CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
106


__ADS_3

Saga menatap ke arah pintu, memastikan Amelia tak menyusul mereka.


"Aku sudah bilang, jangan membahas itu lagi. Kita sudah sepakat untuk melupakan malam kemarin, kau juga setuju kalau diantara kita tidak pernah terjadi apapun" ucap Saga perlahan.


"Kau menutupi kesalahan mu dengan membelanya? Heuuuh, yang benar saja. Kau mengkhianatinya di malam pertunangan kalian, dan kau pikir dia akan memaafkan mu jika dia mengetahuinya" ancam Bella.


"Semalam, adalah kesalahan, menyentuhmu adalah kesalahan"


Saga mendorong Bella.


"Sialan! " Bella mengumpat.


Bella pergi dengan kesalnya. Saga menatap dengan penuh amarah padanya. Dia langsung berbalik dan masuk.


Saga menatap Amelia yang langsung menutup telinga Dama saat mendengarnya datang.


"Tidak, aku tidak akan mengeluh soal dia"


Saga melembutkan suaranya. Amelia menghela, dia melepaskan tangannya dan menurunkan Dama dari pangkuannya.


"Aku jadi lapar! " ucap Saga.


"Aku akan siapkan makanan" ucap Amelia.


Saga menarik lengan Amelia kemudian memeluknya. Amelia terkejut, dia terdiam dalam pelukan tunangannya itu hingga beberapa saat.


"Dua kali" ucap Amelia.


"Hmmm? " Saga tak mengerti.


"Baru jam sepuluh pagi, sudah dua kali kau memeluk ku" lanjut Amelia.


Saga tersenyum, dia melepaskan pelukannya.


"Terimakasih" ucap Saga.


"Sama-sama" jawab Amelia dengan senyum merekah.


Amelia berjalan mundur beberapa langkah, kemudian berbalik di dekat pintu menuju dapur.


Saga mengawasi Dama yang bermain di depannya.


***


Davin sibuk dengan beberapa pekerjaan di kantor. Dia bahkan tak sempat makan siang. Saat sedang memeriksa berkas, bayangan tangan Amelia yang disematkan cincin oleh Saga mulai mengganggunya lagi. Dia terdiam.


'Sakit, aku sakit melihatnya' ucap hati Davin.


Tak berapa lama, Susi datang membawa laporan yang dia minta sebelumnya.


"Pak, ini Laporannya" ucap Susi.


"Terimakasih, Oh ya, tolong panggilkan Zidan" pinta Davin.


"Pak Zidan baru saja pergi setelah mendapat telpon" tunjuk Susi ke arah luar.


Davin tertegun sebentar kemudian menyuruh Susi kembali ke mejanya.


Davin semakin fokus bekerja, tapi itu membuatnya semakin terus mengingat wajah Amelia. Dia mengambil ponselnya dan menelponnya.


"Ya, hallo! " jawab Amelia.

__ADS_1


"Aku terus teringat Dama, apa yang dia lakukan? " tanya Davin beralasan.


"Main, dia main dengan Saga" jawab Amelia.


"Bisa kau kirim video nya padaku? " pinta Davin.


"Ohhh, baiklah. Aku akan kirim kan" jawab Amelia hendak menutup telponnya.


"Tunggu! " seru Davin.


"Hmmm? " Amelia terkejut.


"Kau, apa yang sedang kau lakukan? " tanya Davin terbata.


Amelia mengambil nafas dalam, merasa pertanyaan Davin adalah pertanyaan yang sebenarnya yang dia ingin tanyakan, bukan Dama.


"Aku akan merekam mereka Davin, aku akan menutup telponnya" jawab Amelia.


Davin tertegun, merasa Amelia benar-benar tidak mau terlalu intens bicara dengannya. Dia membuka pesan video yang dikirimkanmya dan melihat keseruan Dama main bersama Saga.


"Putraku, kenapa harus menjadi putra mu kak" gumamnya.


Tak lama kemudian, Davin menerima telpon dari temannya.


"Ya, kenapa? " tanya Davin.


"Bella menemui Zidan lagi, apa kau benar-benar tidak peduli? " ucap temannya.


Davin tertegun, bukan kali pertama teman-temannya melihat kedekatan Bella dan Zidan, meskipun dia tak punya perasaan apapun pada Bella, dia mulai cukup kesal karena Bella terus menunjukkan diri di ruang publik.


"Dia sudah mengatakannya padaku tadi, jadi tidak apa-apa, kami kan keluarga" jawab Davin berbohong.


"Baiklah, aku hanya peduli pada mu. Maaf mengganggu mu"


Sementara itu, dia ingin menyusul mereka, namun rapat akan dilakukan sebentar lagi, dia mengurungkan niatnya.


