CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
91


__ADS_3

Bella membuka pintu dan melihat Davin sudah siap turun untuk makan malam.


"Kau benar-benar mengabaikan semua itu? " tanya Bella menghentikan langkahnya.


"Ya" jawab Davin singkat.


"Yang benar saja Davin" Bella hendak memprovokasi nya.


"Aku mau makan malam" ucap Davin mengabaikannya.


Davin keluar, tapi langkahnya mulai perlahan. Dia tak bisa mengabaikan kejadian di kantor tadi.


***


Bella datang bersama Saga. Dia langsung ke ruangan Davin untuk mengantarkan makanan, kemudian Davin hanya memintanya menaruhnya di meja.


"Aku melihat beberapa orang masuk ke ruangan Saga" ucap Bella.


Davin menoleh padanya.


"Ya, kalau kau tidak percaya kau bisa lihat ke sana. Lagipula aku heran dengan mu, kenapa Saga yang mengambil alih kantor ayah, bukannya kau" ucap Bella.


Davin diam saja berusaha tak menghiraukan nya.


"Tapi tenang Davin, ibu ku takkan membiarkan mu sendirian" ucap Bella.


Davin masih diam.


"Kembalilah ke rumah, nanti ibu mencari mu" ucap Davin setelah beberapa lama Bella tetap tinggal.


Belum sempat Bella menjawab, Susi datang membawa sebuah berkas.


"Pak, ini laporan untuk bulan ini dari pabrik dan mall" ucap Susi.


"Ya, terimakasih Sus" jawab Davin seraya menerima berkasnya.


"Oh ya Pak, meeting pemegang saham dimajukan menjadi sebulan lagi" ucap Susi.


Dari sini, Davin baru berhenti acuh dan menatapnya. Bella berisyarat tentang apa yang dikatakannya tadi.


Davin tertegun, Susi menunggu perintahnya.


"Siapa saja yang masuk ke ruangan Ka Saga" tanya Davin.


"Heuh, Kak" Bella mengejek panggilan Davin.


Davin mendelik kemudian menatap Susi menunggu jawabannya.


"Pak Galih, Pak Nurdin juga Pak Najamuddin" jawab Susi.


Davin mengubah raut wajahnya. Baru saja tadi dia bertemu dengan Pak Najamuddin yang memperingatkan tentang pengaruh Saga. Kini dia sudah berada di sisi lain seolah menunjukkan padanya bahwa Saga lebih baik darinya untuk didukung.


Davin keluar, Bella terlihat senang karena suaminya mendengarkan dirinya.


Saga dan orang-orang itu keluar, Davin menatap tajam pada mereka. Mereka semua mulai tegang melihat Davin yang berdiri di hadapan mereka, terutama Najamuddin.


"Mereka.... "


Saga hendak mengatakan alasan kedatangan mereka ke ruangannya.

__ADS_1


"Terimakasih sudah mau membimbing kak Saga dalam hal mengembangkan dan memajukan perusahaan" ucap Davin.


Reaksi mereka langsung berubah saat mendengar ucapan Davin.


"Kami permisi! " ucap Pak Najamuddin.


"Silahkan! " ucap Saga seraya mata menatap ke arah Davin.


Tatapan Davin pun tak luput dari wajah Saga yang dimatanya terlihat sedang menertawakannya.


"Bro, sorry aku baru datang, tadi... " Alex datang dengan terengah dan hendak mengatakan alasannya.


Tapi diamnya Davin membuatnya tak melanjutkan ucapannya.


"Mereka dari ruangan Pak Harris? " tanya Alex.


"Ruangan Pak Saga" Davin menegaskan.


"Belum, masih ruangan pak Harris. Dia masih akan ke kantor beberapa kali lagi" ucap Alex.


"Kapan? Setelah dia puas hidup bersama wanitanya?" ucap Davin.


Dia kesal dan masuk ke ruangannya. Alex merasa heran dengan jawabannya yang tak biasanya mengeluh tentang Harris setelah kedatangan Amelia.


Saat hendak menyusul, Bella keluar dari ruangan Davin dan menabrak Alex.


"Ihh, kacung ini benar-benar ya! " ucap Bella ketus.


Alex menelan salivanya.


