CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
51


__ADS_3

Davin mengantar Oma Mira untuk berbaring.


"Terimakasih sayang" ucap Oma Mira.


"Seharusnya Oma bilang kalau Amelia ada di rumah bu Ayu. Jadi Oma tidak sampai drop begini. Untung aku tadi lihat mobil Oma dari ruang kerja" ucap Davin.


Oma Mira menatapnya.


"Kau tidur di ruang kerja?" tanya Oma.


Davin terdiam.


"Astaga Davin! Separah itu? Kenapa kau jatuh cinta pada Amelia. Kenapa bukan wanita lain?" Oma mengeluh.


Davin masih diam.


"Permainan pernikahan semasa kecil tak mungkin jadi pertanda bahwa kalian adalah jodoh bukan?" ucap Oma.


Dahi Davin berkerut kemudian menatap Oma Mira.


"Permainan pernikahan?" tanya Davin tak yakin dengan apa yang dia dengar.


###


Belasan tahun yang lalu.


"Bawa anak-anak ke rumah mu. Jika Ayu membangkang seperti ini, mereka akan meniru tingkahnya" ucap Oma Mira pada Ghani.


Ghani membawa Saga, Davin dan Alex ke rumah nya. Hani yang memegang tangan Hana dan Amelia menyambut mereka saat Ghani dan anak-anak datang.


Senyuman Hana membuat mereka merasa bahwa kedua anak perempuan itu cukup ramah. Saga masih berusia 10 tahun, yang paling besar di antara mereka, diminta untuk menjaga mereka selama bermain di halaman rumah Ghani.


Dia sebenarnya sudah mengerti tentang semua masalah yang dibicarakan Oma dan ayahnya. Ibu Maria yang tiba-tiba menangis dan tak mau bertemu dengannya, juga wanita sebaya dengan Ibu Maria yang juga mereka bicarakan.


Saga duduk diam menatap Amelia, Hana, Davin dan Alex yang bermain. Amelia yang saat itu baru berumur 4 tahun, menarik celana Saga untuk mengajaknya bermain.


Namun Davin menariknya dan menjadikannya ratu di sisinya. Alex dan Hana menaburkan bunga yang mereka cabut di pekarangan rumah sebagai hiasan pernikahan mereka.


Saga dia menatap pemandangan itu. Masa kanak-kanak yang tak dia lupakan. Bahkan suara Alex dan Davin yang memanggil nama Amelia begitu jelas di telinganya.


###


Sekarang Saga hanya melihat tangis di mata Amelia. Dia duduk jauh dari Dama agar anaknya tak mendengar tangisannya.


Ayu duduk di tengah rumah. Tak lama kemudian Harris datang.


"Ibu kemari?" tanya Harris.

__ADS_1


Saga dan Ayu berdiri menatap kedatangan Harris.


"Iya, dia...." Ayu menangis sebelum mengatakan apa yang terjadi.


Harris memeluknya dan membelai rambutnya.


"Sudah, jangan menangis. Tidak usah mengingat masa lalu, ok" ucap Harris.


Saga memalingkan wajahnya, dia tak ingin melihat pemandangan hubungan dari kedua orang tuanya yang sangat dia tentang.


Harris melihat Saga, kemudian beralih pada Amelia yang menangis.


"Buatkan Amelia teh, biar dia tenang. Beri tahu untuk jangan menangis terus, kasihan Dama, ASI nya nanti nggak keluar" ucap Harris.


Ayu mengangguk, dia mengusap air matanya kemudian menyiapkan teh hangat.


Harris mendekat pada Saga.


"Kau tahu mengenai penyakit Davin?" tanya Harris.


Saga menghela, dia tak ingin mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya. Tapi ini menyangkut adiknya.


"Tahu, Oma yang beritahu" jawab Saga.


"Selama hampir dua tahun menikah, istrinya sama sekali tak bisa dia sentuh" ucap Harris.


Saga ragu untuk mengatakan bahwa mereka saling mencintai. Karena Amelia pernah mengatakan bahwa bayangan ayah dari Dama selalu hadir. Bahkan kedekatan mereka hanya karena Amelia mau untuk berusaha membangun cinta untuknya.


"Amelia hanya peduli pada anaknya. Ayah hanya melihat itu di matanya" ucap Harris menyela ucapan Saga.


