
Amelia baru bisa makan setelah dia kembali dari kamar Oma Mira. Akhir-akhir ini Oma selalu memintanya ke kamar untuk sekedar merapikan ranjang atau menyajikan teh.
Amelia duduk di meja di dapur, pikirannya masih memikirkan sikap Bella yang menurutnya terlihat canggung saat dia berpapasan di kamar Zidan.
'Dia mencari Zidan, itu wajar kan? ' tanya hati Amelia.
Minah melihatnya.
"Ada apa? " tanya Minah.
Amelia menoleh, dia menelan makanannya.
"Aku melihat Bella keluar dari kamar Zidan" jawab Amelia.
Minah yang sedang minum langsung tersedak.
Amelia terkejut dengan respon Minah.
"Kenapa? " tanya Amelia.
"Tidak" jawab Minah sambil melap mulut dan bajunya.
Amelia memperhatikan wajah Minah yang terlihat menyembunyikan sesuatu.
'Tidak, bukan urusan ku' ucap hati Amelia.
"Oh ya, Dama bermain bersama mereka. Aku tidak dengar dia menangis atau rewel" ucap Minah.
"Dama tidur" jawab Amelia.
"Ahhhh, pantas saja. Akan sedikit aneh jika dia anteng bersama Bella" Minah mengomentari.
Amelia tersenyum. Kemudian, ponselnya berdering, Oma Mira memanggilnya lagi. Amelia bergegas dan sampai di kamarnya.
"Ya Nyonya! " seru Amelia.
"Bawakan aku buku yang lain lagi" pinta Oma seraya menunjuk ke buku yang sudah dia baca.
"Baik Nyonya! " jawab Amelia.
"Tidak, antar aku ke ruang baca" ucap Oma berubah pikiran.
Oma Mira turun dari ranjangnya perlahan. Kemudian tiba-tiba Harris datang dan membantunya.
"Kenapa kau di sini? " tanya Oma.
"Untuk membantu ibu" jawab Harris.
Oma Mira saling bertatapan dengan Amelia yang juga terkejut dengan kedatangan Harris.
"Tapi.... " Oma hendak menolak.
"Kasihan Amelia, dia sudah mengasuh Dama dan mengurus Saga, masa ibu mau merepotkannya lagi dengan permintaan berkali-kali seperti ini! " keluh Harris.
"Dia tidak keberatan" ucap Oma.
__ADS_1
"Buu....! " keluh Harris yang tak diterima perhatiannya.
"Lagipula, kenapa kau di sini? seharusnya kau ke kantor, bantu anak-anak mu mengurus kantor, ajari mereka tentang semua yang kau tahu tentang kantor, perusahaan dan mall kita" Oma mulai cerewet.
Amelia membantu Oma berdiri.
"Lihat, dia bersedia melakukannya untukku" ucap Oma pada Amelia.
Harris menghela.
"Ibu tahu kalau aku tidak berminat bekerja di kantor" ucap Harris menghentikan langkah Oma.
Tapi Oma tidak berbalik, dia diam dengan tangan meremas tongkatnya. Amelia mengerutkan dahinya, merasa Harris akan mengatakan sesuatu yang bisa membuat Oma kesal lagi.
"Kau suka membuka cafe dan bernyanyi di sana, berpikirlah, Maria dan Davin makan dan dicukupi kebutuhannya dari perusahaan Narendra. Jika kau tidak memimpin disana, bahkan sesuap nasi pun akan sulit untuk mu memberikannya pada anak dan istri mu" Oma bicara tanpa berpaling.
Tanpa mendengar lagi kilah dari Harris, Oma menarik tangan Amelia untuk cepat membantunya menuju ruang baca. Amelia menurut dengan ekspresi yang terkejut karena Oma begitu lugas menolak keluhan anaknya.
Harris sendiri menghela, dia kembali ke ruang kerja dan mengerjakan pekerjaannya.
Amelia menatap Oma Mira yang sedang membaca, dia juga disuruh membaca buku pilihan Oma.
"Kenapa menatap terus seperti itu? " tanya Oma Mira.
"Tidak.... " jawab Amelia gugup.
Oma menarik penanda buku dan menutup bukunya, dia menatap ke arah Amelia dan menunggunya untuk bicara.
"Nyonya tahu kalau putra anda tidak suka ini atau menyukai itu. Tapi, kenapa memaksakan sesuatu yang ini? " tanya Amelia dengan tangan memeragakan buku sebagai objeknya.
