CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
75


__ADS_3

Bella berjalan di belakang Davin yang mendekat pada Dama.


"Damaaa! " seru Davin.


Dia sangat ingin memeluknya, namun berhenti dan melirik pada Bella yang berdiri di sampingnya.


"Papa! " jawab Dama.


"Dama kangen papa ya? " tanya Bella seraya mengelus pipinya.


Alex membulatkan matanya, terus saja di sangat terkejut dengan sikap Bella.


"Aku turut berduka cita atas kepergian ayah mu" ucap Amelia.


Bella menatapnya dan tersenyum, dia mengangguk.


"Terimakasih" jawabnya.


Tapi kemudian mengalihkan pandangannya pada Davin.


"Aku ke kamar duluan ya! " ucapnya dengan suara mesra seraya mengelus lengan Davin.


Alex makin menganga melihat sikapnya.


"Hhhmm" jawab Davin sambil mengangguk.


Davin dan Alex mengantar kepergian Bella dengan tatapan anehnya. Kemudian mereka saling menatap dan memberi kode seolah bertanya apa yang telah terjadi.


"Papa! " seru Dama minta digendong.


Davin bersemangat dan buru-buru menggendongnya.


"Sini sayang, papa kangen banget sama kamu" ucap Davin seraya menciumi pipi tembamnya.


Amelia mundur perlahan dan hendak pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan Dama. Tapi Davin mencegahnya.


"Tidak usah menyiapkan makanan untuk kami, aku dan Bella sudah makan sebelum kemari" ucapnya.


Alex mencubit lengan Davin dan menatapnya dengan mata membulat seolah hampir keluar dari tempatnya.


"Apa? " Davin mengeluh.


"Aku tidak ke dapur untuk membuatkan makanan untuk kalian, aku akan menyiapkan makanan untuk Dama" ucap Amelia setelah berbalik.


Glek...


Davin baru menyadari mengapa Alex mencubitnya.


"Ahh... maaf, maksud ku.... "


"Tidak apa-apa, aku paham" ucap Amelia menyela seraya tersenyum.


Amelia kembali berjalan menuju dapur. Sementara Alex kembali menatap Davin dan mempernyakan sikap Davin.


"Apa salahnya jika aku pikir dia akan melakukan itu" keluh Davin yang merasa canggung dengan tatapan Alex.


"Kau merendahkannya" ucap Alex.


"Apa? " nada suara Davin meninggi.


"Papa" ucap Dama memecah suasana tegang mereka.

__ADS_1


"Iya sayang ayo kita main!" ajak Davin.


Davin pergi meninggalkan Alex yang masih kesal dengannya.


***


Di rumah Ghani.


Bagas berdiri di depan rumahnya, Ghani dan Hani berdiri di depan pintu dengan tangan melipat di dada.


Hana dan Mikayla duduk di sofa menunggu dengan khawatir. Sesekali Hana mengintip ke luar dari jendela. Memastikan ayahnya tak mengusir Bagas dari sana.


"Kau mau mengunjungi Mikayla? " tanya Hani.


Ghani menoleh pada istrinya yang nada suaranya tegas dan terdengar galak.


"Iii..iya bu" jawab Bagas terbata.


"Apa alasannya? Karena istri kamu nggak bisa ngasih keturunan? Atau karena orang tua kamu sadar bahwa keturunan sangat penting di keluarga kalian? "


Ghani menganga mendengar ucapan istrinya. Tapi Bagas malah diam dan berusaha mengatur nafasnya yang sangat gugup.


"Bagas! " seru Hani.


Bagas menatap menjawab panggilannya.


"Kamu itu mantan suami Hana, meskipun seorang ayah tidak bisa menjadi mantan untuk anaknya, tapi ibu mohon, jangan teralu sering memberi harapan besar untuk Mikayla, dimana kamu nantinya hanya akan membuatnya kecewa karena menunggu kedatangan mu yang perlahan mulai jarang nantinya. Atau mungkin bahkan akan menghilang"


Hani melangkah sedikit maju agar Bagas jelas mendengarnya. Tapi kemudian matanya melirik ke arah mobil yang terparkir agak jauh dari rumah mereka. Hani sadar itu adalah mobil orang tua Bagas.


"Dan...., beritahu orang tuamu. Jika mau keturunan mereka berlanjut, cari wanita lain yang mau melahirkan anak mu dan mau diperlakukan rendah oleh kalian" ucap Hani.


"Tidak Bu, bukan begitu" Bagas berusaha membela diri.


"Buu! " seru Hana dari belakang mereka.


Hani dan Ghani menoleh, mereka terkejut Hana berteriak pada ibunya. Bahkan Hani menatapnya dengan mata melotot.


"Cukup Bu, dia hanya ingin bertemu dengan Mikayla, kenapa kalian mempersulitnya? " keluh Hana.


