CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
42


__ADS_3

Amelia tak bisa menunggu lagi, dia langsung ke ruang keluarga mengambil Dama yang sedang disuapi Maria. Sontak Maria terkejut karena dia sedang sangat nyaman bersama cucunya.


"Amelia, tunggu!" ucap Maria menahan.


Amelia diam.


"Davin mencintai mu. Hanya kau cinta dalam hidupnya" ucap Maria.


"Maaf Bu, seharusnya aku tidak kemari. Seharusnya aku tidak ikut bersama Saga dan membawa Dama. Seharusnya..."


"Pikirlah, ini semua adalah takdir. Kau memutuskan untuk menerima cinta Saga, menemui keluarganya dan mengetahui kenyataan bahwa ayah Dama adalah adik Saga. Ini semua sudah takdir Amelia" Maria mencoba membujuknya.


Amelia masih melangkah, hanya ingin cepat keluar dari rumah itu. Namun langkahnya terhenti saat melihat Davin berdiri di hadapannya. Amelia mengalihkan pandangannya, karena dia selalu mengingat kejadian malam itu. Dia melangkah menghindari Davin dan menghampiri Saga.


"Menginaplah! Kasihan Dama jika harus keluar saat malam begini. Nanti dia sakit" ucap Davin.


Ghani, Saga, Harris dan Mira yang ada di ruangan itu menatap Davin saat mendengar ucapannya. Kecuali Amelia yang tak mau berpaling lagi padanya.


Saga menarik tangan Amelia untuk mendengarkan Davin yang ucapannya ada benarnya. Amelia menggelengkan kepalanya, dia tak mau sedetik pun berlama-lama tinggal di rumah itu.


Saga menggenggam tangan Amelia dengan erat kemudian memeluknya.


"Besok pagi, aku akan atur tiket untuk langsung ke Montreuill" bisik Saga.


Amelia membulatkan matanya pada Saga, dia tak mengerti dengan sikap Saga. Dia tadi sangat ingin pulang dan berusaha mengajak mereka pergi, tapi kali ini kalah hanya dengan ucapan Davin yang terdengar mengkhawatirkan Dama.


"Kau ini kenapa? Tadi kau sangat ingin pulang, sekarang kau membujuk ku untuk menginap semalam. Tidak Saga, aku tidak bisa. Mereka hanya menginginkan Dama, mereka tidak akan mengasihani ku. Aku sangat paham bagaimana nenek mu melakukannya. Aku tidak mau Saga aku tidak mau Dama tumbuh dengan orang lain, aku tidak mau" Amelia mulai panik.


Saga memeluknya lebih erat, sekaligus menutup telinga Dama agar tak mendengar tangis ibunya.


"Aku mohon Saga, ayo kita pulang. Kau tidak akan pernah membayangkan betapa kejam nya nenek mu itu" ucap Amelia.


Ghani dan Alex juga Maria dan Harris yang paham dengan apa yang dikatakan Amelia, menundukkan pandangannya. Tapi Saga dan Davin mengerutkan dahi mereka merasa Amelia terlalu berlebihan menanggapi sikap Oma Mira.


"Davin benar, kau juga harus menenangkan diri. Kau tidak bisa keluar dalam keadaan seperti ini. Kau harus tenang, kau lihat Dama jadi ikut panik karena kau panik" Saga berusaha membujuknya.


Amelia membenamkan wajahnya ke dada Saga kemudian menangis. Davin mendelik dan mengalihkan pandangannya ke arah lain karena dia cemburu melihatnya. Ghani pun tak bisa melakukan apa-apa melihat putrinya kini lebih percaya pada Saga dibandingkan pada dirinya.


Akhirnya Amelia luluh, dia mau diajak masuk ke kamar oleh Saga. Amelia hanya duduk menatap Saga yang berusaha menenangkan Dama yang menangis karena takut melihat ibunya histeris.

__ADS_1


Sementara itu, Oma Mira, Harris dan Maria juga kembali ke kamarnya. Dan Ghani pulang dengan tangan kosong dan wajah yang lesu.


###


Di kamar, Bella menatap Davin yang masih berjalan mondar mandir, kemudian dia menertawakan sikap Davin.


"Apa kau tidak mau menjelaskan sesuatu padaku?" tanya Bella dengan ketus.


Langkah Davin terhenti.


"Oh iya, aku lupa. Sebaiknya aku pindah kamar saja" ucap Davin.


Bella bangun dari ranjangnya dan menahan langkah Davin menuju luar.


"Apa aku benar-benar tidak ada artinya bagi mu?" tanya Bella sambil menatap Davin dengan matanya yang sembab.