Amelia merubah raut wajahnya.
"Seorang anak adalah selembar kertas kosong yang lahir ke dunia ini, orang tua yang pertama menuliskan apa dan siapa mereka. Jika mereka menginginkan sesuatu pada saat mereka beranjak dewasa, mereka harus bisa melihat ke halaman awal, siapa dan apa diri mereka" jelas Oma.
Amelia menjadi diam, dia merasa didikan Oma sangat berbeda dengan ayah dan ibunya.
"Dama pun seperti itu, kau memutuskan untuk menjadikannya keturunan Narendra, itulah dia. Jika suatu saat dia ingin kembali pada mu dan melepas nama Narendra, dia harus melihat halaman awal dimana dan bagaimana kau bisa menjadikannya sebagai Narendra. Sama halnya juga dengan Saga, dia kembali melihat halaman awalnya yang jelas bahwa dia adalah keturunan Narendra" lanjut Oma.
Amelia menelan salivanya. Tiba-tiba, dia teringat Dama.
"Maaf nyonya, sepertinya Dama sudah bangun" ucap Amelia.
"Pergilah, minta Minah kemari" jawab Oma.
Amelia bergegas ke kamar dan mendapati Dama sedang main di ranjang dengan Maria. Amelia menghentikan langkahnya dengan nafas terengah. Dia hendak kembali saja ke dapur atau tempat lainnya, namun suara Dama berseru memanggil namanya.
"Mama! "
Maria menoleh ke arah pintu kemudian mendelik.
"Panggil Bella, dia harus terbiasa mengasuh Dama mulai sekarang" ucap Maria.
Amelia tak senang dengan permintaan Maria. Bagaimana dia bisa memanggil orang lain untuk mengasuh anaknya. Tapi langkahnya mulai mundur, dia mencari Bella meskipun tak ingin.
Bella yang sedang bicara di telpon dengan temannya, mendengar suara ketukan pintu dan membukanya. Dia mengangkat satu alisnya, bertanya apa yang dilakukan Amelia di sana.
__ADS_1
"Bu Maria, dia memanggil mu" ucap Amelia.
Bella memasang wajah kesal.
"Ahh, biasa, pengasuh anaknya Davin" ucap Bella seraya kembali ke ranjangnya.
Amelia menutup matanya sejenak, menelan panggilan Bella padanya.
"Bilang pada ibu mertuaku, aku akan ke sana sebentar lagi" seru Bella.
Amelia berpaling darinya, berusaha meminimalisir kekesalannya dengan tidak melihat cara Bella menatapnya.
Dia kembali ke kamarnya, namun berhenti di ambang pintu dan kembali mengambil nafas dalam.
Tapi tiba-tiba, Maria keluar dengan menggenggam tangan Dama yang berjalan perlahan.
"Kenapa? " tanya Maria karena melihatnya terdiam.
"Bella... " Amelia ragu.
Maria menatap ke arah tangga.
"Ya sudah, biarkan saja. Kita ke taman depan saja ya sayang, tunggu papa pulang" ajak Maria.
Amelia diam saja, meski Dama terus meraih tangannya karena ingin digendongnya.
"Iya, nanti mama ikut setelah menyiapkan bahan untuk makan malam" ucap Maria.
Amelia mengerti kemana dia harus pergi sekarang. Dengan mata yang masih menatap Dama yang pergi dengan neneknya, Amelia berjalan mundur perlahan menuju dapur.
***
Saga keluar dari ruangannya, Davin mendengar dan segera menyusul.
"Kau mau pulang? " tanya Davin.
Saga yang sudah hampir masuk ke lift berhenti untuk menoleh.
"Hmmm, kenapa? Masih ada yang harus aku kerjakan? " tanya Saga.
Davin terdiam sejenak, memikirkan alasan agar Saga tak bisa pulang cepat.
"Ya, kita harus bahas pabrik di Tangerang" ucap Davin.
"Bukankah Om Gala yang sudah mengurusnya?" Saga berpikir.
"Ya, tetap saja. Kita harus bisa membantu mengatasinya. Om Gala juga bukankah terbilang gagal atas pekerjaannya? " Davin berkilah.
Saga melihat ke jam tangannya. Dia harus pulang cepat tapi merasa tidak ingin menolak kewajibannya mengurus pabrik juga.
"Baiklah, ayo! " Saga masuk ke ruangan Davin.
Davin tersenyum, dia bisa membuat Saga terlambat malam ini.
\=\=\=\=\=>
__ADS_1