CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
45


__ADS_3

Oma Mira duduk di kursi kesayangannya, menatap foto keluarga mereka yang terpampang jelas dan menempel di dinding. Tubuh tegap sang suami membuatnya merasa bahwa pendirian Narendra tak boleh goyah hanya karena Amelia atau Dama.


Vania datang dengan Zidan yang akan sarapan. Namun mereka tak melihat satu pun orang ada di meja makan.


"Kemana semua orang? Apa tidak ada yang akan sarapan?" seru Zidan.


Vania memberi kode pada anaknya tentang keberadaan Oma nya yang duduk di ruang keluarga. Zidan menghampiri Oma Mira dan memijat bahunya.


"Oma..., kenapa tak ada yang sarapan?" tanya Zidan.


Oma Mira mendelik dan menggerakkan bahunya agar tak disentuh Zidan.


"Kalian sarapan saja, semua orang sudah pergi" ucap Oma Mira.


Maria dan Harris yang baru tahu Amelia pergi, langsung bergegas keluar rumah untuk ikut mencari.


"Hei Maria! Kamu nggak usah ikut mencari Amelia, diam saja di rumah" seru Oma Mira.


Langkah Maria terhenti kemudian dia berbalik.


"Aku mau mencari cucu ku" ucap Maria tegas.


Maria pergi setelah Harris pergi dengan mobilnya sendiri. Sementara Maria pergi meminta supir untuk menemaninya mencari Amelia.


Bella berdiri dekat tangga menatap kesibukan orang-orang mencari Amelia. Bella menghela nafas karena kesal tak ada yang sama sekali memperhatikannya. Semua orang fokus pada wanita yang akan merebut posisinya di rumah itu.


"Setidaknya dia tahu diri bahwa dia tidak pantas menjadi bagian dari rumah ini" ucap Vania sambil sarapan.


Zidan tersenyum kemudian mengangkat gelas minumnya memberikan pembenaran atas ucapan ibunya.


"Momi benar, tapi aku jadi penasaran. Kemana dia pergi? Apa dia akan ditemukan atau tidak ya?" Zidan penasaran.


Kedua ibu dan anak itu bergunjing sambil sarapan.


###

__ADS_1


Amelia duduk di sebuah rumah makan sederhana yang sering dia kunjungi saat SMA. Dia makan dan minum untuk mengumpulkan tenaga agar bisa pergi jauh dari kota itu.


Amelia berpikir, dia harus pergi keluar kota. Karena keluarga Narendra adalah penguasa kota itu, mereka akan tetap tertangkap jika tetap berada di sana.


Amelia bergegas pergi lagi dari tempat itu. Dia berjalan di sepanjang jalan menuju terminal agar mendapatkan kendaraan untuk pergi.


Namun sayang, Alex dan Davin melihatnya. Mereka menghentikan mobil di belakang Amelia yang tak tahu kalau mereka melihatnya, terus berjalan.


"Amelia tunggu!" seru Davin.


Amelia menoleh, tapi dia jadi ketakutan dan lari saat melihat Davin.


"Amelia tunggu! Jangan lari!"


Davin mengejar dengan berlari, sementara Alex kembali ke mobil dan mengejar dengan mobil.


Amelia masuk ke sebuah gang dan berlari lebih cepat. Namun Davin dapat mengejarnya dan meraih lengannya.


"Tunggu! Ku bilang tunggu, jangan lari!" ucap Davin dengan terengah.


Davin sangat heran dengan sikap Amelia yang begitu takut menghadapi kenyataan bahwa Dama adalah keturunan keluarga Narendra Coltin.


"Kau ini kenapa? Kenapa begitu takut dengan Oma, kita bisa bicara tentang semuanya. Apa yang kau inginkan, apa yang Oma inginkan, dan menemukan titik tengahnya" bujuk Davin.


"Tidak, Nyonya besar tidak pernah kompromi tentang keturunannya" ucap Amelia menggelengkan kepalanya.


Amelia berusaha melepaskan tangan Davin yang memegang lengannya. Tapi Davin malah memeluk mereka.


"Dengar, ada aku, Oma takkan bisa menolak permintaan ku. Aku akan bicara padanya. Kau jangan takut!" ucap Davin sambil membelai rambut Amelia.


