CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
52


__ADS_3

Davin tidak bisa tidur, dia masih berdiri menatap jendela di ruang kantor. Hela nafas sesekali terdengar keras keluar dari mulutnya. Bayangan masa kecil sama sekali tak muncul di benaknya. Ucapan Oma Mira membuatnya terus berpikir keras.


"Permainan pernikahan, apa yang terjadi saat dulu? Kenapa Oma mengatakan bahwa permainan itu bukan tanda dari takdir kami?"


Davin terus bergumam.


"Saga, kak Saga sudah bersamanya. Amelia juga begitu dekat dan terlihat sangat percaya padanya. Aku hampir melepaskannya untuk kak Saga. Dia mungkin akan tinggal di sini untuk Dama. Tapi dia juga tidak akan mau bersama ku karena aku sudah menikah dengan Bella. Astaga, pikiran apa ini? Kenapa sebentar aku melepasnya, sedetik kemudian aku merasa tak rela melepasnya. Huhhhfff!"


Tak lama kemudian, suara ketukan pintu membangunkannya dari dilema di hatinya.


"Bos, kau sudah bangun?" tanya Alex dengan suara keras di luar pintu.


Davin yang hendak menghampirinya, jadi terhenti saat dia mendengar Alex bertanya apa dia sudah bangun atau belum. Dia menoleh melihat jendela yang sedari tadi dia tatap. Warna langit sudah mulai terang, dari hitam menjadi abu-abu. Davin menghela, dia baru sadar tak tidur semalaman.


Alex masuk karena tak mendapat jawaban. Matanya membulat saat dia melihat Davin masih rapi dengan pakaian yang sama.


"Kau tidak tidur semalaman?" tanya Alex.


Davin menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.


"Hari ini ada meeting penting dengan klien dari Korea. Penjualan ponsel mengalami penurunan, mereka memutuskan untuk mengurangi produksi di dalam negeri" jelas Alex.


Tapi Davin masih diam menutup matanya.


"Kau tidur?" tanya Alex merasa diabaikan.


"Tidak, aku hanya sedang berpikir" jawab Davin tanpa bergerak.


"Memikirkan langkah untuk menaikkan penjualan?" tanya Alex menduga.


"Berpikir apakah Amelia akan datang siang ini atau tidak?" jawab Davin.


"Amelia? Kapan kau bertemu dengannya?" tanya Alex.


"Tadi malam" jawab Davin singkat.


Dia bangun dan berjalan keluar, Alex mengikutinya.


"Tadi malam? Dimana?" tanya Alex menyusul.


"Rumah bu Ayu" lagi-lagi dia hanya menjawab seperlunya.


"Apa? Kenapa kau tidak membangunkan ku? Kenapa aku tidak diajak ke sana?" Alex merasa dihiraukan.


"Kau terdengar seperti pacar yang tak diajak berlibur" ucap Davin.


Alex menghela, langkahnya terhenti saat Davin masuk ke kamarnya. Davin menatapnya.


"Kenapa berhenti mengkutiku?" tanya Davin.

__ADS_1


"Kau masuk ke area dimana aku tak boleh masuk" ucap Alex.


Kedua tangannya diangkat seperti penjahat yang menyerah.


"Dia tidak ada di kamar. Dia sedang menyiapkan sarapan bersama ibu ku di dapur" ucap Davin.


"Tetap saja, aku tidak suka melihat kau berganti pakaian" jawab Alex pergi meninggalkannya.


Davin menyeringai kemudian menutup pintu kamarnya.


"Rasa penasarannya kalah karena adab. Aku suka karakternya yang satu itu" gumam Davin.


###


Alex berjalan menuju dapur, dia melihat Bella menyiapkan sarapan untuk semua orang. Alex menatap wajahnya yang cantik meski belum di sapu riasan.


Maria menepuk bahunya.


"Apa? Makanan belum siap" ucap Maria.


"Tapi aku sudah lapar Bu!" jawab Alex sambil memegang perutnya.


"Mana Davin? Panggil dulu dia, kalian sarapan bersama sebelum pergi ke kantor" pinta Maria.


"Dia sedang berganti pakaian" jawab Alex dengan mata menatap wajah Bella menunggu reaksinya.


Bella yang biasanya senang mendengar Davin sedang di kamar, kali ini tak bereaksi dan seolah dingin menyiapkan piring.


"Baik Bu" Alex menurut.


