CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
107


__ADS_3

Gala meminta Saga menemuinya di kantor, Saga menurut dan ikut bersama Zidan. Mereka membuat sebuah kubu yang memenangkan Saga sebagai pewaris tahta kerajaan Narendra nantinya.


Sementara itu, Harris dan Davin mulai dekat dan akrab. Mereka sering bicara dan makan siang bersama di kantin kantor.


Seperti saat ini, Davin menatap rambut ayahnya yang mulai beruban.


"Papa mulai beruban" ucap Davin.


"Ya, aku sudah punya cucu, tentu saja mulai beruban" jawab Harris dengan senyum.


"Apa hubungannya? " ucap Davin.


"Ada, aku jadi mulai memikirkan apa yang harus dia kerjakan nantinya. Apa aku harus memintanya bergabung dengan perusahaan, atau memberikannya keleluasaan untuk memilih apa yang dia senangi! " jelas Harris.


Davin tertegun mendengar ucapan ayahnya. Dia tak pernah memperlakukan dirinya seperti apa yang dia bicarakan tentang Dama.


"Tapi, kurasa, Amelia jauh lebih berhak menentukan kemana Dama harus melangkah" lanjut Harris.


"Kenapa? Aku ini ayahnya, aku juga berhak memberikan pilihan untuknya" ucap Davin posesif.


Harris menyeringai.


"Kau tidak akan bisa melakukannya, terutama pada anak laki-laki, jika ingin menguasai seorang anak, milikilah seorang putri, dia akan jadi milik mu seutuhnya" ucap Harris dengan tertawa.


Davin tersenyum, dia jadi ingat dengan gurauan ayahnya tentang anak perempuan yang selalu dia ucapkan saat bicara dengan Oma.


"Papa selalu mengatakan itu, tapi tidak punya anak perempuan" ucap Davin.


"Ya, aku mengatakan itu karena aku hanya memiliki dua putra. Jadi Amelia dan Bella aku jadikan putri ku saja" jawab Harris.


"Papa lebih dekat dengan Amelia. Bella tidak" ucap Davin.


Harris terdiam, dia mengingat saat melihat Bella turun dari balkon kemudian disusul Zidan. Dan beberapa hari yang lalu, Saga yang berjalan di belakangnya.


"Bella, dia sering diam akhir-akhir ini" ucap Harris.


Davin membulatkan matanya.


"Ya, dia sering mengeluh pusing. Aku sudah mengajaknya ke dokter tapi dia tidak mau, nanti akan ku paksa lagi" jawab Davin santai.


"Nak! "


"Hmm? "


"Apa kau sudah bisa mencintai Bella? " tanya Harris.


Davin terdiam, dia berhenti mengunyah dan menaruh sendoknya.


"Masih berusaha Pah, Papa tahu persis bagaimana sulitnya aku berjuang untuk menghindari Amelia" jawab Davin.


Harris menghela.


"Separah itukah?" Harris khawatir.

__ADS_1


Davin tersenyum, dia merasa malu membicarakannya.


"Ibu mu bisa hamil, itu karena aku mulai mencintai ibumu setelah mengerti betapa dia begitu setia menunggu ku untuk bisa berubah, merubah perasaan ku pada ibunya Saga. Aku tersentuh dengan kesetiaannya merawat kakek dan nenek mu di masa sulit kami" jelas Harris.


Davin mendengarkan, namun hatinya terus mengelak. Tak ada satu hal pun yang bisa dia sukai dari Bella. Semakin dia berusaha untuk mendekati Bella, bayangan Amelia justru membungkus wajahnya. Davin semakin takut untuk menyentuhnya.


"Yakinlah semua adalah takdir Nya. Kau akan melangkah ringan untuk membahagiakan Bella nantinya" lanjut Harris.


Davin tersenyum, dia menganggukkan kepala, bukan untuk mengerti dan berusaha menerima semua kenyataan yang terjadi, tapi hanya untuk menghentikan pembicaraan mereka.


***


Amelia sedang asik bermain dengan Dama di ruang depan.


Saga yang baru saja pulang melihatnya dan langsung bergabung.


"Papa pulang sayang! " seru Saga pada Dama.


Amelia tersenyum, tapi hatinya masih gundah. Semenjak malam pertunangan, sikap Saga menjadi lebih dingin. Selain hanya bersikap baik pada Dama saja, dia tak pernah lagi bersikap manis dan romantis seperti saat mereka merencanakan pertunangan.


Saga mengecup kening Dama dan menyapa Amelia dengan sedikit senyuman kemudian pergi ke kamarnya.


