
Bella masih belum bangun, Davin membaca koran di dekat jendela menunggunya. Dia fokus pada pemberitaan tentang mall yang mulai sepi pengunjung.
"Kau tak pergi kerja? " tanya Bella yang bangun dan duduk di ranjang.
Kemudian dia terdiam menatap pakaiannya yang masih sama dengan yang dia pakai semalam. Dia juga merasakan kepalanya yang pusing dan mata yang berat untuk terbuka lebar.
"Kau sudah bangun? Kepala mu baik-baik saja? " tanya Davin.
"Hmm? " Bella berusaha membulatkan matanya.
"Untung saja Amelia terbangun dan mengantar mu ke kamar, kalau tidak, kau pasti sudah tertidur di ruang depan dan Oma.... "
"Apa? Amelia? " Bella menyela ucapannya.
'Bukannya aku bersama Zidan? Apa Zidan membawa ku pulang dan Amelia melihat kami?' Bella gusar.
"Ya, semalam dia bangun dan membantu mu ke kamar" jawab Davin yang kemudian mendekat.
Bella menelan salivanya merasa canggung karena bau tubuhnya.
"Kau pasti merasa sangat kecewa padaku" ucap Davin seraya membelai rambutnya.
'Apa? Ada apa dengannya? ' tanya hati Bella terkejut.
"Kau sudah tahu sejak awal kalau pernikahan kita hanya untuk memenuhi permintaan Oma"
Bella masih diam menunggu kelanjutan ucapan Davin.
"Kau juga tahu aku tidak bisa melakukan itu padamu" hela nafas Davin terdengar keras.
"Davin ada apa? Apa aku mengatakan sesuatu semalam? Apa aku menghina mu?" Bella bertanya karena takut.
"Tidak, bukan hal yang memalukan berusaha mengatakan bahwa kau sangat mencintai suami mu" jawab Davin.
'Aku? Mengatakan itu? ' tanya hati Bella yang meragukan dirinya sendiri.
"Aku minta maaf karena melibatkan mu dalam masalah ku di rumah ini. Aku akan mencoba untuk bisa menyukai mu sebagai seorang wanita. Maukah kau bersabar? " Davin menyentuh tangannya.
Bella senang, dia langsung memeluk Davin yang masih canggung. Bella melepaskan pelukannya saat sadar tubuhnya bau bir.
"Terimakasih, maksudku maaf. Maksudnya..." Bella terlalu senang.
Davin mengambil nafas dalam. Hanya dalam semalam dia mengambil keputusan yang cukup berat dan paling besar dalam hidupnya.
"Aku akan menunggu sampai kapan pun" ucap Bella riang.
Bella mencium Davin dari jauh, mengecup kedua tangannya. Davin hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Mandilah, kita ke rumah ibu mu" pinta Davin.
"Baiklah, aku mencintaimu Davin! " Bella melompat dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi.
Davin menghela cukup keras. Dia merapikan korannya dan bersiap-siap.
***
Matahari terik menyinari danau tempat perkemahan, tapi udara di sana masih terasa sejuk. Saga menatap keindahan danau yang membuatnya terdiam. Dama mendekat dan menarik jari tangannya. Saga menoleh dan ikut kemana Dama mengajaknya.
"Kemarilah, waktunya makan! " ajak Hana.
Amelia tak ada di sana. Saga mencari dengan matanya. Ghani memperhatikannya.
"Ada di tenda" ucap Ghani.
"Ya Pak? " tanya Saga yang terlihat bodoh.
__ADS_1
"Kau mencari Amelia, dia di tenda" jelas Ghani.
Saga tersenyum malu, dia menggaruk kepalanya meskipun tak gatal. Hani yang tak suka pada Saga, mendelik melihatnya.
Amelia keluar dari tenda dan menatapnya.
"Kau mencari ku? " tanya Amelia.
Saga mendekat dan berbisik.
"Kadonya" ucap Saga.
"Ada di mobil kan! " ucap Amelia.
"Ya, kita harus membawanya sekarang" ajak Saga.
"Ada apa? " tanya Hani.
"Tidak ibu, hanya sedang berdiskusi" jawab Amelia.
Saga yang terkejut, hanya bisa tersenyum.
"Diskusi untuk apa? Ayo makan! " ajak Hani.
"Sebentar! " ucap Amelia.
Mereka pun pergi, Hani dan Ghani dan juga Hana hanya bertukar tatap, tak mengerti dengan mereka.
Sampai di mobil, Saga teringat dengan ucapan Ghani tentang Oma, dia hendak menanyakannya.
"Kenapa kau tak mengatakan soal Oma yang masuk rumah sakit? " tanya Saga.
