CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
67


__ADS_3

Amelia masuk ke kamar ibunya dengan sedikit mengintip.


"Bu! " serunya.


Hani masih asyik melayani dua cucunya main. Tapi dia menoleh setelah mendengar sapaan Amelia.


"Sini, duduk dekat ibu! " pinta Hani.


Amelia duduk kemudian memeluk ibunya dari samping.


"Seandainya kau bisa tinggal di sini lagi" ucap Hani.


Amelia melepas pelukannya dan menunduk. Dia tahu kali ini harapan ibunya tetap tidak akan tercapai.


"Apa mereka memperlakukan mu dengan baik? " tanya Hani setelah menatap wajah Amelia.


Amelia menoleh kemudian tersenyum.


"Tentu saja Bu, aku adalah ibu dari penerus kerajaan Narendra, bukan? " jawab Amelia.


Senyuman Hani hilang.


"Kamu bohong lagi" ucap Hani.


"Bu....! " Amelia menyentuh tangannya.


"Nyonya besar tidak pernah memperlakukan Ayuningtyas dengan baik, padahal dia adalah ibu dari putra pertama yang lahir di rumah besar itu. Hatinya keras seperti batu, sulit luluh meski Tuan besar sangat lembut dan baik hati. Kini kamu datang dengan cara seperti itu, ibu sanksi dia bisa memperlakukan mu dengan baik" Hani menatap kosong pada kedua cucunya.


Glekk...


Amelia memang selalu diabaikan oleh mereka. Oma Mira pun memang selalu mengatakan hal yang membuatnya tertunduk malu. Terlebih lagi Bella yang punya pandangan bahwa dia datang untuk merebut Davin. Tapi Amelia tak bisa mengadukan hal itu pada mereka.


Rasa malu yang sudah dia berikan pada kedua orang tuanya sudah menjadi beban besar di pundak mereka. Pandangan orang, kerabat terlebih rekan kerja ayahnya yang sudah berubah karena tindakannya.


"Untuk sekarang aku hanya ingin hidup bersama Dama bu, aku tidak peduli mereka bicara atau memandang ku seperti apa" jawab Amelia.


"Aku jadi saksi saat Nyonya besar memperlakukan Ayuningtyas sangat buruk. Tapi dia sangat tegar dan bicara hal yang sama seperti mu. Semua demi anaknya. Tapi Amelia, setiap keadaan pasti selalu ada jalan lain selain maju dan mundur" Hani mencoba membuka pola pikir Amelia.


Amelia menatap ibunya.


~Ibu tidak tahu apa yang Davin peringatkan padaku, dia akan menuntut atas Dama. Hak dan segalanya akan diambil dari ku ibu. Meskipun aku tak yakin dia akan tega melakukan hal itu padaku, tapi dia mudah terpengaruh orang lain dan mudah berubah pikiran. Jika memang suatu saat nanti aku harus berpisah dengan Dama, aku sendiri yang akan meninggalkan nya, bukan dengan cara seperti itu~ ucap hati Amelia.


"Mel! " seru ibunya yang menatap Amelia yang diam saja.


"Tok.. tok..! " suara pintu diketuk.


Amelia dan Hani menatap ke arah pintu.

__ADS_1


"Tuan muda bilang kalian harus segera pulang" ucap Hana yang muncul membuka pintu.


Amelia dan Hani saling menatap.


"Ini yang tidak aku suka darinya. Dia sudah melakukan hal yang tidak baik pada anakku, tapi masih tetap berlagak sebagai Tuan Muda angkuh" keluh Hani dengan kesal.


Amelia menyentuh tangannya kemudian menggenggamnya.


"Kami pergi dulu ya Bu, aku sayang ibu" ucap Amelia.


Hani mengusap punggungnya kemudian membelainya.


"Maaf, ibu tidak pernah paham atas diam dan semua tindakan yang kau ambil. Tapi marah dan keluhan ibu, itu semua karena ibu terlalu menyayangimu"


"Aku tahu, ibu makan dulu ya. Tadi ibu tidak makan bersama, jangan lupa!" ucap Amelia.


Hani memeluknya lagi lebih erat. Amelia menangis seolah tak ingin melepasnya.


Hani, Hana dan Amelia keluar dari kamarnya.


