
Pagi harinya, Maria mengusap pelembab di wajahnya, dia ingat dengan hal semalam, dia melihat semua kejadian malam tadi, dia seperti melihat Harris yang sedang jatuh cinta pada Ayu. Padahal yang terjadi adalah Davin yang sedang mencoba membujuk Amelia untuk menerimanya kembali.
"Dasar, ayah dan anak sama saja. Bella seolah lenyap begitu saja dari pandangannya" keluh Maria dengan kesal.
Harris mendengar sedikit ocehan Maria, dia berhenti melangkah saat hendak masuk ke kamar mandi.
"Apa?" tanya Harris.
Mata Maria membulat kemudian menatapnya.
"Apa apanya?" tanya Maria.
"Kau tadi bilang apa? Kenapa bergumam dan bicara sendiri. Aku di sini kau bisa bertanya padaku" ucap Harris.
Maria menyeringai, menertawakannya.
"Sekarang kau menertawakan aku. Apa yang menurut mu lucu dari semua ucapan ku?" Harris mulai marah.
"Sikap mu, seluruhnya. Kau tidak pernah menjadi suami sungguhan bagi ku. Jadi jangan pernah mencoba berpura-pura seperti suami yang mendengarkan dan seolah selalu ada untuk ku" ucap Maria sambil menunjuk wajah Harris.
Harris diam saja, dia tak bisa melawan ucapan Maria yang memang benar adanya. Maria pergi keluar menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan. Sementara Harris menatap Maria hingga dia berlalu dan hilang di balik pintu.
"Kau benar, aku tidak pernah memperlakukan ku sebagai istri, meskipun kau adalah istri yang sangat baik" ucap Harris.
###
Saga dan Davin masuk ke kamar Oma Mira secara bersamaan. Setelah sebelumnya mereka hanya saling memandang saat keluar dari kamarnya.
"Jadi, apa yang ingin kalian katakan?" tanya Oma Mira.
"Aku hanya ingin kembali ke Montreuill, dan mungkin selanjutnya aku dan Amelia akan pindah lagi setelah menikah" ucap Saga sedikit menekankan keinginannya.
Davin menatap Saga, tak rela mendengar mereka akan pergi dan menikah.
"Saga...." Oma Mira menghela dan berdiri.
"Oma aku mohon, aku memang berbohong memperkenalkan Amelia sebagai istriku, tapi aku sangat mencintainya Oma. Kau juga bisa tanyakan pada Amelia, dia juga sangat mencintaiku" jelas Saga.
Davin menundukkan kepalanya semakin merasa tak senang dengan ucapan kakaknya. Sementara Saga sendiri hatinya ragu-ragu dengan ucapannya sendiri karena pernah mendengar Amelia masih mengingat Davin hingga sekarang.
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengan cinta mu padanya atau sebaliknya. Aku hanya peduli pada Dama, keturunan kakek kalian Narendra Coltin. Dia harus tinggal di sini dan dididik oleh cara keluarga Narendra Coltin" jelas Oma Mira.
Davin masih diam, karena meskipun dia tidak setuju dengan ucapan Oma Mira, tapi semua ucapannya akan membuat Dama dan Amelia tinggal di sana.
"Tapi Oma, Davin sudah menikah. Dia bisa mendapatkan anak sebanyak yang dia mau. Istrinya juga adalah keturunan orang yang Oma harapkan. Biarkan kami pergi, aku mohon, aku tidak akan bisa hidup tanpa Dama, Oma" Saga memelas.
Oma Mira menatap Davin dengan kesal. Dia sangat ingin menyalahkan nya atas semua ini. Tapi Davin sudah kompeten di perusahaan, dan sangat membantunya di saat yang paling penting. Davin menunduk lagi setelah menatap Oma yang membulatkan mata padanya.
"Kau keluarlah dulu" ucap Oma pada Davin.
"Tapi Oma, aku juga ada yang ingin aku katakan" Davin menolak.
"Ya....nanti setelah Oma bicara dengan kakak mu!" Oma Mira menekankan nada suaranya.
Davin menghela keras, dia ingin mendengar apa keputusan Oma untuk Amelia dan Dama. Tapi dia tak bisa menolak permintaan Oma. Dia pun keluar dengan perasaan yang kurang nyaman di hatinya.
Sementara itu, Oma Mira membujuk Saga untuk tetap tinggal hanya untuk keluarganya.
