
Pria yang mengendarai mobil keluar untuk melihat keadaannya. Dia merasa tak menabraknya tapi dia terjatuh. Pria itu menarik bahunya untuk memastikan keadaannya.
Steve berhenti berjalan saat melihat pria itu keluar dan memeriksanya. Dia mundur perlahan agar tak terlihat olehnya.
Pria itu membawa Amelia ke rumah sakit terdekat. Dengan menggendongnya saat masuk ruang unit gawat darurat. Suster menyuruhnya membaringkan Amelia di ranjang yang kosong diantara beberapa pasien lainnya.
Beberapa pasang mata menatapnya karena melihat wanita yang digendongnya memakai pakaian tidur dan terlihat sangat kotor. Tapi dia tidak peduli dan tetap menemaninya.
"Apa yang terjadi?" tanya Suster.
"Dia tiba-tiba berlari ke arah mobilku, aku tidak menabraknya tapi dia terjatuh sendiri" jawab pria itu.
"Ouh, haruskah aku panggilkan polisi?" tanya suster itu.
"Aku tidak tahu, tapi...aku rasa tidak perlu, aku akan bertanggung jawab untuk mengobatinya" jawab pria itu.
"Kalau begitu, mari selesaikan dulu administrasinya" ucap suster.
Pria itu ikut dengan suster, sementara Amelia diperiksa.
Sementara itu, Steve kelimpungan. Dia tak tahu harus berbuat apa. Dia melihat Amelia tertabrak mobil karena ketakutan padanya. Steve menatap barang-barang yang berserakan saat kejadian tadi. Dengan perlahan dan hati yang tak menentu, dia merapikan semuanya.
"Tidak apa-apa, jikapun dia mati. Aku akan katakan aku tidak tahu apa-apa" gumamnya sambil meraih satu persatu barangnya.
Amelia selesai diperiksa, Dokter mencatatkan resep untuk diberikan padanya. Pria itu mendekat dan menunggu Dokter menulis.
"Dia baik-baik saja, janinnya juga baik-baik saja" ucap Dokter.
Pria itu menganga terkejut mendengar wanita yang dia temukan sedang hamil. Dia menatap wajahnya yang dia rasa khas wajah asia, seperti tak asing. Tapi dia tak bisa mencari tahu identitasnya. Selain karena dia tak tahu jalan yang dia lewati tadi. Amelia juga tak membawa identitasnya. Dia hanya bisa menunggu. Tak lama ponselnya berdering.
"Kenapa lama? Kau dimana?" tanya seorang pria di ujung telpon.
"Aku....di rumah sakit"
"Apa? Kau tabrakan? Aduhhh!" keluh pria itu.
"Tidak...ada seorang wanita terjatuh di depan mobilku" jelasnya.
"Kau menabrak seorang wanita?" pria itu panik.
"Tidak! Ah...nanti aku jelaskan" ucapnya saat melihat Amelia membuka matanya.
Amelia bangun dan menatap pria itu, yang tersenyum padanya.
"Hai, kau baik-baik saja?" tanyanya.
"Ya, dimana ini?" tanya Amelia.
"Rumah sakit yang dekat. Aku panik jadi...."
"Apa pria itu mengejarku?" tanya Amelia panik.
"Pria?" pria itu melihat ke kanan dan ke kiri.
Amelia berusaha duduk tapi masih merasakan sakit di kepalanya. Pria itu dengan refleks menawarkan tangannya dan Amelia meraihnya dengan refleks juga.
"Aku rasa tak ada yang mengikuti ku saat kemari" ucap pria itu.
Amelia membuka kain yang menyelimutinya. Dia menatap keadaan dirinya yang sangat kotor. Dia termenung berpikir bagaimana caranya kembali ke rumah Steve.
Pria itu memperhatikannya, dia mengerti wanita itu ingin pulang.
"Dengar, aku akan mengantar mu ke rumah mu. Tapi aku lupa jalannya. Kau bisa menunjukkannya?" ucapnya.
"Tidak, aku tidak mau kembali ke rumah Steve, dia akan memperlakukan ku seperti itu lagi" ucap Amelia.
Pria itu menghela, dia harus cepat kembali ke toko tempat dia bekerja.
__ADS_1
"Tapi barang-barang ku ada di sana" gumam Amelia dengan menggunakan Bahasa.
Pria itu mendengarnya dengan jelas. Dia membungkuk untuk menatap wajah Amelia.
"Kau bicara apa?" tanyanya juga dengan Bahasa.
Amelia menatapnya terkejut.
"Kau orang Indonesia?" tanya Amelia.
"Ya! " jawab pria itu.
"Huuuhhhf...syukurlah" ucap Amelia.
Dia memegang tangan pria itu dan menceritakan apa yang terjadi padanya. Pria itu terkejut dan semakin bingung harus melakukan apa.
"Aku malah ngira orang yang kamu bicarakan adalah suami kamu. Soalnya kan kamu... "
"Aku hamil, dokter bilang apa tentang kandungan aku?" Amelia ketakutan sambil memegang perutnya.
"Tidak, tidak apa-apa, kandungan mu baik-baik saja" jawabnya.
Amelia lega, dia terus mengusap perutnya. Pria itu memperhatikannya. Dia tidak tega jia harus mengantarnya kembali ke rumah itu. Tapi dia juga tak bisa menampung orang lagi karena dia pun sedang berusaha bertahan hidup. Apalagi seorang wanita yang sedang hamil.
