CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
108


__ADS_3

Davin mengetuk pintu dan masuk, Bella masih duduk menyeruput teh yang dia buat sendiri tadi.


"Ayo makan! " seru Davin.


Bella menoleh. Matanya meraba tubuh Davin, dia merasa sudah tak bisa melakukan apapun dengan Davin. Dia merasa sudah mengkhianati Davin karena memberikan kehormatannya pada Saga.


Bella memejamkan matanya dan berpaling.


"Ayo! Jangan macam-macam, ibu bisa memarahi ku karena kau tak mau makan" keluh Davin.


"Jadi kau hanya takut dimarahi ibu, bukan karena memperdulikan aku" gumam Bella.


Davin mendengar dengan jelas keluhannya.


"Jangan karena ibu mu akan menikahi pacarnya, kau jadí tak makan. Mereka akan tetap melangsungkan pernikahan meskipun kau kelaparan" ucap Davin seraya menyajikan makanan.


Bella mendelik, cukup malas dengan perhatian Davin, terutama karena dia mengira dirinya bersikap seperti itu karena ibunya.


"Buang saja di tempat sampah, katakan aku sudah makan" Bella berjalan menuju ranjang kemudian berbaring.


Davin menganga menatap sikap istrinya, dia memutuskan untuk membujuknya lebih intens. Dia datang dan memeluk Bella dari belakang. Namun reaksi Bella membuatnya semakin terkejut. Bella mendorongnya dan pergi menjauh seolah ketakutan.


Davin menatapnya dengan heran.


"Aku bilang aku tidak mau diganggu" ucap Bella membelakanginya.


Davin keluar dengan membawa semua makanannya.


Minah yang sedang membereskan meja, menatapnya dengan heran.


"Dia tidak mau makan" ucap Davin.


"Den sendiri? Tidak makan juga? " tanya Minah.


"Aku sudah kenyang" jawabnya pelan.


Davin pergi ke taman depan rumah untuk menyegarkan pikirannya.


Tak disangka, sikap Bella membuatnya berpikir keras. Davin merasa bersalah karena telah mengabaikannya selama ini.


Hela nafas silih berganti keluar dengan semua yang ada di pikirannya.


Tak lama kemudian, Alex yang baru pulang, mendekat dan duduk di sampingnya.


"Apa yang sedang kau lakukan? " tanya Alex.


Wajahnya murung tapi berusaha terihat baik-baik saja.


Davin yang menoleh, memperhatikan wajahnya.


"Kau kenapa? Pulang dari rumah kak Hana? apa yang terjadi? Wajah mu tak sedap dipandang" ujar Davin dengan gerakan tangannya yang melengkapi ucapannya.


"Huuuuh" Alex hanya menghela.


Davin ikut menghela kemudian menatap ke arah langit yang sama.


"Apa aku lamar saja dia? " gumam Alex tiba-tiba.


Davin menoleh dengan mata membulat.

__ADS_1


"Kau akan melamar kak Hana? " seru Davin terkejut.


"Entahlah, Bagas kembali menemuinya. Kini lebih intens" ucap Alex pelan.


Davin menghela kemudian kembali menatap langit.


"Lamar dia, jika tidak kau akan menyesal" ucap Davin.


Alex menoleh.


"Jangan seperti aku, menyesal, kemudian menyesal kembali" lanjut Davin.


"Ada apa dengan mu? Kau masih menyimpan perasaan itu untuk Amelia? " Alex langsung merespon dengan cepat.


"Aku... hahah, bagaimana aku bisa sembuh secepat itu. Hanya dengan menatapnya saja hasrat ku naik, jika aku bersentuhan dengannya, aku semakin merasakan panas di sekujur tubuh ku. Tapi kini, aku dilema dengan rasa bersalah pada Bella, dimana aku tidak bisa sedikit pun menyukainya" jelas Davin.


"Waah, parah juga ya penyakit mu" ucap Alex.


Davin mendengar ucapannya dan terasa hanya sebagai basa basi saja.


"Heuh! "


"Apa? " Alex bertanya tentang responnya.


"Kita selalu bersama sejak kecil. Bersenang-senang bersama, sekarang terdiam melamun di luar menatap langit karena cinta, juga bersama" jelas Davin.


Mereka tertawa bersamaan.


***


Amelia menatap Dama yang tertidur pulas, sambil mengingat semua sikap dingin Saga.


'Apa dia menyesal? ' tanya hati Amelia.


