CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
95


__ADS_3

Amelia menatap Dama yang sejak siang tak digendongnya. Dama mulai merengek dan rewel. Maria mulai cemas dan merasa Bella tak bisa menanganinya.


Tangan Amelia meremas celananya sendiri. Dia sudah sangat cemas melihat putranya merengek. Maria melihatnya, dia mengerti Dama ingin bersama ibunya, tapi dia tak mau begitu cepat memberikan Dama pada Amelia. Dia merasa ingin mendidik Dama untuk tetap bersama Bella.


"Berikan Dama pada ibunya, kau tidak lihat dia sangat ingin bersama Amelia? " seru Oma yang datang dari arah tangga.


Amelia menunduk, dia menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat terlihat cemas. Bella terlihat senang karena akan terbebas dari rewelnya Dama. Sementara Maria tetap diam dan mencoba menenangkan Dama.


"Ambil Dama dan tenangkan dia! " perintah Oma pada Amelia.


Langkah Amelia tertahan saat melihat Maria yang menatapnya kesal. Oma menatap Maria dan seketika Maria memberikan Dama pada Amelia.


"Aku mau mandi dulu" seru Bella yang langsung bergegas pergi ke kamarnya.


Oma menggelengkan kepalanya dan Maria mengantar Bella dengan tatapan kesalnya.


Amelia langsung memeluk Dama yang juga langsung tenang di pelukan ibunya.


"Nah kan, coba sejak tadi kau berikan, tak usah Dama rewel dan menangis sepert itu" ucap Oma.


"Lalu kapan dia belajar menjadikan Bella ibunya kalau dia terus di asuh Amelia? " Maria protes.


"Amelia akan menjadi istri Saga, dia akan tinggal di rumah ini juga. Pengasuhan oleh siapapun, Dama tetap putra keturunan Narendra. Untuk Bella, berikan solusi agar dia cepat hamil, jadi dia mengasuh anaknya sendiri, tidak usah mengasuh anak orang lain" Oma menunjuk ke atas.


Maria menghela, dia jelas tahu Bella akan kesulitan hamil.


'Jika saja Davin sama dengan ayahnya, tapi Davin lebih bersikeras dibandingkan ayahnya. Dia juga tak pernah bisa berhasrat di depan wanita lain' ucap hati Maria.


"Aku akan siapkan makan malam" ucap Maria meninggalkan mereka.


Oma melihat betapa senangnya Amelia dan Dama. Dia jadi teringat dengan Ayu dan Saga yang dulu pernah tak saling menyapa karena diganti pengasuhan oleh Maria.


'Ya, aku berdosa karena memisahkan anak dari ibunya' ucap hati Oma.


Amelia mengajak Dama ke kamar dan menyusuinya.


Selang beberapa jam, Saga datang dengan berseru meneriakkan nama Dama.


"Dama sayang! Papa pulang! "


Davin yang berjalan di belakangnya menatap dengan sinis.


Saga langsung ke kamarnya dan mengetuk perlahan. Amelia yang keluar dan menempelkan jari di mulutnya.


"Ssthh, Dama baru saja tidur" bisik Amelia.


Saga mengintip, dia tersenyum ke arahnya merasa sangat merindukannya.


"Kau pulang terlambat, kita jadi tidak ke rumah ibu dan ayah untuk menyiapkan camping besok"


Amelia mendorong Saga dan menutup pintunya. Saga sengaja menempelkan dirinya pada Amelia, kemudian memeluk pinggangnya.


Amelia merasa risih karena tak biasanya dia melakukan hal itu.


"Saga, aku... "

__ADS_1


"Sthhh, aku juga sangat merindukan mu, bisakan aku bersandar di pelukan mu sebentar? " ucap Saga yang langsung memeluknya.


Amelia tak menolaknya, tapi dia tak memeluk Saga. Dia hanya diam membeku.


"Ada apa? " tanya Amelia.


"Hmmm? " Saga hanya diam dengan mata terpejam.


"Ada apa, kenapa kau terdengar tak bersemangat? " tanya Amelia lagi.


"Tidak, aku hanya ingin memeluk mu saja. Hanya di sini kau bisa menerima pelukan ku, di Montreuil kau tidak pernah mau melakukannya" jawab Saga.


Amelia menjadi merasa canggung, dia mendorong Saga.


Saga tersenyum melihat wajah Amelia namun merasa aneh karena dia masih tak merubah ekspresinya.


"Kenapa? Ada yang terjadi? " tanya Saga.


'Aku tak harus menceritakan semuanya, terutama masalah sekecil ini padanya' ucap hati Amelia.