Sementara itu, Ghani sejak tadi menemani Davin tanpa bicara apapun. Mereka melihat Amelia keluar bersama yang lainnya.


"Itu mereka sudah keluar" seru Davin.


Ghani menatap ekspresi Davin yang senang saat melihat mereka.


Tiba-tiba Ghani bertanya dan membuat Davin menoleh dengan wajah terkejut.


"Ya Pak? " Davin memastikan apa yang dia dengar.


"Aku tidak bermaksud mengatakan Nyonya itu tidak baik, tapi... kadang-kadang, dia mengambil sikap yang kurang menyenangkan terhadap orang lain. Aku hanya minta kau melindungi Amelia dari hal itu. Hanya itu" jelas Ghani dengan mata menatap kedatangan Amelia dan Dama yang mendekat.


"Kake... "


Dama meniru ucapan Amelia yang selalu berbisik padanya.


"Dama sayang, yang pinter ya. Kakek sayang Dama" ucap Ghani seraya mengecup keningnya.


"Kapan ayah masuk kerja lagi? Jangan buat ibu mengomeli ayah seperti dulu lagi" bisik Amelia saat memeluknya.


Ghani tersenyum mendengar putrinya mengingatkan kejadian masa lalu.


"Maafkan ayah sudah membuat mu khawatir. Hiduplah dengan baik di sana, jangan khawatirkan kami" pinta Ghani.


Amelia menatap wajah ayahnya sekali lagi, begitupun Ghani. Davin mengambil Dama dari tangan Amelia kemudian masuk.


"Masuklah, malam ini sangat dingin" pinta Amelia.

__ADS_1


"Ya, ayah akan masuk setelah kalian belok di pertigaan"


Amelia menghela, dia tak bisa membuat ayahnya masuk terlebih dahulu. Dia masuk dan pergi bersama Davin pulang ke rumah Narendra.


Amelia menatap bayangan ayahnya di cermin, melambaikan tangan. Davin memperhatikannya.


"Pak Ghani bilang, dia memikirkan cara agar kau keluar dari rumah ku tanpa meninggalkan Dama" ucap Davin tiba-tiba.


"Aku tidak mengatakan tentang ancaman mu terhadap ku saat kita bertemu di rumah Bu Ayu. Mereka tidak tahu apa-apa. Yang mereka tahu hanya aku yang ingin membuat status Dama jelas. Di samping itu, aku juga tidak mau membebani Saga atas Dama. Aku ingin membuat dunia ku sendiri dengannya"


Davin meremas stir mobil mendengarkan ucapan Amelia yang membahas impiannya dengan Saga.


Sampai di alun-alun, Dama menunjuk pada sebuah lampu jalanan yang membuatnya senang. Amelia menanggapinya dan membuat Dama tertawa.


"Dama mau kesana? " tanya Davin.


Dia ingin berhenti dan mengajak Dama ke tempat yang dia tunjuk.


"Tidak, kita harus cepat pulang. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Nyonya besar dan Bu Maria, terlebih lagi Bella nantinya" ucap Amelia.


Davin menatap wajah Amelia.


"Perhatikan jalannya! " seru Amelia seraya memegang tangan Davin di stir mobil.


Davin menatap tangan Amelia yang menyentuhnya.


"Papanya Dama! Kau tidak dengar? " Amelia semakin meninggikan nada suaranya.


Davin kembali fokus dan menatap ke depan.


~Aku bisa pergi bersama kalian tapi tak punya kebebasan untuk membuat momen indah bersama~ ucap hati Davin.


Davin melajukan mobil lebih cepat, dia kesal tak bisa bebas melakukan apa yang dia mau saat bersama Amelia.


Sampai di rumah, Amelia turun sendiri kemudian langsung masuk menggendong Dama. Davin menatap mereka dengan menghela.


Alex keluar setelah Amelia masuk. Dia buru-buru menghampiri Davin dan bicara.


"Kau harus menemui ibu Maria! " ucap Alex tersengal.


"Memangnya ada apa? " tanya Davin ikut merasa khawatir.


"Entahlah, ada hubungannya dengan mertua mu. Kau harus menemuinya sekarang" ucap Alex seraya menarik tangannya masuk ke dalam.


"Hei, kau seperti menarik barang saja, pelan-pelan! " keluh Davin tapi dia berusaha menyamai langkahnya dengan Alex.


\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2