
Semua orang kembali, sudah sangat larut malam. Amelia dan Dama sudah tertidur. Minah pun menunggu kedatangan mereka sambil terkantuk di kursi ruang tamu.
Oma, Maria dan Harris membiarkan Minah dan berlalu begitu saja menuju kamar masing-masing. Sementara itu Alex mendekat dan membangunkannya perlahan.
"Mba, pindah. Semua orang udah pulang" bisik Alex.
Minah menggeliat, dia menatap adiknya dan bangun dari sofa.
"Davin? " tanya Minah sambil berjalan.
"Dia tinggal di sana sampai Bella minta kembali sendiri" jawab Alex.
Minah berbalik dan menatap Alex karena terkejut.
"Lalu Dama? " tanya Minah.
Dia menggigit lidahnya sendiri karena merasa suaranya cukup kencang. Sementara Alex menatap ke arah dalam berharap tak ada yang mendengar.
"Mba....! Suara mu! " ucap Alex memperingatkan.
"Maaf! " ucap Minah.
Alex berjalan seraya mengaitkan tangannya ke pundak Minah.
"Nggak tahu, Davin kelihatan kangen banget sama mereka. Tapi dia lebih memilih membantu Bella dulu selama berkabung" bisik Alex.
Amelia yang terbangun mendengar suara mobil mereka dan sudah turun, mendengar ucapan Alex. Dia berdiri di dekat pintu dapur tanpa bersuara.
Dia berjalan menuju kamarnya setelah memastikan semua orang sudah masuk ke kamar mereka.
Menatap Dama dengan penuh iba karena papanya tak bisa pulang dalam waktu dekat, Amelia duduk sambil membelai rambut putranya.
Amelia berhenti dan menatap ke arah lain, memikirkan ucapan Alex.
~Apa maksudnya merindukan kami berdua, seharusnya dia hanya merindukan Dama. Dia tahu itu tapi tetap saja mengatakan hal yang tak boleh dia rasakan~ keluh Amelia dalam hatinya.
***
Davin duduk di sofa memegang ponselnya, foto Amelia dan Dama sedang dia pandangi.
"Aku merindukan kalian, seandainya saja ada keajaiban yang bisa membuatmu menjadi istriku, bukan Bella" gumam Davin.
Kembali teringat kenangan saat pertama kali mereka bertemu. Davin tersenyum, mengingat betapa dia sangat terpesona pada Amelia. Dan perasaan itu selalu ada setiap kali dia menatapnya.
Bella terbangun, dia menatap Davin yang memperhatikan ponselnya. Mood nya menjadi kesal, dia melihat Davin sedang menatap foto Amelia dan Dama.
Bella beranjak dari ranjangnya dan mendekat pada Davin. Dia yang menyadari kedatangan Bella, langsung menyimpan ponselnya dan menatapnya.
"Kau terbangun?" tanya Davin.
__ADS_1
"Hmmm" jawab Bella mengangguk.
Bella duduk di sisinya dan mengaitkan tangannya ke lengan Davin.
"Kau merindukan Dama? " tanya Bella.
Davin cukup terkejut dengan pertanyaan Bella. Dia yang selalu terlihat sangat kesal jika harus membahas Dama atau Amelia, kini bertanya dengan suara lembut tentang rasa rindu dirinya terhadap Dama.
"Maaf Bella, tapi ikatan antara aku dan Dama sangat kuat, aku benar-benar sangat merindukan nya. Maaf jika jawaban ku ini justru membuat mu kesal. Seharusnya mungkin aku tidak usah membahas ini saat kau sangat butuh perhatian ku... "
"Aku mengerti, aku juga sangat rindu ayahku. Baru saja dia pergi, tapi aku sudah sangat merindukannya, apalagi Dama yang kau tinggalkan sudah hampir sebulan lebih" ucap Bella.
Davin menganga menatap Bella, dia tak percaya dengan apa yang sedang dia lihat dan dengar.
"Kenapa melihat ku seperti itu? " tanya Bella dengan senyum di bibirnya.
"Tidak, hanya saja...."
"Karena aku terdengar peduli dengan Dama?" Bella menyela.
"Tidak.. bukan begitu" ucap Davin.
"Tidak apa-apa, aku memang tak pernah suka pada mereka. Kini saat aku kehilangan ayah aku paham. Kehadiran seorang ayah sangat berarti bagi seorang anak" ucap Bella.
Davin terdiam mendengar ucapannya. Semakin dia diam, Bella semakin mengucapkan hal-hal yang membuatnya cukup terkejut.
