CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
99


__ADS_3

Davin makan bersama dengan Bella di rumah Veni. Mereka berdua tak berhenti menatap seorang pria muda yang ikut makan bersama di hadapan mereka.


"Apa mama serius akan menikahinya? " tanya Bella yang menaruh sendok dan garpu dengan keras.


Davin menahan bahu Bella.


"Biarkan, aku berhak mengutarakan pendapat ku" ucap Bella menepis tangan Davin.


"Ya, mama serius. Hendi pria yang baik dan bertanggungjawab... lagipula... "


"Dia hanya jadi pemuas nafsu mamah di ranjang. Apanya yang bertanggungjawab" ucap Bella menyela ucapan ibunya.


"Bell..! " Davin mencoba mengendalikannya.


Veni menatapnya dengan mulut menganga.


'Anak ini, bagaimana jika aku mengutarakan semua rahasianya, seperti dirinya yang sembarangan bicara seperti ini' ucap hati Veni.


"Ya, mama masih membutuhkannya. Mama wanita normal" jawab Veni santai.


Hendi menunjukan ekpresi tegang melihat protesnya Bella. Veni memegang tangannya untuk mendukungnya.


Bella tersenyum menyudut, menertawakan kemesraan yang mereka tunjukkan.


"Aku sudah bilang kan, banyak tempat untuk kita jalan-jalan. Kenapa harus kemari" Bella berdiri dan melempar serbetnya.


Davin ikut berdiri dan sedikit membungkuk untuk pamit pada mertuanya. Dia menyusul Bella yang masuk ke mobil dan menangis di sana.


Davin berhenti di dekat mobil dan tak buru-buru masuk. Dia membiarkan Bella menangis untuk beberapa saat.


***


Saga mengasuh Dama dengan baik, Ghani suka melihatnya.


"Dia pandai mengasuh Dama" ucap Ghani.


Amelia tersenyum, dia menaruh segelas kopi yang di minta ayahnya disisinya.


"Dia pria pertama yang menggendongnya" ucap Amelia.


Ghani terdiam, tatapannya beralih pada putrinya. Tangannya bergerak membelai rambutnya dan berkata.


"Maafkan ayah, kau pasti mengalami banyak kesulitan selama tinggal di luar rumah" ucap Ghani.


"Ya, aku mengalami banyak kesulitan" ucap Amelia.


Ghani menunjukkan penyesalannya.


"Tapi aku sangat paham, rasa kecewa kalian padaku. Aku semakin merindukan kasih sayang kalian. Aku juga jadi mengerti, mengapa seorang putri harus lebih banyak tinggal di rumah di bandingkan di luar rumah. Aku sudah... "


"Berhenti membuat pembicaraan yang akan membuat kalian menangis" Hana datang dan memeluk mereka dari belakang.


"Kakak! " Amelia mengeluh.


"Kapan Saga akan menikahi mu? " tanya Hana.

__ADS_1


Amelia tersipu.


"Ayah tidak tahu bagaimana dia melamarnya kan? " Hana hendak bercerita.


"Kak Hana please! " Amelia mencegahnya.


Tapi Hana malah semakin menjadi.


"Dia diajak melihat seluruh kota dari balkon dan memberikan cincin yang sekarang tersemat di jarinya itu. Mereka juga... "


Hana beisyarat dengan memoncongkan kedua tangannya yang beradu.


"Kaaak! " Amelia semakin kesal dengan tingkah kakaknya.


"Hahaha! Amel malu yah, padahal sudah punya anak satu" ucap Hana.


Candaan Hana membuat Amelia tertegun. Hana menjadi canggung karena merasa keterlaluan. Ghani pun ikut terdiam.


"Ada apa ini? Kedengarannya seru! " tanya Saga yang mendekat bersama Dama.


Amelia langsung berdiri dan mengambil Dama. Hana menatap ekspresi Amelia yang menghindari tatapannya.


"Aku bertanya padanya kapan kau akan menikahinya" ucap Hana.


Barulah Amelia menatapnya dengan mata yang membulat.


"Sebentar lagi, aku masih memantapkan posisi ku di kantor" jawab Saga.


Hani mendengarkan dari jauh, matanya melirik ke arah Saga, memperhatikan raut wajahnya. Tapi Amelia malah merasa tidak suka dengan jawaban Saga.


Amelia membawa Dama menjauh dari mereka. Saga menyusulnya, Ghani dan Hani juga Hana bersama Mikayla tetap duduk di dekat tenda.


"Tidak, kau tidak salah" jawab Amelia seraya menurunkan Dama dan menuntunnya.


