
Zidan termenung di depan stirnya, mencoba mencerna semua yang dia dengar dari percakapan Bella dan Saga.
"Jadi, malam itu, Bella tak tidur di rumah ibunya? Dia berbohong? Sialan! " gumam Zidan seraya menyeringai.
Zidan mendapatkan celah untuk menghancurkan rumah itu dengan satu petikan jari.
***
Amelia terdiam menatap Dama dan Mikayla yang bermain bersama Hani, ibunya.
"Kau kenapa? " tanya Hana seraya menyodorkan teh dingin.
"Tidak, aku tidak apa-apa" jawab Amelia tersenyum.
"Kalau aku sedang bimbang" ucap Hana.
"Kenapa? " Amelia menoleh dengan memasang wajah heran.
"Alex, dia terihat menyerah saat melihat Bagas datang menemui Mikayla" jawab Hana.
"Kau tidak menjelaskan padanya kalau Kak Bagas hanya menemui Mikayla? "
"Tentu saja aku mengatakannya, tapi dia terlihat merasa tak percaya diri. Terlebih ayah, dia selalu menunjukkan sikap dingin terhadapnya" jelas Hana.
"Pasti dia tidak akan percaya diri. Seperti Saga dulu.... "
Amelia terdiam saat dia sadar sedang membicarakan Saga.
"Kenapa tidak melanjutkan ucapan mu? " tanya Hana dengan mulut berisi kue.
"Ya, dulu ibu seperti itu padanya. Sekarang dia mendapatkan kepercayaan ibu dan bertunangan dengan ku" jawab Amelia pelan diakhir kalimatnya.
Hana memperhatikan raut wajahnya yang sengaja dia sembunyikan.
"Ada apa? Sepertinya kau juga punya masalah" tanya Hana menerka.
"Tidak Kak, bukan masalah" jawab Amelia setelah meminum teh nya.
"Kau tidak mau cerita? Ya sudah! " Hana ngambek.
Hana bercanda dengan memalingkan tubuhnya, tapi Amelia tak merespon apapun, dia malah semakin diam setelah beberapa kali menghela.
Hana jadi terpikirkan dengan sikap aneh adiknya. Sesekali dia menatap ke arah Dama dan Amelia bergantian.
***
Harris dan Maria berjalan beriringan di belakang Oma Mira yang sedang menyusuri lorong pabrik.
"Cari tahu kenapa bisa penjualan menurun dalam beberapa bulan ini, katakan pada Davin untuk cepat-cepat mengambil alih pabrik dan meminta beberapa lulusan terbaik untuk ikut mengatur pabrik. Jika seperti ini terus, pabrik bisa saja ditutup" keluh Oma pada Harris.
"Iya Bu! " jawab Harris.
__ADS_1
"Kalian sekarang bertiga, tidak boleh ada alasan lagi salah satu pekerjaan terbengkalai" lanjut Oma.
"Giliran penjualan merosot, Davin yang harus menyelesaikan" gumam Maria.
Harris mengusap lengan Maria untuk tidak mengeluh, terutama di depan Oma.
"Aku dengar keluhan mu, tapi, jika anak mu bisa menyelesaikan masalah ini, itu menandakan kualitasnya yang semakin baik. Kau bisa membanggakan anak mu di depan Ayuningtyas nantinya" ucap Oma Mira.
Maria berdecak, dia kesal dibandingkan lagi dengan Ayuningtyas.
Harris menggaruk kepalanya meski tak gatal. Dia cukup bingung untuk melerai perang ucapan antara ibu mertua dan menantunya itu.
"Maaf saya terlambat! " seru Ghani yang terengah karena berlari.
"Mana Davin? " tanya Oma.
"Saya sudah...."
"Aku lupa Bu, Ghani tadi mengabarkan kalau Saga tidak enak badan. Jadi Davin yang mengambil alih semua rapat hari ini di kantor, jadi dia tidak bisa kemari" jelas Harris menyela ucapan Ghani.
"Kenapa tidak langsung mengatakannya padaku" keluh Oma.
"Tadi kita sedang memeriksa laporan lima bulan terakhir pabrik" jawab Harris.
"Tidak bertanggung jawab" gumam Maria.
"Kita pulang saja, aku tidak tahu kenapa tiba-tiba dia tidak enak badan, semalam baik-baik saja. Tapi, kau harus periksa lagi tentang kualitas bahan baku produksi nya, laporkan padaku nanti malam!" tunjuk Oma pada Ghani yang mengangguk.
***
Amelia menerima telpon dari Minah.
