CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
29


__ADS_3

"Dama....! Ganteng banget anak mama, Dama ganteng!"


Amelia mengajak main sambil memakaikan popok anaknya. Dia sangat menikmati proses merawatnya. Saga memberikan bedak dan pakaian yang akan digunakan Dama. Amelia mengambilnya seraya menatap sikap Saga yang begitu kebapaan.


Saga turun ke bawah membawa semua pakaian kotor Dama. Gendis menatapnya, Peter hanya melirik dan kembali membaca korannya. Gendis mencubit Peter dan berisyarat untuk melakukan yang dia minta. Peter bangun dari kursinya dengan malas.


Amelia turun dengan membawa Dama yang sudah tampan dan wangi. Peter yang tadinya akan menyusul Saga ke depan, malah berbalik kembali dan menggendong Dama.


Gendis menepuk jidatnya kesal pada Peter. Amelia tersenyum senang semua orang menyayangi putranya, Dama.


"Aku menyuruh mu hal lain, kau malah menciumi Dama!" keluh Gendis sambil berjalan melewatinya.


Amelia sedikit merasa tak enak dengan Gendis. Peter memang sangat dekat dengan Dama semenjak dia lahir hinga enam bulan berjalan. Peter mengejeknya dengan membuat wajah lucu. Dia terus menggendong Dama dan membawanya main ke tengah rumah.


Amelia melihat piring kotor di wastafel, dia mulai mengerjakan pekerjaan rumah saat Dama diasuh Peter. Dama pun terdengar sangat senang jika Peter menggendongnya. Itu membuat Amelia tenang dalam mengerjakan pekerjaan rumah.


Sementara itu Gendis menyusul Saga yang hendak mengambil makanan di depan rumah, pesanannya dari toko langganan. Saga terkejut melihat Gendis tiba-tiba berdiri di dekatnya.


"Astaga! Bude bikin kaget!" ucap Saga.


Saga hendak melewati Gendis untuk kembali masuk. Tapi Gendis menarik tangannya.


"Hei Saga, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu ikut ngurusin Dama? Sudah beberapa bulan ini kamu banyak liburnya. Kamu lupa sama tujuan kamu hidup sama Bude?" keluh Gendis.


Saga terkejut mendengar ucapan budenya. Tapi dia juga jadi ingat dengan cita-citanya datang kemari, hidup bersama Bude nya.


"Tapi Bude, aku..." Saga ragu.


"Bude nggak mau dengar. Pokoknya kamu jauhin Amelia dan Dama. Kamu harus fokus dengan hidup kamu. Kamu harus bisa meraih cita-cita kamu" ucap Gendis.


Amelia yang awalnya akan mengambil sesuatu di luar jadi berhenti melangkah dan bersandar di dinding mendengar ucapan Gendis pada Saga.


~Aku tidak bermaksud membuat Saga tak fokus pada tujuannya. Aku juga tak pernah meminta perhatiannya secara khusus padaku~ ucap hati Amelia.


Dia berjalan mendekat pada Peter dan mengambil Dama.


"Sini Pak, Dama mau tidur!" ucap Amelia.


Dia langsung mengambil Dama dari pangkuan Peter kemudian pergi ke atas. Peter terheran, tak biasanya Amelia dan Dama tidur pada jam itu. Dia mengalihkan pandangannya pada Gendis dan Saga yang baru datang.


"Mana Dama?" tanya Saga.


Gendis menatap suaminya yang masih diam tak menjawab. Kemudian dia mendekati tangga dan menaiki dua anak tangga. Wajahnya mendongak ke atas memeriksa lampu kamar Amelia yang padam. Gendis kembali dan memberi kode bahwa dia sudah memadamkan lampunya.


"Tumben tidur jam segini, dia kan belum makan malam" ucap Saga heran.


Peter menatap Gendis yang acuh. Dia sudah paham, Amelia pasti mendengar Gendis meminta Saga menjauhi mereka. Itulah kenapa Peter tak mau menyusul Saga. Dia tahu Saga menyukai Amelia meskipun tidak dengan sebaliknya.


Saga duduk bersama Gendis dan Peter dan mulai makan. Tapi Saga memisahkan seporsi makanan dalam piring berbeda. Dia ingat Amelia harus banyak makan agar ASInya tetap banyak.


Peter menambahkan dua buah apel di sisi piringnya. Gendis menatap tingkah mereka yang seolah dia tak dianggap ada di sana.


"Kalian tidak pernah perhatian begitu padaku" keluh Gendis.

__ADS_1


Peter tak memperdulikannya, Saga naik sambil membawa makanannya. Dia mengetuk pelan kamar Amelia. Tapi Amelia tak membukanya, Dama pun masih bangun dan main dalam cahaya ponsel yang dia nyalakan di dalam.


Saga menaruh makanannya di bawah pintu. Dia berbisik supaya Amelia memakannya.


"Aku taruh di bawah pintu, makanlah. Kasihan Dama kalau kamu tak makan" ucap Saga.


Saga turun dengan perlahan. Dia mengambil jaketnya kemudian hendak berjalan keluar.


"Mau kemana?" tanya Gendis.


"Bude bilang aku terlalu banyak libur, jadi aku akan kembali ke Paris" ucap Saga.


"Malam-malam begini?" tanya Gendis.


"Kalau besok berarti aku libur lagi" ucap Saga.


Peter tertawa hingga menyemburkan makanannya. Semburannya mengenai piring Gendis. Saga menutup mulutnya menahan tawa. Peter melap semuanya dengan menghindari tatapan Gendis yang sangat marah.


"Aku pergi Bude!" ucap Saga sambil menghampiri dan mencium keningnya.


Gendis menatap mereka secara bergantian dengan kesal.