"Aku tahu kau tidak peduli dengan jabatan ku di kantor, tapi hanya dengan itu aku bisa menjadikan mu lebih dihargai di rumah Narendra dan bisa bersama Dama" jelas Saga.


Amelia berhenti berjalan, Dama terus menariknya, mengajaknya tetap berjalan.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, aku tidak ingin semua itu Ga, aku cuma mau kehidupan kita di Montreuil kembali. Rasanya, akan lebih baik jika kita tidak pernah kembali kemari" ucap Amelia.


Saga meraih tangannya.


"Jika kita tidak kemari, kau tidak akan pernah tahu betapa ayah mu sangat merindukan mu. Aku pun tidak akan pernah tahu bahwa kau begitu menginginkan ku dan mencintai ku" ucap Saga.


"Aku takut langkah yang kau ambil malah membuat mu jauh dari ku" ucap Amelia.


Saga mengerti dan berusaha meyakinkannya.


Hani yang duduk bersama Ghani semakin merasa Saga dan Amelia tak begitu cocok dan membuat raut wajah yang menyiratkan keraguannya.


"Kau kenapa? " tanya Ghani.


"Akan lebih baik jika Dama memiliki ibu dan ayah kandungnya" jawab Hani.


"Apa maksud mu? " Ghani mulai tegang.

__ADS_1


"Akan lebih baik jika ibu dan ayah kandungnya menikah" Hani menegaskan.


"Bu...! " Hana menyelanya.


"Apa? Aku hanya mengutarakan apa yang aku anggap benar" Hani merasa benar.


"Apa yang kau pikirkan? Kau ingin Amelia merebut den Davin dari istrinya? Ibu macam apa yang berharap anaknya menjadi pelakor?" Ghani semakin geram.


"Woaahh, kau ini, kenapa begitu marah? Aku hanya mengatakan apa yang aku anggap benar. Akan rumit untuk menjelaskan pada Dama saat dia bertanya siapa ayah kandungnya. Apa yang akan dia pikirkan dengan jawaban bahwa ayahnya adalah adik dari suami ibunya? Ini seperti judul di sebuah sinetron di stasiun televisi. Ayah ku adik dari suami ibu ku! " Hani menyempurnakan ucapannya dengan gerakan tangannya.


Ghani kesal dan pergi daripada menanggapinya. Hana kesal dan membawa Mikayla menjauh dari ibunya sambil mengerutu.


"Ibu ini lama-lama mengesalkan! "


Hani menghela keras.


"Aku tidak salah bicara. Aku sudah benar, aku memikirkan hal yang mungkin terjadi" Hani masih merasa benar.


***


Davin meraih tangan Bella dan mengusap punggungnya.


"Kau sudah menangis selama setengah jam, apa kau tidak lelah? " tanya Davin.


Bella masih terisak.


"Belum setahun papa meninggal, tapi mama sudah memikirkan kepuasannya sendiri. Aku bisa apa? Aku hanya bisa menangis meratapi cinta papa yang terlihat tak berharga bagi mama" ungkap Bella dengan sedu sedannya.


Davin tak bisa mengomentari ucapan Bella tentang keluarganya. Dia pun tak bisa menerka perasaan kedua orang tuanya yang hingga kini terlihat saling diam.


"Kita jalan-jalan? " Davin memberikan ide.


Bella menatapnya.


"Kau sedang tidak bersemangat, akan aku tunjukkan tempat yang bagus untuk menghilangkan perasaan sedih mu juga" jelas Davin seraya menyalakan mesin mobilnya.


Bella tersenyum kemudian mengangguk. Davin senang dia merespon dengan manis.


Sampai di tempat yang ingin Davin tunjukkan, Bella malah melihat pemandangan yang membuatnya muak.


Davin yang baru turun berhenti melangkah saat melihat Saga memeluk Amelia di pinggangnya, Dama bermain dengan Mikayla, keluarga yang lainnya sangat akrab dan berbahagia.


Tangan Davin mengepal di sisi tubuhnya. Bella melihat itu dan merasa kesal. Dia memutuskan untuk kembali ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan keras.


Davin terbangun karena suara itu dan sadar Bella sudah tak di belakangnya.


"Aku mau pulang, aku nggak suka tempat ini" ucap Bella.


Davin tak berkomentar, dia menurut dan pergi dengan mata masih menatap keakraban mereka.


Sementara itu Dama menunjuk ke arah Davin yang sudah pergi.


"Papa! " seru Dama.


Amelia menoleh dan hanya sebuah mobil yang sudah pergi.

__ADS_1


Saga mengajaknya lagi melihat ke arah Ghani yang melontarkan candaannya.


\=\=\=\=\=>


__ADS_2