
Amelia bersiap saat dia selesai mengganti pakaian Dama. Ayu menatapnya di ambang pintu, dengan sesekali menghela nafas.
"Kau sama sekali belum tidur, apa kau tidak akan tidur dulu? Masih banyak waktu hingga sampai makan siang" ucap Ayu.
"Tidak Bu, aku baik-baik saja. Aku hanya khawatir pada Saga. Aku rasa dia sedang sangat kecewa pada ku sekarang" jawab Amelia.
Ayu mendekat dan membantu Amelia memakaikan celana pada Dama.
"Dia pria yang baik bukan? Rasa cintanya padamu lebih besar dari rasa kecewanya. Aku hanya berharap kau dan Saga mendapatkan kebahagiaan kalian" ucap Ayu.
Amelia menatap wajah Ayu dan mengerti bagaimana perasaannya. Dia jadi ingat pada Ibunya.
"Bu" ucap Amelia.
"Hmmm?" Ayu menjawab.
"Aku akan pergi sekarang, tapi aku akan pulang ke rumah ayah dan ibu ku sebelum ke rumah Nyonya besar" pinta Amelia.
Ayu tersenyum kemudian mengangguk.
"Ya, pergilah. Kau harus memberitahu orang tua mu atas keputusan mu ini" ucap Ayu sambil membelai rambutnya.
"Terimakasih, sekaligus maaf sudah merepotkan ibu di sini" ucap Amelia.
"Ibu senang kalau itu semua tentang kamu dan Dama. Ibu pasti akan kangen sama kalian nanti" ucap Ayu sambil mencubit lembut pipi Dama.
"Mama!" seru Dama.
Ayu membulatkan matanya mendengar ucapan manis Dama.
"Uhhh, dia sudah pandai mengucapkan kata mama, senangnya" Ayu membelai wajah Dama.
"Ya" jawab singkat Amelia.
Dia jadi ingat kata pertama yang Dama ucapkan saat melihat Davin.
###
Hani masih membahas tentang kedatangan Bagas ke rumah. Hana mulai kesal dan malas mendengarkan saja. Dia mulai protes.
"Buu....!" seru Hana.
Hani membulatkan matanya terkejut dengan nada suara Hana yang tak biasanya meninggi.
"Sudahlah, dia hanya mau ketemu Mikayla. Ok!" Hana merendahkan nada suaranya.
"Kau sudah mulai malas mendengar keluhan ibu dan ayah mu?" seru Ghani yang baru keluar dari kamarnya.
"Bukan begitu, tapi kalian membahasnya semalaman dan juga pagi ini. Tolonglah!"
Hana menghela nafas dengan keras. Tapi matanya membulat saat dia melihat ke arah pintu pagar rumahnya.
Hana melepaskan pegangannya dari Mikayla dan berjalan menuju pintu. Hani dan Ghani memperhatikan dan menatap kemudian mengikuti langkahnya.
Hana membuka pintu keluar dan menghela keras kemudian tersenyum melihat orang yang berdiri di hadapannya.
"Amel!" seru Hana.
Sontak Hana memeluk Amelia, adik tersayangnya. Tangannya tak henti mengusap punggung dan membelai rambutnya.
__ADS_1
Matanya terus meraba wajah Amelia yang sama-sama berlinang air mata. Kemudian senyum menghiasi wajah mereka saat mata mereka saling beradu.
Hani dan Ghani mendekat perlahan, mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Langkah mereka mulai cepat saat mereka yakin dengan mata mereka.
Anak bungsu mereka kembali bersama cucu mereka. Hani dan Ghani mendekat kemudian bergabung memeluk mereka. Kebahagiaan keluarga itu kembali sesaat setelah kedatangan Amelia.
Mata Ghani beralih pada pria yang berdiri menatap mereka di luar pagar rumah. Ghani melepas pelukannya dan berjalan mendekat.
"Masuklah Den!" ucap Ghani pada Saga.
"Tidak Pak, saya hanya mengantar. Hanya sampai sini. Ada banyak hal yang harus Amelia sampaikan. Saya harus cepat kembali, penerbangannya jam 1 siang ini" jelas Saga.
"Den Saga mau kembali ke Montreuill?" tanya Ghani memastikan.
Saga mengangguk, senyumnya jelas memaksakan diri.
"Ya, saya akan kembali ke Montreuill. Tanpa mereka" jawab Saga.
Ghani diam dan berusaha tersenyum. Dia tahu dari suara Saga yang berat melepaskan Amelia. Tapi dia berpikir bahwa mereka sudah mengambil keputusan.
"Baiklah, hati-hati Den!" ucap Ghani.
"Saya pamit Pak. Permisi" Saga mundur perlahan.
Amelia, Hana dan Hani menatapnya. Amelia menuntun tangan Dama untuk melambai pada Saga. Dia menangis melihat Dama tersenyum padanya.