Tatapan Amelia beralih pada tekonya yang kosong. Dia beranjak dari ranjang kemudian keluar untuk mengambil air.


Dia berpapasan dengan Davin yang sedang membuat dua gelas kopi. Amelia menatap kedua gelas itu.


"Hai! " sapa Davin.


"Hai! " jawab Amelia.


Dia ingin bertanya, namun merasa tak perlu melakukannya.


"Dama sudah tidur?" tanya Davin.


"Hmmm, sudah" jawab Amelia singkat.


"Aku kagum dengan mu, dia pasti suka bangun malam saat kecil. Tapi kau tidak pernah membangunkan yang lainnya.... "


"Aku selalu membangunkan Saga, dia selalu siap untuk itu, dia.... "


Amelia terdiam, dia merasa sedih mengingat masa masa manis itu.


Davin juga terdiam, dia merasa kalah dibandingkan kakaknya dalam merawat anaknya.


"Kalian melewati masa masa yang indah" gumam Davin.


Amelia tak memperhatikan ucapan Davin.

__ADS_1


"Aku sudah mengisi teko ku, selamat malam" Amelia pamit.


Davin menghela menatap kopi di depannya. Beberapa saat kemudian, Alex datang karena kopinya tak kunjung datang.


"Amelia baru saja membawa teko airnya" seru Alex.


Davin berbalik dan menyerahkan kopinya.


"Ya, seperti biasa" jawab Davin.


"Apa kau juga merasa kalau kak Saga sedikit menjaga jarak dengannya? " tanya Alex.


Mata Davin membulat mendengar ucapan Alex.


"Hmmm, aku melihatnya. Kak Saga seperti canggung dan menjaga jarak" jelas Alex.


Davin berpikir, dia tak pernah memperhatikannya.


"Apa yang sedang kalian lakukn selarut ini? " tanya Minah yang masuk tiba-tiba.


"Ngopi" jawab Alex.


Mereka bertiga kemudian duduk bersama di dapur, pembicaraan muncul setelah semua meminum kopinya. Tapi Davin masih berpikir tentang ucapan Alex.


"Apa yang kau pikirkan? " tanya Alex.


"Sejak kapan? " tanya Davin.


"Apanya? " Alex bingung karena sudah banyak hal yang telah mereka bicarakan.


"Kak Saga mengabaikan Amelia" jawab Davin.


Alex dan Minah saling berpandangan.


"Itu.... " Alex ragu karena Minah membulatkan matanya.


"Aku tidak memperhatikan mereka semenjak tunangan, aku takut hatiku merasa lebih sakit lagi"


Minah menatap Davin yang begitu lugas mengutarakan perasaannya di hadapannya.


"Apa iya Kak Saga mengabaikannya? " tanya Davin sekali lagi.


"Tidak, Den Saga hanya sesekali lebih fokus pada pekerjaannya saja, bukankah ada banyak meeting beberapa pekan ini? " jawab Minah seraya menendang kaki Alex.


"Haah, benar, dia fokus pada rapat pemegang saham minggu depan. Kau yang lebih abai terhadap pekerjaan mu dibandingkannya" jawab Alex.


Davin merasa ada yang ditutupi Alex darinya. Dia mengingat kembali ekspresi dan sikap Amelia yang cenderung lebih diam.


"Kau yakin akan memberikan kuasa penuh pada Kak Saga? " tanya Alex.


Davin menghela, pertanyaan yang sudah sekian kali dilontarkan oleh Alex dan juga ayahnya.


"Aku sudah mengambil keputusan, sebaiknya Kak Saga yang memegang perusahaan. Aku akan mengawasi pabrik setelah semuanya selesai" jawab Davin.


Minah menatap wajah Davin saat bicara.


"Aku merasa Kak Saga hanya boneka Om Gala, Zidan juga punya andil atas rencana ini" ucap Alex.


"Tidak, aku sudah bicarakan ini dengan kak Saga. Dia yakin, dia tak dikendalikan. Dia mengambil jalan ini, hanya untuk melindungi Ibu Ayu dan Amelia. Dia juga mempertimbangkan keputusan Oma yang selalu berubah-ubah. Aku percaya padanya" jelas Davin.

__ADS_1


Mereka asik berbincang hingga larut malam. Permbicaraan kantor, perusahaan dan pabrik sudah lazim didengar Minah dan membuatnya paham sifat masing-masing anggota keluarga.


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2