CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
21


__ADS_3

Amelia masuk ke sebuah rumah bersama Steve, dia akan tinggal bersamanya di sana sebagai asistennya. Karena pemikirannya yang selalu positif, Amelia menerima pekerjaan itu. Dia berpikir banyak hal yang harus dia siapkan untuk melahirkan anaknya. Dia harus bekerja sebelum sampai pada waktunya.


Dua bulan bekerja, Amelia sangat nyaman. Namun dia masih belum mengatakan bahwa dirinya sedang mengandung. Amelia merasa bersalah pada Steve yang selalu memperlakukannya dengan baik.


Di kantor, sore sebelum pulang kerja, Amelia masuk ke ruangan Steve dan bicara.


"Ada yang ingin saya sampaikan Pak!" ucap Amelia.


"Apa itu?" tanya Steve datar sambil melihat laptopnya.


Amelia diam dan menunggu Steve berhenti bekerja. Steve mengerti, dia menutup laptopnya dan menatapnya.


"Ok, apa itu?" tanya Steve dengan kedua tangan diletakkannya di atas meja.


"Ada hal yang belum saya katakan pada anda" ucap Amelia.


Steve mengangkat kedua alisnya.


"Saya hanya merasa sudah tidak adil pada anda yang selalu baik pada saya dan saya menyembunyikan sesuatu dari anda" lanjut Amelia.


~Apa ini? Apa dia mencuri uangku?~ tanya hati Steve sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursinya.


"Sebenarnya, saya sedang mengandung tanpa suami. Maksud saya mengatakannya adalah mungkin anda akan sangat terkejut jika dua atau tiga bulan ke depan saya libur untuk melahirkan" jelas Amelia.


Steve menatap perut Dila yang tak terlihat sedang mengandung. Amelia memegang perutnya karena ditatap Steve.


Steve menggerakkan tangan membentuk tubuh Amelia. Dia hendak bicara namun sulit mengatakannya.


"Tubuhmu....."


"Iya, beberapa kehamilan pertama memang ada yang tak begitu terlihat Pak, saya juga mengalami penambahan berat badan di beberapa bagian tubuh yang membuat perut saya semakin terlihat seperti gemuk biasa" jelas Amelia lagi.


Steve mengangkat kedua alisnya lagi, kali ini sambil mengangguk.


"Ouh, jadi begitu!" ucap Steve.


"Maaf Pak, saya tidak bermaksud...."


"Tidak apa-apa, kau tidak pernah mengambil cuti, jadi bisa diambil saat kau melahirkan nanti" ucap Steve menyela.


"Terimakasih Pak, saya sangat beruntung punya Bos seperti anda" ucap Amelia lega.


Steve tersenyum, Amelia berdiri dan pamit kembali ke mejanya.

__ADS_1


"Kau boleh pulang lebih dulu, malam ini aku ada acara. Istirahatlah!" ucap Steve.


"Ouh baik Pak, sekali lagi saya ucapkan terimakasih" ucap Amelia.


Dia keluar dari ruangan bosnya dan merapikan meja kemudian pulang terlebih dahulu.


Sesampainya di rumah, Amelia yang disediakan sebuah kamar khusus, masuk ke kamarnya dan membersihkan diri. Dia keramas karena sudah dua hari tak melakukannya. Dia membiarkan rambutnya terurai dan kering tanpa hair dryer.


Amelia menatap ponselnya, dia melihat foto keluarga yang dia miliki setelah mengaktifkan lagi emailnya. Ghani, Hani, Hana dan dirinya berdiri saling memegang tangan membuat sebuah lingkaran. Foto yang diambil di pantai saat dia masih sekolah.


Amelia menahan sesak di dadanya kemudian mengendalikan diri. Dia mengatur nafas agar tak menangis. Dia sadar akan kesalahannya yang membuat kepercayaan, kehormatan dan harga diri ayah dan ibunya hancur berkeping-keping.


"Aku harus bahagia ayah, seperti ibu yang mengandung aku dalam keadaan bahagia. Anakku juga harus bahagia seperti aku. Aku akan berusaha ayah. Aku akan terus berusaha" ucap Amelia sambil mengusap wajah kedua orang tuanya.


Amelia menaruh ponselnya dan berbaring kemudian mengusap perutnya perlahan sambil menggumamkan lagu yang selalu ibunya nyanyikan untuknya. Amelia tersenyum, dia berusaha membayangkan hal manis dan kenangan yang manis adalah saat-saat bersama orang tuanya.


Namun beberapa saat mengenang manisnya masa kecil, bayangan wajah Davin kembali hadir, terutama saat dia tersenyum dan melepas hasratnya waktu bersenggama bersamanya.


