CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
114


__ADS_3

Dua hari sebelum pernikahan.


Amelia hendak pergi ke butik untuk fitting baju akan dia pakai nanti. Dia terus membujuk Saga yang tak bisa mengantarnya.


"Ayolah, aku butuh pendapat mu" ucap Amelia.


"Video call saja, nanti aku bantu pilihkan ya! " ucap Saga.


Amelia menghela, Saga tersenyum kemudian membelai rambutnya.


"Maafkan aku, jika bukan untuk memajukan perusahaan, aku tidak akan pergi ke Tangerang untuk rapat, sayang! " ucapnya.


"Baiklah, aku pergi sendiri" ucap Amelia menyerah.


"Tidak, arah menuju butik sama dengan kantor, ikutlah dengan Davin, nanti pulangnya biar dia pesankan taksi. Kau bawa Dama bersama mu kan! " ucap Saga.


Amelia terdiam sejenak.


"Tidak, aku pergi sendiri. Dama, Oma minta dia yang mengasuhnya bersama Bella dan Ibu Maria. Aku akan pergi sendiri" ucap Amelia.


Saga menatap Amelia yang hendak keluar dari kamarnya.


"Maaf! " ucapnya lagi.


"Tidak apa-apa, aku mengerti" jawab Amelia seraya melambaikan tangannya.


Tapi Amelia merasa sedih, dia ingin sekali pergi bersama Saga. Dia sudah merencanakan sebelumnya, saat Oma bersedia mengasuh Dama.


Amelia hanya bisa menghela, dia pun bersiap-siap untuk pergi.


Sementara itu, Saga meminta Davin untuk menjemput Amelia setelah makan siang.


"Apa? " Davin cukup terkejut mendengar permintaan kakaknya.


"Kenapa? Kau tidak bisa? Yang benar saja, meeting hanya sampai jam 11, kau bisa menjemputnya setelah makan siang, atau sekalian ajak dia makan siang, dia pasti butuh waktu yang lama untuk menentukan pilihannya" jelas Saga.


"Ohhh, huuh" Davin menurut saja.


Saga turun dan melihat Amelia sudah pergi, sementara dia menghubungi Zidan untuk memintanya cepat.


Sementara itu, Amelia naik taksi sendiri dan sampai di butik yang Saga tunjuk. Tapi saat dia turun, Ayuningtyas melambaikan tangannya dari kejauhan.


Amelia tersenyum dan membalas lambaian tangannya.


"Ibu datang? " Amelia senang.


"Tentu saja, Saga bilang kamu fitting baju sendirian, jadi ibu langsung kesini" jawab Ayu.


Amelia tersenyum.


"Tapi tunggu, ibu belum sarapan. Selesai syuting tadi, ibu langsung ke sini" keluh Ayu.


"Ibu syuting lagi? " tanya Amelia bersemangat mendengar kabar itu.


"Ya, ibu memutuskan untuk tak menerima bantuan Harris lagi" jawab Ayu.

__ADS_1


"Pak Harris tidak mengatakan apapun" Amelia berpikir.


"Tidak, aku minta padanya untuk fokus pada Maria. Terlalu lama dia membuatnya salah faham, kasihan" jelas Ayu.


Mereka berjalan menuju restoran di dekat butik.


Pembicaraan antara calon ibu mertua dan calon menantu itu tak habis-habis. Ayu senang bicara dengan Amelia. Dia selalu memberikan reaksi sesuai dengan yang dia inginkan.


Tapi suasana nyaman itu menjadi mengesalkan saat beberapa wanita sosialita yang duduk di belakang mereka membicarakan sesuatu yang membuat mata Amelia membelalak.


"Ya, mau gimana lagi, Maria membiarkan anak kacung menjadi calon istri anak tirinya itu, jelas dia hanya menganggap putra yang tak diinginkan itu sebagai bukan apa-apa" ucap salah satu wanita.


"Ohhh, jadi benar wanita itu putra pelayannya! " jawab wanita yang lain.


"Aku merasa ada yang Maria sembunyikan"


"Waahh, kalau kau curiga, biasanya itu benar"


"Maria selalu menghentikan obrolan jika aku menanyakan perihal anak kecil yang selalu Davin ajak main, kalian tahu kan kalau Bella belum mengandung anak Davin"


"Ya...., aku juga curiga, anak kecil itu dekat hanya dengan Davin dan calon istri Saga"


Ayu menatap Amelia yang memang tak senang mendengar mereka menggunjingkan dirinya.


