
"Bukannya ini foto saat kita nikah?" Tanya Iqbal setelah memandang dan mengingat-ingat foto yang sedang ada di tangannya.
"Iya. Maaf karena El mengambilnya tanpa izin lebih dulu sama tuan, dan juga maaf karena El begitu lancang memajang foto tuan di kamar El. El benar-benar minta maaf!" Pinta Elsaliani yang mulai meneteskan air mata, diikuti dengan bibir yang ikut gemetar, hati Elsaliani mulai di liputi dengan rasa takut, ia takut jikalau Iqbal akan mengamuk dan marah padanya, lebih-lebih kalau sampai amukan Iqbal terdengar oleh orang tua dan abangnya.
"Bukankah foto ini....."
"Tolong jangan marah. Tolong, El janji El tidak akan memajangnya lagi, El tidak akan mengambil foto tuan lagi, jadi El mohon jangan marah, tolong jangan marah. El bersedia tuan hukum, tapi tolong jangan di sini, El mohon." Pinta Elsaliani yang kini telah bersimpuh di kaki Iqbal.
"El, bukankah di foto ini seharusnya ada kamu di sebelah aku? lalu kenapa bisa hanya aku sendiri yang ada di foto ini?" Tanya Iqbal dan mulai menarik foto tersebut dari bingkai.
Mata Iqbal masih saja memerhatikan foto yang kini tidak lagi berada dalam bingkai, tangannya mencoba membuka lipatan foto tersebut. Yah, lipatan tersebut adalah pemisah dirinya dan Elsaliani, ternyata Elsaliani sengaja melipat bagian dirinya di salam foto yang memang berdiri tepat di sebelah Iqbal, Ia memang sengaja menyembunyikan dirinya.
"Bangun! aku bilang bangun!" Pinta Iqbal setengah berteriak. Iqbal terus berusaha menahan emosi yang seakan telah memenuhi ubun-ubunnya.
Suara Iqbal cukup membuat Elsaliani segera menuruti permintaan Iqbal, salam sekejap Elsaliani telah berdiri tegap di hadapan Iqbal.
"Apa maksud mu ini?" Tanya Iqbal sembari melemparkan foto yang ada di tangannya ke wajah Elsaliani.
"El, hm....El...."
"Apa? apa kamu melakukan ini agar siapa pun yang melihatnya tidak akan mengetahui bahwa kamu adalah istri aku? apa yang sedang kamu coba lakukan? apa kamu sedang mencoba untuk membuat aku terlihat aneh di depan semua orang? Jawab! jangan buat aku kembali berlaku kasar padamu!"
"Tidak, bukan begitu maksud El."
"Lalu apa ini? katakan apa maksud kamu melipat bagian dirimu dalam foto ini, hah...!"
__ADS_1
"El, El hanya tidak ingin tuan berdiri disebelah gadis cupu ini. El tidak ingin merusak foto tuan yang terlihat begitu tampan, El tidak ingin merusak aura yang tuan pancarkan. Lagi pula El sama sekali tidak pantas berdiri di tempat itu, karena seharusnya gadis secantik mbak Lestari lah yang berdampingan dengan tuan. Maaf karena El datang lalu merusak semua hidup tuan yang begitu sempurna. Maafkan El."
Mendengar penjelasan Elsaliani, tanpa sadar Iqbal mulai menitikkan air mata dari ujung mata beningnya, tanpa komentar sepatah katapun Iqbal langsung memeluk erat tubuh Elsaliani, namun lagi dan lagi dengan cepat Elsaliani segera menarik tubuhnya dari dekapan Iqbal.
"Jangan bersikap begini tuan, El benar-benar tidak ingin mengotori tangan tuan dengan tubuh El." Jelas Elsaliani yang mencoba tegar dan perlahan mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Adek, ajak Iqbal makan malam dulu." Pinta Rizal dari seberang pintu sana.
"Iya Abang. Ini adek dan....dan....dan Abang Iqbal juga mau keluar kok."
"Ya udah buruan gih! Abi sama ummi nungguin kalian di meja makan tuh."
"Iya bang!" Jawab Elsaliani lalu pandangannya tertuju kearah Iqbal.
"Maaf, maaf lagi-lagi El hanya bisa bilang maaf. Kali ini El minta maaf karena telah lancang memanggil nama tuan, maaf!" Pinta Elsaliani lagi dan kembali menundukkan kepala.
--------------------------
"Kalian yakin mau langsung pulang malam ini juga? nggak bisa nunggu sampai besok pagi saja, menginap lah di sini!" Pinta Ummi dengan raut wajah sedih.