"Dengar, Oma memang berbohong tentang kesehatan Oma. Oma mau kamu kembali entah itu sendiri atau dengan anak istri mu. Tapi saat Oma melihat Amelia, jujur Oma bingung harus berbuat apa" jelas Oma.
Saga menatap Oma nya yang tetap bicara.
"Davin, dia punya penyakit aneh. Selama menikahi Bella, sedetik pun, dipancing oleh apapun, dan di rangsang oleh apapun, dia tidak bisa tegang pada Bella"
"Oma membicarakan hal pribadi adik mu pada kakaknya, Oma mendiskusikannya bukan mengejeknya"
Saga menghela.
"Saat Oma tanya pada Alex yang seperti orang pintar itu, tahu segalanya. Dia bilang, Davin mencintai seseorang dan satu-satunya wanita yang bisa membuatnya tegang. Dia bilang wanita itu adalah putri pak Ghani"
Saga memalingkan wajahnya.
"Oma bahkan belum sempat mencari tahu tentang Amelia, yang Oma tahu, Ghani bilang dia pergi dari rumah karena Ghani mengusirnya"
"Apa yang mau Oma sampaikan? Apapun itu, aku tidak peduli. Oma nggak tahu bagaimana perasaan kami. Oma nggak akan pernah mengerti"
"Cari wanita lain untuk mu, wanita yang lebih baik dan lebih pantas. Bukan wanita yang hamil karena kecelakaan satu malam" ucap Oma pelan namun tegas.
Ucapan Oma bernada menghina Amelia yang terkesan tak punya adab dan buruk pribadinya. Saga tidak suka mendengarnya, dia memejamkan matanya dan mengambil nafas dalam.
__ADS_1
"Cukup Oma, dibandingkan Maria dan Ayuningtyas, Amelia jauh lebih beradab. Aku bisa menjaminnya" ucap Saga kesal.
"Tapi kenyataannya, dia jauh lebih rendah dari mereka berdua" ucap Oma kekeh.
"Oma...!" Saga mengeluh.
"Baiklah, Oma akan mengambil keputusan. Siapapun takkan bisa menolaknya" ucap Oma.
Saga menelan salivanya, merasa Oma Mira sudah tak tahan dengan penolakannya.
###
Davin keluar dari kamar Oma, dia ke kamar Amelia untuk menemuinya dan Dama. Namun Davin tak menemukan mereka.
Davin menelpon Alex.
"Amelia dan Dama menghilang, cari keseluruh rumah" perintah Davin.
Mendengar Davin ribut mencari Amelia, Bella yang baru bangun, menyeringai senang.
Saga yang baru keluar dari kamar Oma melihat Davin uring-uringan bolak balik.
"Ada apa?" tanya Saga.
Davin menatap Saga, dia sedikit bingung harus berkata apa. Dia berpikir Saga pasti akan marah kalau dia tahu dirinya mencari Amelia dan Dama ke kamarnya. Tapi apa boleh buat, Davin harus mengatakannya.
"Amelia dan Dama tidak ada di kamarnya" ucap Davin ragu.
"Apa?"
Saga langsung berlari ke kamar dan melihatnya. Benar saja, tas Dama sudah tak ada. Saga langsung menghubungi Amelia. Tapi tak diangkatnya.
Semua orang mencarinya di sekitar istana itu, beberapa orang mencari ke jalan dan kemungkinan Amelia berjalan atau naik taksi.
Sementara itu, Amelia sudah sampai di hotel dan hendak pergi entah kemana. Wajahnya terlihat sangat ketakutan dan tak ingin berhubungan dengan Keluarga Coltin.
Sesekali tangannya menghapus air matanya yang terus mengalir. Amelia juga mengusap kepala Dama yang masih tertidur di pangkuannya.
Berjalan di daerah dekat kantor perusahaan Narendra Coltin. Amelia semakin mengingat tentang ketakutan yang dia bayangkan dan pernah dia lihat saat dia SMP. Kejadian yang membuatnya sangat paham apa yang akan terjadi pada dirinya dan Dama.
__ADS_1
~Mama nggak akan biarin wanita yang mereka sebut Oma itu memisahkan kita. Mama akan melindungi kamu sayang. Kita akan pergi jauh, kita akan menghindari semuanya, semuanya~
\=\=\=\=\=>