Amelia berhenti bergerak saat di hendak mengambil kado mereka untuk Mikayla.
"Kau tahu? " tanya Amelia.
Amelia menatap ke arah tenda.
"Sayang, aku nggak marah, cuma tanya"
Saga meraih tangan Amelia.
"Kau tidak kesulitan di rumah kan? Oma tidak menekan mu secara emosional kan? Aku lihat sikap ibu, dia terlihat tidak menyukai ku, apa karena Oma?"
Saga meluapkan kekhawatirannya.
"Tidak, Oma tidak melakukan itu. Dia hanya tidak ingin kalian khawatir saja. Soal ibu.... "
Amelia memeluk Saga dengan tiba-tiba.
"Maafkan ibu, tidak mudah menerima seorang calon menantu pilihan putrinya" bisik Amelia di pelukannya.
Saga tersenyum.
"Benarkah? "
"Benar, maka dari itu kau harus bisa mengambil hati ibu. Cari caranya, tanya pada ayah bagaimana melakukannya"
Amelia memberikan ide.
"Baiklah, soal Oma, aku akan lebih memperhatikannya. Beritahu aku jika terjadi sesuatu ok! " ucap Saga.
"Ok, ayo kita bawa hadiah untuk Mikayla" ajak Amelia.
Saga mengangguk, mereka pun kembali dan memberikan kejutan untuk Mikayla.
__ADS_1
***
Alex kembali dari Tangerang, tak ada siapapun di rumah. Harris dan Maria juga mengajak Oma pergi berjalan-jalan ke mall milik mereka.
Alex mencari Minah dengan wajah lesunya.
"Kaaaak! " seru Alex.
"Hmmm! " jawab Minah di dapur.
"Lapar! " ucap Alex merengek.
"Kau tidak makan di jalan? " tanya Minah.
Alex menggelengkan kepalanya seraya duduk di meja kecil.
"Jangan duduk di meja, duduk yang benar, aku akan buatkan makanan" Minah mengingatkan.
"Tak ada siapapun di rumah" ucap Alex.
"Ada, tuan muda Zidan masih tidur di kamarnya" jawab Minah.
"Kemana semua orang, ini kan hari sabtu? " tanya Alex.
"Nyonya besar pergi bersama tuan Harris dan nyonya Maria. Davin pergi bersama Bella ke rumah orang tuanya, sedangkan Amelia pergi bersama Saga, berkemah untuk merayakan ulang tahun keponakannya" jelas Minah dengan tangan masih cekatan membuat nasi goreng untuk adiknya.
"Apa? Ulang tahun Mikayla? " Alex terkejut.
Minah menoleh dan menatap padanya dengan heran atas reaksinya.
"Kenapa begitu terkejut? " tanya Minah.
Alex menggaruk kepalanya.
"Hehe, tidak" jawab Alex.
Ucapan dengan isi hatinya jauh berbeda, dia merasa malu pada Hana karena lupa dengan acara malam kemarin. Dia lupa untuk mengabari Hana karena tak bisa datang ke taman bermain.
Alex langsung membuka ponselnya dan mengirimkan pesan.
"Masih sibuk? Apa tuan Gala memberikan apa yang diminta Davin? " tanya Minah saat melihat adiknya sibuk kembali dengan ponselnya.
"Pak Gala tidak memberikan respon aneh, dia langsung meminta sekertarisnya untuk memberikan laporannya. Terbilang mudah, tapi aku tak bisa percaya semudah itu" jawab Alex seraya menarik piring dan melahap makanannya.
"Huufft, beberapa hari yang lalu Davin terlihat sangat terganggu dengan kedatangan kakaknya. Kemarin malah dia terluka karena gelas yang pecah di tangannya" keluh Minah.
"Kak, tumben kau mengomentari mereka! " ucap Alex.
"Entahlah, aku mulai kasihan pada Davin" ucap Minah.
"Waah, kakak mulai memberikan perasaan di rumah ini" ejek Alex.
"Kau bisa membayangkan betapa dia menderita melihat wanita yang dicintainya bersanding dan terlihat bahagia bersama kakaknya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rusaknya hatinya" Minah semakin dalam mengomentari.
"Kak! " Alex menatapnya.
"Hmmm? " Minah membalas tatapannya.
"Ini namanya takdir. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi beberapa detik ke depan. Jadi.... "
"Jadi? "
"Diamlah, takut ada yang mendengar" lanjut Alex seraya tersenyum.
Minah kesal karena Alex hanya meniru ucapannya sebelumnya.
__ADS_1
Alex tertawa bahagia melihat ekspresi Minah.
\=\=\=\=\=\=>