
Zidan bertepuk tangan, dia tertawa terbahak-bahak di paviliun nya.
"Jangan terlalu keras, nanti mereka dengar" ucap Vania.
"Tapi aku senang bu! Lihat wajah mereka yang murung dan seolah tertimpa badai besar! " jelas Zidan tengah selebrasinya.
Gala duduk santai menatap tingkah anaknya,
"Ayah, apa ini semua ulah ayah? " tanya Zidan saat melihat wajah ayahnya yang santai.
"Ulah? ayolah....kau bicara seolah ayah ini bocah tengil! " ucap Gala dengan tawa kecilnya.
"Tapi sayang, lalu kenapa kau mendukung Saga menjadi pewaris utama? " tanya Vania.
"Sengaja" jawab Gala.
"Sengaja? " Vania tak mengerti dengan pemikirannya.
Gala mendekati jendela yang memperlihatkan rumah besar Narendra.
"Sengaja hanya agar Harris merasakan sakitnya, lebih sakit dari apa yang aku rasakan selama aku menjadi bayangannya" jawab Gala seraya menatap rumah besar Narendra.
Zidan mendelik, merasa bosan dengan cerita ayah nya yang merasa menderita menjadi orang yang selalu dibanding-bandingkan dengan pamannya, Harris.
"Sayang, kau benar. Mereka harus merasakan menjadi hancur sehancur hancurnya" timpal Vania.
'Ini masih tentang Reina, hanya tentang dia. Mereka bahkan tidak pernah menganggap aku hidup ' ucap hati Zidan.
"Aku harus kembali ke rumah besar" ucap Zidan.
Tapi Gala dan Vania masih diam. Zidan pun pergi, tapi dia tak jadi ke rumah besar, dia pergi menggunakan mobilnya.
__ADS_1
Sampai di tempat tujuan, Zidan menatap pagar rumah Veni dan menekan belnya. Tak berapa lama kemudian, Veni membuka pagar dengan tatapan yang cukup terkejut.
"Kau! "
"Apa aku boleh masuk? " tanya Zidan.
Venimembuka jalan untuknya, meskipun dia sedikit masih terkejut dengan kedatangannya.
"Pacar mu ada di rumah? " tanya Zidan.
"Apa? " tanya Veni.
"Jadi, kita hanya berdua?" Zidan menyimpulkan dari raut wajah Veni.
Dia duduk di tangn sofa kemudian meraih tangan Veni.
"Zidan, aku... "
Veni menelan salivanya, dia yang awalnya ingin mengusir Zidan jadi iba.
"Itu hanya perasaan mu, mungkin mereka tak bermaksud seperti itu" ucap Veni.
Zidan mengangkat kepalanya, dia menatap wajah wanita seusia dengan ibunya yang masih terlihat cantik.
"Kau cantik! " puji Zidan.
"Kau ini, katanya sedih tapi masih pintar merayu" ucap Veni.
"Kau juga hebat" pujinya lagi.
"Apa? Hahaha " Veni tertawa kecil, mengingat kejadian di rumah Narendra.
__ADS_1
Zidan tersenyum seolah-olah sangat mengaguminya. Veni jadi diam dan salah tingkah.
Zidan berdiri, tangannya mengangkat dagu Veni, kemudian bibir mereka bersentuhan. Veni tak menolak, dia malah menikmatinya.
***
Sementara itu, Amelia berdiri di dekat meja di kamar Oma Mira. Dia datang untuk meminta kemurahan hati Oma Mira agar mengizinkannya merawat Dama di rumah orang tuanya. Tapi Oma Mira tak berkata apapun, sudah hampir satu jam Amelia menunggu jawabannya.
Oma Mira menghela, kemudian berdiri dengan tongkatnya.
"Baiklah, hanya sampai usia 8 tahun, menginjak usia 9 tahun, kau sudah harus menyerahkannya pada kami. Kami harus menyekolahkannya di sekolah terbaik" jawab Oma.
Amelia menatap Oma Mira yang tegas. Dia merasa Oma Mira merubah kembali sikap padanya karena dirinya meminta hal yang tidak disukainya.
"Dama bukan barang, sehingga harus saya serahkan nantinya. Tapi.... jika itu memang keinginan Nyonya, saya sangat berterimakasih karena sudah diberikan kesempatan untuk merawatnya. Saya permisi dan pamit Nyonya" ucap Amelia.
Oma Mira berbalik ke arah jendela kamarnya, untuk menyembunyikan air mata yang jatuh ke pipinya.
"Jangan lupa minum obat dan lakukan gerakan fisik setiap hari. Tetap berjemur di taman setiap harinya. Saya akan meminta mba Minah untuk mengajak Nyonya..... "
"Jika ingin pergi, pergi saja! " ucap Oma Mira
Amelia menangis mendengar ucapan Oma Mira.
"Jangan mencoba membuat ku merasa kau sangat berarti sehingga aku harus mendengarkan pesan mu" lanjutnya.
Amelia menghela, menyeka tangisnya.
"Maaf! " ucap Amelia.
Oma Mira pun menghela, dia mendengar suara parau Amelia, yang dia tahu sedang menangis. Tangannya mengepal, ingin memeluknya namun menahan diri.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>