Ghani menunduk melihat Saga yang sangat berat melepas Amelia untuk pergi meninggalkannya.
Saga pergi, Amelia menangis di pelukan Hana.
"Sudah, nanti Dama ikut sedih karena mamanya sedih" ucap Hana.
Mereka bertiga masuk, sementara Ghani masih mengantar kepergian Saga dengan tatapannya.
"Apa yang terjadi? Apa yang membuat cinta mu yang begitu besar untuk anakku bisa kalah?" gumam Ghani.
"Yaaah!" seru Hana.
Ghani menoleh.
"Ya!" jawab Ghani.
Saat dia ingin melihat Saga, dia sudah hilang di belokan blok menuju keluar kompleks. Ghani menghela, dia kembali ke dalam dan bergabung dengan mereka.
###
"Apa?" Davin berdiri setelah mendapat kabar bahwa Saga membeli tiket untuk kembali ke Montreuill siang ini.
Alex menatapnya.
"Sendiri?"
Dia diam mendengarkan beberapa saat, kemudian menutup telponnya.
"Ada apa?" tanya Alex.
Davin berpikir sebentar dan menatap Alex.
"Kak Saga kembali ke Montreuill siang ini" jawab Davin.
__ADS_1
"Kembali? Dengan Amelia? " tanya Alex.
"Tidak, dia sendirian" jawab Davin.
"Wah, kau hebat. Apa yang kau katakan pada Amelia sampai dia mau ditinggal Kak Saga?" tanya Alex salut.
"Sesuatu yang akan membuatnya membenci ku" jawab Davin dengan bergumam.
Alex berhenti merapikan berkas untuk meeting, matanya menatap wajah Davin yang terlihat sangat menyesal.
"Sudahlah, semua sudah terjadi, semua sudah terucap. Ayo kita meeting!" ajak Davin.
Dia berdiri dengan bersemangat, bertentangan dengan raut wajahnya yang masih sendu memikirkan Amelia.
Alex menatap kepergian Davin, dia jadi ingat kata-kata Minah.
~Aku tahu Amelia dan kau adalah pasangan yang cocok. Kalian dua karakter yang hanya mementingkan keutuhan keluarga. Aku akan membantu mu untuk mengembalikan kepercayaan Amelia dan meyakinkannya bahwa kau sangat mencintainya. Kau lah cinta dalam hidupnya~ Alex berjanji dalam hatinya.
###
Ghani dan Hani menunduk mendengar keputusan Amelia.
Hana menatap raut wajah adiknya yang jelas tersirat kekecewaan besar terhadap Davin. Hana tak suka dengan sikap Davin yang labil. Dia khawatir akan keselamatan Amelia selama tinggal di rumah itu.
Teringat akan sikap dan perilaku Bagas terhadapnya. Mementingkan istri pertamanya dan hanya menganggap Hana sebagai ibu dari Mikayla saja.
Hana memegang tangan Amelia.
"Kau benar-benar yakin dengan keputusan mu?" tanya Hana.
Ghani dan Hani menatap mereka berdua.
"Tidak" jawab Amelia setelah beberapa detik dan hela nafas yang panjang.
Hana mengerutkan dahinya.
"Lalu kenapa?" tanya Hana cemas.
"Aku teringat dengan Saga yang belum bisa menerima Bu Ayu sebagai ibunya" jawab Amelia.
Hana mengangkat kedua alisnya bertanya maksud Amelia.
"Dulu, aku sendiri yang menyaksikan Nyonya Besar mengatakan semua yang dia inginkan pada Bu Ayu. Ancaman, dan lain hal sebagainya yang membuatnya memilih untuk melepas Saga sejak bayi. Tapi Saga hanya mengetahui bahwa ibunya tak mau merawatnya karena lebih memilih karir dibandingkan dirinya. Sekarang, sulit sekali menjelaskan padanya, dia masih terluka dan tak menerima Ayu sebagai ibunya. Aku tidak mau Dama seperti itu" jelas Amelia.
Hana mengusap punggung Amelia. Hani hanya bisa menatap wajah Amelia sambil menggendong Dama. Kemudian tatapannya beralih pada Dama.
"Dama itu..."
Amelia mengangguk, kemudian tersenyum.
"Aku tahu namanya, tapi aku tidak tahu dia siapa. Aku pernah bilang, dia meminta ku untuk melanjutkan hubungan kami. Tapi karena aku terlalu takut, aku menolaknya. Aku tidak tahu kalau setelah itu aku hamil" jelas Amelia.
"Nama yang bagus, ayah suka. Apalagi nama belakangnya adalah Wardhana" ucap Ghani.
"Mungkin mereka akan mengubahnya" ucap Amelia.
Ghani terdiam, dia baru sadar siapa yang menjadi ayah dari cucunya. Dia menghela kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Dama.
\=\=\=\=\=>
__ADS_1