"Kita pergi saja! " ucap Ayu.


"Apa ibu berpikir hal yang sama dengan mereka? " tanya Amelia tanpa menatapnya.


Ayu kembali duduk.


"Apa jika kita bertemu teman-teman ibu, kau..... "


Ayu berdiri kemudian menghampiri kelompok wanita sosialita itu. Amelia terkejut dan mengikutinya.


Semua orang menatapnya, mereka terkejut karena mereka mengenalnya, terlebih saat melihat Amelia yang ada di belakangnya.


"Permisi! "


Beberapa dari mereka berdiri.


"Maaf mengganggu momen yang sangat menyenangkan kalian, tapi hanya untuk menyarankan. Apapun yang kalian pikirkan tentang siapapun atau keluarga manapun, sebaiknya simpan saja dalam pikiran kalian, membicarakannya di tempat seperti ini atau bahkan ditempat seterpencil apapun, pasti akan ada yang dengar"


Ayu menatap mereka satu persatu. Amelia memegangi lengan bajunya.


"Diam! Biarkan aku melakukan ini, mereka harus tahu menggunjingkan orang itu tidak baik sama sekali meskipun mereka orang kaya sekalipun! " ucap Ayu.


"Tidak Ayu, maaf, kami salah. Kami tidak bermaksud menggunjingkan, mulut kami yang salah" ucap salah satu dari mereka dengan tangan meraih tangan Ayu.


Ayu menatap dia yang ternyata adalah istri dari managernya.


"Ahhh, ya, benarkah? haruskah aku melupakan kejadian hari ini? " jawab Ayu dengan mata menatap sinis padanya.


"Ohh, tentu saja, lupakan ya mba ku sayang! " jawabnya.


Ayu menarik tangan Amelia dan mereka pun pergi dari restoran itu. Tapi langkahnnya terhenti saat dia sampai di depan restoran.

__ADS_1


"Kenapa Bu? Ada yang tertinggal? " tanya Amelia.


"Kenapa kita yang pergi dari restoran? Seharusnya aku mengusir mereka! " ucap Ayu.


"Tidak Bu, kita harus ke butik bukan? " ucap Amelia menahan tangannya yang hendak kembali ke restoran.


"Aaah, iya. Aku lupa, karena mereka" ucap Ayu.


Ayu membelai rambut Amelia.


"Kau tidak harus mendengarkan orang lain, fokus pada anakmu dan Saga, ok! " ucap Ayu.


Amelia tersenyum dan mengangguk.


"Ayo kita ke butik, pilih baju yang sangat bagus, dan buat mereka tercengang di hari pernikahan mu" Ayu mengajaknya.


Mereka berjalan menuju butik.


"Ibu! " Amelia menatapnya.


"Hmmm?" jawab Ayu tanpa menoleh.


"Terimakasih"


Ayu baru menoleh.


"Untuk apaa? "


"Karena membela ku"


Ayu tersenyum.


"Aku mengenal mereka, makanya aku berani mendekati dan memperingatkan mereka. Kalau aku tidak kenal mana berani! " Ayu mengucapkannya dengan candaan.


Amelia tersenyum, mereka tertawa bersama sepanjang perjalanan.


Sampai di butik, Amelia diminta untuk mencoba beberapa pakaian yang tak disangkanya lebih dari yang dia bayangkan.


"Bu, kenapa harus sebanyak ini? " tanya Amelia.


"Acaranya seharian, sampai malam. Kau butuh banyak gaun untuk setiap sesi fotonya sayang!" jelas Ayu.


Amelia pun menghela, namun tetap menurut padanya. Dia mencoba satu persatu gaunnya, Ayu mengambil fotonya untuk kenangan.


Sampai di waktu jam makan siang, Davin datang ke butik untuk menjemput Amelia. Langkahnya terhenti saat dia melihat Amelia keluar dengan kebaya putih dengan rambut tergerainya.


Mata Davin langsung membuka penuh, jantungnya berdebar, tangannya mengepal untuk menahan diri.


Ayu melihat kejadian itu, dia tak menyangka Davin akan langsung berpaling dan menutup matanya. Ayu jelas melihat Davin mengepal tangannya. Dia langsung berdiri dan mengerti perasaan Davin pada Amelia.


Amelia melihat tatapan Ayu, kemudian melihat ke arah Davin yang bebalik dari arahnya.


Ayu kembali menatap Amelia yang terlihat mengalihkan pandangannya.


'Apa ini? Kenapa Davin menahan diri melihat Amelia? ' tanya hati Ayu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2