
"Kita sampai, turunlah!" Pinta Iqbal ketika ia menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Lestari yang tidak lain adalah rumah megah nan mewah milik sang komandan.
"Bal, aku masih kangen sama kamu." Jelas Lestari dan langsung mencium pipi Iqbal.
"Lestari beri aku waktu. Aku benar-benar nggak paham dengan keadaan ini. Aku janji setelah hati ini tenang, aku akan menyelesaikan semuanya." Jelas Iqbal.
"Maksud kamu? apa aku harus membiarkan kamu terus-terusan dengan cewek cupu itu? ada apa dengan kamu Iqbal, apa benci kamu udah berubah menjadi cinta?"
"Cukup Lestari! Aku benar-benar sedang tidak ingin membahas masalah ini. Dan satu lagi yang harus kamu ingat, keadaan ini kamu yang menginginkannya, kamu sendiri yang membuat aku menaruh perhatian pada dia, kenapa? kenapa dengan begitu tega kamu membuat dia menanggung semuanya? kenapa kamu membiarkan dia di seret sendirian oleh orang-orang suruhan Badai? kamu tau dia ketakutan setengah mati, Hashhhh sudahlah! aku pusing."
"Lalu kamu pikir aku nggak ketakutan? terus apa kamu mau kalau aku yang jadi sandra mereka? apa itu yang kamu mau?" Gumam Lestari yang kembali di penuhi dengan amarah karena ia merasa bahwa Iqbal lebih senang jika ia yang berada dalam bahaya.
"Bukan begitu maksud aku,"
"Sudahlah Bal, aku juga mulai nggak ngerti dengan kamu yang sekarang, aku sama sekali nggak bisa ngerti dengan jalan pikiran kamu saat ini. Kamu seperti orang asing, aku nggak kenal dengan Iqbal yang seperti ini. Untuk sementara ini sebaiknya kita nggak usah ketemu dulu, aku ingin kita introspeksi diri kita masing-masing, setelah semuanya tenang, baru kita bahas masalah ini lagi. Aku capek!" Jelas Lestari dan langsung keluar dari mobil.
"Sayang, aku nggak bermaksud begitu, kamu salah paham. Kamu tau sendiri kan kalau bunda dan bapak akan ngamuk kalau sampai terjadi sesuatu sama El, mereka nggak akan lagi ngebolehin aku dan El tinggal pisah dari mereka, dan jika itu terjadi aku nggak bisa jamin kalau aku bisa selalu ada buat kamu. Sayang, tolong mengertilah keadaan aku saat ini." Jelas Iqbal sambil ikut keluar dari mobil, dan lekas mendekati Lestari lalu menggenggam erat tangan gadis tersebut.
"Sudahlah Bal, aku juga butuh waktu untuk menerima semua ini. Kita break dulu sampai hati kita sama-sama tenang." Tegas Lestari dan langsung memasuki gerbang rumahnya, meninggalkan Iqbal begitu saja.
"Aku sendiri juga nggak paham Lestari, aku bingung dengan diri aku sendri. Bukankah seharusnya aku bahagia karena kamu baik-baik saja, lega karena kemaren bukan kamu yang di seret oleh orang suruhan Badai, bahagia karena memang seharusnya El yang menanggung semua kejadian kemaren, tapi kenapa, tiba-tiba hati ini malah merasa bersalah terhadap El lalu merasa marah sama kamu Lestari, aku sendiri tidak lagi bisa mengenali diri aku yang ini, sebenarnya apa yang terjadi?" Keluh Iqbal dengan tatapan kosong.
Mobil Iqbal kembali melaju meninggalkan area rumah sang kekasih.
------------------------------------
"Apa dia sudah tidur? ah mungkin saja belum kan? nggak salahkan kalau aku cek ke kamarnya? nggak apa-apa deh, cuman cek aja kok!" Ujar Iqbal pada dirinya sendiri.
Tepat pukul 00.00 Iqbal sampai di rumah, tangannya masih saja menggenggam erat sebuah plastik yang berisi makanan yang baru saja ia beli di sebuah restoran. Perlahan Iqbal terus melangkah menuju kamar Elsaliani, lalu berusaha membuka pintu sepelan mungkin, mata Iqbal terus mencari sosok Elsaliani yang ternyata sudah tertidur lelap di atas kasur dengan wajah yang masih menghadap ke layar Laptop yang masih terbuka.
Iqbal kembali melangkah mendekati sang istri, dari kejauhan suara percakapan yang berasal dari laptop sudah terdengar begitu jelas, meski Iqbal tidak paham dengan bahasa yang baru saja ia dengarkan. Sejenak melihat drama yang masih berputar di laptop lalu tangan Iqbal segera mematikan dan menutup laptop lalu meletakkannya ke atas meja. Iqbal kembali mendekati Elsaliani lalu mencoba untuk membenarkan posisi tidur Elsaliani yang memang hanya menopang wajahnya pada bantal boneka Doraemon, Suara Elsaliani yang tiba-tiba berbicara membuat Iqbal menghentikan aksinya, ia segera melepaskan tangannya dari tubuh Elsaliani.
"Iqbal, terima kasih banyak karena nggak marah-marah di hari ulang tahun El, juga terima kasih karena datang menolong El disaat El benar-benar sangat ketakutan. Love you more and more!" Rancau Elsaliani dengan mata yang masih tertutup rapat, ia terlihat masih tertidur nyenyak.
