CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
68


__ADS_3

Davin mengetuk pintu kamar ibunya, dia diikuti Bella yang tahu kedatangan mereka saat melihat jendela.


"Kalian senang dengan jalan-jalan kalian? " tanyanya mengejutkan Davin.


"Kau mengagetkan ku! " Davin mengusap dadanya.


Tak sempat Davin menjawab sindiran Bella, Maria sudah membuka pintu kamarnya. Dia menatap terkejut melihat Bella yang berdiri di belakang Davin.


"Kau akan mendengarkan pembicaraan kami? " tanya Maria ketus.


"Aku hanya ingin mengatakan pada ibu kalau malam ini, aku akan pergi ke rumah ibu ku. Aku akan menginap di rumah mereka" ucap Bella.


Davin menatap Bella dengan heran.


"Baiklah, sebaiknya kau berangkat sekarang" ucap Maria.


Bella berlalu begitu saja. Davin semakin heran dengan sikapnya yang berbeda dari biasanya.


"Masuk cepat! " seru Maria pada Davin yang menatap kepergian Bella.


"Ada apa Bu, apa ada yang penting? " tanya Davin.


"Aku tak habis pikir dengan tingkah mu memperlakukan Amelia. Kau mengajaknya pergi ke rumah nya. Kalian melakukan kunjungan seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia. Davin... sadarlah, Bella istri mu"


Maria kesal pada anaknya.


"Pak Ghani tak masuk kerja, Amelia hanya khawatir tentang itu. Ibu dan Bella pergi, dia kerepotan membawa Dama sendirian ke sana... aku... "


"Ayah Bella sakit setelah kembali dari makan siang yang tak mereka inginkan tempo hari. Mereka mengeluh tentang kekesalan mereka terhadap keputusan mu membiarkan Amelia tinggal di rumah ini. Mereka meminta ku untuk mengambil keputusan tegas, jika tidak mereka akan mengambil langkah yang tidak akan kita duga" jelas Maria dengan mata membulat penuh.


"Mereka akan membatalkan kerja sama itu, iya kan? " Davin menerka.


"Ya, tentu saja. Kau pikir apalagi yang bisa membuat kita jatuh selain bukan kontrak yang sudah ditandatangani? "


"Ayah bahkan tidak mengatakan apapun tentang ini" ucap Davin.


"Ayah mu sibuk dengan kehidupannya sendiri. Dia tidak bisa meninggalkan cinta sejatinya. Dia tidak punya cukup waktu untuk memikirkan permasalahan mu" ucap Maria ketus.


Davin menghela keras. Ya dia tahu pasti apa yang dibicarakan ibunya. Ayahnya selalu pergi dan diam di rumah Ayuningtyas.


"Ya sudah bu, aku akan ke kamar ku" ucap Davin sambil berbalik.


"Kau menginap dengan Bella di rumah orang tuanya sekarang" ucap Maria.


Davin berbalik.

__ADS_1


"Tapi Bu! "


"Tidak ada tapi-tapi, ini salah satu cara agar mereka yakin bahwa Amelia hanya tinggal untuk mengasuh Dama, putra mu. Jangan buat usaha ibu tadi menjadi sia-sia"


Tatapan Maria tajam pada Davin yang menghela dan berdecak karena malas pergi bersama Bella.


"Ibu mohon"


Davin menatap ibunya yang hendak mengangkat kedua tangannya yang menyatu. Di buru-buru meraihnya dan menggenggamnya.


"Tidak bu, tidak seharusnya ibu memohon padaku. Maafkan aku, aku hanya belum bisa rela untuk melakukan apapun dengan Bella. Aku akan pergi menginap bersamanya" ucap Davin dengan suara lembut.


"Ok, terimakasih"


"Aku juga minta pada ibu untuk tidak menyalahkan Amelia untuk kepergian kami hari ini. Aku yang memaksanya, dia dan keluarga nya bahkan tak begitu suka dengan kedatangan ku"


"Apa? " Maria kesal mendengar kabar itu.


"Itu wajar, mungkin seharusnya aku tidak meminta Dama darinya"


Maria kasihan menatap anaknya.


"Dama itu putra mu, ibu juga jatuh cinta pada anak itu sejak pertama bertemu. Tidak apa-apa, ibu akan urus Amelia tanpa menyakiti hatinya"


Davin menatap ibunya dengan perasaan lega karena mendengar ucapannya. Setidaknya dia bisa mempercayai ibunya untuk menjaga mereka berdua.


