CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
85


__ADS_3

Saga pulang, dengan senyum merekah di bibirnya. Dama yang digendong Amelia menyambutnya dengan tangan meminta pelukan.


"Saga! Papa pulang" seru Dama.


Amelia tersenyum mendengarnya. Suasana itu terasa seperti mereka sedang berada di Montreuil. Suasana yang sangat dia sukai. Tapi saat dia melihat Alex dan Zidan menyusul masuk, Amelia membenam senyumnya.


"Hai Vin. Aku nyari kamu tadi di kantor. Ada hal harus kita bicarakan" seru Alex.


Amelia jadi tahu kalau di belakangnya ada Davin yang melihat sapaan Saga pada Dama dan dirinya.


Davin terlihat kesal melihat pemandangan itu, terutama mendengar Dama ikut menyebutnya papa.


"Aku mau jemput Bella dulu" ucap Davin.


Davin berlalu meninggalkan semua orang. Amelia menundukkan pandangannya. Saga memperhatikan sikap Amelia. Dia langsung menanyakannya.


"Kenapa? Kau tidak nyaman saat melihat dia, apa yang dia lakukan padamu? " tanya Saga.


Amelia teringat semua ucapan Davin tadi siang.


"Hah, itu yang mau aku tanyakan. Ikut aku! " Amelia menarik tangan Saga.


Amelia membawanya ke kamar dan menaruh Dama di ranjang.


"Ada apa? Kau sangat merindukan ku dan ingin hanya berdua saja? " Saga menggodanya.


"Bukaaan! " Amelia menepis tangan Saga yang hendak menyentuh dagunya.


Saga terdiam dan menunggunya.


"Tadi siang Davin datang dan marah-marah padaku. Di depan Dama, aku sampai menutup telinganya agar dia tak menirunya. Apa yang terjadi? " Amelia memasang wajah yang menunggu jawabannya.


Saga menelan salivanya, kemudian dia mulai bicara.


"Pagi itu aku membuat klien yang menolak tawarannya kembali dan setuju dengan tawaran ku. Kemudian beberapa pemegang saham datang dan memutuskan untuk memihak padaku tanpa aku minta. Setelah itu Davin keluar dari ruang meeting dan aku melanjutkan meetingnya" jawab Saga dengan wajah polosnya.


Amelia mencerna semua cerita yang Saga ceritakan.


"Mungkin dia tidak bisa menerima beberapa pemegang saham memihak ku" Saga mengambil kesimpulan.


Amelia masih diam.


"Apa saja yang dia katakan? Apa dia menghina mu? " tanya Saga.


"Tidak" Amelia berjalan mendekat ke jendela.


Saga mengikutinya dan berdiri didekatnya.


"Apa yang kau lihat? " tanya Saga sambil melihat ke arah luar.


"Saga! " Amelia mengeluh tentang sikap Saga.


"Ameliaaaa! " Saga memeluknya.


Amelia terdiam.

__ADS_1


"Jangan pedulikan siapapun selain aku dan Dama. Biarkan saja mereka marah ataupun sedih asal jangan kita. Ok? " ucap Saga.


"Tapi Saga! " Amelia.


"Sstthhh, sudah. Aku tidak suka kau terlalu memikirkan Davin, ok. Aku mulai cemburu" ucap Saga.


"Apa aku membuat mu sangat cemburu? " tanya Amelia.


"Ya, sangat" jawab Saga.


"Hanya saja, dia tidak biasanya begitu, apalagi di depan Dama. Dia selalu menjaga bahasanya karena aku mengatakan bahwa Dama peniru yang baik"


"Kau memulainya lagi" Saga melepaa pelukannya.


Amelia menggigit bibirnya.


"Aku akan ke kamar ku dan mandi, bolehkan aku minta disiapkan makanan? " tanya Saga sambil membuka pintu.


"Ya, aku akan menyiapkannya" jawab Amelia.


Amelia memperhatikan Saga yang keluar dari kamarnya. Dilema muncul di benaknya. Amelia menatap Dama yang bermain sendiri.


"Bagaimana ini? Aku kemari karena Davin adalah ayahmu. Aku membuat rencana sendiri tentang cintaku. Tapi dia memilih untuk tinggal di sini bersama ayah mu. Aku harus bagaimana?"


Kemudian pikirannya bicara.


'Bukankah ini menguntungkan bagimu Amelia, kau bisa hidup dengan Saga sekaligus bisa melihat Dama tumbuh dewasa. Hidup dengan ayah dan ibu kandungnya, meski telah memiliki pasangan lain. Dia akan memakluminya saat dia dewasa. Kau yang akan membuatnya mengerti nanti'


"Mama! " Dama memanggilnya.