Maria pergi meninggalkan dapur menuju ruang keluarga. Alex memperhatikan Bella sambil mencicipi makanan.


~Cantik dan terlihat lugu, tapi sayang, dia terlibat perselingkuhan dengan Zidan. Ck, ck, padahal mungkin saja Davin akan luluh hatinya jika kau bersabar dan tetap setia~


Hati Alex tak bisa tahan dan membicarakan kelakuan Bella dengan dirinya sendiri.


"Ibu bilang sebentar lagi, apa kau selapar itu sampai tak bisa menunggu?" Bella geram dengan tangan Alex yang menyambar pada makanan.


"Ya, kesabaran memang sulit dipertahankan saat kita benar-benar lapar akan sesuatu" jawab Alex dengan menatap mata Bella.


Dahi Bella mengerut merasa aneh dengan ucapan Alex.


"Huhhfff, ya sudahlah terserah padamu" ucap Bella.


Dia meninggalkan Alex di dapur dan berpapasan dengan Minah yang berjalan sedikit membungkuk di hadapannya.


"Hei! Belum waktunya!" seru Minah.


Alex menaruh kembali makanannya.

__ADS_1


"Aihh, sudah kau pegang, sudah tanggung kotor, makan saja yang tadi kau pegang" Minah kesal.


Alex menjadi bingung dan kembali mengambil makanannya.


"Makan di sana saja, nanti aku bilang pada Oma kau makan dengan supir" ucap Minah.


"Tidak, aku mau duduk bersama mereka" jawab Alex.


"Jangan macam-macam, ingat kau hanya anak asuh di rumah ini" ucap Minah.


Alex tersenyum dan memeluk Minah dari belakang.


"Idih, apa-apaan sih Lex!" ucap Minah.


"Kangen banget sama Mba ku yang cantik ini. Dari semenjak pulang susah banget meluk Mba Yu, banyak banget masalah di rumah ini" ucap Alex.


Minah tersenyum melepas tangan Alex yang melingkar di perutnya.


"Iya, mba juga kangen. Tapi karena Oma yang minta kamu ke Tangerang, jadi aku nggak bisa protes" Minah mengusap wajah adiknya.


"Oh ya Mba, apa Mba Yu tahu tentang Bella dan Zidan?" tanya Alex.


Mata Minah membulat saat adiknya bertanya tentang hal itu.


"Secara, Mba Yu yang selalu keliling rumah mengatur segalanya...."


Alex belum selesai bicara, tapi Minah menutup mulut Alex dengan kue kukus yang ada di meja.


"Diam, apapun yang terjadi di rumah ini, diamlah. Bantu Nyonya besar mempertahankan keutuhan rumah ini, jangan banyak bertanya atau protes. Jika ada yang tak sesuai dengan jalur, bantu kembalikan ke jalurnya" ucap Minah.


Alex diam tak berkutik mendengar ucapan kakaknya.


"Kita ini sudah dibantu, diasuh dan diberi tempat yang jauh lebih baik dari kata layak. Kau harus ingat, Tuan Narendra senang dengan kedamaian. Dia sangat ingin keluarga ini utuh, meski mereka sendiri yang menyulut api dalam sekam sendiri. Kita yang harus beri tahu pada mereka yang mau mendengar dan sejalan dengan tujuan Tuan Narendra. Yang lainnya, biarkan saja" jelas Minah.


Alex mengangguk dengan mulut yang masih mengunyah. Minah mengambilkan air minum untuk adiknya.


"Jangan lupa, kau juga harus punya masa depan. Jangan lupa untuk mencari pasangan hidup juga. Jangan lupa membahagiakan diri sendiri" ucap Minah.


Alex terlihat kesulitan menelan air minum sekaligus kue kukus di tenggorokannya setelah mendengar ucapan Minah.


Minah membantunya dengan menepuk punggungnya. Bella datang dan melihat mereka.


"Aku sudah bilang padanya untuk tak makan dulu, dia dapat akibatnya" ucap Bella kesal.


Minah dan Alex menatapnya.


"Cepat siapkan, semua orang sedang turun. Kalau Oma, biar aku yang antar makanannya ke kamarnya" pinta Bella dengan nada suara yang angkuh.


Alex dan Minah saling melempar tatapan. Mereka berdua pergi ke arah berbeda.

__ADS_1


\=\=\=\=\=>


__ADS_2