***


Bella menatap Zidan yang menjelaskan kejadian semalam.


"Aku menunggu mu, tapi sampai pagi kau tidak datang, jadi aku menemui seorang teman wanita dan menemaninya, lagipula kau memang tak berniat melakukannya dengan ku bukan? Kau terus mengatakan akan memberikannya pada Davin" Zidan terlihat kesal.


'Lalu kenapa aku bisa masuk ke kamar yang sama dengan Saga? ' Bella terus berpikir ada yang sengaja melakukan ini padanya.


"Kau menginap di mana? " tanya Zidan sembari menghisap rokok di tangannya.


Bella mengalihkan pandangannya.


"Rumah ibu ku" jawab Bella, seketika ingat pada ibunya.


Zidan Menyeringai.


"Kapan kau akan membalas semua kesenangan yang aku berikan? " tanya Zidan.


"Tidak akan, berkali-kali kita sudah mencoba bukan. Selalu gagal, ada saja halangan" Bella mengaitkan tas selempangnya, hendak pergi.


"Davin tidak akan pernah melakukannya, kau tahu pasti itu" ucap Zidan menghentikan langkahnya.


Bella terdiam tapi dia langsung menoleh padanya.


"Aku melihat masih ada cinta di matanya untuk Amelia. Meskipun tak bisa aku membaca raut wajah dan arti tertunduknya wajah Amelia setiap kali berhadapan dengannya"

__ADS_1


Bella semakin geram mendengarkan semua ucapan Zidan.


"Kau bukan peramal, kau juga bukan pembaca raut wajah. Aku sudah melakukannya dengan Davin, aku tidak perlu mengatakannya padamu bukan? "


Bella berbohong demi membuat Zidan diam dan tujuannya pun berhasil, Zidan diam. Bella pergi setelah merasa ucapannya membuat Zidan cukup kesal.


Zidan hanya menatap kepergian Bella dengan tangan mematahkan rokoknya.


Tak lama kemudian, Davin tiba-tiba duduk di hadapan Zidan dan mengambil sebatang rokok milik Zidan.


Davin melihat rokok patah di meja, dia menyalakan rokoknya kemudian perlahan menghisap dan menghembuskan asapnya.


"Sedang apa kau di sini? " tanya Zidan.


"Kau sendiri sedang apa? Bukankah seharusnya kau sibuk membuat Kak Saga berpihak pada ayah mu? " Davin mengejeknya.


Zidan kesal dengan ucapan Davin, namun matanya menatap Bella yang terlihat masuk ke dalam mobilnya.


'Apa dia tak melihat Bella? ' tanya hati Zidan.


Zidan menyeringai, seolah mendapatkan bahan untuk membalas Davin.


"Menemui istri mu, Bella" jawab Zidan.


Davin berhenti merokok dan menatapnya, dia cukup terkejut karena Zidan tak menyembunyikan pertemuan mereka.


"Dia mengeluh dan meminta ku mencarikan obat untuk mu" ucap Zidan seraya menunjuk ke bagian bawah tubuh Davin.


Davin menelan salivanya.


"Katanya kau sering cepat keluar" lanjut Zidan dengan senyum mengejek.


Davin dengan jelas mengalihkan pandangannya dengan kesal.


"Ayolah, bukankah kau selalu menjaga kesehatan mu? Olahraga di pusat kebugaran dan menjadi membernya, apa semua itu tidak ada gunanya? " Zidan semakin mengejeknya.


"Ada, aku jadi sering berpikir jernih dan bisa menyaring setiap perkataan orang lain, termasuk dirimu. Aku tidak terpengaruh, lagipula, Bella bukan tipe wanita yang bisa berterus terang seperti itu. Kau berbohong" jelas Davin.


Zidan menyeringai.


"Tidak ada yang tahu sifat manusia selain dirinya sendiri dengan Tuhan" ucap Zidan.


Davin tertawa kecil menertawakan ucapan Zidan.


"Kau bicara seperti seorang yang bijaksana, kau sudah dewasa sekarang ya! " Davin bicara dengan senyuman yang membuat Zidan kembali kesal.


"Davin, mengapa kau tidak menanyakan hal yang justru penting sekali pada Amelia saja, dibandingkan padaku" Zidan menyela ucapannya.


Davin terdiam.


"Tanyakan hal benar-benar penting bagi mu" Zidan berdiri.


Davin tak ingin menatap wajahnya.


"Apa dia benar-benar sudah melupakan mu" ucap Zidan seraya menepuk bahunya.


"Jaga juga istri mu, setidaknya, jangan biarkan dia tidur dengan pria lain sebelum kau menyentuhnya, meskipun itu tidak pernah akan terjadi" lanjutnya kemudian meninggalkannya.


Davin mematahkan rokonya.


"Sialan! " gumamnya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2