"Ini masih malam, tidurlah! Aku akan ambilkan air minum untuk mu" ucap Davin seraya berdiri.
"Hmmm? " jawab Davin seraya menoleh.
"Besok kita pulang" ucap Bella.
Davin berhenti bernafas cukup lama. Dia menghela saat dia berbalik setelah mengangguk pada Bella. Sampai di dapur, Davin mengatur nafasnya.
"Astaga, ini lebih horor dari tersesat di hutan" gumam Davin.
Davin menuangkan air ke gelas dan meneguknya.
"Kenapa dia tiba-tiba berubah? " ucap Davin lagi setelah minum.
Davin diam sejenak untuk berpikir apa yang membuatnya berubah. Dia mengingat ucapan Bella yang memahami situasi mereka setelah kepergian ayahnya.
"Apa mungkin dia benar-benar merasa telah menentang pertemuan ku dengan Dama? Sekarang dia mengerti arti hadir ku untuk Dama. Begitukah? " Davin diskusi dengan pemikirannya sendiri.
Davin menatap tangga arah kamar mereka. Merasa tidak yakin dengan apa yang terjadi, tapi merasa mungkin juga itu bisa saja terjadi.
"Bella juga manusia, dia bisa berubah dengan baik. Dia anak dari pria baik, dia akan berubah menjadi lebih baik" ucap Davin yakin.
Dia mengambil air satu teko kaca dengan gelas baru kemudian kembali ke kamar. Dia melihat Bella sudah tidur lagi. Dengan perlahan, dia menaruh gelas dan teko. Kemudian merapikan selimut agar penuh menyelimutinya.
__ADS_1
~Baguslah jika kau berubah menjadi lebih baik pada Dama. Semoga ini bukan angan ku saja~ ucap hati Davin.
Sementara Davin kembali ke sofa dan berbaring untuk tidur, Bella tersenyum dengan mata terbuka. Dia belum tidur, dia sedang menertawakan Davin yang percaya bahwa dirinya mulai menerima Dama.
~Aku akan mencoba untuk melakukan apa yang tidak aku sukai Davin, demi untuk dirimu. Kau juga sudah berusaha untuk tetap menjadikan ku istri meskipun kau tak mau. Aku akan melakukan apapun agar kau tetap di sisi ku, seperti ini~ ucap hati Bella.
***
Keesokan harinya.
Alex bangun pagi dan bersiap, bercermin dan menyisir rambutnya seperti biasanya. Berdendang lagu kesukaannya. Tapi tiba-tiba, suara Dama membungkamnya.
"AAALEEEEEEEX! "
Suara Dama terdengar, begitupun suara Amelia yang mengoreksinya.
"Bukan Alex, tapi paman Alex" ucap Amelia.
Alex tersenyum, buru-buru dia membuka pintu kamarnya dan menyambut Dama yang datang digendong Amelia.
"Apa sayang! " seru Alex melebarkan kedua tangannya hendak memeluk.
Tapi Amelia mengerem langkahnya dan berhenti agak jauh darinya. Alex merasa canggung karena telah melebarkan tangannya. Merasa akan memeluk Amelia juga. Dia menurunkan tangannya dan meraih Dama yang turun dari gendongan Amelia.
"Amaaan, papa ana? " ucap Dama dengan lucunya.
Alex menunjukkan wajah yang sangat kecewa di hadapan Dama.
"Hmmm, tadi kau berteriak memanggil nama paman. Sekarang kau malah bertanya dimana Papa? Hmmm, paman tidak mau jawab sebelum kamu cium pipi paman" Alex membuat Dama tertawa dengan menggelitik lehernya.
Dama tertawa, Amelia jadi ikut tertawa.
"Ayo cium paman! " tunjuk Alex ke pipinya.
Dama menurut dan mencium dengan bibir basahnya.
"Astaga! Bibir mu basah, padahal paman sudah sangat tampan dan sudah siap untuk kerja" keluh Alex.
"Papa" hanya itu yang Dama ucapkan sambil memainkan dasi Alex.
Alex mengalihkan tatapannya pada Amelia.
"Sejak bangun dia menanyakannya, bisa kau telpon dia untuknya?" pinta Amelia.
Alex kembali menatap Dama.
"Baiklah! " jawab Alex dengan menghela.
Mereka berjalan menuju taman, Alex membuka ponsenya dan hendak menelpon Davin, namun sebuah mobil masuk ke pekarangan, membuat mereka memperhatikannya.
__ADS_1
Bella dan Davin keluar dari mobil itu. Amelia tersenyum seraya menatap Alex. Tapi Alex merasa aneh dengan situasi ini.
\=\=\=\=\=>