
Davin berhasil masuk ke kamar Oma Mira dengan tatapan penuh dengan pertanyaan.
"Kenapa aku harus cari cara untuk mendapatkan hak asuk Dama. Amelia sudah bersedia mengasuhnya di sini" ucap Davin.
Oma Mira menatapnya kesal.
"Kami ke sana dan memohon maaf padanya. Tapi dia hanya akan memberikan maafnya jika Dama dibiarkan hanya menjadi miliknya" ucap Oma.
Davin terkejut.
"Tidak, dia pergi ke rumah orang tuanya hanya karena sedih atas perbuatan Kak Saga. Hanya sementara Omaaaa! " Davin mencoba menyimpulkan sendiri.
"Kau pikir aku berbohong? " Oma kesal diragukan.
"Tidak, pasti Oma bersikeras membela Saga, Oma tidak meminta maaf dengan tulus, begitupun kak Saga" Davin menuduh.
"Hati-hati dengan ucapan mu! " tunjuk Oma ke wajahnya.
Davin mengalihkan tatapannya.
"Aku tidak butuh maaf darinya. Aku bisa mengambil Dama dari tangannya. Kita lihat saja, bagaimana dia bisa merebut hak asuh Dama dari kita" ucap Oma menyombongkan diri.
Davin menghela, dia takkan bisa menggoyahkan pendirian Omanya. Dia pergi tanpa mengatakan apapun.
Davin berpapasan dengan Bella yang hendak turun untuk minum. Langkahnya terhenti dan membiarkannya berjalan terlebih dulu.
Saga yang baru saja keluar dari kamarnya, langsung membantunya turun perlahan. Bella menepis tangannya karena merasa tak enak pada Davin.
Davin berjalan cepat mendahului mereka yang terdiam menatapnya. Saga menunduk saat dia melewatinya.
__ADS_1
"Kau mau pergi kemana? " tanya Saga.
"Bukan urusan mu! " jawab Davin sambil berlalu.
Bella menghela dengan tangis menetes di pipinya. Saga memperhatikannya, dia langsung mengusap pipinya.
Bella menjauh dan menatapnya.
"Maaf" ucap Bella.
Saga menghela, dia merasa sangat bersalah karena sudah mengungkapkan jati diri bayi yang dikandung Bella. Itu membuat semua orang terluka.
Tapi Saga tak menyerah, dia mengikuti Bella tepat di belakangnya. Perilaku yang dia juga lakukan dulu pada Amelia.
***
Hana keluar membuka pintu, dia terkejut akan kedatangan Davin.
"Kau?" seru Hana.
Davin tersenyum dan mengangguk.
"Siapa Han? " tanya Hani.
Hani yang sedang menggendong Dama langsung membeku menatap Davin yang berdiri diambang pintu.
Amelia yang baru saja mengambil kopi, memperhatikan ibu dan kakaknya yang jadi diam. Tatapannya beralih ke arah pintu yang terbuka.
"Papa! " seru Dama yang langsung ingin minta digendong oleh Davin.
__ADS_1
Hani menelan salivanya, berusaha mengendalikan Dama.
"Jangan berikan Dama padanya Bu! " seru Amelia.
Hani terkejut kemudian menoleh.
Davin pun merasa sedih mendengar Amelia melarangnya menggendong Dama.
"Mau apa kau kemari? " tanya Amelia sinis.
"Kau marah padaku? Baiklah, tidak apa-apa. Tapi jangan larang aku menemui Dama" ucap Davin berusaha membujuknya.
"Tidak, kau kemari karena Oma mu sudah mengatakan hasil dari kedatangannya kemari. Dia pasti meminta mu kemari untuk membawa Dama" ucap Amelia menyimpulkan.
Hana dan Hani berada di tengah-tengah mereka dan menatap mereka bergantian.
"Tentu saja tidak, aku tidak akan melakukannya" ucap Davin memelas.
"Tutup pintunya kak, dia tidak boleh menyentuh putra ku" ucap Amelia yang mulai menangis.
"Tapi Mel! " Hana merasa tidak perlu sampai seperti itu.
"KAAAK! " Amelia histeris.
"Hana, gendong Dama. Bawa dia ke atas" ucap Hani seraya memberikan Dama padanya.
Hana bergegas membawa Dama dan Mikayla ke atas. Hani merangkul Amelia yang mulai terduduk.
Davin merasa khawatir dengannya, tapi ragu untuk masuk dan melihatnya. Dia diam terpaku diambang pintu.
__ADS_1