CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
87


__ADS_3

Sampai di kantor, Davin duduk dan mengingat semua kemesraan Saga dan Amelia.


Tak berapa lama, Susi datang memberitahu bahwa pemegang saham ingin bertemu dengannya di kopi shop. Davin langsung pergi menemuinya.


"Hai Davin! " sapa Pak Najamuddin.


"Hallo Pak! " jawab Davin kemudian duduk.


"Senang kau langsung datang, maaf mengganggu mu pagi-pagi begini. Tapi aku ingin membahas tentang kedatangan kakak mu ke perusahaan. Apa yang terjadi? " tanyanya.


Davin terdiam sejenak. Dia tak bisa mengungkapkan konflik yang terjadi di rumahnya. Terlebih tujuan Saga yang ingin mengambil haknya dengan dukungan dari Zidan dan orang tuanya.


Davin juga sudah tak bisa mengendalikan ayahnya yang sangat sering tak masuk kantor.


"Dia kembali untuk membantu Pak, kau tahu ayah sering tak masuk belakangan ini" jawab Davin.


"Tapi Vin, beberapa pemegang saham lainnya mengatakan akan mendukung dirinya. Kau tahu kalau itu berbahaya bagi posisi mu di perusahaan ini" jelas Pak Najamuddin.


"Tidak Pak, itu bukan masalah. Selama itu keluarga, aku juga akan tetap mendukung" jawab Davin.


"Kau terlalu ceroboh dengan bersikap seperti ini Nak, Narendra pasti tak akan setuju jika dia yang mengendalikan perusahaan. Dia bukan anak sah Harris kan? " ucap Pak Najamuddin.


"Tolong Pak, saya benar-benar minta maaf. Orang yang anda sebut seperti itu adalah kakak saya. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya mohon jangan berpikir seperti itu" ucap Davin.


Pak Najamuddin berubah menjadi kesal karena Davin tak bisa dia provokasi untuk melawan Saga di meeting pemegang saham nanti.


"Kau yakin dengan pemikiran mu itu? Tiga bulan lagi rapat pemegang saham yang akan menentukan pimpinan yang baru yang akan menggantikan ayah mu. Kau yakin benar-benar akan mendukungnya jika dia lebih banyak pemilih? " tanya Pak Najamuddin meyakinkan.


Davin terdiam, dia mengambil nafas dalam dan mengutarakan keputusannya.


***


Saga memeluk Amelia dan mencium keningnya sebelum pergi bekerja, setelah dia sudah pamit pada Dama. Bella yang hendak ikut dengan Saga menatap kemesraan mereka dan mendelik.


"Cepatlah, kau bisa terlambat. Bukan contoh yang baik tahu" ucap Bella seraya berjalan melewati mereka.


Saga membuat ekspresi kesal padanya.


"Aku pergi ya, sampai ketemu nanti malam" pamit Saga.


"Ya, hati-hati! " ucap Amelia.


Dia melambaikan tangannya, tapi dimatanya Saga berubah menjadi wajah Davin yang kesal.


"Astaga, aku jadi terus teringat dengan wajah kesalnya itu. Dia sudah kesal selama beberapa hari. Apa dia tidak bosan?" gumam Amelia yang berjalan ke ruang main Dama.


"Siapa? " tanya Minah yang mendengar ucapannya.


Amelia terdiam kemudian tersenyum.


"Den Davin? Dia memang begitu, dulu waktu kembali dari Bali dia sempat tak mau makan selama berhari-hari karena Alex dipindahkan ke Tangerang. Tragedi di Bali membuat mereka dipisahkan" jelas Minah.


'Tragedi di Bali? Apa itu tentang malam itu? ' tanya hati Amelia.

__ADS_1


Sementara Minah terus bicara menceritakan bagaimana Davin bisa mau makan dan berubah lagi.


"Dia baru mau makan setelah Alex memberikan email bahwa dia mengetahui alamat mu" Minah menggigit bibirnya merasa terlalu banyak bicara.


Amelia terkejut.


"Alamat ku? " tanya Amelia.


"Tidak, itu sudah lama. Maaf aku terlalu banyak bicara" Minah keluar dari ruang main Dama.


Amelia hendak menyusul tapi Dama meraih tangannya untuk ikut bermain bersamanya.


Minah yang sampai di dapur langsung memukuli kepalanya.