"Sudahlah, dia sudah menuruti mu. Jika kamu masih marah karena hal sepele, kita bisa tinggal hanya berdua lagi" ucap Peter.


Gendis menghela, dulu dia merasa repot karena Saga jadi ikut padanya saat anak-anaknya masih bersamanya. Rumah terasa sempit dan berantakan. Saat anak-anaknya pergi mengambil langkah menuju cita-cita mereka, hanya Saga yang menyempatkan bolak balik Paris - Montreuil demi menjenguk mereka berdua. Sekarang rumah menjadi ramai karena kelahiran Dama, dia mulai mengeluh lagi karena Saga seolah direpotkan oleh mereka berdua.


"Pemikiran dan kekhawatiran mu tidak salah, sesekali Saga memang harus diingatkan karena seringnya dia terlena dengan situasi. Jangan mulai berpikir aku tak mendukung atau malah menyalahkan mu" ucap Peter saat melihat Gendis diam berpikir.


Keesokan harinya, Amelia turun membawa Dama dan satu tangan membawa piring yang semalam Saga bawa untuknya. Gendis menatapnya, dia mendekat.


Dia memanjangkan kedua tangannya bersiap menggendong Dama. Amelia menatap tangannya dan ingat dengan perkataannya semalam. Dia memberikan Dama padanya. Amelia kembali ke atas untuk mengambil tasnya.


Gendis bermain dengan Dama, dia mengajaknya bernyanyi. Dama menatapnya dan tersenyum, Amelia keluar dan pergi.


Sampai di pabrik, Peter sedang mencatat persediaan barang, Amelia mendekatinya.


"Aku sudah datang, pulanglah!" ucap Amelia.


Peter tersenyum dan memberikan catatannya pada Amelia.


"Kalau begitu, pasti Dama sedang main dengan Gendis kan?" Peter menebak.


Amelia mengangguk, mereka berjalan menuju ruangannya. Amelia hendak menaruh tasnya, sedangkan Peter akan mengambil jaketnya.


"Dama Wardhana, entah kenapa nama itu sangat unik. Aku rasa tak banyak orang yang menggunakannya" ucap Peter.


Amelia tersenyum, dia menaruh tasnya. Peter memakai jaketnya.


"Aku pulang, selamat bekerja!" ucap Peter.


Amelia mengangguk dan tersenyum. Kemudian kembali ke gudang.


Amelia sudah mulai mendapatkan kepercayaan mengatur setara dengan jabatan Peter, pemiliknya. Dia kadang lebih khawatir mengenai kelancaran produksi, keselamatan pegawai dan keuntungan dibandingkan Peter yang cenderung hanya menjalaninya saja.

__ADS_1


Tapi kini Amelia berpikir untuk pergi, dia harus meninggalkan mereka. Tiba-tiba Pak Rahmat dari kedutaan menelponnya.


"Ya, Pak Rahmat. Aku akan ke sana untuk mendaftarkannya" ucap Amelia.


Dia harus membuat akta kelahiran Dama, putranya. Dia akan pergi saat pergi membeli bahan produksi.


Amelia masuk ke kantor kedutaan, Pak Rahmat yang sedang mengatur pegawai baru, melihatnya dan melambaikan tangan. Amelia mendekat dan ikut dengannya ke ruangannya.


"Aku dengar saat kau pulang dari sini tempo hari, Steve mencegat kalian" ucap Pak Rahmat.


"Ya, untungnya ada Saga..."


Amelia tertegun mengingat semua kebaikan Saga. Dia tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa Saga memang benar-benar punya andil besar membantunya.


"Ya, dia kemari dan mengamuk. Dia meminta alamat barumu, dia bilang akan mengurus mu dan segala teriakannya. Kami mengabaikannya dan menelpon polisi untuk membuatnya pergi. Hari itu benar-benar menegangkan" Pak Rahmat bercerita.


"Maafkan aku Pak, karena aku kalian...."


"Tidak, tidak masalah. Orang-orang seperti mereka memang harus dijauhi. Mereka penyakit dalam hidup kita, jadi harus dijauhkan" ucap Pal Rahmat.


Amelia menundukkan pandangannya merasa tak enak.


"Jadi, siapa nama anakmu yang akan didaftarkan akta kelahirannya?" tanya Pak Rahmat.


"Dama, Dama Wardhana" jawab Amelia sambil tersenyum.


"Wah, nama yang gagah. Apa artinya itu?" tanya Pak Rahmat sambil menginputnya.


"Tidak ada, itu hanya singkatan tapi aku tidak bisa memberitahukan padamu. Kalau nama belakangnya, aku pakai nama ayahku. Dia anakku" jelas Amelia.


Pak Rahmat menatapnya.


"Apa nama ayahnya tidak akan dicantumkan?" tanya Pak Rahmat.


Amelia menatap ke seluruh ruangan.


"Aku hanya mengenalnya sebagai Davin. Apa bisa hanya mencantumkan nama itu saja?" tanya Amelia ragu.


"Davin, bisa, aku akan melakukannya" Pak Rahmat mengangguk.


"Terima kasih Pak" jawab Amelia.


Amelia menunggu beberapa saat, dia menatap ke arah jalanan dari jendela kantor kedutaan. Tak lama kemudian Peter menelponnya.


"Ya, Peter. Mungkin sebentar lagi. Aku akan kembali jika semuanya sudah selesai" jawab Amelia.


Dia menutup ponselnya dan melihat Pak Rahmat memanggilnya lagi.


"Ini, sudah selesai. Dia warga negara Indonesia" ucap Pak Rahmat menyerahkan akta kelahiran Dama.


"Terima kasih Pak" senyum Amelia mendengar tegasnya Pak Rahmat mengatakannya.


Amelia pergi dari kantor kedutaan dan berjalan menuju halte bus.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2