Amelia membuka matanya lebar-lebar dan bangun dengan perlahan. Dia mengalihkan pandangannya ke langit-langit rumah dan arah lainnya untuk menghilangkan gambaran wajah Davin.


"Mama pasti sedang kepalaran, jadi mama berhalusinasi dan membayangkan wajah papa mu. Huuuffffhhhh!"


Amelia mulai selalu bicara dengan janinnya semenjak datang ke Paris. Dia mulai bisa menerima kenyataan bahwa kehadiran janinnya punya alasan dari Sang Pencipta.


Steve bertingkah aneh, dia mengendus wangi Amelia dan tersenyum dengan genit. Dia berjalan sempoyongan sambil menutup mata mengikuti arah wangi Amelia.


Sampai di dapur, dia memegang gagang pintu lemari es dan mengendusnya lagi. Dia tersenyum lagi.


"Bahkan bekas genggaman tangannya sangat wangi" gumamnya.


Amelia sudah kembali ke kamarnya dan duduk mengunyah cemilan yang dia ambil sambil menonton drama.


Steve kembali berjalan dengan beberapa kali menabrak benda di sekitarnya karena tak seimbang berdiri. Dia mendekati pintu kamar Amelia. Steve mengetuk dengan perlahan.


Amelia berhenti makan dan menatap pintu. Dia berpikir dan mengira itu adalah tukang masak Bosnya yang tadi pamit pulang dan kembali untuk mengambil barang yang tak sengaja dia tinggalkan. Amelia membuka pintu perlahan.


"Anda?" tanya Amelia heran.


Steve berdiri tegak dan memasang wajah serius.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Amelia.


"Aku hanya ingin melihat apakah kamu sudah istirahat" ucap Steve.

__ADS_1


Dia masuk tanpa dipersilahkan Amelia.


"Saya baru mengambil cemilan Pak!" jawab Amelia yang sedikit keberatan bosnya masuk begitu saja ke kamarnya.


Amelia tetap berdiri dan memegang pintu agar tetap terbuka. Steve berbalik kemudian menatapnya.


"Kenapa berdiri di situ? Tutup pintunya dan kemarilah" ucap Steve sambil duduk di ranjangnya.


Amelia menganga melihat sikap bosnya yang kurang ajar.


"Maksud anda?" Amelia menekan intonasi suaranya.


"Ya, kemarilah. Layani aku, seperti kau melayani ayah dari janin mu" ucap Steve dengan senyum genitnya.


Wajah Amelia merah padam, dia sangat kesal melihat tingkah bosnya.


"Jika anda menganggap ini lelucon, ini sangat tidak lucu Pak. Sebaiknya anda kembali ke kamar anda, saya akan anggap semua ini tidak terjadi" ucap Amelia sambil menunjukkan jalan keluar pada Steve.


"Maafkan aku!"


Steve terlihat terkejut, dia bangun dan berjalan seperti hendak keluar. Tapi yang terjadi, dia menutup pintu kamar Amelia dengan paksa dan memeluk Amelia.


Amelia berusaha melepaskan pelukannya dengan sekuat tenaga.


"Aku mohon Pak, aku mohon jangan lakukan ini" ucap Amelia menangis.


Dia bukan orang yang ekspresif dan sulit berteriak saat menghadapi kesulitan. Amelia berusaha tetap tenang dan mencari cara agar Steve mau melepasnya.


"Ayolah, kau mau melayani orang tak dikenal dan mengandung bayinya. Bukankah aku sudah memperlakukan mu dengan baik, layani aku dengan lebih baik" ucap Steve.


Dia berusaha meraih wajah Amelia dengan bibirnya. Amelia masih bisa menahannya dengan kedua tangannya.


Amelia mulai tak bisa menahannya karena lelah, dia lemas melawan ganasnya tenaga Steve. Amelia berteriak kemudian mengigit telinga Steve yang sedang mencium lehernya.


Steve kesakitan, dia melepas Amelia untuk menyelamatkan telinganya yang berdarah. Amelia mengambil kesempatan untuk lari, dia membuka pintu dan mencoba keluar.


Saat sampai di dekat pintu keluar, Steve berhasil menarik lengannya. Amelia memberontak dan menendang paha Steve. Dia kembali lari meninggalkan Steve yang mengerang kesakitan.


Amelia berlari keluar dari rumah Steve sambil memegangi perutnya. Dia khawatir terjadi sesuatu karena merasakan sakit di perutnya. Dia berhasil keluar dari pagar dan berada di tengah jalanan.


Amelia terdiam menatap Steve yang masih di dalam pagar namun sedang melambaikan tangannya. Amelia mengalihkan pandangannya dan menatap cahaya yang menyorot pada dirinya.


Dia merasa pusing dan terjatuh. Suara decitan ban mobil yang direm mendadak terdengar dalam hening malam itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=>


__ADS_2