Cinta Elsaliani

Cinta Elsaliani
100.


__ADS_3

Alhamdulillah sampai juga di episode yang ke πŸ’―πŸ€—πŸ€—


Terima kasih buat semua teman-teman yang udah ngikutin Cinta Elsaliani dari eps 1-100.


Serius, senang banget rasanyaπŸ₯°πŸ₯° karena tulisan aku bisa menghibur dan mengisi waktu luang teman-teman semua😊. Terima kasih banyak-banyak Atas semua Like, komen n Vote@ manteman selama iniπŸ™πŸ™ itu semua sangat berharga buat aku pribadi, boleh tepuk tangannya buat teman-teman semua@πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘


Love you All😘😘


_____________________________


❀️Cinta Elsaliani πŸ’―β€οΈ


"Sayang..." Panggil Iqbal.


Iqbal terus melangkah mendekati sang istri yang sedang duduk termenung, sedari tadi wajahnya begitu gelisah, bahkan tak ada angin tak ada hujan, air mata terus saja menetes tanpa bisa ia kendalikan. Elsaliani begitu larut dengan perasaannya yang entah mengapa terasa begitu menyesakkan dada.


Iqbal duduk di sisi kanan sang istri, perlahan menyentuh tangan Elsaliani yang sedari tadi terus memainkan ujung kerudung kuning yang sedang ia kenakan.


"Sayang, mas minta maaf!"


"El, El benar-benar nggak bisa mengerti dengan diri El yang saat ini. El nggak masalah mas tinggal, tapi entah mengapa hati El begitu ketakutan, El takut jika El tidak bisa melihat mas lagi!" Jelas Elsaliani dengan tangisan yang mulai pecah, Elsaliani langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Iqbal membuat kaos kuning yang Iqbal kenakan basah terguyur hujan air Elsaliani.


"Ssssssstt! Sayang, mas janji kalau semuanya udah selesai mas akan langsung pulang!" Jelas Iqbal mencoba menenangkan Elsaliani dengan tangan yang terus mengusap lembut kepala Elsaliani yang terbalut kerudung.


"Bagaimana kalau El rindu?"


"Mas perginya cuma tiga hari aja, sayang."


"Setengah hari aja rasanya begitu sesak menahan rindu, bagaimana dengan tiga hari. Terus siapa yang akan menidurkan El? El nggak bisa tidur nyenyak jika bukan di pangkuan mas."


"Sayang, dengarin mas! secepat mungkin mas usahakan untuk menyelesaikan misi ini. Misi kali ini benar-benar tidak bisa mas wakilkan pada yang lain, mas harus ikut agar semuanya terkendali sesuai rencana. Please, El jangan buat mas semakin merasa bersalah karena harus meninggalkan El."


"Bagaimana kalau nanti mas kenapa-napa?"


"Sayang, mas akan baik-baik saja. Nggak akan ada yang bisa nyakitin mas, mas akan pulang sebagaimana mas pergi, mas janji mas akan jaga diri mas dengan baik, mas nggak akan terluka sedikitpun."


"Janji?"


"Iya sayang!" Jawab Iqbal pasti lalu mengecup kening sang istri.


"Bagaimana kalau selama mas pergi El justru melahirkan? siapa yang akan nemanin El? El takut sendirian."


"Sayang, kemaren kan dokter udah bilang, kalau sayang akan melahirkan di pertengahan bulan, lah ini masih awal bulan sayang. Mas akan secepatnya pulang dan mas janji mas akan terus di samping sayang saat lahiran nanti."


"Tapi, perasaan El nggak enak mas, El..."


"Udah jangan terlalu ikutkan perasaan yang nggak jelas. Sayang percayakan sama mas?"


"Hmmmm" Jawab Elsaliani dengan menganggukkan kepala lalu kembali mengeratkan pelukannya.


"Kalau sayang percaya sama mas, berhenti nangis dong! kaos mas basah semuanya nih, mas nggak punya lagi kaos yang warna kuning."


"Ya udah ganti aja sama kaos yang warna lain!'


"Berarti sayang ganti jilbab juga, mau?"


"Kok gitu?"


"Mas maunya sama kayak sayang!" Tegas Iqbal dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"Ribet, nggak usah ganti aja." Gumam Elsaliani kesal, karena setiap kali mereka jalan, Iqbal selalu saja mewajibkan mereka untuk berpakaian dengan warna yang senada.


"Kenapa sayang belakangan ini makin cengeng dan bawel sih?"


"Bawaan baby!"


"Tuh kan uma nyalahin baby lagi!"


"Ya emang....."


Sanggahan Elsaliani langsung terhenti ketika dengan lembut Iqbal mengecup bibir merahnya.


"I love you, sayang!" Bisik Iqbal lalu kembali melanjutkan aksinya, membuat Elsaliani kewalahan untuk menyeimbanginya.


"Mas...." Tegur Elsaliani dengan tangan yang mencoba menjauhkan Iqbal dari wajahnya.


"Sorry! biar tahan selama tiga hari." Jelas Iqbal dengan senyuman mautnya.


"Tapi mas hampir buat El sesak nafas!" Protes Elsaliani.


"Mas terlalu on, sorry. Mas selalu saja hilang kendali kalau sudah begini. masih jam delapan, bagaimana kalau nanti aja mas antar sayang ke rumah abi?"


"Loh kenapa? emang sekarang mas mau ajak El kemana?"


"Excellent service!" Seru Iqbal yang langsung menggendong tubuh Elsaliani.


"Mas...."


