CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
60


__ADS_3

Tengah malam Amelia terbangun, mata dan tangannya mencari ponselnya untuk melihat jam.


"Jam dua pagi" gumamnya.


Dia bangun dan menatap ruang kamarnya, kemudian menatap Dama yang tertidur pulas. Tapi tiba-tiba dia ingat pada Saga.


Amelia menekan nomor Saga dan berusaha mengubunginya melalui telpon Roaming internasional. Tapi tak tersambung, operator mengatakan nomor Saga tak aktiv.


"Dia mematikan ponselnya" gumam Amelia.


Dia menghela nafas dan menatap ke arah jendela.


"Aku merindukan mu Saga" ucap Amelia.


***


Di ruang kerja, Davin keluar karena merasa haus. Dia berjalan ke dapur dan mengambil gelas. Tak lama kemudian dia mendengar suara mobil datang. Dia mengintip ke jendela.


"Ayah! " gumam Davin.


Harris baru saja keluar dari mobilnya. Dia masuk dan berjalan menuju ruang kerjanya. Davin memperhatikan langkahnya yang tak menuju kamar ibunya.


"Ayah! " seru Davin.


Harris berbalik dan menatapnya dengan mata yang membulat.


"Davin? " Harris terheran dengan keberadaan Davin.


"Ayah dari mana dan kenapa tak pergi ke kamar ibu? " tanya Davin.


Harris mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya.


"Ada yang harus aku periksa di ruang kerja, nanti setelah selesai aku juga akan tidur. Tidak usah mengkhawatirkan aku" Harris hendak berbalik.


"Kau tahu pasti bahwa aku bukan mengkhawatirkan mu, tapi ibu. Apa bisa kau menghargai semua kesetiaannya selama mengabdi jadi menantu rumah ini? " ucap Davin.


Harris menoleh padanya. Dia mengambil nafas dalam, tak mau meladeni debatnya, Harris tetap melangkah menuju ruang kerja.


Tak sampai masuk, dia terdiam melihat selimut dan bantal yang berantakan bekas tidur seseorang. Harris menatap Davin yang mendekat ke arahnya. Dia menghela nafas sambil mendelik pada anaknya.


"Beraninya kau menasehati ku sementara diri mu sendiri seperti ini" ucap Harris melempar selimut pada wajahnya.


Dengan sigap Davin menangkap selimutnya dan memasang wajah polosnya, seperti anak yang ketahuan bohong.


Harris duduk melipat tangan di sofa, tatapan matanya meraba wajah Davin yang jelas menghindari pandangannya. Hela nafasnya terdengar keras mengingat semua yang terjadi beberapa hari ini.


~Mengapa dia menikahi wanita yang tidak dia cintai? ~ tanya hati Harris.


"Alasan ku adalah memang karena aku tak mencintainya, bahkan aku tak bisa menyentuhnya. Sedangkan ayah, aku, anak kalian saja sudah sebesar ini, tapi masih kalian mempertahankan hubungan seperti itu.... "

__ADS_1


Ucapan Davin terhenti saat melihat ayahnya berbaring dan memejamkan matanya. Suara dengkur nya terdengar dan membuat Davin mengerti dia tertidur.


"Dasar curang, dia tidur lebih dulu" gumam Davin.


Davin pun kembali merapikan selimutnya dan hendak tidur lagi. Tapi dia mengurungkan niatnya saat mendengar suara langkah kaki seseorang.


"Siapa itu? " tanya Davin.


Dia bangun dan memeriksanya. Berjalan perlahan di tangga dan mulai melangkah lagi menuju dapur, arah suara terdengar. Davin berhenti bergerak saat yang dia lihat adalah Amelia.


Glek...


Salivanya mulai memenuhi tenggorokannya saat melihat rambut Amelia yang lurus tergerai. Tak melewatkan momen, Davin meraba tubuh Amelia dengan tatapannya.


Ingin rasanya dia mendekat kemudian memeluknya dari belakang seraya membisikkan bahwa dia sangat merindukannya.


Tapi lagi-lagi Davin menelan salivanya. Dia membangunkan dirinya sendiri dari mimpi sejenak itu.


"Membuat susu untuk Dama? " tanya Davin tiba-tiba.


Tubuh Amelia terperanjat, dia hampir melepaskan gelas yang ada di tangannya. Namun dengan refleks Davin menangkapnya, tangan mereka saling bersentuhan dan akhirnya mereka saling bertatapan dalam jarak yang sangat dekat.


Deg... deg..