Hela nafas Amelia terdengar oleh Davin yang baru saja masuk ke ruang depan. Davin menatap punggung Saga yang hilang di pintu tengah.


"Hai anak Papa yang tampan! " seru Davin pada Dama.


Amelia menoleh padanya dan seperti biasa menundukkan pandangannya.


Amelia mengangguk.


"Dama selalu dijaga Ibu Maria dan Bella, aku sedikit banyak punya waktu untuk diriku sendiri" jawab Amelia.


"Kau bisa menemui Kak Saga jika mau, aku akan mengajak Dama ke kamar ku" ucap Davin.


Amelia menggigit bibirnya sendiri.


"Tidak apa-apa, pergilah! Aku akan menidurkan Dama di kamar ku, bicaralah dengannya, aku lihat kalian sudah lama tak bicara berdua karena dia sibuk. Seminggu lagi pernikahan kalian bukan? " jelas Davin mencoba membujuknya.


Meskipun dia tetap tidak bisa menerima hubungan ini, tapi dia berusaha untuk merelakan Amelia perlahan.


"Tidak, mungkin lebih baik bagi kami untuk sedikit bicara hingga hari pernikahan, itung-itung pingitan, istilah orang tua" ucap Amelia.


Davin menatapnya, dia tak bisa membujuknya, tapi dia senang karena Amelia menolak.


"Baiklah. Aku akan ke kamar ku" Davin menyerah.


Amelia kembali bermain dengan Dama.


Sementara itu, Saga berpapasan dengan Bella yang keluar dari kamarnya dengan penampilan yang kusut dan lesu.


"Ada apa dengan mu? " tanya Saga.


"Tidak, bukan urusan mu! " jawab Bella seraya menyela langkahnya.

__ADS_1


Saga membiarkannya berjalan terlebih dahulu. Dia berjalan perlahan menuju meja makan dengan mata menatap ke sekitar dan mencari Amelia.


Tapi dia tak mencarinya, hanya ada Bella di sana. Dia meneguk segelas air dengan cepatnya dan bergegas pergi lagi.


"Kau tidak makan malam? " tanya Saga.


Bella tak menjawab, dia berlalu begitu saja.


Saga menjadi merasa bersalah.


"Kau sudah pulang? " sapa Oma.


"Oma, ayo makan! " ajak Saga.


"Kau tidak mengajak Amelia? " tanya Oma yang kemudian duduk.


Saga menundukkan pandangannya, dia masih tak bisa berhadapan dengan Amelia lama-lama. Sekedar memeluk, menyapa dan membelai rambutnya sebentar sudah membuatnya merasa melakukan kewajibannya sebagai calon suami. Tapi jika untuk berbincang atau berhadapan lebih lama dia tak mampu.


"Dia masih menemani Dama main Oma" jawab Saga.


Davin datang dan duduk bersama mereka, menyusul Maria dan Harris.


"Mana Bella sejak pagi dia tak mau makan bersama kita" tanya Harris.


Davin terdiam, dia pun tak mengerti mengapa Bella sekarang tak berusaha mendekati ataupun membuatnya terpesona.


"Entahlah, tadi ku tanya, tapi dia tak menjawabnya" jawab Davin.


"Ada apa dengan mu? Kau ini suaminya, hanya karena dia tak menjawab, bukan berarti kau harus pergi makan sendiri, sana, bawa makanan mu dan Bella ke kamar, bujuk dia untuk makan bersamamu di kamar" ucap Maria kemudian menyiapkan makanan untuk Bella.


"Tapi Bu! " Davin enggan.


"Lakukan! " Maria melotot.


Davin menghela, tapi dia tak bisa menolak perintah ibunya. Dia pergi ke kamarnya kemudian menyusul Minah dengan nampan berisi makanan untuk mereka.


Amelia menatapnya, Dama yang digendongnya menunjuk ke arah Davin yang tak melihat mereka datang.


Awalnya Amelia akan ke meja makan, namun dia merasa enggan dan segan. Mengingat sikap Saga yang seolah menjaga jarak dengannya, dia pun berjalan menuju kamarnya.


Zidan yang baru pulang, melihatnya.


"Kau tidak makan malam? " seru Zidan.


Amelia berbalik terkejut dengan seruan Zidan.


"Tidak, aku sudah makan tadi dengan Dama, sebelum semuanya pulang" jawab Amelia.


"Apa yang terjadi dengan kalian? " tanya Zidan.


"Hmmm? " Amelia tahu maksudnya, tapi berpura-pura tak mengerti dengan pertanyaan Zidan.


\=\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2