"Mas rindu!" Jelas Iqbal yang langsung menuju ke kamar.


-----------------------------


Selama di dalam perjalanan, Elsaliani terus tertidur, dia terlihat begitu lelah bahkan ketika mobil Iqbal telah berhenti tepat di depan rumah abi, Elsaliani masih saja tertidur pulas.


"Jangan ganggu, El masih ngantuk, mas." Jelas Elsaliani tanpa membuka matanya, ia malah semakin tertidur nyenyak.


"Sorry, karena mas buat sayang kecapean!" Pinta Iqbal.


Iqbal keluar dari mobil, lalu bergegas membuka pintu penumpang di mana Elsaliani berada, pelan-pelan Iqbal membawa tubuh Elsaliani dalam gendongannya lalu membawanya masuk ke dalam.


"Nak Iqbal, adek kenapa?" Tanya Zulfa yang memang sedari tadi menunggu kedatangan Iqbal dan Elsaliani di teras.


"El tertidur umi, maaf Iqbal nggak bisa salam sama umi." Jelas Iqbal.


"Nggak apa-apa sayang, adek..."


"El lelah banget umi, jadi jangan dibangunkan dulu, biar aku bawa El ke kamar."


"Iya, baiklah. Ayo masuk!"


"Terima kasih umi."


Iqbal langsung membawa sang istri menuju kamarnya, Zulfa membantu Iqbal membukakan pintu kamar, karena memang Iqbal tidak bisa melakukannya.


"Jika sudah selesai menidurkan adek, Iqbal keluarlah, umi sudah menyiapkan makan siang jadi sebelum pulang makanlah dulu." Jelas Zulfa.


"Iya, umi."


"Kalau gitu umi tinggal ya!"

__ADS_1


"Iya, terima kasih umi."


Zulfa langsung menutup kembali pintu kamar Elsaliani lalu melangkah pergi menuju meja makan.


Dengan sangat pelan Iqbal membaringkan tubuh Elsaliani ke atas kasur.


"Sayang, maaf karena lagi lagi mas meninggalkan sayang seorang diri. Mas janji mas akan segera kembali. Jaga diri sayang dan baby baik-baik. Setelah ini sayang nggak akan sendiri lagi, karena baby bakal nemanin sayang ketika mas harus tugas jauh. Baby, tunggu ayah ya, sebelum ayah pulang baby nggak boleh keluar dulu, ntar uma bakal ngamuk karena ayah nggak ada di samping uma untuk nyambut kedatangan baby." Jelas Iqbal.


Iqbal mengecup kilas kening sang istri, dengan tangan yang mengelus lembut perut Elsaliani yang kian membesar membuat Elsaliani begitu kewalahan membawanya, bahkan ia sering kali mengeluh kerena perutnya selalu saja menghalangi dirinya untuk bisa memeluk Iqbal tanpa harus bersusah payah.


Elsaliani sedikit menggeliat, lalu terlelap kembali dengan posisi menyamping. Iqbal tersenyum bahagia melihat wajah polos Elsaliani yang masih tertidur lelap.


"Mas pergi sayang, bey!" Ucap Iqbal dan kembali mengecup lembut kening, hidung, kedua mata, kedua pipi, dagu dan juga bibir sang istri.


----------------------


"Ayo Iqbal makan siang dulu!" Ajak Ismail yang berada di meja makan bersama sang istri.


"Iya abi." Jawab Iqbal dan langsung bergabung di meja makan.


"Adek gimana? masih tidur?" Tanya Zulfa sembari mengisi nasi ke piring yang ada di hadapan Iqbal.


"Masih umi, terima kasih!" Jawab Iqbal.


"Kapan berangkat?" Tanya Ismail.


"Nanti sore jam empat."


"Prediksinya sampai berapa hari?" Tanya Ismail.


"Paling lambat tiga hari."


"Lakukan tugas mu dengan baik, abi dan umi akan jaga adek dengan baik, jadi kamu nggak usah khawatir, selesaikan tugasmu lalu lekas kembali untuk istri dan anakmu." Jelas Ismail.


"Baik abi. Maaf karena aku malah menitipkan El pada abi dan umi, harusnya aku yang jaga El, apa lagi dalam kondisinya yang seperti saat ini, dan terima kasih." Jelas Iqbal.


"Iqbal, kamu nggak perlu sungkan sama kami. Adek juga tanggung jawab kami, kalian berdua anak-anak umi dan abi, jadi sudah sepantasnya umi dan abi jagain kalian" Jelas Zulfa.


"Terima kasih." Ucap Iqbal.


"Apa bunda dan bapakmu tau hal ini?" Tanya Ismail.


"Tau, mungkin besok mereka juga akan kesini untuk menjenguk El." Jelas Iqbal.


"Baguslah, nah apa lagi yang harus kamu khawatirkan? umi dan bunda akan menjaga adek dengan baik, tugas kamu hanya menjaga diri kamu dengan baik, pulang sebagaimana kamu pergi." Jelas Zulfa.


"Sekali lagi terima kasih umi, abi."


"Sama-sama sayang, ayo di lanjutkan makannya." Ujar Zulfa.


Ketiganya melanjutkan makan siang mereka. Setelah selesai, Iqbal langsung pamit pulang karena ia harus bersiap untuk berangkat dalam rangka menyelesaikan tugas dengan sebaik mungkin.***


_______________


Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE@ ya manteman semua@😊😊😊


Tetap setia sama Cinta Elsaliani πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


KaMsaHamida ❀️❀️❀️❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2