'Kejam sekali mulutnya' ucap hati Alex.


***


Amelia mengambil Dama dan menyuruh Saga untuk makan terlebih dahulu. Tapi Saga yang sudah sangat terbiasa dengan perhatian Amelia, justru mengajaknya makan bersama. Tapi kemudian, akhirnya Saga menyuapi Amelia di dapur.


Pemandangan itu dilihat Davin yang masuk ke dapur untuk meminta jus. Gelas di tangannya jadi korban remasan tangannya yang kuat. Gelas itu pecah, dan suaranya memecah kemesraan Saga dan Amelia.


Saga dan Amelia menoleh, mereka melihat ke tangan Davin. Saga langsung lompat dan memegang tangannya.


"Kenapa kau bisa terluka seperti ini? " tanya Saga cemas.


Davin hanya diam menatap kakaknya yang panik.


"Mel, ambilkan perban dan salep luka" pinta Saga.


Dengan tergesa, Amelia membawakannya ke meja. Saga menarik Davin dan mereka pun duduk.


"Tidak usah" ucap Davin pelan.


"Tidak, besok kau harus bekerja, tangan mu ini sudah membuat banyak hal yang luar biasa, tidak boleh terluka" ucap Saga.


"Percuma kak, hati ku sudah sangat terluka" ucap Davin.


Saga berhenti membubuhi salep ke tangan Davin, Amelia pun terkejut dengan ucapannya.


"Tidak masalah jika ada luka lainnya, aku sudah terbiasa" ucap Davin kemudian berdiri.


Dia pergi setelah menatap Amelia kemudian membelai Dama. Amelia menghindari tatapan matanya.

__ADS_1


"Ada apa dengannya? " tanya Saga.


Amelia tak menjawabnya.


***


Maria duduk diam di sofa, tak ada sepatah katapun keluar meski Harris datang setelah makan malam.


"Kau tidak makan? " tanya Harris.


Maria mendengar, tapi seolah terkunci rapat oleh rasa malunya, dia diam tak menjawab.


Harris tak mendapat jawaban, dia ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Maria keluar dari kamarnya karena tak mampu menghadapi Harris setelah apa yang terjadi.


Hela nafas Maria begitu berat terdengar. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan di depan Harris.


Teringat apa yang terjadi saat dia menyusul Harris ke rumah Ayu.


***


Maria datang dan mengetuk pintu rumah Ayu dengan keras dan terus berulang hingga Ayu yang sedang berganti pakaian harus bergesa.


Maria masuk dan mencari Harris ke kamar dan ruang lainnya tanpa Ayu persilahkan. Ayu hanya menatapnya heran dan mengikuti langkahnya.


"Kau cari Harris? " tanya Ayu.


"Ya, aku cari suami ku. Dia menyusul mu kemari kan? " tanya Maria.


Ayu mengambil nafas dan berhenti di dekat pintu. Maria terheran menatapnya. Dulu Ayu selalu meladeni Maria saat dia selalu melabraknya. Tapi sekarang dia malah diam dan bersandar di dinding sambil melipat tangan di dadanya.


"Mana Harris? " tanya Maria.


"Loh, emangnya di dalam nggak ada? " Ayu malah bersikap mengesalkan.


"Kamu jangan permainkan aku ya! " ancam Maria.


"Kau sendiri yang menganggap dirimu sebagai mainan" ucap Ayu.


"Apa maksud mu? " tanya Maria.


Ayu menyeringai menertawakan reaksi Maria.


"Kau tidak akan pernah paham, karena tujuan mu sama dengan wanita itu"


Ayu mengambil nafas dalam.


"Harris tak ada di sini, dia ada di sebuah cafe di Mall milik temannya. Dia sering ke sana, itulah selingkuhannya" terang Ayu.


"Kau...."


"Cepat pergi, aku sedang terburu-buru karena ada pekerjaan" ucap Ayu dengan tangan mempersilahkan Maria keluar.


Maria menghela nafas, dia tak percaya begitu saja dengan ucapan Ayu, tapi dia memang tak bisa menemukan Harris di sana.


Maria pergi tanpa pamit. Ayu pun menutup pintunya dan kembali ke kamarnya.


\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2