Amelia menatap wajah pria itu yang terlihat kebingungan. Amelia berpikir merasa beruntung bisa bertemu dengan orang yang berasal dari negara yang sama, tapi kasihan juga melihatnya merasa terbebani olehnya.
"Boleh aku minta tolong sekali lagi?" tanya Amelia.
"Apa itu?" tanyanya.
"Boleh pinjam ponsel mu? Aku mau menghubungi seseorang" ucap Amelia.
Pria itu memberikan ponselnya dan dia berjalan menjauh.
"Laura! Ini aku Amelia!" ucap Amelia.
Laura setuju, dia akan berusaha melakukan yang terbaik besok. Amelia sangat berterima kasih padanya. Laura juga sangat sedih mendengar hal itu bisa terjadi padanya.
Pria itu mendengar semua rencana Amelia. Dia berpikir bahwa Amelia cukup cerdik mengatasinya. Tapi dia juga khawatir Amelia akan mengalami kesulitan setelahnya. Dia tahu sendiri bagaimana sulitnya bertahan hidup di Paris.
"Hei...!" ucap Amelia memanggilnya.
Tapi pria itu terdiam memikirkan bagaimana nasib Amelia kedepannya.
"Hei kamu!" seru Amelia.
Pria itu menoleh dan menunjuk diri sendiri.
"Aku?" tanyanya sambil mendekat.
Amelia belum tahu namanya.
"Nama ku Saga" ucapnya sambil mengambil ponselnya.
"Aku Amelia, maaf aku bercerita banyak tapi tak menanyakan nama mu" ucap Amelia.
"Tidak apa-apa, aku juga baru tahu nama mu Amelia. Nama yang cantik" ucap Saga.
Mereka saling diam beberapa saat.
"Jadi? Bagaimana?" tanya Saga.
"Pulanglah, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Terimakasih sudah mau membantuku" ucap Amelia.
"Ya, sama-sama. Apa kau yakin kau akan baik-baik saja?" Saga masih khawatir.
"Ya, aku akan baik-baik saja" jawab Amelia.
__ADS_1
"Ouh ya, ini alamat toko ku. Datanglah jika butuh bantuanku" ucap Saga sambil memberikan kartu nama toko bosnya.
"Terimakasih" ucap Amelia.
Saga tersenyum. Amelia menatapnya heran.
"Kau sudah mengatakan kata terimakasih lebih banyak dari yang seharusnya" ucap Saga.
Amelia tersipu malu karena dia juga merasakan hal yang sama.
"Maaf!" ucap Amelia.
"Ok, Ok, sudah cukup. Aku akan pulang, jangan sampai kata terimakasih berubah menjadi kata maaf" ucap Saga.
Mereka berdua tersenyum. Saga pamit, Amelia membaringkan tubuhnya dan suasana kembali hening. Amelia menatap langit-langit rumah sakit. Dia mengingat kengerian yang baru saja dia alami. Matanya kembali menangis, tangannya kembali menyentuh perutnya.
Keesokan harinya, Amelia keluar dari rumah sakit memakai sweater milik seorang suster yang baik hati yang mau memberikannya karena khawatir dia akan kedinginan.
Amelia pun pergi melihat situasi rumah Steve. Tak ada seorang pun di luar rumahnya. Dia tak berusaha mencari Amelia. Amelia menemui penjaga rumah.
"Nona Amelia?" penjaga itu terkejut.
"Hai, Steve di rumah?" tanyanya.
"Tidak, dia pergi ke kantornya" ucap penjaga itu.
Dia memperhatikan penampilan Amelia yang kotor di bagian celananya.
"Apa yang terjadi padamu? Steve bilang kau kabur bersama seorang pria" ucap penjaga itu.
"Apa? Dia benar-benar brengsek" ucap Amelia.
Penjaga itu menunjuk ke arah koper di sudut ruangan posnya.
"Dia malah memintaku membuang koper mu" ucapnya.
Amelia kesal, dia melihat pakaiannya di kemas asal dan hendak dibuang. Tapi dia bersyukur tak harus masuk ke dalam.
"Kau tidak akan percaya jika aku mengatakannya" ucap Amelia sambil masuk dan mengambil kopernya.
Penjaga itu memperhatikannya.
"Apa kau dilecehkan?" tanyanya.
Amelia terengah mengangkat kopernya. Dia menatap penjaga itu dengan kesal.
"Kau tahu? Dia mengatakannya? Apa dia mengatakan bahwa aku merayunya dan membuatnya terjebak" Amelia menduga dengan kesal.
"Tidak, kau satu-satunya yang selamat dari cengkramannya" ucap penjaga itu.
Amelia terkejut.
"Dia menyuruhku pergi kemarin" ucap penjaga itu.
"Kalian sengaja melakukan ini padaku?" Amelia marah.
"Maafkan aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa" ucap penjaga itu.
"Setidaknya manusiawi lah mengingat korbannya saat berpikir dia mau melakukan hal yang sama terus menerus seperti itu"
Amelia kesal dan mendorong tubuh penjaga yang berdiri di hadapannya. Dia pergi sambil terus mengumpat kesal pada mereka berdua.
"Kau akan pergi?" tanya penjaga itu yang merasa bersalah dan khawatir padanya.
"Kau pikir aku akan tinggal di neraka berwajah surga ini. Yang benar saja!" ucap Amelia.
Penjaga itu berdecak, dia kasihan tapi tak bisa melakukan apapun. Terlebih dia orang pertama yang Amelia percaya dan ceritakan soal kehamilannya. Dia hanya bisa menatap Amelia yang menarik kopernya sepanjang jalan hingga menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=>