Davin berusaha menahan diri untuk tak menjawab pertanyaan Bella.


"Sampai kapan kau akan mengabaikan aku? Kau tidak akan pernah bisa menikahi pelayan hasrat semalam mu itu jika aku tidak menyetujuinya"


Davin mengangkat tangannya saat mendengar panggilan Bella untuk Amelia. Bella memejamkan matanya, ketakutan saat tahu Davin begitu marah dia memanggilnya dengan panggilan buruk.


Davin menepis tubuh Bella yang menghalangi pintu. Dia keluar dan pergi ke kamar lain. Sementara Bella menangis karena merasa tersakiti oleh ucapan dan sikap Davin.


"Aku lebih baik ditampar oleh mu dari pada diabaikan seperti ini Davin" ucapnya sambil menangis.


###


Di kamar Harris diam duduk di sofa, sementara Maria masih menatap jendela kamar melihat ke taman yang dia dan Saga rawat bersama dulu.


"Bagaimana gadis itu mengerti tentang Ibu?" tanya Harris.


Maria mendengarnya, tapi dia tak menoleh. Dia malas bicara dengan Harris.


"Ini pasti tentang kejadian saat Saga tahu tentang aku dan Ayu" ucap Harris lagi.


Maria mendelik, dia semakin tak ingin mendengar hal lain lagi dari suaminya itu. Maria berjalan keluar kamar mengabaikan Harris yang menatapnya dengan kesal karena tak mau diajak diskusi.


Harris melempar handuk ke lantai karena kesalnya.

__ADS_1


###


Amelia menatap Saga dan Dama yang terlelap tidur bersama. Sementara dirinya sangat gundah karena terus mengingat ucapan Oma Mira yang akan menahan Dama untuk tetap tinggal.


Dia menatap gelas kosong di meja, dia keluar kamar untuk mengambil segelas air, takut Saga terbangun karena haus.


Amelia berjalan perlahan karena belum paham betul arah ke dapur dari kamar mereka. Tapi pada akhirnya dia menemukan dapurnya dan mengambil air untuk diminumnya dan dia isi lagi untuk minum Saga.


"Kau baik-baik saja?" ucap Davin tiba-tiba dari arah belakangnya.


Amelia tertegun seolah tersengat listrik mendengar suara Davin. Matanya terpejam merasa seolah Davin sedang berbisik di telinganya.


Amelia berusaha untuk mengendalikan diri, dia mengambil nafas dalam, hendak berbalik dan mengabaikan Davin.


Namun tangan Davin meraih lengannya dan membuat dirinya mendekat pada Davin.


"Kau mau mengabaikan aku?" bisik Davin yang kini benar-benar di dekat telinganya.


"Lepaskan aku!" ucap Amelia dengan nafas yang mulai tersengal.


"Aku sangat paham kau tidak bisa melupakan begitu saja malam yang kita lewati dulu. Karena aku juga tidak pernah bisa melupakannya" ucap Davin lebih mendekatkan wajahnya pada pipi Amelia.


Dada Amelia kembang kempis, tangannya gemetar mendapatkan sentuhan hidung Davin di pipinya. Air dalam gelas yang dia bawa sedikit tertumpah mengenai pakaiannya.


"Hentikan, aku mohon, lepaskan aku, kau menyakiti ku" ucap Amelia.


Suaranya menjadi lemah, tak seperti pertama dia meminta dilepaskan. Amelia juga merasa sedang mengingat setiap kejadian di malam itu.


Davin tersenyum merasa yakin perasaan mereka sama. Dia memeluk Amelia dari samping dan mendekatkan hidungnya yang mancung ke telinga Amelia.


"Kau menyiksa ku dengan rasa rindu ini Amelia. Kau menyiksa ku dengan menolak menjalani hubungan lebih lanjut. Kau sendiri tersiksa karena manahan diri dengan mencoba melupakan aku tapi kau tak bisa" ucap Davin.


Nafas Amelia semakin naik turun mendengar semua ucapan Davin. Kemudian wajah Saga yang tersenyum padanya saat dia mengatakan bahwa dia selalu mengingat Davin, membuatnya menolak semua perasaannya.


"Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Lepaskan aku Davin aku mohon" ucap Amelia.


Davin melepas tangan Amelia dan membiarkannya pergi. Tapi Amelia terdiam sejenak, mengingat saat Davin pergi dengan mudah setelah dia menolaknya. Hal yang sama yang dia lakukan sekarang, begitu mudahnya dia melepaskan tangan Amelia setelah dia mengatakan bahwa dia tidak bisa melakukannya.


\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2