Saga meneteskan air matanya, kemudian berpaling agar tak terlihat menangis.


Ayu mengajak Amelia untuk berbaring, tapi dia tak mau.


"Tidak Bu, aku tidak akan pergi jauh dari Dama. Aku tidak akan kemana-mana" ucap Amelia.


Saga dan Harris menatapnya. Saga mendekat, dia mencoba untuk membujuk Amelia.


"Mel, istirahat saja dulu. Biar aku yang jaga Dama, ya!" bujuk Saga.


"Besok aku akan kembali ke rumah itu" ucap Amelia.


Saga yang sedang memegang tangannya, kemudian dengan lemah melepaskannya.


"Aku tidak mau dipisahkan dari Dama, maafkan aku" ucap Amelia.


Saga menutup matanya sebentar, dia merasa kecewa dengan keputusan Amelia.

__ADS_1


"Kau tidak percaya padaku bahwa aku bisa membawa mu pergi dari sini?" tanya Saga.


"Aku sudah pergi jauh, bahkan aku mengalami banyak hal saat pergi. Tapi takdir membawa ku kembali kemari. Dia ayahnya Dama, meskipun aku pergi ke ujung dunia, dia tetap ayahnya. Aku mungkin harus terpisah dengan Dama suatu hari nanti, tapi aku mau merawatnya hingga dia beranjak dewasa. Akan ku pastikan dia takkan salah paham padaku saat dia dewasa" jelas Amelia.


Saga menghela dengan keras, kedua tangannya mengusap wajah yang sudah berlinang air mata. Ayu memegang erat baki yang dia bawa. Harris hanya bisa diam merapatkan giginya sendiri.


"Apa pernah sekali selama kita bersama, rasa cinta yang kau katakan akan kau usahakan untukku, sekali saja, hadir?" tanya Saga.


Amelia menarik nafas dalam, matanya tertutup sebentar kemudian menatap Saga.


"Kau pria yang sangat baik, kebaikan mu membuat semua wanita mencintai mu. Aku..."


"Apa kau mencintai ku?" Saga memotong ucapan Amelia.


Amelia terbata, sesekali dia melipat dan membasahi bibirnya.


"Apa kau salah satu dari wanita itu? Mencintaiku karena kebaikan ku" lanjut Saga meskipun dia sudah merasa bahwa Amelia takkan menjawabnya.


Amelia tetap diam menundukkan kepalanya.


"Kau tidak mencintai ku, sejak awal kau mengatakannya. Aku yang bodoh, seharusnya aku tidak memaksakan perasaan ini" ucap Saga.


Amelia ingin menggapai wajah Saga dan memeluknya, dia ingin membuat Saga merasa lebih baik. Tapi, seperti biasa, Amelia menjaga jarak dan tak bisa melakukannya. Dia hanya bisa menangis menatap Saga yang kecewa padanya.


"Aku tidak mau dipisahkan dari Dama. Tidak ada alasan lain. Aku mohon maafkan aku Saga" Amelia menangis mengatakannya.


Saga mendekat dan menghapus air matanya.


"Kalau kau memikirkan Dama, kau tidak boleh menangis terus" ucap Saga.


Amelia masih menundukkan pandangannya di hadapan Saga.


"Berjanjilah padaku, kau tidak akan menangis di sana" lanjut Saga.


Amelia mengangkat wajahnya menatap Saga dengan berderai air mata. Saga tetap menghapus air matanya.


"Mereka semua akan menjatuhkan mu, kau harus kuat. Karena sekuat apapun mereka berusaha menjatuhkan mu, jika kau kuat, mereka sendiri yang akan jatuh. Jadilah Amelia yang aku kenal saat kita bertemu di Paris, bersama di Montreuill"


Saga tersenyum dalam tangisnya meskipun hatinya sangat merasakan sakit yang luar biasa.


"Nanti, jika kau sudah bisa melepaskan Dama. Datanglah padaku, karena aku selalu menunggu mu" ucap Saga.


"Saga, aku..." Amelia tak mampu berkata-kata.


"Aku tahu, kau menyayangi ku. Tapi kau harus bisa mempertahankan Dama. Jangan pernah melepasnya" Saga menundukkan pandangannya.


Ayu dan Harris terdiam melihat dan mendengar keputusan Amelia dan Saga.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2