
Zidan diam membeku menatap Amelia. Tapi Amelia sendiri menunduk mengalihkan pandangannya dan berlalu begitu saja.
"Amelia tunggu! " seru Zidan seraya menghampiri.
Amelia menoleh dan membulatkan matanya.
"Apa? "
"Kamu nggak nanya kenapa aku keluar dari sana? " tanya Zidan.
Amelia berpikir, dia mengerutkan dahinya kemudian menjawab.
"Kau mau pergi ke kantor, jadi kau harus keluar dari kamar mu. Begitu rumus rumitnya" jawab Amelia polos.
Zidan menyeringai, dia memainkan lidahnya sendiri di dalam mulutnya. Entah akan menjelaskan lagi atau tidak, dia jadi merasa bodoh di depan Amelia.
Amelia memperhatikan wajah Zidan yang pandangannya beralih ke arah lain. Mata Amelia menatap ke arah kamar tempat Zidan keluar.
"Aku permisi! " ucap Amelia.
"Mau kemana? " tanya Zidan.
"Memandikan Dama" jawab Amelia sambil berlalu.
"Boleh aku ikut? " tanya Zidan sambil mengikutinya.
"Tentu saja tidak boleh, kau harus ke kantor bukan? Tadi Tuan Harris memperingatkan mu untuk datang ke kantor lebih cepat" Amelia mengomelinya.
Langkah Zidan terhenti seketika saat mendengar ucapan Amelia.
"Kau benar, paman ku itu pasti akan melempar berkasnya lagi jika aku terlambat" ucap Zidan.
Dia langsung berbalik dan pergi menuju garasi. Amelia yang memperhatikan nya langsung menertawakan, tapi kemudian terdiam, dia mengingat saat dia berpapasan dengan Zidan di kamar Bella dan Davin.
"Bukan urusan mu Amelia, hanya perhatikan Dama, yang lainnya hanya fatamorgana" gumam Amelia.
"Ya, memang begitu seharusnya" ucap Oma yang sudah berada di belakangnya.
Glekk.... Amelia menelan salivanya. Dia berbalik dan menundukkan pandangannya.
"Kau harus tahu diri dan posisi mu di sini. Meski kau ibu kandung anak dari cucu ku. Kau tetap bukan siapa-siapa, karena kau hanya wanita gampangan yang mudah memberikan kehormatan mu pada sembarang pria" Oma mengatakan semua yang dia inginkan.
Saat Oma terus mengoceh, Amelia menutup telinga Dama.
"Oma... Ommmaaaa! " seru Dama menunjuk ke arah tangga.
Ada Maria di sana, dia mendengarkan tapi diam saja. Amelia menelan semuanya di dalam hatinya. Ucapan Oma dan situasi ini sangat menyesakkan.
***
Sementara itu di rumah Ghani.
Sudah beberapa hari Ghani tak masuk ke kantor. Dia mengambil cuti lebih banyak dari yang Hani kira. Dia lebih banyak duduk di taman depan rumah dibandingkan membantu mengerjakan pekerjaan rumah.
"Ayah kenapa? " tanya Hana pada ibunya.
"Tak tahu, ibu mau minta diantar ke rumah nyonya besar pun jadi segan. Takut tiba-tiba marah" keluh Hani.
Saat mereka sedang membicarakan Ghani, Mikayla berlari mendekati kakeknya.
"Kakek....! " seru Mikayla.
Ghani yang sedang melamun, langsung terperanjat menangkap cucunya yang tersandung dan hampir jatuh.
"Aduh Mikayla.... Hati-hati sayang! " ucap Ghani sambil mendudukan nya di pangkuan.
"Kakek, papa Kayla ta datang? " ucap Mikyla perlahan.
__ADS_1
"Mikayla ketemu papa? " tanya Ghani.
Hana buru-buru keluar untuk mencegah Mikayla menceritakan pertemuannya dengan Bagas. Tapi tangan Ghani melebar ke hadapannya sebelum dia bisa meraih anaknya.
"Ya, papa nanyis" ucapnya.
"Nangis kenapa? " tanya Ghani mengimbangi.
"Sayang Mikayla" jawabnya lagi dengan lucunya.
"Mikayla.....! " seru Hani.
Ghani terdiam.
"Yuk, ikut nenek jalan-jalan ke pasar" ajak Hani.
Hani sudah membawa tasnya.
"Hana, gendong Mikayla dulu, yuk, keburu tutup pasarnya sayang! " Hani ingin cepat-cepat pergi.
"Ibu saja yang pergi sama Mikayla, aku mau bicara sama Hana sebentar" ucap Ghani.
Glek... Hani dan Hana saling menatap.
"Nggak usah ke pasar, ke warung depan saja" tambah Ghani.
"Asyiikkkk! " seru Mikayla.
Dia langsung melompat dan berlari ke arah neneknya.