Davin berjalan menuju kamar dengan berat hati.


~Baru saja aku berpikir untuk bisa pergi bersama Amelia dan Dama tanpa rasa takut, sekarang aku harus menemani Bella menginap di rumahnya~ ucap hati Davin.


Dia membuka pintu kamarnya dan melihat Bella sedang mengemasi pakaiannya. Sesekali terdengar suara isak tangisnya dan dia mengusap air mata di pipinya.


"Kau mau menginap sebentar atau selamanya? Kenapa semua kau masukkan ke dalam koper? " tanya Davin sambil mendekat.


"Aku akan tinggal bersama ayah selama dia sakit, kau bisa bebas bersama Amelia dan anaknya. Kau puas! " ucap Bella dengan sedikit suara manja.


Tak bisa dipungkiri, Davin sangat tahu sifat manja Bella. Mereka kenal sejak taman kanak-kanak. Dia juga sangat paham Bella selalu mendapatkan apa yang dia mau.


"Menginap sebentar saja, aku juga tidak bisa lama-lama menemanimu menginap di sana. Pabrik sedang banyak masalah" ucap Davin.


Tangannya meraih beberapa pakaian Bella dan menaruhnya kembali ke lemari.


"Kau akan menemani ku menginap? " tanya Bella seraya berbalik.


"Hmmm, Ibu minta aku menemani mu" jawab Davin.

__ADS_1


Bella berlari kemudian memeluk Davin dari belakang. Davin cukup terkejut, dia mengingat kejadian masa kecil yang sama dengan posisi itu.


"Terimakasih, aku semakin mencintai mu Davin" bisik Bella.


Davin diam saja membiarkan Bella memeluknya. Hatinya memang tak bisa menerima Bella sebagai suami, terutama hasratnya sebagai laki-laki. Tapi sisi kemanusiannya harus membiarkan dia melakukannya untuk menghilangkan rasa sedih karena ayahnya sedang sakit.


***


Maria mengetuk pintu kamar Dama, dia memanggil Amelia untuk bicara.


"Mel, kau masih bangun? " seru Maria.


Amelia keluar.


"Iya bu, Dama baru saja tidur. Mungkin dia lelah" ucap Amelia.


"Tidak apa-apa, bisa kita bicara di kamar ku? " pinta Maria.


Amelia mengangguk. Dia mengikuti Maria yang berjalan menuju kamarnya.


"Duduklah! " pinta Maria dengan menunjuk sebuah kursi.


Dia sendiri duduk di ranjang melipat kedua tangannya.


"Aku mau kau menjaga jarak dengan Davin" ucap Maria to the poin.


Mata Amelia membulat, dia merasa selalu melakukannya selama ini.


"Aku tahu kau tak bermaksud melakukannya. Tapi Amelia, kau mungkin sudah dengar permasalahan yang Davin hadapi secara pribadi. Dia mengalami masalah dalam dirinya dan merasa hanya kau yang bisa membuatnya memilki hasrat sebagai laki-laki" Maria begitu terbuka pada Amelia


Amelia menelan salivanya dan menunduk.


"Tapi Bella adalah istrinya, pernikahannya memang sebuah kesepakatan dan itulah yang kami perlukan dibandingkan perasaan. Kami membutuhkan kesepakatan dengan beberapa pihak yang mungkin dan dapat membantu kami secara finasial" lanjut Maria.


Amelia menahan nafasnya, mengatur dengan pelan agar tak terlihat gugup dan kesal mendengar semua ucapannya.


"Perasaan Davin terhadap mu adalah sebuah titik yang tak berarti di mata kami. Pernikahan Davin dan Bella merupakan hal yang paling penting sekarang. Jika pernikahan ini sampai berakhir hanya karena Davin masih merasakan perasaan itu padamu.... "


"Apa yang bisa saya lakukan Bu? Saya akan melakukan apapun agar pernikahan mereka tetap bertahan" ucap Amelia menyela pembicaraan Maria.


Maria terdiam sejenak seraya menatap Amelia.


"Hindari Davin meskipun itu tidak sengaja. Jika dia terus mendekati mu, sakiti hatinya dengan cara apapun. Kau pasti tahu bagaimana caranya kan? " ucap Maria.


~Astaga, dia bicara seolah aku pandai menyakiti perasaan orang lain. Tuhan, apa yang harus aku lakukan~ ucap hati Amelia.

__ADS_1


\=\=\=\=\=>


__ADS_2