"Hufft dasar bodoh, kenapa aku selalu melewati batas saat bicara dengannya" keluh Minah pada dirinya sendiri.


***


Oma Mira menelpon Minah dan meminta Amelia mengajak Dama main di ruang baca.


Minah kembali ke ruang bermain tapi tak mendapati mereka di sana. Minah langsung menelpon Oma dan memberitahu nya.


Oma Mira yang sudah memegang nomer telpon Amelia, langsung menelponnya.


"Kau dimana? " tanya Oma Mira.


"Di taman belakang Nyonya! " jawab Amelia.


Oma tertegun, dia beranjak dari sofa dan mendekat ke jendela yang mengarah ke taman belakang.


Dama bosan di ruang main, dia mengajak kemari.


"Apa jika anak itu mengajak mu ke dalam sumur, kau akan mengikutinya? " tanya Oma kesal.


Amelia tak paham dengan sikap Oma, kadang baik padanya dan Dama, kadang ketus.


"Kemari dan ajak dia main di ruang baca" pinta Oma dengan sedikit berteriak.


Amelia menjauhkan telpon dari telinganya karena suara Oma teralu keras.


"Baik nyonya! " jawab Amelia kemudian dia membawa Dama ke ruang baca.


***


Saga sampai di kantor, dia menyapa semua orang dengan senyum di wajahnya. Ya, dia sedang senang karena pernikahannya dengan Amelia sudah mendapatkan persetujuan Oma Mira.


Saat duduk di ruangannya, dia teringat pada ibunya. Dia merogoh saku jasnya dan mengambil ponsel.


"Hallo Bu! " sapa Saga.


"Ya sayang, apa kabar mu?" tanya Ayu.


"Aku baik, sangat baik. Bagaimana dengan ibu? " tanya Saga.

__ADS_1


"Aku, seperti biasa. Aku baik. Kau terdengar sangat senang" tanya Ayu.


"Ya bu, Oma, dia bilang dia akan merencanakan pernikahan ku dengan Amelia" ucap Saga riang.


Ayu tertegun, seolah de javu, dia merasa pernah mendengar kabar yang sama dengan suara riang yang sama. Ayu berusaha mengingatnya.


"Bu, nanti aku ke sana dengan Amelia ya. Ibu rindu Dama juga kan? I love you Bu! " Saga pamit.


"I love you to nak! " jawab Ayu.


Tapi dia masih berpikir, kemudian sekilas dia ingat Harris.


"Harris juga pernah mengatakan itu. Kami menikah tapi Oma membuat semuanya seolah.... " Ayu berhenti bicara pada dirinya sendiri.


Dia mengambil tasnya dan keluar dari rumah.


Supir yang Harris pekerjakan menyapanya.


"Nyonya, mau diantar kemana? " tanyanya.


"Aku yang bawa mobilnya" pinta Ayu.


Supir itu tak memberikan kuncinya. Ayu kesal.


"Ya sudah, aku akan naik taksi saja" ucap Ayu kemudian berjalan ke depan.


Supir itu menyerah, dia tak mau dia dimarahi atasannya karena membiarkan Ayu naik taksi sendirian.


"Ini nyonya, tapi tolong beritahu saya kemana anda akan pergi" supir nya memohon.


"Rumah keluarga Narendra" jawab Ayu kemudian masuk ke mobil.


Supir itu menyerah, dia tak bisa menahan Ayu untuk pergi ke rumah Narendra. Dia pun mengabari Harris.


Sampai di rumah Narendra, Ayu langsung masuk.


Minah terkejut dengan kedatangan Ayu, dia menutup mulutnya dengan lap di tangannya.


"Dimana nyonya besar? " tanya Ayu.


Minah menunjuk ke atas.


"Kamarnya atau ruang baca? " tanya Ayu yang memang sudah tahu kebiasaan mantan ibu mertuanya itu.


"Ruang baca nyonya! " jawab Minah.


Ayu berjalan tergesa menuju ke sana. Dia melewati kamar Harris yang kebetulan Maria baru keluar dari sana.


Dia tercengang dengan kedatangan Ayu dan mengikutinya.


Harris yang mendapatkan kabar langsung bangun dan lompat dari ranjang menuju ruang tengah. Tapi melihat ekspresi Minah yang menunjuk ke atas, Harris langsung berlari ke ruang baca.


Seolah seorang auditor keuangan datang ke sebuah perusahaan, mereka semua panik saat Ayu datang ke rumah Narendra.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2