
"Ngapain? ngelamun?" Tanya Iqbal yang langsung duduk di samping kanan Luqman.
Setelah makan siang bersama lalu sholat zhuhur berjamaah, semuanya kembali berkumpul diruang keluarga, namun Luqman lebih memilih untuk tidak bergabung dengan yang lain. Saat ini ia lebih nyaman berada di halaman belakang, duduk di bangku kayu sambil menikmati keindahan taman mawar milik Ayu yang baru saja bermekaran.
"Siapa coba yang ngelamun, kenapa ke sini? yang lain mana?" Tanya Luqman.
"Udah ngaku aja, kamu pasti mikirin Khaira kan??"
"Nggak! udah sok tau deh!"
"Apa sih yang aku nggak tau tentang kamu. Udah berhenti untuk berusaha menyembunyikan segala hal dari aku, karena bagaimanapun hebatnya kamu melakukannya aku tetap akan tau semuanya."
"Emangnya kamu peramal?"
"Lebih dari itu."
"Bal, aku harus gimana? aku buntu, aku bingung." Jelas Luqman dengan begitu frustasi.
"Bukannya kamu udah lamar Khaira?"
"Lebih tepatnya cuman nyatain cinta buka lamaran resmi."
"Ya udah tinggal kamu resmiin aja."
"Masalahnya nggak segampang itu Bal, kamu tau sendiri kan gimana keluarga Khaira, dia keturunan orang alim, lah keluarga aku. Sebelum ngelamar aja aku dha berasa bakal di tolak."
"Itulah kamu, Luqman. Selalu aja mengambil keputusan tanpa tau kepastiannya. Kamu belum coba sama sekali, lantas dari mana kamu tau bakal di tolak? keluarga Khaira keluarga El juga, kalau aku bisa jadi menantu mereka kenapa kamu nggak? bukankah kamu lebih baik dari aku!"
"Kita beda, jauh berbeda. Kamu anak Tentara Angkatan Udara dengan pangkat yang tak main-main, siapa sih yang tidak ingin menjadi besannya pak Adimaja. Dan sekarang coba lihat keluarga aku, papa bahkan pernah mendekam di penjara karena kasus korupsinya."
"Jadi kamu mau mundur? berhenti tanpa mencoba melangkah? kalah sebelum bertanding?"
"Aku buntu!"
"Apa kehilangan Tia belum cukup sebagai pengajaran buat dirimu?"
"Jangan lagi ungkit masa lalu, toh sekarang Tia begitu bahagia dengan keluarga kecilnya."
"Iya, untung saja waktu itu Alam yang melamarnya, bagaimana kalau Vian lebih dulu? nggak kebayangkan gimana hidup Tia saat ini.
"Aku...."
"Apa? sampai kapan kamu terus mencintai dalam diam, Kalau kamu nggak ngomong dia nggak akan tau kalau kamu cinta sama dia. Sikap pengecut mu yang dulu membuatmu kehilangan Tia, Gadis yang begitu kamu cintai, apa sekarang kamu juga akan mengulang kembali?"
"Sudahlah...." Ujar Luqman bangun dari duduknya.
"Dulu kamu tidak berani untuk terus terang sama Tia, it's oke! nggak masalah toh ada Alam yang bisa memperjuangkan cintanya, hingga akhirnya Tia menerima kesungguhan Alam. Tapi beda ceritanya sekarang, jika kamu lepaskan Khaira, nggak ada yang akan memperjuangkannya, aku? aku udah punya istri dan anak, Mikeal udah punya Manda dan Hendra dia akan segera menikahi Angel. Lalu bagaimana dengan Khaira? apa kamu bisa jamin jika yang akan datang melamarnya bisa menjaganya dengan baik, apa kamu nggak akan menyesal karena tidak menggenggamnya dengan kuat?" Jelas Iqbal.
__ADS_1
Penjelasan Iqbal yang panjang lebar, membuat Luqman kembali duduk di tempat semula.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Luqman dengan penuh kegelisahan.
"Nggak ada yang harus kamu lakukan, biar aku yang melamarnya untukmu!" Jelas Alam yang entah sejak kapan berada di sana.
"Alam? sejak kapan kamu disini?" Tanya Luqman kaget.
"Mau aku jawab jujur atau bohong?" Tanya Alam yang ikut duduk disisi kiri Luqman.
"Jangan bercanda? apa kamu dengar semuanya?" Tanya Luqman.
"Nggak, untuk apa aku harus mendengar cerita yang memang udah pernah aku dengar sebelumnya." Cetus Alam.
"So? sejak kapan kamu tau semuanya?" Tanya Luqman.
"Tepat sehari setelah aku sah menjadi suaminya Tia. Iqbal yang mengatakan semuanya." Jelas Alam.
"Dasar mulut ember!" Cela Luqman.
"Jadi gadis itu Tia? pantes aja waktu Alam nikah kamu sakit, ternyata eh ternyata..." Jelas Hendra yang ikut bergabung.
