CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
63


__ADS_3

Davin berdiri hendak protes dengan sikap Zidan. Tapi Oma berseru dan membuatnya diam.


"Ini masih pagi, aku tidak mau ada keributan di meja makan. Beri contoh pada anak mu bagaimana tata krama di meja makan" jelas Oma.


Davin mengambil nafas dalam, dia menatap Zidan yang juga menatapnya dengan menantang.


"Aku sudah selesai" ucap Davin.


Oma berdecak, Zidan menyeringai. Harris menghela dan di pun menyelesaikan sarapannya.


"Aku juga selesai ibu, aku pergi ke kantor lebih dulu" ucapnya sambil mencium kening ibunya.


"Hati-hati! " ucap Oma Mira.


"Jangan terlambat Zidan, ada meeting dengan perusahaan penyedia bahan baku" Harris mengingatkan.


"Ok Om! " jawab Zidan singkat.


Sementara itu, Davin datang pada Amelia yang sedang bermain dengan Dama. Dia langsung menyapa Dama yang sedang duduk di pangkuan Amelia.


"Hai sayang! " ucap Davin.


Mata Amelia membulat karena Davin bicara di dekat telinganya. Dia menoleh dan melihat wajah Davin begitu dekat dengannya.


Davin tersenyum, dia mengambil Dama yang meminta digendong olehnya.


"Waah, anak papa berat juga ya! " ucap Davin seraya mengangkat tubuh anaknya ke udara.


Amelia berusaha menenangkan pikirannya yang terlanjur ge-er disapa "sayang" oleh Davin.


Davin membawa Dama ke taman, cahaya matahari yang cerah membuat suasana begitu segar dirasakan.


Amelia mengikuti takut sewaktu-waktu Dama menanyakannya.


"Kau tahu, tadi papa kesal sekali dengan paman mu. Rasanya ingin memukul wajahnya yang serba lancip itu. Tapi karena melihat mu, papa jadi tak marah lagi" ucap Davin pada Dama.


"Kalimat kedua mu, kau tidak usah mengatakannya, dia mudah meniru ucapan seseorang, terutama dengan nada yang khas" keluh Amelia.


Davin terdiam, dia memikirkan kalimat kedua yang dia katakan kemudian tersenyum.


"Dama anak laki-laki, kata-kata seperti itu akan lumrah dikatakannya saat dia besar nanti bukan? " ucap Davin protes dengan cara didik Amelia.


"Kau protes dengan cara ku mendidik anak ku? " tanya Amelia kesal.


Davin tercengang dengan respon Amelia.


"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja... " Davin hendak berkilah.


"Aku ingin dia menjadi pria baik, sopan dan berpendidikan. Kau bisa mempermudah itu kan?" ucap Amelia.


"Hai Dama ganteng, opa kerja dulu ya! " ucap Harris yang datang dari arah belakang Amelia.


Amelia menundukkan pandangannya.


"Cepat berangkat, tidak baik masih pagi berdebat" ajak Harris pada Davin dengan menepuk bahunya tapi tatapan menatap Amelia.

__ADS_1


"Ahhh, kau benar ayah. Tidak baik berdebat, aku akan pergi" ucap Davin.


Dia menyerahkan Dama pada Amelia dengan tersenyum. Tangan mereka bersentuhan lagi, Davin sedikit memperlambat sentuhannya. Tapi Amelia kesal dan tak peduli.


"Bye bye Papa! " bisik Amelia pada Dama.


Dengan lucunya Dama meniru dan membuat ciuman jauh untuk papanya.


"Ahhhh, kau lucu sekali sayang. Bye Dama! " ucap Davin.


~Dia juga manis saat dia kesal, aku malah semakin menyukainya~ ucap hati Davin.


Dia berbalik kemudian dia mengambil ponselnya.


"Hei sayang ku! Kau dimana? " seru Davin.


Mata Amelia membulat.


~Sayang ku? Dia mengatakan itu dengan keras, pada siapa?~ tanya hati Amelia.


Dia menyangka Davin adalah pribadi yang playboy, punya kekasih banyak dan tak segan menunjukkan sikapnya di depan siapapun. Amelia menyipitkan matanya kemudian menyeringai karena pemikirannya.


Namun suara Alex terdengar di belakangnya.


"Di belakang mu! Berhenti memanggilku seperti itu. Kakak ku anak memukuli kepala ku lagi" keluh Alex.


Alex berjalan melewati Amelia seraya mengangguk. Sementara Amelia tersenyum bodoh karena telah salah mengira Davin sedang menelpon kekasih, selingkuhan nya.