"Apa? Ada apa dengannya? Aku.... "
Amelia tiba-tiba terdiam, kabar Saga sakit membuatnya cemas, tapi dia sadar bahwa komunikasi mereka sedikit renggang akhir-akhir ini, dia menyesal karena tak pamit pada Saga tadi.
"Ada apa? " tanya Hani yang terkejut mendengarnya berteriak.
"Aku harus pulang, Saga sakit" Amelia merapikan tasnya.
"Loh kok sakit mendadak begitu, kamu bilang tadi baik-baik saja" ucap Hana.
Hana dan Hani saling menatap.
"Aku juga tidak tahu, aku pulang ya Bu, Kak! Bye! "
Amelia mengambil Dama dari pangkuan Hani kemudian keluar. Dia bergegas berjalan menuju jalan utama kompleks rumahnya dan mencegat taksi.
Sampai di rumah, Minah langsung mengambil Dama dan mengajaknya bermain, sementara Amelia langsung ke kamar Saga. Namun langkahnya terhenti saat sampai di depan pintunya. Tangannya mengepal, ragu untuk mengetuk.
Tapi Saga keluar membuka pintunya, dia menatap Amelia yang terengah di hadapannya.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja? " tanya Amelia.
Saga menelan salivanya.
"Hmmm, sudah sedikit membaik" jawab Saga.
"Maaf aku tidak berusaha untuk mencari mu tadi pagi, aku.... "
"Aku tidak apa-apa, hanya merasa pusing saja tadi. Sekarang sudah tidak lagi, mungkin aku terlalu fokus pada pekerjaan dan lupa istirahat dengan baik" jelas Saga.
Amelia menundukkan pandangannya, merasa ucapan Saga menyelanya karena tidak suka terlalu dikhawatirkan olehnya.
"Baiklah, maaf, aku akan ke bawah, istirahatlah!" ucap Amelia tanpa menatapnya.
Saga merasa Amelia tak enak padanya. Dia menarik Amelia kemudian mengajaknya masuk ke kamar. Amelia terkejut, tapi dia menurut dan duduk di ranjangnya. Saga membaringkan kepalanya di pangkuan Amelia.
"Mungkin aku merindukan mu, jadi aku merasa pusing. Pijatlah sebelah sini, yang ini belum membaik" ucap Saga menunjukkan dahinya.
Amelia masih canggung, tapi dia merasa senang karena Saga membutuhkannya lagi. Diapun memijat kepalanya hingga Saga terlelap tidur di pangkuannya.
Amelia tak melepaskan pandangannya dari pria yang begitu sangat dia cintai saat ini. Merasa Saga sudah kembali padanya, dekat kembali dan menjadi kekasihnya lagi.
Sesekali dia mengusap kepala Saga, kemudian dia pun ikut terlelap tidur.
Minah melihatnya, dia mengajak Dama main dan mengasuhnya selama mereka tidur.
Tak berapa lama, anggota keluarga yang lainnya datang. Mereka langsung ke kamar Saga, namun hanya menemui Amelia yang keluar dari kamarnya.
"Saga kenapa? " tanya Oma Mira.
"Dia bilang merasa pusing, sekarang dia tidur Oma. Oma mau masuk? " Amelia hendak membuka lagi pintunya.
"Tidak, tidak usah. Aku senang kau sudah merawatnya. Sekarang dia baik-baik saja, itu sudah cukup" ucap Oma.
"Mau ku antar ke kamar Oma? " Amelia menjulurkan tangannya.
"Ayo, juga ada yang ingin aku tunjukkan padamu" Oma meraih tangannya.
Mereka masuk ke kamar dan Oma menunjukkan laporan bulanan pabrik. Amelia terkejut dan menatap Oma Mira dengan heran.
"Ya, ini laporan lima bulan terakhir pabrik baju kita" ucap Oma.
"Kenapa Oma menunjukkannya padaku? " tanya Amelia yang segan untuk membuka berkasnya.
"Kau kan lulusan terbaik universitas ternama, pengalaman kerja mu juga tidak bisa diremehkan, coba lihatlah, apa ada yang salah dengan laporan itu? Aku mulai pusing saat membacanya beberapa menit. Apalagi untuk menelaahnya" keluh Oma.
"Maksudku, kenapa Oma tidak memberikan ini pada Davin, Saga atau Pak Harris" ucap Amelia sedikit membuka berkasnya.
"Buka saja, aku ingin dengar pendapat mu" pinta Oma.
Amelia menurut dan sedikit demi sedikit membaca laporan bulanan pabrik mereka.
__ADS_1
\=\=\=\=>