"Mempersulit? " Hani tak bisa percaya anaknya masih bersikap baik pada Bagas.


"Bagas ayahnya Mikayla, wajar dan memang seharusnya dia datang dan mengunjunginya. Ibu jangan melarangnya" Hana mulai meneteskan air matanya.


"Jangan membantah orang tua mu Hana" ucap Bagas.


Kini tatapan mata Ghani dan Hani beralih pada Bagas.


"Mereka benar, seharusnya aku menjaga jarak dari kalian" lanjut Bagas.


"Iya, Bagas sudah mengerti hal itu. Sekarang ubah pemikiran mu untuk bisa kembali padanya. Masuklah! " pinta Hani.


"Bu, biarkan mereka masuk dan mengatakan apa maksud kedatangan mereka kemari" ucap Ghani.


"Yaahhh! " Hani mengeluh.


"Ibu bisa naik ke kamar Hana jika tidak mau mendengarkan mereka" ucap Ghani.


"Huuft, kalian semua menyebalkan" ucap Hani sambil berjalan masuk dengan kesalnya.


Hana memegang tangan Ghani, dia memeluk lengannya, berterimakasih atas keputusannya.

__ADS_1


Bagas meraih Mikayla yang berjalan mendekat padanya. Dengan mencium wajahnya, Bagas meluapkan rasa rindunya.


"Panggil kedua orang tuamu, suruh masuk" pinta Ghani.


Bagas mengangguk dan menggendong Mikayla menuju mobil mereka. Dan akhirnya mereka masuk ke rumah Ghani.


Zidan yang sejak tadi memarkirkan mobilnya di dekat rumah Ghani, terdiam melihat pemandangan itu. Dia menghela cukup keras saat melihat mereka masuk ke rumah Ghani.


"Apa mereka akan diizinkan untuk rujuk?" gumam Zidan.


Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Zidan dengan malas membukanya. Tapi ekspresi wajahnya berubah saat dia membaca pesan dari Bella yang memberitahunya bahwa dia sudah kembali dan memintanya untuk bertemu di balkon malam ini.


Pikiran mesumnya tak bisa terhindar setelah dia menerima pesan dari Bella. Dia mulai bersemangat lagi karena akan bersenang-senang dengan Bella.


"Oh tunggu, bukankah dia sedang berkabung? Wahh, Davin benar-benar tak menghiburnya? Ok, aku akan menghibur mu Bella. Tak apa jika hanya berciuman saja. Aku hanya akan membuatmu merasa lebih baik malam ini" gumam Zidan.


Dia menyalakan mobilnya dan kembali ke kantor.


***


Davin sedang bermain dengan Dama, Oma memperhatikannya.


"Kau tidak pergi ke kantor? " tanya Oma.


"Tidak, aku mau main seharian dengan Dama" jawab Davin.


"Kau memaksa Bella pulang karena anak ini?" Oma menunjuk Dama.


"Oma! " Davin menatap Omanya.


"Kenapa? Aku hanya menunjuknya" Oma beralasan.


"Dia putraku, cicit Oma. Oma mau memperlakukan dia buruk seperti itu? " Davin tak terima Oma nya menunjuk Dama seolah Dama tak begitu berarti untuk membuatnya meluangkan waktu bersama.


"Ya, anak hasil kecelakaan" sindir Oma.


Amelia yang hendak memberikan makanan untuk Dama, berhenti melangkah saat dia mendengar komentar Oma.


Davin melihatnya, dia memperhatikan wajah Amelia yang menunduk.


"Cukup Oma, toh aku juga tidak bisa menikahi Amelia. Oma sudah memilihkan wanita yang cukup baik untukku, jadi jangan selalu mengatakan masa lalu dengan sindiran halus seperti itu" protes Davin.


"Ya, ya, yaaa. Baiklah! " Oma berdiri dari kursinya dan hendak ke dapur.


Langkahnya terhenti saat dia melihat Amelia yang sedang berdiri di sana.


~Oh, Davin mengatakan hal itu karena ada dia. Tapi kenapa dia mengatakan bahwa Bella cukup baik untuknya? ~ ucap Oma seraya menoleh ke arah Davin.


Davin mengalihkan pandangannya ke Dama dan kembali bermain seolah tak peduli.


"Berikan saja pada Davin, biar dia yang menyuapinya" pinta Oma dengan menunjuk mereka.


"Iya Nyonya" jawab Amelia.


Oma menghela, kemudian berjalan meuju dapur untuk mengatur makan malam.


Amelia memberikan makanan Dama pada Davin.


"Ini, suapi sedikit sedikit dulu" ucap Amelia.


Davin mengangguk kemudian melirik padanya yang duduk agak jauh dari mereka.

__ADS_1


\=\=\=\=\=>


__ADS_2