Kedua mata mereka tak bergerak dan tertuju pada mata masing-masing.


~Astaga, kenapa aku masih merasa seolah tersengat listrik saat mendengar suaranya yang dalam, juga menatap matanya yang indah~ ucap hati Amelia.


Glek... Davin menelan salivanya lagi.


Amelia menatap gerakan di leher Davin, dia berdiri tegak dan mengalihkan pandangannya. Davin pun ikut merapikan kemejanya dan menghadapkan wajahnya ke arah lain.


"Bukan untuk Dama, dia sudah tidak minum susu malam hari. Ini untukku.... "


Ucapan Amelia terhenti, dia menoleh dan menatap Davin dengan mengerutkan dahinya.


"Kau mengawasi ku? " tanya Amelia.


Mata Davin membulat dia tak mengerti apa yang dimaksud Amelia.


"Tenang saja, aku tidak semiskin itu, aku masih punya banyak tabungan yang bisa ku pakai hingga bertahun-tahun ke depan. Kau tidak usah khawatir aku akan mencuri sesuatu di rumah ini"


Nada suara dan cara bicara Amelia terdengar sangat kesal pada Davin, tapi dia hanya tersenyum karena hanya melihat bibir Amelia yang bergerak.


"Aku tidak berpikir seperti itu" jawab Davin.


Amelia menatap ke arah lain menunjukkan dia tak peduli dengan jawaban Davin.


"Aku hanya khawatir pada Dama, aku kira kau kesulitan karena dia baru datang dan tinggal di rumah baru. Ya, takut dia tak nyaman atau bagaimana" jelas Davin.

__ADS_1


Amelia menaruh gelas di meja dan pergi begitu saja meninggalkan Davin.


Davin menunduk dan tersipu, dia mengantar kepergian Amelia dengan tatapannya. Dia tersenyum lagi membayangkan jika suatu hari Amelia menjadi istrinya dan mengomel.


"Jika itu terjadi, yang aku lakukan hanya akan menyambar bibirnya yang sedang bicara itu" gumamnya.


Davin masih tersenyum.


"Huffhhh, aku bermimpi sebelum tidur" keluh nya.


Davin menggeliat mulai merasa ngantuk. Dia kembali ke ruang kerja kemudian menyelimuti diri dan tidur. Tapi dia merasa tak nyaman, dia bangun kembali dan keluar.


Langkah kakinya menuntunnya ke kamar Alex yang tak di kunci. Dia langsung tidur di samping Alex yang sudah berada di alam mimpi sejak tadi. Davin tidur terlelap dengan senyum membayangkan wajah Amelia.


Sementara itu di balkon, Zidan sedang berjibaku *****@* bibir Bella yang mulai terengah dengan semua sentuhan tangannya.


"Hentikan Zidan, aku takut tak bisa mengendalikan diri lagi" bisik Bella saat Zidan mencium lehernya.


"Jangan mengendalikan diri, lepaskan saja" ucap Zidan di depan bibir Bella.


"Tidak Zidan, aku tidak mau melakukannya selain dengan Davin" ucap Bella seraya mendorong tubuh Zidan.


Zidan memasang wajah kesalnya, dia berpaling dari tubuh Bella dan merapikan piyama nya.


"Baiklah aku pergi" ucap Zidan ketus.


Bella meraih tangannya.


"Kau kesal? " tanya Bella.


Zidan tak menoleh meski tangannya dipenggangi Bella.


"Tidak" jawabnya singkat.


Bella memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku Zidan" bisik nya.


Zidan tak peduli, dia melepaskan tangan Bella dan berbalik.


"Pergilah tidur! " ucap Zidan.


Wajahnya masih menyiratkan kekesalan yang sangat. Bagaimana tidak, dia sudah hendak mencapai puncaknya, namun Bella tak menyambutnya.


Bella turun dari balkon dan mengendap-endap sambil melihat situasi. Dia masuk ke kamar dan duduk di depan cermin.


Tangannya menyentuh bibir yang tadi bergulat dengan bibir Zidan. Bella masih ingin merasakannya, tapi takut tak bisa mengendalikan diri dan menyerahkan kehormatan nya pada Zidan.


Dia ingat dengan ucapan ibunya.

__ADS_1


\= Kau bisa mencari pelampiasan pada pria lain, tapi ingat satu hal. Yang harus merasakan keperawanan mu hanyalah Davin. Hanya dengan begitu dia akan percaya bahwa kau istri yang setia\=


\=\=\=\=\=>


__ADS_2