
Berita perselingkuhan Harris membuat para pemegang saham meragukan Saga sebagai pimpinan baru. Mereka saling bertukar pendapat di meja rapat tanpa kehadiran keluarga Narendra.
Ghani yang sudah dapat meredam pers dengan mengatakan bahwa keluarga Narendra takkan memberikan klarifikasi apapun, bergegas menuju ruang rapat.
Tatapan mereka tertuju padanya yang sudah lama menjadi kaki tangan Narendra itu.
"Dengan bertahun-tahun mengabdi pada Narendra, tidak membuat mu berhak untuk masuk ke ruang rapat seperti ini! " seru Najamuddin.
"Maafkan saya Pak" ucap Ghani menundukkan kepalanya sebentar.
"Tapi.... hanya karena berita yang mungkin hanya rekaan orang yang tidak bertanggung jawab, kalian tidak bisa melakukan hal yang akan membuat kalian menyesal" jelas Ghani.
"Ayolah Ghani, kami sudah tahu Saga sudah tidak lagi menjadi calon menantu mu, kenapa kau terus membela keluarga itu? " seru salah satu dari mereka.
Mereka semua menatap Ghani yang menghela. Berita pembatalan pernikahan itu memang tak bisa dicegah. Lagipula, Davin dan Maria sudah memberikan pembatalan undangan yang sudah terlanjur tersebar.
"Apa alasannya, kami memang tidak tahu. Tapi... kami yakin, keluarga Narendra benar-benar tidak sehat. Satu kabar pembatalan pernikanan, lainnya perselingkuhan kepala keluarganya. Kasihan tuan Narendra, dia pasti kecewa di alam sana" ucap Najamuddin.
"Cukup Pak, kita tidak tahu pemberitaan itu benar atau tidak" Ghani mencoba meyakinkan mereka.
"Sudahlah Ghani, kami akan pergi. Tapi... kami tidak akan tinggal diam jika saham anjlok karena pemberitaan itu, katakan pada mereka, tuan mu" Najamuddin mengancam dengan menunjuk wajahnya.
Mereka semua bubar, Ghani menghela lega.
__ADS_1
***
Amelia menunggu telpon dari Minah yang tak kunjung menelponnya. Dia sangat khawatir, takut terjadi sesuatu di rumah Narendra.
"Kau mau ke sana? " tanya Hana yang sejak tadi berdiri di pintu dan memperhatikan wajahnya yang cemas.
Amelia mengendalikan diri dan berusaha terlihat tenang.
"Ayah sudah membuat pers pergi meninggalkan kantor. Rumah besar Narendra juga sudah sepi pers, kurasa kau bisa ke sana untuk melihat apa yang terjadi" jelas Hana.
"Ayah sudah memberi kabar? " tanya Amelia.
"Ya, barusan telpon" ucap Hana.
"Hehe, tentu saja dari Alex" jawab Hana seraya tersenyum bodoh.
Amelia mendapatkan ide untuk menghubungi Alex. Dia langsung mengambil ponselnya.
"Hallo! " seru Amelia.
Alex mengangkat telponnya, tapi dia tak menjawab sapaannya. Amelia hanya mendengar suara Davin yang berteriak pada Harris karena telah membuat ibunya meninggalkan rumah.
Harris yang tak terima dengan tudingan Davin, langsung meninju wajah putranya itu. Saga dan Alex mencoba melerai keduanya. Oma Mira hanya bisa menatap mereka dengan tangis yang mengucur di pipinya.
__ADS_1
"Cukup! Oma bisa drop kalau kalian begini" Alex mencoba menasihati.
Davin menatap ke arah Oma nya, namun dia membuang pandangannya. Tapi Harris langsung mendekat dan berlutut di hadapannya.
"Ibu baik-baik saja? " tanya Harris.
"Apa menurut mu aku terlihat baik-baik saja?" Oma menepis tangannya.
Dia bangun dari sofanya dan melangkah lemah menuju tangga. Alex mendorong Davin yang menghalangi jalannya, dia menyusul Oma dan membantunya berjalan.
"Minum obat dan istirahatlah! Aku akan minta mba Minah mengambilkan semuanya" ucap Alex.
Amelia tertegun mendengar semua itu. Hana menyentuh bahunya.
"Ada apa? " tanya Hana.
Amelia mendongak, dia menggelengkan kepalanya.
"Semuanya tidak baik-baik saja. Semua orang terluka, di dalam" ucap Amelia menatap kosong ke arah Dama.
Hana tak mengerti, dia sangat penasaran dengan apa yang adiknya dengar di telpon.
\=\=\=\=\=>
__ADS_1