Amelia langsung mendekat dan menggendongnya.


"Papa" Dama menunjuk ke arah luar.


"Ya, kita akan menyiapkan makanan untuk Papa Saga"


"Papaaa! " Dama menunjuk ke arah luar jendela.


"Dama, apa? kemana? " Amelia mengikuti gerak tubuh Dama.


Dia menunjuk ke arah mobil Davin yang keluar dari rumah Narendra. Amelia menghela, dia mengerti Dama menunjuk Davin yang tadi tak menyapa atau pamit padanya.


"Iya, papa mau jemput Bella. Dia harus menjemputnya" ucap Amelia.


'Karena dia adalah istrinya' ucap hati Amelia.


"Beya bawey" ucap Dama.


"Dama apa yang kamu bilang? Jangan begitu nak, nggak boleh! " Amelia terkejut dengan ucapan Dama.


'Darimana dia meniru itu? ' Amelia cemas.


"Ayo, kita siapkan makanan untuk papa Saga"


Amelia mengajak Dama ke dapur, ada Minah di sana yang sudah siap dengan makanan untuk yang baru pulang.

__ADS_1


"Dama! Mau susu kah Dama sayang? " Minah menyapanya.


"Bukan, aku mau menyiapkan makanan buat Saga" jawab Amelia.


"Ohhh, ok. Aku siapkan ya biar kamu langsung bawa ke kamarnya" ucap Minah.


"Ngga usah ke kamar, di sini aja mba! " seru Saga yang datang dan duduk di meja Minah.


"Den, itu meja yang biasa dipakai pembantu, aden di depan aja sama semua orang" ucap Minah.


"Ngga ah, aku maunya di sini. Amelia suka makan di sini kan? " ucap Saga.


Amelia dan Minah saling menatap.


"Ya sih, tapi.... " Amelia hendak membujuknya makan di depan agar Oma tak menyalahkannya lagi tentang hal seperti ini.


"Oma Mira nggak akan masalah, janji! " seru Saga dengan memasang dua jarinya sebagai sumpah.


Amelia tersenyum, dia senang Saga peka terhadap apa yang dia pikirkan.


"Sini, ikut duduk di sini. Temani aku makan" ajak Saga sambil menepuk kursi di sebelahnya.


Amelia ikut duduk dan menikmati makan malam tanpa diperhatikan anggota keluarga yang lain.


Amelia senang dengan situasi ini. Seolah mereka sedang menjalani kehidupan yang dia dambakan selama ini. Hidup bertiga tanpa keributan apapun.


Tak lama mereka menikmati situasi itu, terdengar suara mobil datang. Bella menyusul Davin yang datang dengan wajah kesal. Amelia dan Saga yang sedang duduk di ruang tamu, menatap kehadiran mereka.


Bella yang tadinya sedang kesal dan ingin meminta penjelasan Davin, langsung merubah raut wajahnya dan tersenyum pada mereka.


"Sayaaaang! " seru Bella sambil menyusul Davin ke kamar.


Amelia spontan menutup telinga Dama, takut mereka bertengkar di sana. Saga memperhatikan dan tersenyum.


"Kau selalu melakukan itu? " tanya Saga seraya menertawakannya.


"Tentu saja" Amelia cukup tak senang ditertawakan.


"Kalau begitu, kau harus selalu dan sering melakukannya, karena rumah ini selalu ada konflik" ucap Saga dengan tawanya.


Amelia terdiam, dia mengakui ucapan Saga itu benar. Semenjak dia kemari selalu saja ada pertengkaran. Dia jadi penasaran, apa memang sebelumnya mereka juga seperti itu.


"Papa" Dama menunjuk ke arah tangga.


Saga menggendongnya.


"Ini, papa di sini. Papa Saga, ok! " Saga mengajarinya.


Amelia tersenyum, suka dengan cara Saga bicara pada Dama.


"Papaaaa! " Dama terus menunjuk ke arah tangga.


"Ahhhh, Damaaa. Ini papaaaa! " Saga merengek.


Kemudian Dama tertawa dengan sikap Saga. Saga menggelitik perutnya, dia semakin tertawa. Amelia ikut tertawa tapi hati dan pikirannya masih memikirkan Bella dan Davin.

__ADS_1


'Mereka kenapa lagi? Apa Davin masih kesal dengan kejadian tadi siang? ' tanya hati Amelia.


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2