"Tia emang jodohnya abang Alam, dan tuk abang Luqman, Allah udah mengirimkan Khaira, lalu kenapa harus membahas cerita lama. Atau mau aku minta tolong bapak untuk melamar Khaira?" Jelas Mikeal yang masih berdiri jauh beberapa langkah dari yang lainnya.
"Nggak usah, aku akan mengurus semuanya dengan baik. Aku tidak ingin merepotkan kalian semua terutama bapak." Jelas Luqman.
"Luqman, cinta itu harus di perjuangkan, cinta nggak akan bersambut kalau kamu hanya diam saja dan terpaku dengan pemikiran aneh mu itu. Aku juga nggak berasal dari keluarga yang sempurna, papa aku hanya seorang guru honorer tapi nyatanya apa, aku bisa mempersunting anak tunggal dari keluarga konglomerat, kenapa? karena aku yakin dengan cinta dan niat tulusku pasti Allah mudahkan jalannya. Papa Erina menerima lamaran aku tanpa ada syarat apapun. Lalu kenapa kamu tidak mencobanya?" Jelas Hadi.
"Bapak, abang Hadi, ini nggak semudah masalah kalian. Tapi, baiklah aku akan terima saran dari kalian semua, aku akan mencobanya. Tidak peduli di tolak atau di terima, yang penting aku udah melakukan yang terbaik yang aku bisa." Jelas Luqman yang langsung diserang dengan pukulan dari keempat temannya.
"Bagaimana kamu tau kalau om akan menolak lamaran mu?" Suara lantang nan gagah tersebut sontak membuat semuanya menoleh ke asal suara tersebut.
"Kenalin papanya kak Khaira, dan ini mamanya kak Khaira." Jelas Elsaliani memperkenalkan lelaki paruh baya yang berada di samping kanannya dan juga wanita paruh baya yang berdiri sambil menggendong Zea disisi kirinya.
"Wah ada tamu nih,,," Ujar Adimaja yang langsung menyambut kedatangan tamu barunya.
"Jadi kamu yang namanya Luqman?" Tanya Rumana yang tidak lain adalah ibundanya Khaira.
"Iya, saya tante." Jawab Luqman kaku.
"Kapan kamu akan membawa orang tuamu ke rumah om? jangan lama-lama ya, kalau selama sebulan ini kamu belum juga datang, maka om yang akan datang untuk melamar mu!" Jelas Jefri, ayahnya Khaira.
"Hmmmm iya, om. Aku, maksud aku keluarga aku akan secepatnya datang." Jawab Luqman malu-malu.
"Lampu ijo tuhhh!" Seru Hendra.
"Noh lampu merah lo datang!" Cetus Iqbal ketika melihat Angel datang.
__ADS_1
"Resek lo!" Gumam Hendra.
"Bunda nyuruh aku ngajak semuanya masuk, bunda udah siapkan kopi dan kue, jadi ayo..." Jelas Angel.
"Yakin nih semuanya Angel? nggak Hendra doang ni??" Goda Alam.
"Terkecuali dia, nggak usah masuk aja, sekalian diluar aja sampai malam." Gumam Angel yang langsung masuk.
"Ntah kapan ngambeknya akan berakhir." Ujar Hendra sambil menepuk jidatnya.
"Cewek merajuk pertanda dia minta di bujuk, sana gih!" Jelas Luqman.
"Oke! akan aku coba!" Ujar Hendra yang langsung menyusul Hendra.
Lalu diikuti oleh yang lainnya.
"Sayang..." Panggil Iqbal.
Tangan Iqbal langsung menyentuh bahu Elsaliani membuat langkah Elsaliani langsung terhenti.
"Kenapa mas?" Tanya Elsaliani dengan raut wajah panik.
"Rinduuu" Bisik Iqbal di telinganya Elsaliani.
"Ishhhh!" Ujar Elsaliani berusaha untuk menghindar dari Iqbal.
Usaha Elsaliani kalah cepat dengan tangan Iqbal yang langsung mendekap erat tubuh Elsaliani.
"Mas..."
"Yang lain udah masuk semua, hari ini mas benar-benar nggak punya mytime sama sayang, dari pagi rame terus." Keluh Iqbal manja.
Sejenak terdiam, Elsaliani mulai menoleh kebsana-sini, setelah memastikan bahwa suasana sedang sepi 'Cup' Elsaliani langsung mengecup kilas pipi kanannya Iqbal.
"Udah kan??" Tanya Elsaliani yang langsung melepaskan tubuhnya dari dekapan Iqbal.
"Sayang tunggu!" Pinta Iqbal lalu segera mengikuti Elsaliani yang telah lebih dulu berlari masuk kedalam.
"Tambah gemas mas sama kamu, sayang. Benar-benar semakin menguji kesabaran nih. Hadeeeeeuuuuh!" Bisik hati Iqbal lalu tersenyum manis.***
_____________________
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😊😊😊
Tetap setia sama Cinta Elsaliani 🥰🥰🥰🥰
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1