Semuanya mengantar sang putri bungsu bersama menantu mereka ke pintu depan, karena Iqbal memutuskan untuk langsung pulang. Di sana, Elsaliani tampak seakan tidak ingin melepaskan tangannya dari genggaman Rizal. Namun keputusan yang telah dibuat oleh Iqbal tidak bisa di bantah oleh Elsaliani.
"Maafkan aku ummi, tapi ada urusan yang harus aku kerjakan besok pagi. Jadi aku harus pulang malam ini juga, kalau besok pagi takutnya nggak akan keburu. Atau biar aku saja yang pulang malam ini, besoknya setelah semua urusan aku kelar, aku akan kembali untuk menjemput El." Jelas Iqbal.
"El harus ikut nak Iqbal pulang. Dia kan istri nak Iqbal sekarang, jadi dia harus ikut semua aturan nak Iqbal, dan jika El tidak ikut pulang lalu siapa nanti yang akan menemani dan mengurusi segala keperluan nak Iqbal." Jelas Abi.
__ADS_1
"Iya, Abi benar. sering-seringlah pulang ke sini!" Ujar ummi lalu mencium kedua pipi sang putri tersayang.
Elsaliani menyalami Abi dan umi secara bergantian dengan diikuti oleh Iqbal. Sejenak berdiri mematung lalu dengan perasaan yang di penuhi rasa sedih dan juga mata yang mulai berkaca-kaca Elsaliani langsung memeluk erat tubuh Rizal.
"Abang, sering-seringlah main ke rumah adek." Pinta Elsaliani dengan air mata yang mulai menetes, perlahan tangan Rizal bergerak lalu menepuk-nepuk bahu dan adik dan juga mengusap kepalanya yang terbalut kerudung yang berwarna army.
"Adek, adek sekarang sudah punya suami loh, banyak-banyaklah habiskan waktu adek bersama suami. Dan kamu Iqbal tolong jaga adik aku dengan baik, dari luar dia memang terlihat ceroboh dan cuek namun semakin kamu dekat dan mengenalnya kamu akan melihat sisi lemah dan takut yang memenuhi seluruh sisi hatinya, ada luka yang dalam di sana, hingga membuatnya selalu diliputi khawatir, resah dan rasa takut yang berlebihan. Jadi aku mohon jaga dia dengan baik, tolong..." Jelas Rizal dengan tatapan penuh harap pada Iqbal.
Ucapan Rizal malah membuat Elsaliani semakin meneteskan air mata. Ummi dan Abi pun ikut menoleh kearah kedua anaknya lalu tersenyum bahagia kearah keduanya.
"Anak-anak ummi memang begitu nak Iqbal. Mereka memang sangat dekat satu sama lain, ya begitulah mereka. Jadi jangan terlalu di pikirkan apa yang mereka katakan." Jelas Ummi yang tidak ingin membuat Iqbal kepikiran dengan ucapan Rizal barusan.
"Aku faham ummi, kalau begitu kami pamit, aku janji kalau aku akan menjaga adik kesayangan Abang Rizal dengan sangat baik." Tegas Iqbal dan langsung menyalami tangan Rizal.
"Dengan berat hati Elsaliani melepaskan pelukannya dari tubuh Rizal, lalu melangkah mengikuti sang suami yang telah lebih dulu masuk ke dalam mobil, Mobil milik Iqbal pun segera melaju meninggalkan kota tempat keluarga Elsaliani tinggal.
"Ummi, Abi, Abang rasa terjadi sesuatu diantara adek sama Iqbal." Ujar Rizal yang merasa curiga dan aneh setiap kali melihat sikap dan tingkah Elsaliani ketika bersama Iqbal.
"Jangan berburuk sangka Abang, ummi lihat mereka baik-baik saja."
"Ummi, coba deh ummi perhatikan, bukankah Iqbal terlihat seperti orang asing buat adek?"
"Sudahlah Abang, jangan berpikir yang aneh-aneh, kita doakan saja kebahagiaan adek mu. Abi percaya sama Iqbal, dia pasti akan memperlakukan El dengan baik, dan juga akan menjaga serta menyayangi El seperti yang kita lakukan. Ayo kita masuk!" Jelas Abi.
"Baiklah. Semoga saja apa yang Abi dan ummi katakan benar adanya."
__ADS_1
Tangan ummi segera merangkul Rizal, lalu ketiganya segara melangkah masuk kedalam rumah.***