"Tapi Yah....! " Hani hendak menolak.
Ghani menatap datar pada Hani, Hana memegang tangan ibunya agar menurut saja. Mereka pun pergi meninggalkan Hana dan Ghani untuk bicara.
"Duduk sini" pinta Ghani sambil menepuk tempat duduk di sisinya.
Hana duduk perlahan.
"Apa? " Hana seolah tak percaya dengan yang di dengar.
Dia takut ayahnya marah karena kedatangan Bagas saat dia mengantar Amelia ke rumah Narendra, tapi malah minta maaf padanya.
"Maksud Hana, kenapa ayah minta maaf! " lanjut Hana menjelaskan.
"Ya, karena ayah hanya memikirkan Amelia. Sedangkan kamu juga perlu ayah pikirkan" ucap Ghani sambil memegang tangannya.
Hana menunduk.
"Apa kata Bagas? " tanya Ghani.
"Dia datang untuk melihat Mikayla, itu saja" jawab Hana dengan suara pelan.
"Jauh-jauh dari Surabaya..??"
Hana mengangguk. Ghani menengadahkan kepalanya ke atas.
"Ahh..... berarti ayah memang ayah yang buruk" ucap Ghani.
"Kok Ayah ngomongnya gitu? " Hani membalas pegangan tangannya.
"Amelia pergi, ayah nggak cari. Kamu sedih ayah nggak paham dan abai, terus aja kerja" ucap Ghani.
"Ayah nggak cari Amel karena ayah percaya dia bisa jaga diri, kalau ayah nggak kerja trus siapa yang memenuhi kebutuhan rumah yang bertambah karena kedatangan aku sama Mikayla? Aku paham ya posisi ayah, ayah nggak boleh ngomong gitu" jelas Hana.
Ghani menatap anaknya, kemudian membelai rambutnya.
"Kalau boleh, ayah mau kalian tetap tinggal sama ayah sampai kapanpun. Sampai ayah tak bisa membuka mata ayah lagi untuk melihat kalian"
__ADS_1
"Ayaaah! "
"Tapi hidup adalah hidup, jika ada yang datang, maka akan ada masanya dia pergi. Jika pernah memiliki, akan ada masanya dia harus kehilangan"
Hana menangis. Ghani memeluknya dari samping dan membiarkannya bersandar di dadanya.
***
Mata Amelia tiba-tiba menangis saat dia memakaikan jaket pada Dama. Dia diam sejenak memikirkan apa yang membuatnya menangis.
Amelia meraih ponsel dan kembali berusaha menghubungi Saga. Tapi tetap saja, ponsel Saga tak aktif.
"Kenapa tidak aktif terus? " gumam Amelia.
Banyak pesan yang Amelia kirim.
[Hi, kau sudah sampai? ]
[Kapan bisa telpon? ]
[Aku merindukanmu]
Amelia menghela, semua pesannya tak ada jawaban. Dia semakin khawatir kemudian berpikir untuk menelpon Gendis atau Peter.
Sekali lagi dia mencari nomor dan mencoba menelponnya. Kali ini Gendis langsung mengangkatnya.
"Hallo! "
"Hallo mba Gendis, ini Amelia! "
Tak ada suara, seolah Gendis terdiam beberapa saat.
"Hallo, mba Gendis! " seru Amelia.
"Ya, Mel. Apa kabar? Mana Dama? Kangen deh! " seru Gendis.
"Baik, ini Dama"
Amelia meminta Dama menyapa Gendis.
"Awow... oma! "
Dengan lucu Dama menyapa Oma, kata yang sedang dia hafal beberapa hari ini.
"Waaah, Dama manggil aku Oma? " tanya Gendis.
"Nggak juga si mba, dia lagi ngomong itu terus beberapa hari ini. Kayak yang terbiasa gitu" jawab Amelia.
"Gimana di Jogja, betah? " tanya Gendis.
"Saga belum cerita? " Amelia malah balik bertanya.
"Saga? Dia belum nelpon, ini telpon pertama kalian semenjak terakhir di hotel" jelas Gendis.
Mata Amelia membulat, jelas dia langsung terdiam.
"Oh, ya mba, aku lupa" jawab Amelia.
"Duh Mel, Peter lagi ngomel nih, kalian pergi nya kelamaan, jadi dia uring-uringan terus. Nanti mba hubungi ya! " ucap Gendis.
"Ya mba! " jawab Amelia singkat.
Panggilan mereka pun terputus. Amelia menatap Dama dan membelai kepalanya.
"Kemana Saga ya? " gumam Amelia.
"Dama mau kemana udah ganteng gitu? " tanya Davin dengan tiba-tiba, dari arah belakang Amelia.
__ADS_1
Amelia terkejut, dia melepas ponselnya dan hampir terjatuh. Tapi tangan Davin yang cekatan menangkapnya.
\=\=\=\=>