Davin berbalik dan menutup ponselnya. Senyumannya sangat riang, Alex mengomentari.


Davin tersenyum dan merangkul nya.


"Kau bahagia dia di sini, tapi kenapa tidur di kamar dan memelukku semalaman" ucap Alex dengan keras.


Davin melepas pelukannya kemudian memukul punggung Alex dengan keras.


"Awwww, sakiiiit! " keluhnya.


Davin menatap ke arah Amelia, namun dia sudah berjalan cukup jauh dan tepat berada diambang pintu.


~Jika dia menoleh, itu berarti dia menyukai ku~ ucap hati Davin.


"Satu.. dua.. tiga...! " gumam Davin.


Alex memperhatikan apa yang Davin tatap.


"Apa yang kau lakukan? " tanyanya.


Davin memegang lengan Alex memberi isyarat untuk diam. Tak lama kemudian, Amelia berbalik dan menatap mereka berdua dan tersenyum. Davin tersenyum senang kemudian menunduk.


Alex terheran dengan tingkahnya. Tapi kemudian dia mengerti.


"Waaaah, apa kau.... "


Belum selesai Alex bicara, Davin mengangguk.

__ADS_1


"Ya, aku bilang dalam hati, jika Amelia menoleh sebelum masuk, itu berarti dia menyukai ku. Dia menoleh dan tersenyum dengan manisnya" jawabnya dengan riang.


"Astaga...... kau benar-benar sangat menyukainya" Alex tak menduga.


Tatapan mata Alex beralih pada jendela kamar Davin yang terlihat Bella sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Namun tak lama kemudian, dia ditarik oleh seseorang dan menghilang setelah itu.


Alex cukup terkejut, tapi dia mengira itu adalah ibunya Davin, Maria atau mungkin juga Oma.


"Hei... apa yang kau pikirkan? Cepat masuk! " seru Davin yang sudah masuk ke mobil.


Alex menoleh padanya, dia pun masuk.


"Oh ya, ayo! " Alex tak bisa mengatakan ini pada Davin.


~Aku curiga pada hubungan Zidan dan Bella, tapi Davin tidak. Meskipun hubungan mereka begitu, dia sangat percaya pada Bella~ ucap hati Alex.


Dia kembali fokus mengendarai mobil menuju kantor.


Sementara itu, Bella sedang menahan tubuh Zidan yang menahan dirinya di balik pintu kamar mandi. Dia juga tak bisa mengatakan apapun karena peraduan mulut mereka.


Cukup lama Zidan melakukannya, Bella hampir merasa sesak menahannya. Dan disaat dia melepaskan nya, Bella menghela keras seolah terbebaskan.


"Kau seperti kehabisan nafas" ucap Zidan menertawakan.


"Aku memang kehabisan nafas, aku bahkan terkejut ku menarik ku ke kamar mandi" keluh Bella.


"Apa? " seru Zidan.


"Apa, apanya? Awaaas! " Bella mendorong tubuh Zidan yang masih menghalanginya.


"Hei, itu berarti kau tidak menikmati nya? " Zidan mengikutinya.


Bella menatap pintu, kemudian menatap Zidan dan menutup mulutnya. Dia khawatir ada orang lain yang mendengar.


"Bisakah kau tak bicara seperti itu jika sedang di kamar ku?" pinta Bella.


Zidan melepas tangan Bella perlahan kemudian tersenyum dan meraba penampilan Bella dengan matanya.


"Kau seksi sekali memakai bathrobe itu" ucap Zidan yang mulai mendekati lagi saat Bella hendak merias diri.


"Hentikan Zidan, aku baru mandi dan terlalu malas untuk mandi lagi karena berkeringat" ucap Bella.


Zidan melepas pelukannya dan mengurungkan keinginannya untuk mencium leher Bella.


"Kita tidak pernah melakukan apapun, apanya yang membuat berkeringat? Kita hanya melakukan hal yang disebut foreplay, kau tahu? Pemanasan. Tapi sayangnya aku tidak pernah sampai berkeringat" sindir Zidan.


Bella menghela, dia mengerti maksud Zidan. Tapi dia tak mau meneruskannya lagi.


"Pergilah! " Bella meminta dengan suara mulai merendah.


Zidan kembali kesal, dia pikir akan mendapatkan kesenangan dari situasinya Bella.


Dia keluar dari kamar Bella dan berhenti saat dia melihat Amelia yang sedang menggendong Dama terpaku menatapnya.


\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2