Tapi Amelia diam membisu, dia tetap bersikeras untuk pergi.


"Setidaknya berhenti dulu, kasihan Dama, dia kepanasan" Davin masih berusaha membujuknya.


Amelia menyerah, akhirnya mereka duduk di kursi taman dekat tempat mereka bertemu tadi.

__ADS_1


Davin menatap Amelia yang tak melepaskan Dama untuk digendongnya.


"Kejadian apa yang membuat mu sangat takut dan yakin bahwa Oma akan memisahkan kalian?" tanya Davin penasaran.


"Dulu, saat aku masih sekolah lanjutan. Aku sedang main di rumah teman ku di kompleks perumahan besar yang salah satu pemiliknya adalah seorang artis ternama. Tiba-tiba ada sebuah keributan, seorang anak remaja ditampar pria dewasa di depan rumah artis itu. Kemudian, artis itu keluar dan menangis histeris saat remaja pria itu tak mengakuinya sebagai ibu. Seolah melihat sebuah adegan sinetron, aku menangis melihat artis itu menangis tersedu kehilangan anaknya. Tak berapa lama setelah remaja itu pergi, Nyonya besar datang bersama ibu mu. Ucapannya sangat kasar, dia mengharamkan artis itu untuk bertemu dengan remaja itu selamanya. Dan saat aku mengingat-ingat, remaja itu adalah Saga. Aku sangat tahu kalau dia begitu membenci ibunya, tanpa dia tahu sedu sedan tangis ibunya saat Nyonya besar mengharamkannya saling bertemu. Aku seorang ibu, aku menahan semua hal buruk selama mengandung Dama dalam perut ku. Aku tidak mau anakku seperti Saga yang sangat membenci ibunya, aku tidak mau dipisahkan dari anakku, aku mohon" Amelia memelas.


Davin tertegun, dia tak pernah mendengar kejadian itu dari ibunya apalagi Oma Mira.


Davin menatap Amelia dan merasa sedih karena terlambat menemukannya. Mungkin jika dulu dia berusaha sedikit lebih keras, dia akan menemukan mereka dan tak harus menikahi Bella.


"Pulanglah ke rumah ayah mu, aku akan bicara dengan Oma kalau kau tak bisa tinggal di rumah kami, jadi kau tinggal di rumah mu sendiri. Aku juga akan membujuk Oma soal Dama, semoga dia bisa luluh oleh ucapan ku"


Davin berusaha menenangkan pikiran Amelia. Hal ini juga harus berhasil, agar dia tak kehilangan jejak Amelia dan Dama lagi. Akan lebih mudah menemui mereka jika Amelia tinggal kembali dengan orang tuanya.


"Bagaimana jika Nyonya besar tidak mau mendengarkan mu?" tanya Amelia ragu.


Davin menatap mata Amelia, dia tak memikirkan masalah Oma, dia hanya sedang senang bisa bicara berdua dengan Amelia saat ini.


"Kau tak dengar aku?" tanya Amelia yang tak mendapat jawaban dari Davin.


"Hmm?" Davin mengalihkan pandangannya.


"Aku tanya, bagaimana kalau Nyonya besar tak mau mendengarkan mu? Dia bisa datang kapan saja membawa Dama dan menjauhkannya dari ku" ucap Amelia ketakutan.


"Aku akan membantu mu sekuat tenaga ku" ucap Davin.


Amelia terdiam menatap wajah Davin yang mengatakannya dengan penuh keyakinan.


"Tidak akan ada yang memisahkan kau dan Dama. Aku berjanji" lanjut Davin.


Amelia mengalihkan pandangannya. Tapi Davin masih menatap wajah Amelia. Kemudian Dama memecah keheningan sejenak mereka dengan membelai lengan Davin dan menyebutnya "papa".


Amelia menahan tangan Dama, tapi Davin malah membelai wajah Dama sehingga membuat Dama bereaksi ingin digendongnya. Davin menyambut tubuh Dama kemudian menggendongnya. Amelia tak bisa melarang Dama yang meminta digendong Davin. Dia hanya bisa menatap mereka yang saling menatap dan bermain sejenak.


\=\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2