CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
57


__ADS_3

Makanan siap, Maria meminta Minah untuk memanggil semua orang untuk makan. Langkah Minah terhenti saat dia melihat Amelia mengusap air matanya di sisi pintu menuju ruang tengah. Minah menatap ke arah Oma yang berdiri menatap Ghani yang terlihat menahan diri.


"Non Amelia! Bu Maria bilang untuk memanggil semua orang untuk makan" ucap Minah.


Amelia mengalihkan pandangannya agar Minah tak melihat matanya yang habis menangis.


"Ya, baik Mba! " jawab Amelia.


Amelia menarik nafas dalam dan merapikan rambutnya kemudian berbalik hendak masuk ke ruang tengah, tapi Minah menarik tangannya.


"Non Amel, tunggu! " seru Minah.


Amelia menoleh dan membulatkan matanya bertanya pada Minah.


"Yang sabar ya, almarhum Tuan Narendra pasti senang kalau Non Amelia bertahan di rumah ini" ucap Minah.


Amelia sedikit berpikir, dia ingat dengan Tuan Narendra yang dimaksud Minah. Sedikit kenangan manis saat dia dan Tuan Narendra bertukar pikiran tentang masalah yang dihadapi Amelia saat SMA.


Amelia tersenyum dan memegang tangan Minah.


"Makasih ya Mba" ucap Amelia.


Minah masuk lebih dulu dan memecah keheningan diantara Oma Mira dan Ghani. Davin langsung meraih tangan Oma Mira dan mengajaknya ke ruang makan.


Ghani masih terbawa emosi, namun dia melihat Amelia masuk dari arah dapur dan tersenyum padanya. Senyumnya manis, seperti saat pertama kali di mengantarkan nya masuk sekolah. Hati Ghani luluh, dia meraih tangan Amelia yang mengajaknya masuk dan bergabung.


Alex menghela keras, dia meregangkan dasinya dan mengipasi wajahnya.


"Ya, makan siang. Kita harus makan siang agar tidak terlalu tegang menghadapi hari" gumam Alex.


"Apa yang bikin kamu tegang Lex! "


Suara Vania membuat Alex terperanjat. Vania tertawa kecil sambil menepuk bahunya.


"Begitu saja kaget" lanjut Vania.


Keluarga Gala datang, kecuali Gala sendiri. Zidan dan Vania, ibunya bersemangat sekali untuk sarapan bersama di sana.


"Tuan Gala tidak datang? " seru Alex karena Vania dan Zidan berlalu meninggalkannya.


Vania tak sama sekali menoleh, dia hanya melambaikan tangannya, memberi isyarat bahwa suaminya tak ikut.


Alex menyusul mereka, suasana masih terasa horor baginya. Dia duduk di dekat Ghani, sejajar dengan Maria dan Amelia.


"Wah wah wah, jadi hari ini benar-benar ada anggota baru di rumah ini? " seru Zidan sambil duduk.

__ADS_1


Tapi dia kembali berdiri dan menawarkan jabatan tangan ke hadapan Amelia.


"Zidan, putra paling muda di rumah ini" ucap Zidan sambil mengedipkan satu matanya.


Davin menatap tangan Zidan yang mengarah pada Amelia, dia juga menatap Amelia yang terlihat ragu untuk menyambut ucapan perkenalannya.


Bella menatap wajah Davin, kemudian beralih pada Zidan yang terlihat genit pada Amelia.


"Makan, makanannya nanti dingin" ucap Bella.


Dia menginjak kaki Zidan karena kesal. Zidan meringis tapi tetap berusaha menunjukkan senyuman pada Amelia.


"Berhenti basa basi, kalian sudah tahu kalau Amelia adalah wanita yang melahirkan putra dari Davin. Jadi jangan membuat drama" ucap Oma Mira. .


"Ouh, ini Amelia yang sedang jadi trending topik beberapa hari ini? " sapa Vania dengan menatap pada Amelia.


"Sudah cukup, bukankah kita akan makan sekarang" ucap Davin.


Ghani sangat tidak sedang dengan perlakuan semua orang terhadap Amelia. Tapi Amelia menahannya dengan memegangi tangannya yang meremas di bawah meja.


Davin melihat gerak gerik Amelia yang menatap ayahnya kemudian mengedipkan matanya sebentar. Davin paham bahwa Amelia berusaha membuat ayahnya menahan emosi.


