya.


"Lalu apa yang membuat wajah ayah tak berubah bahagia? " tanya Amelia.


Ghani menatap wajah Amelia cukup lama, kemudian menghela.


"Kau sudah tanya perasaan Davin? " tanya Ghani.


Mata Amelia membulat mendengar pertanyaan ayahnya.


"Apa maksud ayah? Kenapa aku harus tanya perasaannya? " Amelia mengalihkan pandangannya.


"Sejak datang, terlambat, hingga dia mengatakan akan pulang terlebih dahulu dengan Dama, dia terlihat sangat memaksakan diri" jelas Ghani.


Amelia terus menghindari tatapan ayahnya. Ghani menyentuh bahunya.


"Dengar nak, apa kau bahagia? " tanya Ghani lagi.


Amelia masih tak menatap ayahnya.


"Tatap mata ayah lalu katakan bahwa kau bahagia" pinta Ghani.

__ADS_1


Amelia menghela keras, kemudian dia mengangkat wajahnya untuk menatap ayahnya.


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2