"Tidak, hanya saja kita tak jadi ke rumah ibu untuk menyiapkan bekal" jawab Amelia.


Saga mengeluarkan ponselnya kemudian membuka sebuah pesan suara.


"Nih dengar! " pinta Saga.


”Tidak apa-apa, kami sudah menyiapkan semuanya, kalian datang saja nanti pagi ke rumah” ucap Hani dalam rekaman itu.


"Tapi tetap saja.... " Amelia memasang wajah kesal.


Saga meraih tangannya.


"Baiklah, kali ini kau ku ampuni" jawab Amelia.


Saga senang kemudian memeluknya lagi.


Dari kejauhan, Davin melihat semua keseruan mereka membahas camping, juga kemesraan mereka. Dia tak bisa menahan rasa cemburunya, tangannya mengepal dan kemudian dia pergi ke kamarnya.


Davin membanting pintu dengan keras dan membuat Bella yang sedang mengeringkan rambutnya terkejut.


"Kenapa pintunya di banting? Dia salah apa? " tanya Bella menyindir setelah melihat ekspresi wajah Davin.


Davin diam tak meladeni, dia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


"Dia pasti kesal lagi karena melihat Saga dan Amelia, sama seperti sebelumnya" gumam Bella.


Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Zidan.


[Kau dimana? Aku bosan, bisakah kita pergi ke tempat yang menyenangkan? ]


"Dia tak membacanya! " gumam Bella.


Bella duduk di ranjang dan membuka akun sosial medianya.


Tak berapa lama, suara ketukan pintu terdengar. Bella menjawab dengan keras.

__ADS_1


"Ya, kami akan turun sebentar lagi"


Minah yang belum mengatakan apapun, menelan salivanya dan kembali ke dapur.


Davin keluar dari kamar mandi dan menggosok kepalanya.


"Mba Minah sudah panggil buat makan malam" ucap Bella.


"Aku tidak makan" jawab Davin.


Bella memperhatikannya, dia semakin kesal dengan sikapnya. Tapi pesan balasan dari Zidan membuatnya tersenyum dan melupakan Davin.


"Baiklah, aku akan makan malam bersama teman-teman ku di luar! " ucap Bella seraya mengambil pakaian dari lemari.


Davin benar-benar tak peduli dengan sikap ataupun tingkah Bella. Dia tak peduli kemana dia hendak pergi.


Bella cepat-cepat turun dan pamit ke mertuanya.


"Buu! Aku ada acara di luar bersama teman-teman, Davin sudah tidur dia sudah makan katanya. Aku pergi ya! " ucap Bella yang kemudian mencium pipi ibu mertuanya.


Tanpa mendengar jawaban dan izin dari Maria, Bella pergi begitu saja di depan semua orang.


Amelia melirik ke arah tangga, sementara Maria dan Oma menghela keras dan mengomentari tingkah Bella.


"Nggak biasanya dia bersikap kekanak-kanakan seperti itu" ucap Oma.


"Dia pasti bosan dan perlu hiburan setelah mengasuh Dama" ucap Maria membela.


Harris yang baru turun, langsung duduk dan tak mengatakan apapun.


"Kapan papa akan ke kantor? " tanya Saga.


Semua orang terdiam, Harris menatapnya sambil mengambil makanan ke piringnya.


"Mungkin besok, akhir-akhir ini papa sibuk dengan sesuatu" jawab Harris.


Maria melirik padanya, ingat dengan saat mereka bicara di cafe.


"Syukurlah, jangan tinggalkan anak-anak dalam keadaan buta pengalaman" ucap Oma.


"Davin sudah cukup mumpuni meski usianya masih muda" ucap Maria.


"Ya, aku mengakuinya, tapi kita juga harus menjaga kesehatan hati dan pikirannya, jangan sampai karena pekerjaan yang menumpuk, dia jadi menjauhi program hamilnya Bella" jelas Oma.


Amelia tersedak namun berusaha menyembunyikannya. Dia meraih gelasnya perlahan dan minum dengan tenang.


"Ya bu, aku mengerti" jawab Harris.


Maria terkejut dengan reaksi Harris yang menurut saja dengan ucapan ibunya.


"Aku tidak melihat Alex? " tanya Oma.


"Dia pergi ke Tangerang, beberap berkas harus diambil dari sana langsung Oma" jawab Saga.


Oma menatap Saga dan Harris bergantian. Harris juga merasa kepergian Alex tidak diperlukan.

__ADS_1


Makan malam, malam itu mendadak hening.


\=\=\=\=>


__ADS_2