~Seharusnya saat itu aku mencari mu hingga dapat, hingga tak ada yang memperlakukan mu seperti ini~ ucap hati Davin.


Bella melihat raut wajah Davin yang terus memperhatikan Amelia. Dia mengambilkan makanan lagi untuk Davin. Dan membuatnya terkejut. Secara refleks, Davin menepis tangan Bella yang memang tak pernah melakukan hal semacam itu padanya.


"Sayang, aku cuma mau mengambilkan makanan untuk mu. Fokuslah, jadi kamu tidak mudah terkejut. Masih banyak hal yang kamu tidak ketahui bukan" sindir Bella sambil menatap Amelia.


"AKU BILANG CUKUP! " Oma berteriak.


Dia menghela keras setelah meluapkan kekesalannya. Davin langsung berdiri menghampiri dan mengusap punggungnya.


"Ya Oma, maafkan kami. Apa Oma mau istirahat saja? " tanya Davin.


Oma menggeliat tak menginginkan perhatian Davin.


"Duduklah, aku tidak selemah itu sehingga harus pergi untuk tak melihat ketegangan semacam ini"


Oma tak menatap Davin.


"Meja makan hanya tempat untuk berkumpul dan makan bersama. Yang terdengar hanya harus kabar baik dan makanan baik. Dua orang sudah tak hadir saat ini, kalian juga terlalu banyak membahas sesuatu yang tidak penting. Kalian lupa semua aturan yang suami ku tetapkan? "


Oma menjelaskan. Semua orang menunduk kecuali Amelia yang terus menatap wajah Oma yang menunjukkan betapa dia memiliki banyak pengalaman dan kewibawaan.


Oma menatapnya sebentar kemudian kembali menyantap makanannya.

__ADS_1


Maria tetap fokus pada Dama yang membuatnya sangat senang. Dia menyuapi dan membuatnya nyaman meski berada diantara ketegangan di meja makan itu.


Oma hanya mendelik saat melihat semua tingkahnya. Tapi dia membiarkan semua itu, agar Dama juga lebih terbiasa tak bergantung pada Amelia. Hatinya tetap teguh ingin menyingkirkan Amelia secepatnya dari rumah ini.


***


Makan siang selesai meskipun terjadi dengan sangat menegangkan. Amelia dan Dama mengantar Ghani hingga ke gerbang. Davin mengikuti dari belakang.


Mata Ghani meraba wajah anaknya.


"Maafkan ayah" ucap Ghani.


"Untuk apa ayah minta maaf, ayah tidak salah apa-apa" ucap Hasna.


"Jika saja ayah tidak terikat oleh pekerjaan ini, mungkin... "


Ghani tak melanjutkan ucapannya.


"Ayah.... kata mungkin adalah bentuk ketidakyakinan kita akan takdir Tuhan. Itu bukan ayah, ayah Amelia tidak seperti itu"


Amelia mendekat dan memeluk ayahnya. Davin mendekat dan mengambil Dama, supaya mereka lebih leluasa saling melepas kepergian.


Ghani memeluk erat Amelia, sesekali tangannya mengusap kepala anaknya. Hela nafasnya yang keras terdengar oleh Amelia yang bersandar di dadanya.


Davin menatap pilu pemandangan itu. Dia jadi menyesal karena pernah mengancamnya.


"Papa! " seru Dama.


Suara lucu Dama membuat Ghani dan Amelia terbangun dari rasa sedih mereka dan saling melepaskan pelukan.


"Anak mu sangat pintar, dia bisa tahu mana ayahnya mana yang bukan" ucap Ghani.


Amelia menatap Davin yang begitu terlihat menyayangi Dama, namun dia jadi ingat pada Saga. Amelia mengalihkan pandangannya pada tempat lain dan mengingat semua masa-masa manis bersama Saga.


~Apa dia sudah naik pesawat?~ tanya hati Amelia.


Pandangannya beralih pada Bella yang berdiri di depan pintu utama sambil melipat tangan. Amelia langsung mengambil Dama untuk mencium tangan ayahnya.


"Say see you to grandpa" pinta Amelia.


Dama mengambil tangan kakeknya dan menganga menciumnya. Amelia tersenyum, Ghani pun ikut terhibur oleh tingkah Dama.


"See you Dama" ucap Ghani.


Kecupan di kening, pipi dan juga kening Amelia mengakhiri pertemuan mereka. Amelia tetap diam dan menatap kepergian ayahnya hingga menghilang di belokan blok rumah Narendra.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2