__ADS_1
Sejenak terdiam dengan tatapan yang masih tertuju pada wajah sembab Elsaliani, yang tanpa sadar kembali meneteskan air mata. Masih terlihat jelas bahwa Elsaliani benar-benar sedang mengingau, Elsaliani terlihat begitu pulas. Iqbal kembali mendekat lalu duduk di sisi Elsaliani, perlahan tangan Iqbal bergerak lalu mengusap air mata yang mengalir di wajah Elsaliani. Disaat yang bersamaan Elsaliani terbangun dari tidurnya. matanya yang terbuka pelan-pelan, langsung berhadapan dengan wajah Iqbal yang tepat berada di hadapannya, membuat Elsaliani segera bangun, lalu duduk sedikit menjauh dari Iqbal.
"Maafkan El karena tidak menunggu tuan pulang! El tertidur." Jelas Elsaliani dengan tatapan yang hanya tertuju pada kedua tangannya yang saling menggenggam satu sama lain yang berada di atas pahanya.
"Hm, nggak apa-apa. El, kenapa nggak ganti baju dulu? kamu nggak risih tidur dengan baju dan kerudung seperti ini?"
"El suka. El suka baju dan kerudung ini, nyaman!"
"Tapi kan kamu tetap harus ganti baju, mulai besok pakailah baju-baju dilemari itu semuanya. Aku membeli semua itu bukan untuk di simpan tapi untuk di pakai." Jelas Iqbal sambil menunjuk kearah pintu lemari yang nomor enam. Elsaliani hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kamu udah makan?" Tambah Iqbal dan kembali menatap wajah Elsaliani.
"Udah tadi."
"Oh, udah lanjutkan lagi tidurmu!"
Iqbal tersenyum manis lalu bangun dari duduknya, dengan cepat Elsaliani segera memegang ujung kaos putih yang Iqbal kenakan, hingga membuat Iqbal kembali menoleh kearah Elsaliani.
"Kenapa?"
"Tuan..." Ujar Elsaliani pelan.
"Mas kangen sama kamu El!" Ucap Iqbal pelan di telinga Elsaliani.
"Mm.....mas?"
"Hm...mulai malam ini jangan lagi panggil aku tuan, aku bukan majikan kamu, aku ini suami kamu, panggil mas atau sayang. Hem..."
"Tuan..Abang eh Mas!" Ujar Elsaliani kebingungan.
"Jangan panggil lagi tuan, dan Abang? aku nggak suka dengan panggilan itu, kamu juga memanggil Rizal dan Mikeal seperti itu, aku nggak mau di sama-samain sama mereka." Jelas Iqbal dengan suara tegas.
"Tapi, dari dulu memang tuan sendiri kan yang menyuruh El untuk memanggil tuan dengan panggilan itu..."
__ADS_1
"Tolong jangan bahas lagi masa lalu, kita nggak lagi tinggal di sana, sekarang kita berada di masa depan, jadi lupakan semua hal tentang yang dulu.".
"Hm...mas." Ujar Elsaliani yang masih merasa begitu canggung dengan panggilan tersebut.
"Terima kasih, dan juga maaf."
"El yang harusnya berterima kasih, makasih karena nggak lagi marah-marah sama El, dan maaf karena selama ini selalu menjadi beban buat tuan, eh mas."
"Hm....kita buka lembaran baru. El, mas mau nginap disini, apa boleh?" Tanya Iqbal yang mulai menyentuh kedua tangan Elsaliani yang sedari tadi terlihat gemetar.
"Hmm..." Jawab Elsaliani dengan wajah yang masih tertunduk.
"Mas nggak dengar nih, boleh atau tidak?"
"Boleh!"
"Terima kasih!" Ucap Iqbal dengan senyuman puas dan segera berbaring di sebelahnya Elsaliani.
"Mas...."
"Hm...." Iqbal langsung menarik Elsaliani untuk berbaring di dekatnya.
perlakuan Iqbal sontak membuat Elsaliani kaget dan berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari pelukan Iqbal, namun bukan Iqbal namanya jika ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, tangan Iqbal semakin kuat memeluk Elsaliani, bahkan membuat sang istri kesulitan untuk bernafas.
"Mas....." Ujar Elsaliani dengan nafas yang tersendak-sendak dengan tangan yang mencoba memukul tangan kekar Iqbal yang melingkar di perut ratanya
"Maaf." Ucap Iqbal dan segera melonggarkan pelukannya.
"Apa masih ada cinta di hati kamu buat aku?" Tanya Iqbal.
"Banyak, semua cinta menumpuk di sini, dan itu semua hanya buat mas Iqbal." Jelas Elsaliani.
"Terima kasih El." Ucap Iqbal dan langsung mengecup lembut kening Elsaliani.
__ADS_1
Iqbal tidak mengerti dengan sikapnya yang tiba-tiba ingin memperlakukan Elsaliani dengan baik, layaknya memperlakukan seorang istri, ketulusan dan kesabaran Elsaliani seolah bagai sihir yang mampu mengubah amukan Iqbal menjadi ketenangan, benci yang mencair menjadi perhatian, membuat rasa cinta Elsaliani semakin bertambah.
Elsaliani menyambut hangat perubahan sikap sang suami, hingga ia membiarkan Iqbal mengambil haknya sebagai seorang suami.***